Last Life

Last Life
Kegelapan Yang Mencekam


__ADS_3

Angin kencang bertiup menerpa kami dari arah timur dengan hawanya yang terasa dingin masuk kedalam tulang, saking dinginnya. Gemuruh petir mulai terdengar menandakan sebentar lagi akan turun hujan.


Suasana di tempatku kini menjadi gelap gulita seperti menjelang malam hari yang padahal saat ini waktu masih di siang hari.


Wosh...


"Dingin banget..."


Kami mulai melangkahkan kaki mendekati bangunan gelap tersebut tanpa memikirkan rencana terlebih dahulu sebelumnya, Willy bilang jika kita sekalian berteduh di dalam sana.


Dedaunan tampak berterbangan terkena angin yang berhembus hingga tak lama membentuk sebuah pusaran yang berputar. Untungnya pusaran angin tersebut masih dalam tahap awal berukuran kecil.


Beberapa ranting pohon mulai berjatuhan akibat angin kuat dengan hembusannya yang bagaikan orang mengamuk, menghembuskan dengan kuat apa yang diterpa nya.


Hampir saja sebuah ranting jatuh mengenai kepalaku yang untungnya Yanwu dengan sigap menggunakan kemampuannya hanya demi mendorong jauh ranting tersebut ke arah lain.


Rintik air hujan mulai berjatuhan sedikit demi sedikit membasahi apa yang ada dibawah. Dari arah timur aku mendengar suara rintikan hujan yang semakin lama semakin mendekat kearah kami.


Di tambah aroma khas yang menjadi ciri khas khusus ketika hujan tiba pada saat air hujan membasahi tanah kering.


Aku pun mempercepat langkah untuk memasuki rumah besar tersebut dengan terburu-buru diikuti oleh mereka berdua.


Pas sekali saat aku sudah memasuki rumah besar ini hujan datang dengan sangat derasnya disertai anginnya yang kencang di luar.


"Huu dingin banget angin nya," gumam ku karena merasakan hembusan angin dari luar yang masuk kedalam rumah. Sampai aku memeluk diriku sendiri.


"Ayo kita masuk kedalam, bila perlu nyalakan ponsel jika ada!" seru Willy.


"Aku bawa!"


"Bagus bisa kita gunakan sebagai penerangan."


Ponselku kini dijadikan sebagai penerangan jalan karena keadaan gelap gulita setelah memasuki rumah ini.


Yang aku khawatirkan kini bukan hanya serangan musuh secara mendadak maupun sembunyi-sembunyi, melainkan jebakan yang bisa saja ada di dalam rumah ini.


Mungkin karena aku suka menonton film detektif yang mana membuatku berpikiran rasional seperti film yang aku tonton.


Entah kenapa jantungku berdegup kencang serta firasat ku merasakan seperti akan ada hal buruk yang terjadi.


Jdarrr!!


"Aahh!"


Krep!


Suara petir tiba-tiba mengagetkanku hingga aku tak sengaja aku melempar ponselku. Dan kini aku merasa khawatir terhadap suara kerasku tadi.


"Sttts..."


Willy memberikan ponselku lalu menyuruhku untuk diam, sepertinya di depan sana di dalam kegelapan yang pekat ada sesuatu tersembunyi.


"Apa di dunia ini ada monster? Dari awal aku terbangun bahkan sekalipun aku tidak pernah melihatnya, kecuali hewan yang di ubah menjadi berukuran besar gara-gara kemampuan milik Kwen, dan itu mirip seperti monster."

__ADS_1


Dres...


Hujan turun lebih deras lagi daripada yang sebelumnya membuat suasana gelap gulita ini menjadi lebih mencekam dalam kegelapan.


Kami terus melangkah maju kedepan pada lorong panjang ini mencari keberadaan orang yang memang sedang kami cari-cari.


Krektak!


Di dalam rumah ini lumayan lembab namun tidak kotor seperti kebanyakan bangunan di kota A yang tak terawat.


Cit...cit...


Kembali aku dikejutkan oleh kelelawar yang lewat di atas kepala dan berlalu pergi begitu saja.


"Tenang saja Anita, aku ada dibelakang melindungimu!" ucap Yanwu bersikap melindungiku


"Makasih..."


"Ya, memang sudah seharusnya."


"Tsk, sekarang gantian kamu memegang ponsel ini untuk menerangi jalan!" titah Willy seusai Yanwu berucap.


"Oke."


Yanwu langsung menuruti perintah Willy dan kini mulai berganti posisi. Sementara itu aku langsung menasehati Willy supaya lebih berhati-hati lagi dengan perkataannya.


Karena bisa aja si empunya rumah sedang mengawasi kami secara sembunyi-sembunyi.


