Last Life

Last Life
Bagian 5: Jangan Begitu


__ADS_3

Bagian 5 : Jangan Begitu!


Pagi-pagi sekali Lila sudah ribut dan bangun. Jiwanya yang tak sabar bertemu Zoe memberontak hebat. Ibunya hanya tersenyum melihat anaknya. Usai berpamitan Lila langsung pergi meninggalam rumahnya tanpa melihat kebelakang lagi. Jari ini dia tidak naik mobil namun naik angkutan sesuai janji Lila kemarin kepada Zoe. Dia


berjalan menuju depan kompleknya dan membuka ponselnya mengirim pesan sekaligus mengecek grup kelas sekolahnya.


" Zoe, aku tunggu di depan komplek:)" Ketikku di roomchat. Tak butuh waktu lama pesan itu dibalas seketika.


" Aku didepanmu!"


Mataku terkejut setengah mati begitu menghentikan langkahku aku mendongakkan kepala dan hanya berbeda 1 langkah lagi dan mungkin jika tidak berhenti aku akan menabrak Zoe lagi. Matanya yang berwarna merah unik itu terkesan sebagai vampire dan khayalan ku tidak masuk akal. Kami berdua menunggu angkutan yang menuju sekolah. Ketika bus kota sampai, aku naik bersama Zoe. Mataku lemas begitu melihat banyaknya penumpang di bus ini.


" Duduklah disana!" Zoe menunjukkan satu tempat duduk kosong tak jauh dari pintu bus. Ketika aku duduk, dia berdiri berpegang pada tali khusus yang dibuat untuk berpegangan tangan. Namun aku sadar kalau orang introvert seperti Zoe itu adalah setia kawan walau dia punya teman Jina dan Kina keduanya tak sesetia Zoe. Aku sadar kalau introvert itu selalu dipandang lemah namun nyatanya mereka itu kuat. Diam-diam aku memandangnya lekat-lekat darj ujung rambut sampai ujung kaki. Dengan gaya rambut cepak short pixie with side bangs di tambah seragam sekolahnya dan postur tubuhnya tinggi. Nihil, aku membanding-bandingkan tingginya dengan laki-laki di dekatnya. Aku teringat kalau ini musim dingin tapi nyatanya aku selalu lupa memakai mantel. Aku heran kenapa dia melepas mantel hitamnya yang panjang selutut itu padahal di dalam bus ini terbilang dingin.


" Pakai ini, agar tubuhmu hangat!" Ucap Zoe menyodorkan mantelnya kearah Lila.


" Tapi, aku tidak apa-"


" Jangan bohong sama tubuhmu sendiri!" Perkataan Zoe mematahkan alasanku.


Akupun menerima mantel itu kemudian memakainya. Hangat. Kulihat dirinya yang masih berdiri memakai seragam sekolah. Sesampai di depan halte sekolah aku buru-buru turun mengejar Zoe yang sudah lebih dulu turun. Aku cepat-cepat mengenggam tangannya terasa dingin sekali. Udara yang keluar dari mulutku berhawa panas menyentuh udara dingin sehingga tercipta kepulan uap putih. Tangannya tak membalas pegangan tanganku, kubiarkan. Tangannya perlahan hangat. Ketika aku melewati jendela kulihat diriku bergandengan tangan dengan Zoe, aku berpikir aku seperti adiknya tapi kuyakin sih begitu. Cuman rasanya tanganku berkeringat. Tidak. Bukan aku yang berkeringat. Kulihat tangan Zoe bergetar pelan dan berkeringat. Aku berpikir apakah dia gugup aku pegang tangannya? Atau dia gugup tidak pernah bergandengan dengan manusia? Itu aneh, sekali lagi catat itu dia

__ADS_1


aneh.


^_^


Niatnya sih aku mau ngomong sama makan siang bareng dia namun nyatanya aku sama sekali tidak menemukannya ketika kepalaku berbalik ke arah mejanya. Aku tahu dia tidak suka ramai namun bencinya terlalu berlebihan menurutku. Aku tak bisa berpikir aneh lagi soalnya aku membawa dua bekal. Tunggu, saat sekolah tadi aku tidak ingat untuk membeli perlengkapan sekolahku yang sudah mulai fana. Baik, sepulang sekolah saja.


