Last Life

Last Life
Kadang Rencana Tidak Selalu Berjalan Mulus


__ADS_3

Kamipun pergi meninggalkan kastil dan bergegas menuju ke tempat pertemuan.


"Ini aku tim suport, berbicara dengan kalian lewat telepati, kalian sekarang harus berhati-hati karena orang-orang kerajaan sedang menuju ke kastil!"


"Untuk langkah selanjutnya sesuaikan dengan kondisi masing-masing, dan sampai bertemu di tempat pertemuan."


Barusan seseorang dari di tim suport telah menyampaikan pesan kepadaku yang mungkin sedang diterima oleh setiap tim.


Brain berada didepan memimpin jalan. Sementara yang lain berusaha melindungi diriku dari arah samping dan belakang.


Dap!


Dap!


Datang dua orang bertubuh raksasa entah darimana, mereka muncul begitu saja dan menghadang kami. Bekas pijakannya membekas dalam di tanah sehingga aku simpulkan mereka sebelumnya melakukan loncatan.


Tubuh penuh otot-otot besar serta jari telapak tangan dilengkapi semacam sarung tangan terbuat dari logam berduri membuatku menjadi ngeri saat membayangkan mereka melakukan aksi.


Brak!


Brak!


Karena sekarang kami berada dihalaman kerajaan Brain jadi mudah untuk menggunakan kemampuannya, bahkan dirinya langsung memanggil sekumpulan robot-robot dari dalam tanah.


"Kalian lanjutkan kabur dari sini tanpa diriku, sepertinya mereka sudah dekat, cepat! Aku percayakan kepada kalian untuk menjaga gadis ini!"


"Ayo kita bergegas pergi Anita!" ujar Kino menyambar tanganku.


"Tapi Kino, dia bakal sendirian melawan mereka, takutnya..." ucapku mengkhawatirkan keselamatan Brain yang menurutku dia egois dalam mengambil keputusan.


"Dengarkan aku, sekarang situasinya genting, lebih baik kita pergi sekarang. Aku yakin dia bisa mengatasi dua raksasa itu bersama dua orang yang membantunya, ditambah robot ciptaannya!"


Terpaksa aku meninggalkan Brain yang dibantu oleh dua relawan, kini mereka sedang menahan dua orang bertubuh besar tersebut.


Dam!!!


Dorr!!


Dari kejauhan aku masih mendengar suara gaduh cukup keras saat aku menoleh kebelakang sekilas ternyata prajurit kerajaan terlihat menyerbu Brain.


Itulah yang aku takutkan sebelum meninggalkan Brain disana berbekal informasi tadi melalui telepati, bisa disimpulkan kami bisa saja bertemu dengan orang-orang kerajaan jika tidak bergegas pergi dari kastil.

__ADS_1


Apalagi saat Brain mengatakan mereka sudah dekat, kurasa hal tersebut dia ucapkan bukan sekedar memperingatkan dan memberitahu. Bisa saja dia memang benar-benar mampu saat melawan orang-orang kerajaan. Dan aku harap begitu.


Memasuki area rimbunan pepohonan dekat dengan benteng kerajaan kami berniat untuk keluar terlebih dahulu dari area kerajaan.


Saat aku berlari bersama dengan yang lain tiba-tiba saja pria bertopi hitam turun dari atas pohon dan mengangkat satu tangannya.


Bersamaan dengan itu pepohonan disekitarnya tercabut paksa dari tanah dan sekarang ini melayang di udara serta melesat cepat ke arah kami.


Bukan hanya satu atau dua pohon saja, melainkan banyak pohon sekaligus.


Sebenarnya Kino berlari sambil membawa Yin di kedua lengannya.


"Nie!" ucap Kino berteriak yang dekat di sampingku sejajar dalam berlari.


Yang sepertinya kami harus menghentikan langkah dan berusaha menghindari pohon-pohon yang menuju kemari.


Beberapa saat ketika aku rasa sudah menghindari serangan orang itu, nyatanya tidak terdengar suara pohon menghempas ke tanah.


Saat aku menengadah ternyata pepohonan masih melayang dan belum ada satupun yang menyentuh tanah.


"Aku sudah mengendalikan pria ini, mari kita lanjutkan!" ucap Nie.


Masalah didepan mata sudah terselesaikan dan kami bisa melanjutkan langkah menuju tempat tujuan, yaitu pertemuan dengan tim suport.


Geisha dan kwen juga ada disini, meskipun tim support ini tidak lengkap semua anggotanya.


