Last Life

Last Life
Terpaksa Dalam Kesendirian


__ADS_3

Di dalam rumah perempuan ini nampak sederhana namun kesannya elegan dan memanjakan mata.


Perabotan didalam rumahnya pun nampak tertata rapi dan bersih seakan di bawah meja tidak ada debu sama sekali.


Mencirikan jika perempuan ini orang yang suka bersih-bersih.


Aku dan yang lain lalu duduk di sofa yang sepertinya adalah buatan tangan seseorang, maksudku lebih ke arah bahan-bahan pembuatnya dari alam.


Aneh, kenapa wajah perempuan ini mirip dengan perempuan yang waktu itu aku temui. Walaupun terlihat perbedaan tapi untuk wajah sangat mirip.


Mungkinkah perempuan ini memiliki kembaran yang mempunyai sifat berkebalikan dengannya?


"Silahkan dinikmati, saya hanya bisa menghilangkan cemilan sederhana ini..." ucap perempuan ini sembari membawakan kami nampan berisikan cemilan dan minuman dengan senyum simpul.


Kue yang nampaknya baru matang terlihat sangat menggoda apalagi bagi orang yang kelaparan.


Saat ini Leonin langsung saja melahap kue didepannya dengan tamak tanpa memikirkan bagian untuk yang lain.


"Lagian siapa juga yang mau kue itu karena udah bekas sentuhan tangan dan jatuhan remahan dari mulut Leonin!"


Perempuan itu ku lihat menyikapi tingkah laku tak sopan Leonin sebagai tamunya dengan sabar. Tapi apa wajah seseorang yang nampak asli tak sedang menipu sama persis seperti yang kita bayangkan?


"Ah... saya ambilkan kue manis lagi ya...!"


"Tidak, tidak.. tidak usah! Minuman dan cemilan lainnya sudah cukup untuk kami, mungkin rekan kami ini sedang kelaparan, jadi saya mewakilinya untuk meminta maaf!" tolak Doro sembari meminta maaf kepada perempuan itu karena ulah Leonin yang menurutnya wajar jika sedang kelaparan.


"Tidak apa-apa, aku mentolerir rekan kalian malahan ingin membuatkan banyak hidangan untuk menyambut kedatangan kalian!"


"Maaf, kami jadi merepotkanmu..." sahut Reina merasa tak enak.

__ADS_1


Beberapa saat setelah makan bersama kami lalu membahas dengan perempuan itu mengenai tujuan kedatangan kami ke pulau ini.


Perempuan itu bilang jika dirinya tidak tertarik lagi dengan dunia tempat asalnya dan lebih memilih tinggal di pulau ini sendirian.


Dengan dalih sudah menganggap pulau ini seperti rumah sekaligus tempat peristirahatannya sampai dia menua.


Lalu yang membuatku bingung saat perempuan itu berkata dirinya hidup sendirian di pulau ini. Membuatku beranggapan bahwa dirinya tidak mengetahui seseorang selain dirinya yang mendiami tempat ini.


Atau bisa kearah aspek dimana seseorang menganggap dirinya hidup sendiri yang padahal banyak orang disekelilingnya.


Dia mengatakan seperti itu karena dirinya kesepian selama ini.


"Hmm, aku jadi penasaran, apa aku tanya saja ya padanya?"


"Kalau boleh... saya mau bertanya, kemampuan apa yang anda punya? Ya... ini mungkin terkesan tabu, tapi sesama ras manusia dewa dan kami yang sudah memberitahu mengeni tujuan rahasia kami.. tidak apa kan jika mengetahui kemampuan mu!?" ucap Leonin dengan argumennya yang menjebak, aku tahu itu.


"Um... saya memiliki kemampuan menghidupkan maupun menciptakan makhluk hidup!" jawab perempuan itu sejurus kemudian setelah sempat berpikir beberapa saat.


Tapi kemampuannya ini terbilang hitam dan putih tergantung orang yang memilikinya dan menggunakannya, bahkan aku berani memastikan seratus persen jika kemampuannya akan sangat banyak diinginkan oleh orang-orang yang hidup di dunia misterius ini.


