Last Life

Last Life
Dia Yang Selalu Tersorot


__ADS_3

Kami berdua lalu pergi setelah mendengar keluhan dari Tanaki.


"Kenapa sih kamu mau sendirian dalam misi ini?" tanyaku kepada Junjie sambil berjalan menuju ruangan layar lebar tempat Sekai sedang mengoperasi. Sembari berbincang dengan Junjie yang kini berjalan beriringan denganku.


"Apa kamu mengkhawatirkan diriku, jika iya aku sangat berterimakasih."


"Siapa yang khawatir padamu.. aku cuma penasaran saja Humph."


"Ya, aku tahu itu, tapi entah kenapa aku lebih khawatir jika dirimu membenciku, bahkan aku senang saat menggoda dirimu, Anita!" ucap Junjie terang-terangan mengaku dirinya memang selalu menargetkan diriku jika waktu yang pas.


Semenjak dia mengaku tentang perasaannya padaku dengan menyatakan cintanya, Junjie jadi sering jujur padaku, aku merasakannya begitu.


Untungnya aku bisa menahan kata-kata godaan tadi sehingga tidak membuatku canggung maupun tersipu malu.


Beberapa saat, akhirnya kami berdua sampai di ruangan besar seperti bioskop. Aneh, karena ruangan ini dibuat sama persis dan didalamnya dipadukan dengan sentuhan klasik.


"Hai Sekai, kamu masih sibuk?" tanyaku melihat Sekai yang tengah mengamati layar besar seperti layar bioskop, sembari melihat layar hologram yang dapat disentuh seperti ponsel. Berisikan data yang tidak aku pahami.


Dia lalu menatapku sembari mengalihkan atensinya pada Junjie.


"Aku sudah selesai dengan semuannya Anita, tinggal pemeran utamanya saja yang masih belum bersiap-siap!" sahut Sekai kemudian menekankan kalimatnya di akhir, kurasa ada perkataannya yang merujuk pada Junjie.


"Tapi kenapa kamu membuat ruangan ini seperti bioskop?" tanyaku lagi penasaran, pasti ada alasan terkait kenapa ruangan ini harus mirip seperti suasana didalam bioskop. Bahkan kursinya pun begitu banyak disiapkan.


"...ya karena kita akan melihat Junjie melakukan aksinya selama menjalankan misi kali ini, ku harap dia tidak mengecewakan!" jawab Sekai.


"Oh.. tenang saja, aku pasti akan membuat kalian puas menontonnya. Kalau begitu aku ingin segera turun dan menyelesaikan misi itu secepatnya!" timpal Junjie aku lihat dia begitu bersemangat sekali. Antusias pada misi pertama kalinya.


"Kalau begitu hati-hati ya saat memulai misi," ucapku menyemangati Junjie.


"Hmm, aku pastikan tidak akan mendapati luka saat kembali."


•••


Tak lama kastil terbang ini akhirnya sudah dekat dengan kota yang berada di Padang pasir lumayan luas itu. Sekai memberitahukannya kepada Junjie dan didengar olehku.


"Anita, aku pergi dulu. Ingat, jangan lupa kamu melihat diriku maupun membantuku jika aku sempat lalai!" pinta Junjie sebelum pergi, dia sudah bersiap-siap sebelumnya.

__ADS_1


"Hmm, aku bakal bantu kamu, tapi tidak selalu ya... karena aku sudah janji dengan Reina!"


"Tidak apa, aku malah menghargai dirimu."


Tak lama Junjie lalu turun diikuti oleh banyak robot menyerupai bola yang kini wujudnya tak terlihat lantaran transparan.


Junjie terlihat menaiki pedangnya untuk menuju ke kota ini dia juga menganti hanfunya dengan warna hitam dan ada garis berwarna merah.


Rambutnya yang tertiup angin dengan wajah santainya membuatku yang melihatnya dari layar besar seakan menonton film romantis bertema fantasi timur saja.


Disini, di ruangan seperti bioskop ini diriku, Sekai, Yanwu, sedang menonton. Dan sebelum diriku sibuk dengan aktivitas mengolah buah-buahan aku ingin melihat aksi Junjie terlebih dahulu.


Sampai di sana Junjie langsung bertanya pada orang-orang yang berpapasan dengannya, setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh Junjie mengarah pada ras manusia dewa itu.


Seperti sedang mencari maupun mengorek informasi terlebih dahulu.


