Last Life

Last Life
Penasaran Pada Pulau Tujuan Berikutnya


__ADS_3

Kembali didalam kastil melayang yang berdiri di atas burung berukuran besar dari bebatuan, baru saja kami menginjakan kaki kami langsung disambut hangat oleh mereka yang sebelumnya tidak ikut menjalankan misi.


Reina menghampiriku kemudian memelukku erat, dia bilang sangat rindu kepadaku.


Sebab, saat aku memiliki kesempatan untuk berbicara berduaan dengannya dia sempat bilang kepadaku ingin sekali punya adik perempuan.


Dan saat aku keceplosan dalam berkata pada akhirnya membuatku dalam posisi seperti sekarang ini, Reina menganggap diriku sebagai seorang adik.


Tentu saja bukan karena alasan itu dia menjadikan aku sebagai adiknya. Dia menilai maupun memahami sifat dan perilaku diriku, yang menurutnya sesuai dengan keinginannya.


Ya, dia orang yang jujur saat diriku akrab dengannya. Serta tipe orang yang pemilih harus sesuai dengan kriteria maupun pilihannya, bisa pada apapun.


Sementara Yanwu langsung berbincang dengan rekan lamanya.


Sekai aku lihat mencomot makanan pada nampan yang dipegang oleh kekasih Reina, namun sekilas aku lihat dia dilarang untuk mengambilnya.


Beberapa saat kemudian, kami mengobrol di ruang makan tentang keberhasilan misi kali ini. Aku pun bercerita tentang pengalaman ku kepada mereka dengan bebas, meskipun tidak semuanya ku ceritakan.


Tapi ku lihat mereka menghargai diriku terlihat dari wajah mereka yang serius menjadi pendengar.


Berbeda dengan Yanwu yang berekspresi datar dan hanya memandangi diriku saat berbicara, sepertinya dia memaafkan kesempatan ini untuk melihatku dengan bebas.


"Humph, dasar buaya darat!"


"Uhuk!"


"Ada apa Yan, kau sepertinya tersedak untuk yang pertama kalinya, seingat ku begitu?" seloroh Leonin mengomentari Yanwu yang tersedak.


Kurasa sebab dirinya terdesak karena dia terus terusan menatapku tanpa seijin ku. Rasakan itu.


"Ini karena sup ini terlalu asin, aku sampai tersedak karena langsung menyeruput nya. Aku tidak menyukai rasa masakan teramat asin!" sahut Yanwu menjelaskannya kepada Leonin maupun kami semua, serta mengomentari sup buatan Reina.


Aku tidak habis pikir ternyata dia menggunakaan orang lain sebagai tameng.


"Eh, sup buatan ku asin? Kayaknya enggak deh, biar aku coba!" timpal Reina yang kemudian menyeruput sup buatannya dengan sendok.


"Heek... ternyata asin, tapi bagaimana bisa, waktu itu aku cicipi takarannya pas?"

__ADS_1


Tidak salah lagi pasti Yanwu melakukan sesuatu pada sup buatan Reina.


Beberapa saat setelah diriku membersihkan badan Sekai mengajak diriku untuk melihat-lihat tempat yang akan menjadi tujuan selanjutnya.


Di ruangan manipulasi yang dapat membuat sekitaran ruangan ini berubah menjadi tempat yang diinginkan.


Sekali lagi diriku akan merasakan sensasi realistis seperti halnya berada di suatu tempat padahal aku sedang berada didalam ruangan yang cukup besar dan lebar itu.


Sebelumnya kami sempat membahas tentang tempat tujuan yang akan disinggahi dan pastinya dihuni oleh salah satu ras manusia dewa.


Lalu Yanwu memutuskan tujuan berikutnya menuju ke sebuah pulau yang dihimpit oleh beberapa pulau lainnya.


Menurut penuturannya, pulau itu lumayan besar untuk dihuni oleh ras manusia dewa serta terdapat hewan-hewan eksotik yang menghuni pulau itu.


Memasuki ruangan manipulasi aku langsung dibuat terbelalak lantaran setelah pintu ruangan di depanku terbuka, pemandangan hijau memanjakan mata layaknya hutan hujan aku lihat dengan mata kepalaku sendiri.


"Wah... jadi ini tempat yang akan kita singgahi Sekai?" tanyaku antusias sembari melangkah masuk, pintu ruangan pun tertutup seketika membuat diriku seakan berada di tempat berbeda dalam sekejap.


"Ya tempat ini yang akan menjadi tujuan kita selanjutnya. Yang ku tahu tentang pulau ini adalah tidak konsisten, serta ciri khasnya terdapat hewan-hewan eksotik yang tak dapat ditemui di tempat lain!" terang Sekai menjelaskan sedikit mengenai pulau ini.