"Apa kamu sengaja tinggal di tempat seperti ini, sebagai cara agar dirimu tidak diketahui oleh banyak orang. Dengan dalih ingin hidup sendirian disini sampai hari tua?"


"Ya... padahal kamu cuma menginginkan keamanan dari kemampuanmu itu saja, meski harus membuatmu hidup seperti orang yang terasingkan dan terpenjara dalam sangkar!" imbuh Leonin terlalu terang-terangan mengungkap tentang perempuan ini.


Dari ekspresi yang aku tangkap dari perempuan itu ternyata dirinya merasa jika perkataan Leonin barusan memang benar adanya.


Reina maupun Doro bertengkar dengan Leonin setelahnya, karena perempuan itu terlihat meneteskan air mata.


Saat ini aku berusaha untuk melerai, namun Leonin yang tak mau mengakui kesalahannya malah memancing Reina dan kekasihnya dengan ucapan sarkas.

__ADS_1


"Sudah! Aku sedih bukan karena ucapan rekan kalian yang asal menuduh, tapi karena ucapannya yang benar dan mengingatkan diriku pada kehidupan sehari-hari ku!" sergah perempuan itu yang dapat melerai mereka daripada diriku. Dengan perkataan keras di awal yang cukup membuat mereka maupun diriku terkejut.


Semuanya lalu terdiam, sepertinya mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Terutama diriku yang masih penasaran dan bertanya-tanya dalam hati.


Setelah meminta maaf kepada ras manusia dewa itu kamipun langsung keluar dari kediamannya demi melihat kemampuan perempuan itu.


Hewan-hewan dalam bentuk menggemaskan serta langka dan belum pernah ku lihat di manapun, kini berdatangan.


"Perkenalkan, mereka adalah makhluk yang telah aku ciptakan. Dengan kepribadian, sifat, dan kekuatannya masing-masing, serta berbagai aspek lainnya!" jelas Yui nama perempuan itu menerangkan salah satu kemampuannya, yaitu menciptakan.


Aku akui kemampuan menciptakannya itu sangat membuatku terkesan ketika aku melihat hewan-hewan ini.


Tak lain tercipta dan wujudnya yang bermacam-macam dari imajinasi yang kuat. Karena aku menemukan hewan yang mirip seperti buku komik petualangan yang pernah aku baca.


Tak lama Yui mengajak kami untuk pergi ke tempat pasca mengalami kebakaran. Tempat yang sebelumnya diriku dan Leonin padamkan dari api bersumber dari kemampuan perempuan misterius itu.


Hanya dengan memegang dan menutup mata seakan berdoa, kucing kecil yang kelihatannya sudah mati kini hidup kembali, meskipun dua kakinya hilang karena terbakar.


Tak disangka kaki kucing kecil itu mulai terbentuk seiring telapak tangan Yui bergeser dari awal bagian kaki kucing itu yang buntung.


"Wa... luar biasa, jadi kamu bisa menggabungkan kedua kemampuanmu itu?" ucap Reina menangapi kemampuan Yui lantaran bisa digabungkan dalam situasi tertentu.


"Huh... membosankan! Ada yang lebih penting untuk dilakukan agar misi ini cepat selesai..." gerutu Leonin dengan suara kecil, diriku yang berada disampingnya jadi mendengar omongannya.


"Stts... kamu jangan menganggu momen...! Nanti juga ada waktu kita untuk menegaskan apa kesimpulan Yui!" terang ku.


"Ya terserahlah, aku mau berkeliling. Kalian saja yang nantinya berusaha untuk menyakinkan dirinya agar mau ikut ke kastil!" ucap Leonin sembari melenggang pergi, tapi aku menahannya.


"Apa kamu ini suka sama aku, sampai kamu terus-terusan ingin dekat sama aku terus huh?" ucap Leonin asal menyimpulkan membuatku jadi melepaskan genggaman tanganku pada tangannya.

__ADS_1


"Siapa juga yang suka sama kamu, pria playboy, mana mungkin aku suka humph. Sekarang terserah kamu mau pergi kemana!" ucapku mendengus kesal padanya.


"Oh jadi ini sifat calon istri Yanwu yang baru, orang yang plin-plan hahaha," celetuk Leonin yang lagi-lagi membuatku kesal.


__ADS_2