Last Life

Last Life
Terlewatkan Tanpa Disadari


__ADS_3

Reina mengatakan padaku maupun Yanwu bahwa alasannya membutuhkan bantuan karena dirinya belum bisa menggunakan kemampuan miliknya.


Hal itu karena dirinya terikat dengan seseorang dan aturan yang dibuat oleh Pemimpin negara ini, yang memiliki kemampuan kontrak mutlak menjadikannya sebagai pemimpin terpercaya.


Selain itu karena dirinya banyak disegani oleh orang-orang.


Sistem kemampuan kontrak itu adalah syarat mematuhi hukum kota ini serta bagi orang yang ingin menetap.


Intinya, setiap orang hanya bisa menggunakan kemampuannya satu kali dalam sehari.


Dan hanya bisa diubah oleh si pemilik kemampuan.


Untungnya aku masih mengingat jelas perkataan Reina barusan bahwa setiap orang berbeda pada setiap penggunaan kemampuannya.


Ditentukan oleh status sosial yang mendasari setiap penggunaan kemampuan, bahkan pejabat negara bisa menggunakan kemampuannya lima kali dalam sehari.


Tentunya saja hal itu ada plus minusnya menurut pandanganku sendiri.


Anehnya, diriku maupun Yanwu belum dilakukan interogasi dan maupun pengeledahan.


Katanya harus menunggunya persetujuan dari pemimpin mereka.


Dengan keuntungan ini aku bisa makan sepuasnya didalam sel dari tas kecil yang aku bawa, tapi itu jika aku sendiri.


Aku maupun Yanwu berserta Reina berada didalam sel dinding yang lumayan luas didalamnya, berisi satu tempat tidur yang muat dua orang dan kamar kecil lainnya.


Kondisinya agak gelap karena setahuku sel ini minim akan cahaya, meskipun cuaca di luar sangat cerah.


Hanya gerah yang terasa di dalam sel ini dan itupun teramat panas.


"Panas banget ya... ngga kebayang kalau cuaca lagi panas-panasnya bakal seperti apa kita?" ucapku di tengah keheningan ini.


"Eh, iya ya... aku pun gerah disini. Hmm, untuk bantuan, kalian mau kan membantuku, sebelumnya aku asyik bercerita sampai lupa memastikan?"


Aku menoleh ke arah Yanwu yang tengah duduk seakan bertapa.


"Aku pasti akan membantumu, ya kan Yanwu?"


"Aku ikut dirimu."


"Waah, makasih bantuannya..."


"Sama-sama."

__ADS_1


Tap.. tap.. tap..


Seseorang membuka pintu sel dan yang mengejutkan adalah ketika dia masuk begitu saja tanpa memanggil nomor tahanan kami.


Yang ternyata dia adalah Sekai sedang menyamar menjadi seorang sipir.


"Padahal aku sudah bilang agar dirimu menjaga Anita, tapi apa ini. Kamu membawanya masuk kedalam penjara!" ucapnya begitu kesal menatap Yanwu. Mungkin kalau aku jadi dia aku akan marah seperti kepada Yanwu.


Sebenarnya apa alasan Yanwu berbohong pada saat itu kepada pria itu yang dapat membawanya maupun diriku masuk kedalam penjara?


"....."


"Tidak mau menjawabnya ya, aku akan..."


"Udahlah Sekai, biarin aja dia. Aku juga nggak ngerti apa maksudnya. Yang penting kita sekarang bebas dari penjara!" ucapku dengan sigap menjadi penengah. Tidak baik jika mereka berdua ribut didalam penjara.


"Huh... aku maafkan dirimu karena Anita. Hmm, tadi aku melihat seseorang telah mengeksekusi satu orang tahanan. Argh... nggak usah dipikirin, lebih baik kita kabur dari sini. Tenang saja, semua orang yang berada di wilayah penjara ini sudah aku buat pingsan dan aku sembunyikan mereka di suatu tempat dengan kondisi terikat!"


"Tunggu, kondisi itu malah akan membuatmu dicurigai!" timpal Yanwu membuatku berpikiran hal sama sepertinya.


Maka dengan itu kami semua bergegas pergi dari penjara ini hingga tepat berada di pintu keluar penjara.


Dan berhasil melewati sel-sel berisi pada tahanan.


