
"Siapa kamu, apa mungkin penduduk di tempat ini?" tanyaku penasaran pada perempuan itu yang wajahnya masih belum terlihat karena tertutupi oleh topi berujung lancip di kepalanya.
Masih diam belum menjawab dia lalu menunjukkan senyuman manis namun senyuman itu menipu. Dikarenakan api membara dia munculkan pada telapak tangannya.
"Kamu memiliki tongkat berkemampuan air bukan, sepertinya dia akan menjadi lawanmu. Dan sepertinya perempuan itu adalah ras manusia dewa!" ucap Leonin menyarankan jika perempuan itu akan berhadapan denganku, sebab dari segi kemampuan, kemampuannya bertentangan denganku.
Hanya saja ras manusia dewa itu sama seperti Tanaki menyalahgunakan kemampuan miliknya.
"Baik, aku yang jadi la..."
Blarrr...
Saat aku berkata serangan api mendadak di arahkan padaku maupun Leonin oleh perempuan itu.
Untungnya karena Leonin sigap dia langsung menghalau api lumayan besar yang menuju lemari menggunakan pelindung yang terbuat dari es.
Nampak kuat tak tertembus saat terkena api dari serangan perempuan itu.
"Kekeke menarik, kalian akan menjadi kelinci percobaan kemampuan ku!" ucap perempuan itu disertai ancaman dan berniat membunuh kami. Sudah aku prediksi dari raut wajahnya, namun ada pengecualian bagi Leonin. Mungkin, perempuan itu menyukainya.
Kini api yang keluar dari kedua telapak tangannya semakin membesar serta pelindung milik Leonin seiring waktu mulai mencair.
"Kamu sebaiknya lindungi diri dengan kemampuan tongkat itu, buatlah pelindung air agar bisa melindungi dirimu dari serangan perempuan gila itu!" ujar Leonin memberikan saran kepadaku, dari lagak dan perkataannya sepertinya dia akan menghadapi perempuan itu sendiri.
"Tapi jika tidak ada air aku tidak bisa menggunakan..."
"Shst... jangan sampai dia mengetahuinya, kamu lihat pelindung es milikku yang mencair, aku sengaja sebenarnya!"
Aku baru menyadari jika pelindung es dari kemampuan Leonin mencair bukan karena tidak bisa menahan serangan api dari perempuan itu yang terus bertambah kuat.
Melainkan agar diriku menggunakan es yang telah mencair untuk syarat dari kemampuan air tongkat ini.
Kini aku melihat dengan jelas bahwa Leonin terus memperbaiki pelindung esnya yang mencair.
"Apa yang kamu rencanakan pria kesayanganku... ingin berenang ya, di air bekas es mencair hihi..?"
"Abaikan dia, sebentar lagi air yang kamu butuhkan akan cukup untuk digunakan!" ucap Leonin ku jawab dengan anggukan.
Sampai air di bawah pijakan ku sudah terkumpul dan aku kendalikan menjadi satu, aku lihat perempuan itu memutar telapak tangan kirinya hingga sebuah portal muncul.
Dari dalam portal itu keluar hewan bercula yang sepertinya menuju kemari dengan ukurannya yang besar dari ukuran normalnya.
Brakk!
Kletak...
Menabrak pelindung es Leonin hingga hancur sementara diriku mundur kebelakang setelah Leonin memperingati.
"Wa... hancur juga ya pelindung es milikmu, terlalu lemah untuk mengalahkan api milikku!"
Badak yang sebelumnya menabrak pelindung es ku lihat nampak kebingungan tidak seperti akan menyerang diriku maupun Leonin.
Maka aku simpulkan perempuan itu memindahkan badak tersebut dengan portal yang dimunculkannya tadi.
__ADS_1
Bahkan badak itu kini menjauh ketimbang berdiam diri disekitar area terbakar maupun menunjukkan lagak akan menyerang.
Empat portal muncul disekitar diriku dikala Leonin sedang berhadapan dengan perempuan itu.
Leonin aku lihat sibuk melawannya dan tak bisa diganggu.
Splash...
Shut.
Splash...
Sama seperti sebelumnya empat portal ini keluar badak berukuran besar yang menuju ke arahku.
Merasa kasian saat diriku menghindar dan empat badak itu akan bertabrakan satu sama lain karena posisinya terlalu berisiko dikarenakan pengerakan-nya.
Aku pun berniat menyelamatkan badak tersebut agar spekulasi ku tadi tidak benar-benar terjadi.
Diriku menghindar sembari mengalihkan arah badak tersebut menggunakan air berbentuk tangan dengan sekuat tenaga mendorong tubuh besar badak itu.
"Ha... akhirnya aku berhasil... Hm, mereka berdua bertarung dengan serius. Tapi... serangan-serangan itu bisa saja merusak hutan yang indah ini, serta membunuh hewan-hewan yang tak berdosa lagi!" gumam ku memprediksi kemungkinan buruk yang bisa terjadi.
Blarrr...
Wus..
