
Greb!
Secara tiba-tiba kami di kejutkan oleh kedatangan air yang membentuk sebuah tangan dari arah depan, dengan cepat lalu menerkam kami hingga tak bisa bergerak.
"Bukannya dia sudah diatasi oleh Geisha, tapi mengapa dia masih bisa menyusul?" ucapku dalam hati merasa keheranan, lalu aku mengingat kembali perkataan Geisha sebelumnya mengenai pria ini.
Karenanya, rencana kami pun untuk meneduh di sebuah rumah terpaksa harus di tunda. Yang padahal kondisi Nie sekarang ini sedang tidak baik-baik saja akibat guyuran air hujan.
Ketika hujan semakin deras samar-samar aku mendengar suara seseorang. Namun aku tidak bisa melihat sekeliling untuk memastikannya, karena aku saat ini sama sekali tak bisa bergerak sedikitpun.
"Putri, kamu sudah aku dapatkan kembali. Kini tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menjadikanmu seorang istri!"
"Apa dia tidak waras benar-benar berkata begitu, apakah segitu gampangnya dia memperlakukan wanita!"
Dalam hati aku sedikit kesal karena perkataan yang diucapkan oleh pria ini.
"Julian, kamu ternyata masih gila ya, sama seperti dulu!"
"Kenapa Nie mengatakan hal seperti itu, itu malah akan membuatnya..."
"Lalu kenapa? Kamu masih suka kan, sama aku, sampai tidak bisa melupakan saat-saat indah kebersamaan kita!"
"Cih, buat apa aku mengingatnya. Lagipula kamu sudah menjadi sampah!"
"Harusnya aku yang mengatakan itu padamu."
"Putri, apa kamu mendengarnya, Putri!"
"Huh!?"
Suara orang itu semakin jelas yang ternyata suara tersebut berasal dari kepalaku. Kelihatannya memang sengaja ada orang yang sedang mengajakku untuk berkomunikasi lewat telepati.
"Putri, dengarkan aku baik-baik. Saat ini kamu terhubung denganku. Ya... kamu pasti tahu siapa aku sebenarnya..."
"Tuan Mizu!? Tuan masih hidup?
"Luar biasa sekali!?"
"Iya, aku masih hidup dan aku baik-baik saja. Tapi kita kesampingkan dulu, karena saat ini aku tidak memiliki waktu lama hanya sekedar untuk mengobrol!"
"Syukurlah, tuan Mizu baik-baik saja."
Akhirnya aku bernafas lega setelah mendengar kabar dari tuan Mizu.
"Saat ini beberapa antek-antek raja sedang menuju ketempat mu, jadi kamu harus lari sejauh mungkin. Carilah tempat bersembunyi yang paling aman!"
__ADS_1
"Tapi aku tidak bisa bersembunyi sekarang ini, situasinya menyulitkan ku!"
"Kamu itu pintar, Putri. Bahasa Morse saja yang aku sampaikan ini bisa kamu tangkap dengan mudahnya, jadi aku percaya kepadamu bahwa kamu bisa mengatasinya."
Setelah perkataannya itu Tuan Mizu tidak lagi berbicara didalam kepala ku menggunakan pesan morse.
Mungkin saat ini dia sedang berjaga-jaga agar tidak ketahuan.
"Tuan. Aku mau membuat perjanjian dengan mu!"
Saat keduanya masih berbicara aku pun memotong perkataannya.
"Perjanjian? Seperti apa itu?"
"Aku mau menjadi istrimu secara sukarela asalkan kamu membawa kami ketempat yang paling tersembunyi, sekarang ini!"
"Apa yang sebenarnya kamu rencanakan. Kamu tidak berniat untuk kabur, bukan? Dari incaran orang kerajaan?"
"Sebenarnya aku ingin merahasiakannya, tapi kamu memaksa. Jadi aku akan sampaikan bahwa sebelumnya raja hendak menikahi ku!"
"Apa!? Kamu bercanda bukan!! Mana mungkin ayahku melakukan itu? Lagipula sebelumnya aku berbicara dengannya jika aku bisa menangkap mu maka aku layak mendapatkan hasilnya!"
"Yaaa tentu saja menjadikanmu seorang istri hahaha."
"Kamu...? Dari mana bisa tahu aku..."