Lebih dalam lagi memasuki rumah besar ini aku menjumpai sepatu yang usang dan baju sweater di lantai.


"Kayaknya sepatu ini milik seseorang sebelumnya," kata Willy.


"Benar juga, sepatunya bahkan sudah sampai rusak begini," sahutku sambil mengamati sepatu ini.


"Menurutku mungkin saja ada orang yang pernah kemari namun hal buruk telah menimpanya!" ucap Yanwu menimpali.


Aku setuju dengan apa yang dikatakan Yanwu karena memang mungkin saja terjadi hal seperti itu. Dan kalau saja benar aku merasa kasian kepada orang yang malang itu.


Lantai rumah ini tiba-tiba saja bergetar seakan terjadi gempa.


"Gempa?" ucapku spontan.


"Pasti pelakunya si pemilik rumah!" kata Willy langsung berkesimpulan.


Selang beberapa waktu getaran berangsur menghilang dengan sendirinya.


Arkkk!


Bug!


Suatu makhluk menyerupai manusia secara mengejutkan muncul dari kegelapan yang langsung menyerang Yanwu hingga lengannya terluka.


Dan dengan pukulan keras pula makhluk itu terhempas kembali ke arah minim cahaya. Baru ketika makhluk itu di sorot, wujudnya tadi sudah tidak terlihat lagi.

__ADS_1


Melihat luka di lengan Yanwu membuatku panik karena darah segarnya mengalir, namun sesuatu mengejutkan terlihat oleh mataku.


Yanwu bisa menyembuhkan sendiri dirinya sampai-sampai luka tersebut dapat tertutup kembali.


Setelah melihat hal tadi aku seakan membuatku tak percaya, dan efek takjubnya pun masih terasa. Yanwu lalu bilang keberadaan makhluk tersebut masih ada disekitar dan sedang mengamati.


"Apa itu?" ucap Willy mewakili ku.


"Hmm makhluk tadi sepertinya manusia seperti kita!" jelas Yanwu membuatku tak percaya lagi. Maksudku belum seratus persen aku percaya.


"Apa maksud perkataan mu karena makhluk tadi menyerupai manusia jadi kau seenaknya aja menyimpulkan?" balas Willy mendekati Yanwu dan berbicara di depannya.


"Bukan seperti itu, sebenarnya ada alasan aku mengatakannya makhluk tadi manusia seperti kita."


Tap! tap! tap!


"Siap-siap, mereka mendekati kita!" ujar Yanwu.


"Yan, bisakah kamu menggunakan kemampuan mu itu sehingga keberadaan kita tidak dapat diketahui!" saran ku padanya, ketika menemukanmu ide cemerlang yang terlintas di pikiranku.


"Kali ini aku tidak bisa. Karena keberadaan kita sebelumnya sudah diketahui," jawab Yanwu, pada ide ku tidak secemerlang yang aku kira.


"Cih, merepotkan sekali orang sepertimu. Minggir! Biar aku saja yang hadapi mereka semua!" tegas Willy maju kedepan ke arah makhluk menyerupai manusia itu akan muncul.


Aku terus menyorotkan lampu flash pada ponsel ke arah depan untuk mengantisipasi kedatangan mereka, meski tangan kananku sedang gemetaran entah kenapa.


Bukan rasa takut atau kekhawatiran melainkan hal lain. Hingga aku merasakan perasaan yang biasa aku rasakan semacam kesenangan yang meluap.


"Oh, ya. Aku lupa. Makhluk itu sebenarnya tidak mempan terhadap serangan fisik!"


"Apa!?


"Eh!?"


Arrrgh...


Makhluk itu kembali muncul secara mendadak lalu Willy menyerangnya dengan sabit ke arah titik vitalnya. Sayangnya makhluk tersebut tembus dan mengeluarkan cakar panjangnya di depan wajah Willy.


Wosh...


Yanwu dengan ekspresi datar menatap tajam kearah Willy setelah ia menggunakan kemampuannya dan menghempas makhluk itu.


"Syukurlah kamu selamat Willy," ucapku dengan ekspresi lega.


"Ya, hampir saja aku kena. Makasih ya Anita."


"Sama-sama emm?"


"Padahal aku yang menyelamatkan mu, huh ya sudah."


"Dengarkan aku baik-baik, makhluk itu selain menyerang fisik mereka juga menyerang sisi pikiran kita karena mereka bisa masuk dan keluar dengan mudah pada diri seseorang!" ujar Yanwu.


Tap! tap! tap! tap!!!!!

__ADS_1


Suara langkah kaki mereka terdengar sangat banyak hingga aku tidak tahu jumlah pasti makhluk itu sebenarnya.


Kini bisa dipastikan segerombolan makhluk itu sedang menuju kemari.


__ADS_2