"Leonin...! Kendalikan kemampuan es mu...!" ucapku berteriak sembari menyatukan kedua telapak tangan didekat mulut.
"Bodoh! Kamu memberinya sebuah ide!" sahut Leonin mengeraskan suaranya menanggapi perkataan ku dengan cibiran.
Yang ku tebak pasti akan membakar tempat ini dengan api berbentuk burung itu, diriku saat ini merasa menyesal karena berucap tanpa ku pikir-pikir dulu akibatnya.
Walaupun kesalahanku barusan memang karena kesengajaan, tapi akan ku pertanggung jawabkan sebisa mungkin untuk menghentikan burung itu.
Splash...
Menggunakan kemampuan tongkat pemberian Sekai aku dapat bebas mengendalikan air hingga dapat ku bentuk menjadi apapun.
Kini aku bentuk ikan penembak serta ku tambahi sayap agar dapat terbang mengejar burung-burung api itu.
"Tembak!"
Siutt...
Siuut...
Dua tembakan air yang keluar dari mulut ikan penembak yang ku arahkan pada dua burung terbuat dari api itu ternyata meleset.
Bukan karena salah arah, karena aku tahu ikan penembak memiliki keakuratan layaknya pemanah dan sniper profesional, sebelumnya tembakan tadi melesat lantaran burung api itu lumayan lihai bisa menghindarinya.
Sampai banyaknya tembakan air yang aku arahkan pada keenam burung yang baru aku sadari ternyata adalah burung elang, tapi tak ada serangan dari air yang berhasil mengenainya.
"Kenapa sih susah sekali, padahal kan sudah lumayan jauh burung-burung itu dari tempat orang yang menciptakannya, kenapa bisa sesulit ini hanya untuk mengenainya!" ucapku meluapkan kekesalan yang mengganjal, beberapa saat aku tahan karena mengira beberapa serangan air sebelumnya dapat mengenai burung dari api itu.
__ADS_1
Nyatanya nihil tidak mengenai target yang lebih mengesalkan lagi tidak ada yang nyaris terkena sama sekali.
Sepertinya halnya elang dari api itu mempunyai kendalinya sendiri.
"Tunggu, tunggu... bukannya seharusnya elang api itu menargetkan area tertentu untuk memicu kebakaran, tapi kenapa...?"
Saat ini aku berpikir keras demi menemukan jawaban dari perubahan yang sempat terlintas di pikiranku itu.
Beberapa saat mengejar dan tidak melakukan penyerangan akhirnya aku menemukan jawabannya, saat aku melihat elang itu menjadi satu hingga menjadi satu bentuk yang baru.
Yaitu naga api berukuran besar yang siap menyerang diriku, bahkan sepertinya memang menargetkan diriku dari awal dengan jebakan pengejaran.
Blarr...
"Panas sekali..."
Api dari semburan mulut naga api itu masih tetap aku rasakan meskipun sudah ku hindari. Kemungkinan kepanasannya beberapa kali lipat dari panas api pada umumnya.
Blarr...
Siutt...
Siutt...
"Huh... ngga mempan sama sekali, naga itu terlalu kuat!"
Dari atas bahkan aku berharap Reina maupun kekasihnya mengetahui keberadaan ku, tapi entah mengapa mereka tidak ku lihat sama sekali dari tadi.
Blarrrr...
"Mmm... panas sekali..."
Semburan apinya makin panas dari sebelumnya sampai-sampai aku berniat untuk lari daripada mati terpanggang.
Wosh...
Kecepatan ikan penembak yang aku tunggangi bertambah namun naga api itu masih dapat mengejar diriku.
"Cepat! Cepat!"
Begitu dekat sampai aku rasakan panasnya yang begitu menjalar pada tubuhku. Parahnya lagi ikan penembak air ini seakan mendidih.
"Yanwu!!!!"
Aku berteriak sekencang-kencangnya memanggil orang yang ingin aku mintai pertolongan lantaran nyawaku sedang terancam.
"Ini aku orang yang kamu panggil, aku tidak dapat langsung turun tangan kesana. Tapi sebagai bantuan aku akan menghentikan naga api itu sesaat, untuk selanjutnya kamu pikiran bagaimana caranya lolos dari naga itu!"
Tiba-tiba saja didalam kepalaku terdengar suara Yanwu dia hendak membantuku, tapi tidak sampai tuntas hingga naga api itu benar-benar lenyap.
Hawa panas kini tidak aku rasakan lagi dan setelah aku menoleh kebelakang nyatanya naga api itu tidak bergerak dalam keadaannya sekarang.
"Kesempatan, aku harus memikirkan sebuah cara agar dapat melenyapkan naga api itu. Baru setelah selesai menangani urusan ras manusia dewa, aku akan memberi perhitungan kepada Yanwu, biar dia tahu rasa berani mengerjaiku!"
__ADS_1
Naga itu lalu kembali bergerak dan mengejar diriku lagi, tapi kali ini aku memiliki sebuah rencana jitu untuk melenyapkannya.