Enam belas orang acak sudah Junjie tanyakan selama dirinya berkeliling, dia lalu bergumam akan menentukan beberapa rumah yang bisa saja ditinggali oleh ras manusia dewa itu.


Seiring berjalannya waktu aku puas melihat keindahan kota itu dengan menyaksikan live Junjie mencari ras manusia dewa itu, terlihat pula di sana pohon buah lezat. Yang ingin aku cicipi. Dan juga masakan terlihat menggiurkan.


"Berapa tempat yang akan kamu datangi Jun?" tanyaku lewat alat komunikasi yang langsung terhubung dengan Junjie. Berada di dekat telinga, namun kecil.


"Hmm."


Satu tempat didatangi dan dihuni oleh sebuah keluarga beranak satu, seorang perempuan yang membuka pintu beberapa saat terdiam dia lalu bersikap ramah sekali pada Junjie, menyuruhnya masuk meskipun Junjie menolak halus.


Dari tatapan perempuan itu aku bisa menebak, dia sepertinya menyukai Junjie pada pandangan pertama.


Tak disangka Junjie menolak dengan sedikit bentakan hingga membuat perempuan itu melepaskan genggaman tangannya pada Junjie. Keluarganya yang melihatnya pun menyuruh Junjie pergi, sampai melempari Junjie batu.


Junjie pergi dengan berjalan santai sembari menghindari lemparan batu kecil itu.


"Pfff..." jujur saja aku malah tertawa kecil melihatnya.


"Hei... suka melihatku terkena sial ya?" dan suara tawa kecilku tadi nyatanya di dengar oleh Junjie. Kurasa aku harus berhati-hati dengan suara mulai sekarang.


Hingga rumah terakhir didatangi, namun prediksi Junjie tidak ada yang benar. Bahkan membuat Yanwu menertawainya saat menonton.

__ADS_1


Saat aku mengunyah popcorn buatan Reina tiba-tiba saja aku dikejutkan dengan Pasir yang melayang dalam jumlah banyak hampir menutupi kota itu dari layar besar ini.


Ada satu robot yang merekam dari ketinggian menurutku, itulah sebabnya aku dapat mengetahuinya dengan jelas seberapa luas kota tersebut.


Tak lama hujan dari pasir tajam pun turun, ketika pasir itu sudah menutupi seluruh bagian kota.


Crat.


Crat.


Crat.


Bukan suara rintikan lagi tapi suara gaduh akibat kerusakan dan benda serta barang-barang yang rusak terkena hujan tersebut.


Beberapa orang aku lihat berbondong-bondong menyelamatkan diri maupun menggunakan kemampuannya untuk menghalau jatuhan hujan pasir tajam itu.


"Yanwu, kamu bilang ras manusia dewa itu tidak pernah membunuh orang? Tapi sekarang dia seperti hendak membunuh banyak orang sekaligus?" tanyaku di sela-sela menonton dan mulai merasakan merinding melihat keadaan kota itu saat ini.


"Benar, dia memang tidak pernah membunuh seseorang pun. Kamu perhatikan baik-baik lagi Anita!" jawabannya membuatku memalingkan wajah kembali melihat layar.


Aku pun mengamati dengan teliti dan aku menemukan suatu kejanggalan dari hujan berbahaya itu.


Jatuhan hujan itu nyatanya seperti sengaja agar tidak mengenai orang-orang.


"Ya, ras manusia dewa itu sengaja melesatkan dan mengatur hujan dari pasir itu agar tidak mengenai manusia. Dalam artian acak maupun terang-terangan, seolah-olah mereka yang lolos dari hujan itu adalah suatu kebetulan!"


Benar apa yang dikatakan oleh Yanwu, namun robot-robot masih belum merekam ras manusia dewa itu sampai sekarang.


Layar besar ini kini dibagi menjadi enam sorotan.


Junjie terlihat membantu orang-orang yang memang ada kemungkinan kecil terluka, meskipun ras manusia dewa itu tidak ada niatan membunuh sama sekali.


Menit demi menit berlalu, akhirnya aku melihat sorotan ras manusia dewa itu. Dia memakai pakaian era Yunani.


Ada sisi terbuka pada tubuh bagian belakangnya dan dia bak Dewi dari atas sana.


"Sebenarnya kemampuan ras manusia dewa itu apa, Yanwu?" tanyaku.

__ADS_1


"Selain mampu mengendalikan pasir, dia juga dapat memanipulasinya menjadi apapun! Serta memiliki kemampuan lain, yaitu ilusi. Hanya saja ada syarat untuk mengaktifkannya!"


__ADS_2