Hanya saja yang membuatku penasaran adalah perkataan mengenai pulau ini yang tidak konsisten, apa maksudnya?


Hanya sekitaran tampak mirip seperti di kota A namun bedanya tidak terdapat bangunan terbengkalai, tapi jujur saja tempat ini bernuansa menenangkan.


Bagi mereka yang suka berkemah dan menjelajah hutan pasti tempat ini akan menjadi destinasi favorit.


"Kamu pasti sempat memikirkan, kenapa hewan-hewan eksotik itu tidak menunjukkan eksistensinya. jawabannya sederhana, karena ruangan manipulasi ini tidak dapat meniru hewan di pulau itu dalam bentuk ilusi tiga dimensi!"


Akhirnya rasa penasaranku terjawab setelah Sekai menjelaskannya secara rinci kepadaku.


"Hmm, aku mengerti. Ngomong-ngomong gunung di tempat ini bahaya nggak ya, kelihatannya berkabut, jadi aku tidak tahu bagaimana kondisinya?" tanyaku.


"Asumsi ku gunung itu tidaklah berbahaya, malahan memberi manfaat tersendiri. Kamu lihat tumbuhan di tempat ini baik-baik!"


Aku pun mengedarkan pandangan sembari melihat ke segala arah di sekitaran ku. Tenyata yang ku tangkap sebuah perbedaan antara hutan lain dengan tempat ini.


Dari segi tumbuhan, di pulau ini sangat hijau dan segar seperti halnya di pagi hari. Padahal saat aku melihat jam tangan sekarang ini sudah pukul sepuluh.

__ADS_1


Hingga pada waktu kami akan mendarat dan tidak semuanya ikut seperti biasa, kali ini Reina dan kekasihnya serta diriku dan Leonin yang bakal melakukan misi.


Dan alasan diriku selalu ikut dalam misi karena Yanwu menyarankan ku, kemungkinan dia memang sengaja melakukannya.


Leonin membantu diriku mendarat menggunakan kemampuan salju yang membentuk bola berukuran besar.


Dan saat bola salju itu jatuh dan aku ada didalamnya ternyata bola ini mengambang beberapa inci dari tanah ketika mendekati daratan, aku menyimpulkannya saat sudah keluar.


Sementara mereka berdua Reina dan kekasihnya berdekatan saat turun dari kastil.


"Cih, mereka pamer kemesraan, bagaimana jika kita membalasnya?" ucap Leonin kepadaku saat menengadah melihat mereka.


"Biarkan saja, aku tidak peduli!" aku menjawabnya malas karena aku tahu maksud dari perkataannya yang sederhana itu.


Alasannya lainnya karena aku tidak ingin terlalu akrab dengannya, sebab Leonin adalah seorang playboy akut.


Yang ku ketahui sisi buruk dirinya itu dari Yanwu, rekan sekaligus rivalnya.


Mulai memasuki area hutan guna mencari sebuah rumah yang terbuat dari kayu yang menurut spekulasi Yanwu ditinggali oleh ras manusia dewa itu.


Dia adalah seorang perempuan yang tidak diketahui oleh Yanwu informasi tentangnya.


Bahkan Yanwu saja tidak mengetahui wilayah yang menjadi titik keberadaannya.


Kupu-kupu berukuran besar bersayap es mengejutkan diriku. Saat terbang kupu-kupu itu meninggalkan butiran salju bercampur es yang terlihat indah.


Tentu saja karena aku memiliki ponsel aku langsung saja mengabdikan momen ini, walaupun kualitas gambarnya terbilang tidak hd.


"Kamu membawa ponsel ya, sini aku pinjam!" ucap Leonin sembari mendekatkan tangannya kepadaku.


Langsung saja aku sembunyikan ponsel ini darinya, meskipun dia tahu aku menyembunyikannya.


"Hei... ada apa denganmu, sepertinya kamu sedang menghindari diriku, benar bukan. Hmm, apa kita pernah bertemu sebelumnya? Jika iya apa mungkin kau berakhir dengan... dicampakkan olehku?"


Aku sebenarnya ingin marah-marah kepadanya tapi aku ingat pribadiku sekarang sudah aku ubah.


Aku mengibaskan kedua tangan didepannya dengan ekspresi yang dapat diartikan jika perkataannya barusan salah.

__ADS_1


"Bukan..."


"Ya, ya aku percaya. Baiklah, lupakan hal tadi. Sebenarnya aku ingin pamer saja kedekatan kita di depan mereka, kamu lihat sekarang, mereka asyik mengobrol dan melihat-lihat. Dan lupa terhadap kita, bukannya hal itu seperti halnya melupakan tujuan misi ini!" ucap Leonin mengakui alasan dirinya yang ingin meminjam ponsel milikku. Hanya saja di akhir ucapannya aku dibuat agak takut dengannya.


__ADS_2