Di belakang sekolah di balik semak tinggi dengan pohon besar yang mengahalangi siapa saja yang menatapnya panjang. Seorang gadis remaja duduk sambil memegang ponselnya menatap roomchatnya dengan Lila. Dalam benaknya sendiri dia tidak bisa mengekspresikan apa yang harus diucapkannya di wajahnya itu. Dia sendiri jujur terkesima dengan perbuatan baik dan perhatian Lila kepadanya. " Ibu, kalau aku berteman ibu senang kan? Cocoknya kalau ngasih hadiah Zoe harus ngasih apa bu?" gumamnya menatap foto profil kontak Lila. Terbesit padanya kalau dia ingin memberi sebuah hadiah kecil untuk Lila entah kenapa Zoe menerima Lila yang datang mencoba menjadi temannya. Setiap waktu yang dilalui selalu diisi dengan berbagai ocehan dan pukulan keras. Aku tidak bisa melakukan apa-apa, aku hanya bisa diam dan aku tahu kok aku hanya capek.


Saat bel berbunyi tanda semua siswa dan siswi diperkenankan masuk ke kelas setelah jam istirahat habis. Zoe bangkit dari duduknya dan keluar menerobos semak namun sebelumnya dia melihat apakah ada orang yang melihatnya. Koridor yang dilewati sudah sepi namun setiap kelas belum ada gurunya makanya masih terdengar


keributtan. Drek! Ketika Zoe menggeser pintu kelasnya dia terkejut melihat Lila berdiri di hadapannya dengan tangan melipat di dada. Matanya menatap tajam kearah Zoe seakan mencoba menyelidiki dirinya.


"..."


" Tahu gak? Aku akhirnya makan sendiri kamu aku cari entah kemana! Aku makan sendiri tanpamu seharusnya kalau tidak mau bilang tidak mau!" Tegas Lila. Lila yang tampak kesal berbalik mengehentakan kakinya. Namun sebuah tangan mencekal langkahnya, Lila terkejut siapa yang mencekal tangannya.


" Zoe?" Aku tatap wajahnya yang terlihat sedih itu. Sebuah kata terdengar jelas dari mulutnya dan itu adalah kata perhatian yang pernah aku dengar. Satu kelaspun dibuat terkejut dengan takluknya Zoe pada Lila. Mereka ingin mencoba mengulang kata yang keluar dari mulut Zoe itu.


" Jangan begitu!" itulah katanya yang keluar dari mulutnya. Suaranya yang tidak pernah didengar siapapun kini terbuka perlahan.


" Kau bicara padaku, Zoe?" tanyaku ****. Aku segera memeluknya sambil berbisik lirih, " Nanti pulang sekolah tepati janjimu ya?" ucapnya melerai pelukannya kemudian kembali ke tempat duduknya sambil tersenyum. Satu kelas dibuat takjub bagaimana Lila menaklukkan manusia es itu.

__ADS_1


Sepulang sekolah, sesuai janji sebelumnya Zoe dan Lila pergi ke toko alat tulis tak jauh dari sekolahnya cukup berjalan kaki. Lila cuek tak mempedulikan bagaimana dia digendong Zoe sebagai wujud permintaan maafnya. Gadis itu tampak menikmati mudahnya dia menggapai rak yang tinggi berkat bantuan Zoe yang menggendongnya dari belakang. Oke, kita reka adegannya. Cus ke TKP.


" Tadi pagi kita kan gak jadi pergi ke toko ATK jadinya sepulang sekolah. Terus kamu kemana tadi? Hilang aja kayak hantu!" ucap Lila ketus membelakangi Zoe. Zoe yang tidak pandai bersimpati hanya diam dan berpikir bagaimana caranya membujuk, dia tidak pandai membujuk. " Aku gak mau maafin kamu sebelum kamu minta maaf sama aku!" memalingkan wajah. Zoe akhirnya beranjak dari tempatnya dan berdiri di hadapan Lila. Dia berbalik kemudian menundukkan sedikit badannya. " Ayo naik!" ucap Zoe pendek. Dia paham betul kalau aku memang malas untuk berjalan. Aku tersenyum puas dan melompat ke punggungnya. Di toko alat tulis itu, Lila dengan senangnya menyuruh Zoe kesana-kemari dan naik-turun mengambil barang. Keduanya pergi ke kasir untuk membayar semuanya dan masih dalam keadaan yang sama.


" Totalnya 78.000 mbak!" matanya melirik tertawa kecil melihat Zoe yang diam


saja sedangkan Lila sibuk mencari kartu Debitnya.


" Ini, pakai Kartu debit bisa kan?"


" Bisa mbak!"


" Dia pacar mbak?" ucap kasir itu tanpa malu. Zoe tidak bereaksi sedikitpun


kecuali Lila yang bereaksi heboh.


" Gak kok mbak, dia tuh teman saya lagian dianya sih yang tomboy


banget!"


Semuanya berlalu dengan bahagia. Walau ekspresi Zoe tetap sama tidak berekspresi sedikitpun namun dia merasakan kebahagiaan bisa bersama manusia. Manusia?

__ADS_1


__ADS_2