"Apa kamu baik-baik saja Anita, dan semuanya?" tanya Geisha kepadaku.


"Aku baik-baik saja, cuma ada kendala yang menimpa tim kami sehingga Brain harus berjuang keras dengan dua orang relawan!" jelasku.


"Relawan?"


"Jadi mereka itu orang-orang yang telah dibebaskan dari penjara bawah tanah, sebagian lagi sudah diamankan sedang mereka yang bisa di hitungan dengan jari menjadi relawan di tim kami. Mungkin hal tersebut adalah bentuk terimakasih mereka kepada kami!" ucap Nie menjawab kebingungan Geisha.


"Namamu Kwen kan, sekarang bagaimana mengenai penyelidikan dan ancaman yang bisa saja terjadi. Aku rasa sebagian tim suport tidak hadir disini?"


Kino sepertinya sedang berbincang dengan Kwen.


"Yang lain juga mengalami hal serupa seperti timmu, Siluet terbunuh oleh seseorang berkemampuan membekukan!"


"Lalu satu orang lain yang bernama Billy, apa dia juga terbunuh?"

__ADS_1


"Tidak. Dia sangat kuat hanya saja mentalnya sangat rapuh dan sekarang ini telah berada digenggaman si peniru wajah!"


"Hmm begitu. Dan orang ini?"


"Siapa yang kau panggil itu!"


"Dia bertemu dengan kami karena memaksa untuk berpindah dari tim penyerangan, entah karena hal apa, aku tidak tahu."


Mendengar pembicaraan Kino dan Kwen membuatku terkejut karena banyak sebab dan akibat yang akan ditimbulkan pada kejadian yang dialami tim suport.


Salah satunya berakibat mengubah rencana awal sebagian.


Siluet yang terbunuh serta Billy yang telah tertangkap bisa saja dijadikan sandera, apalagi Billy adalah rekan Ryu dari keempat orang lainnya. Padahal sebelumnya antara Billy dan Siluet beberapa saat yang lalu telah menyampaikan pesan melalui telepati.


"Untuk sekarang bagaimana, apa kita kembali memasuki wilayah kerajaan lagi untuk membantu tim penyerangan? Dan lihat, bahkan di langit ada petir yang menyambar!" ucap Nie menanyakan kepastian.


"Orang itu berkata kepadaku bahwa dirinya bisa mengalahkan raja dengan mudah, itu sebabnya aku keluar dari tim penyerangan. Tapi sebelum aku pergi dia mengetahuiku, mengatakan agar yang lain fokus pada pelindung kerajaan saja. Setelah mendengarnya aku pun langsung pergi."


Aku menduga orang yang Willy maksud adalah Yanwu, siapa lagi kalau bukan dia.


"Oke, biar aku saja yang menentukan. Kita sekarang kembali ke wilayah kerajaan, tugas kita mengatasi para prajurit kerajaan dan pelindung raja yang masih tersisa!" ujar Kino.


Yang pada akhirnya semuanya menuruti perkataan Kino, aku pun setuju karena tim penyusupan tidak lagi memiliki beban setelah selesai pada misi menangkap kedua ancaman.


Begitupun tim suport yang memang tugasnya mensupport tim penyerangan.


Kami menuju arah dinding tinggi yang tadi telah dirusak untuk keluar dari wilayah kerajaan.


Kemudian Kino memimpin jalannya, dia bilang agar tidak mendekati kastil.


Hingga kami mulai menyerang hewan summon berbahaya setelah berpapasan dengan seorang pria yang membawa wanita.


Dia langsung menggunakan kemampuannya dan pergi begitu saja setelah melafalkan mantra yang dapat membuka sebuah portal, dia aku lihat seperti sedang terburu-buru.


Sama dengan portal pria berkemampuan tembakan waktu ini itu, bedanya portal ini lumayan besar lalu keluar hewan-hewan summom menurut Willy


Sampai akhirnya keluar paus yang dapat terbang dari portal tersebut, yang disekitar badanya terdapat bola berwarna hitam.


Dharr!!


Dharr!!

__ADS_1


"Hati-hati! Bola disekitar paus itu bisa meledak kapanpun yang dia mau, aku mengenal hewan summom ini," ucap Willy memberitahu diriku.


Kini aku, Willy, dan, Nie sedang berurusan dengan paus ini, sementara yang lain menghadapi hewan summon lainnya tak kalah berbahayanya.


__ADS_2