
"Kamu sudah mengatasinya?" tanyaku masih tak percaya memastikan pendengaran ku barusan
"Iya, aku serius tidak membual. Dia sudah aku tangkap setelah dia lengah karena sifatnya itu, dan sekarang ini anak perempuan masokis itu berada di lantai 2 dengan kondisi terikat! jelas Kay sembari dia mulai melangkahkan kakinya.
Kay memimpin jalannya didepan menuju tempat si pengguna ilusi yang dimiliki oleh anak perempuan, jujur saja aku sangat penasaran padanya.
Selama menuju ke lantai 2 aku banyak mendapati keadaan rusak pada bangunan ini. Selain debu yang sudah menebal melapisi setiap tempat dan sudut dalam ruangan bangunan ini, ada pula hewan pengerat seperti tikus berkeliaran bebas disini.
Sarang laba-laba pun banyak menjalar hingga menutupi tangga yang aku lewati, di lantai satu lebih tepatnya ketika aku memasuki ruangan khusus packing berisi kardus-kardus, karton, dan banyak lagi disini keadaannya kacau sekali.
Dari mulai serpihan bagian atas bangunan yang bertebaran, lumut pada properti, tumbuhan yang tumbuh subur hingga terdapat buahnya, serta sampah-sampah sudah menghitam.
Seorang Willy yang tidak kenal takut pun merasa jijik pada pemandangan yang dia lewati, beda pada saat dia dalam keadaan berdarah-darah.
Melewati lorong panjang yang disekitarnya minim cahaya dan disampingnya terdapat tumbuhan-tumbuhan liar. Udara disini serasa lain berbeda sekali, hawanya pun menyeruak berasa dingin.
Sprash!
Sebagian tumbuhan ada yang menghalangi jalan hingga Kay menyingkirkan halangan tersebut menggunakan kemampuan miliknya.
Di bawah sana terlihat ada bekas kolam yang sudah hijau airnya, ada pula kursi panjang sudah rusak. Bisa disimpulkan lorong ini dulunya berguna sebagai tempat menghirup udara segar dalam bangunan.
Krauk! krauk!
Aku menoleh kebelakang, karena mendengar sesuatu yang ternyata suara tersebut ditimbulkan dari suara Willy yang sedang memakan buah.
"Willy, kamu makan buah apa? muntah kan cepat!" perintahku tegas seraya merebut buah ditangan Willy.
"Hey... itu makananku, aku kelaparan sekarang."
"Buah ini mungkin saja beracun jadi kamu tidak boleh sembarang memakannya, cepat muntah kan!"
"Oke, tapi kamu jangan menatapku begitu, kecantikan akan hilang tahu..."
"Emm..."
"Cepatlah, aku tidak punya waktu meladeni kalian," kata Kay ikut menghentikan langkahnya karena kami berhenti mengikutinya.
Kembali dilanjutkan, kami lalu memasuki ruangan perendaman dilihat dari kolam yang terdapat kotak tembaga sebagai wadah bahan setengah jadi, mungkin saja.
__ADS_1
Cuma yang membuatku bertanya-tanya kenapa kolam ini berisi ikan-ikan didalamnya?
Itu sangat tidak masuk akal sekali menurutku, Kay pun sampai terperangah saat melihatnya.
"Pulang nanti kita tangkap ikan-ikan disini, sepertinya bakal enak jika dijadikan ikan bakar," gumam Willy aku hanya menggelengkan kepala tak habis pikir dengan pemikirannya itu.
Sampai di lantai dua Kay kemudian menunjukkan tempat dia mengikat si pengguna ilusi, aku dan Willy pun menunggunya.
Yang ternyata si pengguna ilusi tersebut adalah anak kecil kira-kira berusia 14 tahunan menurut perkiraan ku dan benar seperti yang disebutkan Kay sebelumnya.
Anak perempuan ini orangnya masokis dilihat dari wajah dan gerak-geriknya yang aneh saat terikat oleh air.
"Bocah ini, menyusahkan saja," gumam Willy.
"Aaah ada banyak orang disini, aku menunggu kalian tahu... ayo lakukan sesuatu padaku, sebagai balasan dari kelakuanku sebelumnya pada kalian."
Dari pakaiannya saja terbuka dan tidak cocok dengan dirinya yang masih kanak-kanak. Apalagi dirinya menatap kami dengan tatapan berseri-seri.