Untungnya saat dalam pembicaraan raja beserta para pelindungnya saat itu, aku sempat mendengar beberapa informasi penting yang berhubungan langsung dengan pangeran.
Dengan itu aku gabungan berbagai informasi yang saat ini aku dapatkan, lalu aku mendapati kesimpulan finalnya tentang pangeran.
Sebenarnya orang yang tahu bahwa pangeran bukan anak kandung raja adalah raja itu sendiri, bahkan orang lain tidak ada yang mengetahuinya. Begitulah kesimpulan ku, entah benar atau tidak sekarang menentukan jalan hidupku yang selanjutnya.
"Raja..."
"Cukup! Aku akan membawamu pergi, tapi mereka berdua aku tidak membutuhkannya!"
"Bukannya mereka sama cantiknya sama aku ya, mengapa tidak? Kalau bisa tiga-tiganya kenapa enggak?"
"Kamu sangat pintar ya dalam berbicara, kamu memang pantas menjadi istriku! Ehem.. baiklah aku akan membawa pergi mereka juga, meskipun rasanya sangat menjengkelkan."
"Terimakasih pangeran, kamu memang baik..."
"Sebenarnya aku juga membenci ayahku, dia adalah orang yang paling sulit saat aku ajak untuk berdiskusi, dan menganggap semua urusannya sangat penting!"
"Maaf, bisa di tunda dulu curhatnya, tuan! Sepertinya mereka semakin dekat!"
__ADS_1
"Tsk, baiklah."
Di sebuah tempat yang letaknya tersembunyi persis seperti yang aku harapkan. Pangeran atau bisa disebut Julian membawa kami ke tempat ini.
Bisa dikatakan tempatnya lumayan lembab di bagian jalan keluarnya akibat rembesan air di atas, karena kami saat ini berada di ruang bawah tanah.
Menggunakan kemampuannya itu Julian dapat dengan mudah membawa kami pergi menjauh.
Sepertinya Julian belum sadar bahwa aku telah membohonginya di awal. Saat aku membicarakan kepadanya tentang raja yang akan menikahi ku, seratus persen perkataan ku saat itu penuh dengan kebohongan.
"Sekarang kalian cari teman tidur di ruang bawah tanah, aku yakin sepertinya banyak ruangan disini!" ujar Julian yang berlalu pergi.
"Kamu baik-baik saja, Nie?" ucapku karena mengawatirkan kondisi Nie melihatnya dengan wajah yang pucat.
"Anita? Kamu dari awal memang sengaja kan? Membohongi kami dengan ekspresi dan kepolosan mu itu?" kata Nie menatapku lekat.
"Enggak, kok. Aku nggak bohongin kalian, sebenarnya situasi tadi lah membuatku ingat dengan ingatan masa laluku..."
"Ingatan masa lalu?"
"Hm, aku pernah berakting sedemikian rupa menjadi seorang pemeran antagonis di suatu drama!"
Alasan tersebut cukup untuk membuat kedua mengerti.
Kini aku pun berjalan-jalan sendiri di lorong dengan penerangan lampu yang redup. Dari awal tempatku mencari ruangan lain adalah dengan cara melewati lorong ini.
Aku penasaran, apakah Nie dan Geisha akan takut untuk sekedar berjalan di lorong ini?
Tak lama aku menemukan sebuah kamar yang letaknya tak jauh dari pintu keluar.
Keadaan di dalamnya lumayan lengkap dan masih terawat dengan sempurna. Aku pikir jika tempat ini adalah tempat yang sengaja di buat sebagai pelindung ketika terjadi kiamat.
Di sana aku membuka lemari baju dan begitu lengkapnya pakaian yang terpasang di bagian gantungan, sedangkan yang sudah di tata juga tak kalah banyaknya.
Akibat pakaian basah dan terkena terpaan angin, diriku sekarang ini merasakan rasa sakit.
Badanku seolah mengigil dan tubuhku menjadi panas.
Hampir saja aku jatuh pingsan namun aku masih menahan diriku agar tetap terjaga. Lalu sekuat tenaga aku sempatkan untuk mandi saat aku melihat kamar mandi di bagian pojok kamar ini.
Berbagai pikiran yang menganggu muncul dalam pikiranku, semuanya seakan mendesak agar aku cepat menyelesaikannya.
Tok! tok! tok!
Ketika aku sedang di dalam kamarnya mandi, terdengar suara ketukan pintu.
__ADS_1