Mengejutkan, karena aku tidak melihat keberadaan Reina setelah keluar dari penjara ini. Sebelumnya aku sempat berlari beriringan dengannya.


Sekai lalu mengikuti diriku beda dengan Yanwu yang tak terlihat batang hidungnya lagi. Mungkin dia berusaha mengamankan.


Langkahku terhenti pada tempat eksekusi yang mana seorang pria telah terbunuh diliat dari darah pada bagian vital tubuhnya.Tepat di jantung.


Kini Reina memeluk pria itu pada bagian kepalanya lantaran terbaring tak bernyawa. Membuatku berfirasat buruk bahwa pria ini adalah kekasih Reina, yang dia katakan padaku sebelumnya.


Suara tangis Reina menggema di ruangan ini dia aku rasa sangat terpukul atas kematian pria itu, dan setelah aku melihat cincin di jari manis Reina dan pria itu sama, maka aku simpulkan jika pria itu adalah kekasih Reina.


Entah apa salahnya sehingga dirinya dieksekusi lalu dibunuh, aku tidak tahu.


Saat aku menenangkan Reina dia malah mengabaikan diriku.


"Menyerahlah! Kalian sudah dikepung!" ucap serentak orang-orang berpakaian mirip sipir itu tengah mengarahkan senapan ke arah kami.


Malah membuatku bertanya-tanya ada apa dengan Yanwu bukannya dia berjaga di luar sebelumnya, kenapa membiarkan orang-orang ini masuk.


"Argh!!!"

__ADS_1


"Kenapa, kenapa kalian membunuh orang paling aku cintai? Jawab! Atau aku bunuh kalian?" sahut Reina sembari menggunakan kemampuannya kepada orang yang mengepung saat ini. Mencengkeram lehernya hingga tidak menyentuh tanah dari jarak jauh.


Bahkan aku dibuat tidak bisa bergerak sama sekali layaknya patung begitupun dengan Sekai.


"I-itu atas perintah seseorang, ka-rena dia mengetahui ke-kasihmu telah menghamili putrinya..."


Bruk!


Seketika mereka terlepas dari cengkraman itu yang kini aku lihat menyentuh lehernya dengan raut kesakitan.


Mungkin sangat kuat cengkeraman dari Reina sebelumnya. Serta dia nampak begitu shock saat mendengar kabar kurang mengenakkan bahwa kekasihnya sekaligus tunangannya telah menghamili perempuan lain.


Meskipun belum terbukti benar sepertinya Reina begitu mempercayai perkataan orang tadi.


Wos...


Yah. Reina menghilang bersama dengan jasad kekasihnya entah kemana. Meninggalkan kami berdua yang masih berada didalam penjara.


"Kalian berdua akan diberi hukuman karena kabur dari penjara!" ucap salah satu dari mereka.


"Tunggu dulu, sebenarnya apa benar kekasih Reina dibunuh karena alasan itu?" tanyaku sempat bertanya dan melihat ke arah pria yang telah memberitahukan hal mengejutkan tadi kepada Reina.


Karena aku sempat mengira jika yang dikatakannya sebelumnya adalah kebohongan belaka.


"Reina, maksud kamu perempuan tadi. Ya. Kekasihku memang telah bersalah, bahkan membuat putri seseorang itu tergila-gila sampai tidak mendengarkan perkataan ayahnya!"


"Memangnya siapa seseorang itu, aku jadi ingin tahu sebelum diriku dihukum berat?" sela Sekai bertanya.


"Oh, dia adalah pemimpin negara ini, ups... aku..."


"Bodoh, kau malah tertipu oleh perkataan pria itu, jadi kita tangkap saja mereka berdua!"


"Bagian penangkapan pria itu, aku yang mengurusnya ya..." ucap seorang wanita begitu terbuai dengan ketampanan Sekai, aku yakin itu.


Beberapa gelembung mulai berjatuhan dari atas membuat mereka kebingungan sama sepertiku.


Drzz...


Gelombang itu rupanya adalah kemampuan Sekai yang dapat menghasilkan sengatan listrik bagi yang memecahkan maupun terkena gelembung itu


Bugh!


Dash...

__ADS_1


Sisanya di hajar oleh Sekai sampai mereka berdua pingsan, karena aku sempat mengeceknya.


"Ayo kita keluar dan cari ras manusia dewa itu, serta mencari... ah biarkan saja dia!"


__ADS_2