"Kalau ini maunya bagaimana jika aku memberinya pelajaran paling menyakitkan hingga membuatnya tidak bisa berekspresi seperti ini," pungkas Willy.
"Tindakan seperti itu malah makin membuatnya senang, kau tidak ingat, dia ini orangnya masokis," sahut Kay mengingatkan kembali tentang sifat anak ini.
"Lihat. Dia jadi merasa kegirangan."
"Cih, dasar anak tidak tahu sopan santun. Aku ingin sekali menampar orang tuanya."
Tap! tap! tap!
Dari arah tangga terdengar suara langkah kaki seseorang yang sepertinya menuju kemari.
"Dia adikku!" ucap Kay membuatku terkejut.
"Eh?"
Wajah yang sama hanya berbeda pada penampilan dan gaya rambut kini diriku dapat kembali melihatnya setelah beberapa hari tidak melihat Ryu sejak pengulangan waktu.
"Kamu mengunjungi ku? Apa ada hubungannya dengan mereka? Bukannya dulu aku pernah berkata untuk tidak membawa seorang pun saat menemui ku!" ucap Ryu penuh penekanan pada ucapannya. Sepertinya Ryu berbicara kepada Kay.
"Ini urusanku, dan ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Langsung to the point saja, aku mengajakmu untuk berperang!" ucap Kay.
__ADS_1
Perkataannya kontradiksi antara tujuanku yang mencegah terjadinya perang, bukannya yang dikatakannya tadi malah sebaliknya.
Aku menduga perkataan Kay ini adalah semacam bentuk dorongan kepada Ryu yang memiliki sifat baik, aslinya.
"Perang? Tidak mungkin itu terjadi?" sahut Ryu seperti menepis perkataan Kay barusan.
"Dirimu yang tidak tahu apa-apa mana mungkin mengerti keadaan disekitar mu sekarang ini hanya dengan melalui orang lain, bukannya begitu?"
"Huh... aku akui diriku ini minim informasi tentang keadaan diluar semenjak berlatih demi meningkatkan kemampuan, informasi pun aku dapat dari anakku!"
Ryu pun menjelaskan dirinya yang sudah sangat lama berada di dalam gedung ini kepada Kakaknya. Menceritakan pula dirinya yang sudah mempunyai anak.
Anaknya bernama Bio yin perempuan yang diikat oleh Kay atau si pengguna ilusi mimpi.
Mengetahuinya sangat membuatku tercengang apalagi tidak disangka Ryu memiliki anak perempuan di waktu ini, bahkan anaknya begitu manis dan cantik. Tapi sayangnya sifatnya berbeda sekali dengan orang tuanya, kecuali sama seperti sifat ibunya atau istri Ryu. Itulah tebakanku.
Karena perkataan Kay yang begitu dapat dipercaya, Ryu akhirnya bersedia ikut untuk menghentikan perang. Yang pada kenyataannya hanya mencegah terjadinya saja, akan tetapi tidak menutup kemungkinan perang bisa saja terjadi.
"Papa, akhirnya papa datang juga. Aku sekarang diikat begini oleh mereka, cepat papa lepaskan aku," ucap perempuan diduga adalah anaknya Ryu, dia merengek ingin dilepaskan.
"Oh ya, aku lupa. Maaf bisakah lepaskan dulu anakku!"
"Aku beritahu padamu, anakmu ini sangat merepotkan sekali saat kami memasuki bangunan ini. Dia sebelumnya menyerang kami menggunakan kemampuan ilusi miliknya. Sepertinya kau harus memberinya pelajaran!" ujar Kay.
"Maaf untuk itu, anakku memang begitu jika bertemu dengan orang asing."
Sama sekali tidak mengenalku, di waktu pengulangan ini pangeran atau Ryu jabatannya di waktu alternatif. Dia lebih memilih menjauh dariku, saat aku bertanya pun dia menjawabnya dengan sangat singkat.
Di lantai paling atas kami berada sekarang, membicarakan lebih lanjut mengenai permasalahan yang akan dihadapi.
Perang antara manusia berkemampuan dan yang tidak memilikinya.
Di ruangan ini tempatnya berbeda sekali dengan ruangan yang lain, aku rasa, bersih dan terawat tidak kotor serta rusak.
"Papa, aku mau makan tapi mama masih belum pulang, aku lapar sekali..."
"Memangnya mama kemana sebelum pergi?"
"Mama mau menemui seseorang dan aku tidak boleh ikut katanya!"
__ADS_1