Last Life

Last Life
Bagian 8 : Semuanya Harus Punya Awalan


__ADS_3

Bagian 8 : Semuanya Harus Punya Awalan


Pagi itu tepat pukul tiga dini hari Lila dan Zoe bersiap-siap berangkat mengingat Zoe dan Lila tidak mau berpisah lagi namun siapa sangka keduanya sudah memeiliki ikatan khusus yang mereka tidak ketahui sama sekali.


Hanson tiba ketika Zoe dan Lila hendak turun dari balkon rumahnya. Hari ini Hanson terlihat sangat sibuk mengingat dirinya harus beradaptasi menjadi manusia menuntun mereka berdua menuju pintu gerbang dunia siluman. “ Kurasa, para rigil akan sedikit kesal melihat kedatangan temanmu?” ucap Hanson mendengus. Lila yang tidak terlalu mengenal Hanson berjalan takut di samping Zoe menjauh dari Hanson. Zoe yang melihat hal itu menangkap ada ketakutan di mata temannya itu. “ Tenang saja, dia adalah pengawasku selama disini” ucapku menatap matanya yang menunduk kearah trotoar jalanan. Lampu-lampu jalanan yang masih hidup menerangi trotoar yang kami lalui. Setiba di perempatan jalan kami berbelok ke kiri kemudian 10 langkah dari perempatan jalan kami masuk ke dalam lorong yang cukup besar mungkin mobil bisa masuk. Aku jujur sebagai manusia siluman serigala putih abu-abu aku sama sekali tidak menginjakkan kaki di luar rumahku kecuali sekolah selebihnya itu karena Lila temanku sendiri. Kali itu aku sadar berkat Lila aku bisa menikmati lingkungan lain. Hanson tampak menggeret karung besar yang berikat pita merah dengan karung rajut berwarna coklat muda. Dia menyuruh kami menunggu untuk membawa karung itu. Mata yang berwarna amber itu melirik tajam ke arah karung yang perlahan dia buka sejenak. Kemudian kedua tangannya menarik sebuah mantel bulu tebal besar memberikannya kepadaku.


“ Pakailah ini, ini akan menyamarkan auramu ketika tercium para rigil jahat!” ucapnya. “ dan ini untukmu!” menyerahkan sebuah mantel kulit berbulu tebal putih besar kepada Lila. Aku hanya diam begitu hanson memberiku sebuah mantel yang begitu besar. Tapi ketika lenganku masuk kedalam mantel itu seketika mantel itu mengecil mengikuti besar lenganku. Sama halnya dengan Lila, tubuhnya yang berpostur 154 cm itu juga terkejut begitu mantel yang diberikan Hanson kepadanya mengecil seketika mengikuti postur tubuh pemakainya. Ini adalah perjalanan baruku bersama orang lain. Ini pertama kalinya aku berjalan da nmelakukan misi pertama kali bersama manusia.


Hanson berjalan mendekat merogoh saku mantelku dan mengambil kunci mobil yang mirip remot kecil itu. Langkah kakinya terlihat lebih cepat begitu cahaya bulan mulai meredup. Aku dan Lila bergegas menaiki mobil begitu dia menghidupkan mesin mobil itu. Aku tidak tahu apakah dia pandai berkendara atau tidak dan sejak kapan siluman rubah sepertinya bisa berkendara.


“ Sejak kapan siluman rubah sepertimu bisa berkendara?” tanyaku asal.


“ Um, mungkin semenjak kamu lahir dan dikirim ke dunia manusia, mungkin?” jawabnya memutar kemudi mobilnya.


Aku tidak begitu jelas mengingat dan menyerap kata-kata Hanson kepadaku. Ayah dan ibu adalah hal yang tabu bagi telingaku aku tidak pernah mendengar itu walau dirumah sendiri aku memanggil pria itu ayah namun Hanson sellau berkata kepadaku kalau dia bukan ayah kandungku. Aku berpikir kenapa aku bisa mempunyai darah mansuia dan siluman serigala putih abu-abu dalam diriku ini. Bagiku mungkin ayahku seorang ilmuwan gila yang mencoba menggabungkan dna manusia dengan serigala dan hasilnya begini seperti aku.


“ Apakah para siluman itu kejam?” tanya Lila disampingku.


“ Nona, tidak semuanya siluman kejam. Hanya saja mereka kejam akibat kerakusan dan kekuasaan kalaupun siluman kejam aku mungkin akan membunuhmu” jawabnya menjelaskan.


Aku duduk diam di dekat pintu mobil. Kubiarkan kaca jendela depan Hanson terbuka dan menampar wajahku, aku sebenarnya membenci angin. Kini mobil melaju di kecepatan seratus kilometer apa yang kulihat dari jendela mobil di sampingku terlihat buram saking cepatnya mobil yang kami naiki ini melaju. Lila yang mulai tergoda untuk mengantuk itu tampak mengayun-ayunkan kepalanya kekanan kekiri. Gadis satu itu sedikit aneh ketika tidur dia tidak mengatupkan matanya sedikitpun walau kelopak matanya tak sanggup lagi terbuka.


“ Jika kamu mengantuk, tidurlah! Jangan dipaksa!” ucapku kearahnya.


Usahanya sia-sia begitu kepalanya menyender ke bahuku. Matanya tertutup dan terlelap dalam tidurnya begitu pintu mimpinya mulai terbuka. Hanson masih mengendarai mobil di tengah jalanan pedesaan yang gelap dikelilingi hutan pohon pinus.

__ADS_1


Sesekali mataku menatap ke depan kejalanan aspal yang kami jalani. Kepalaku mencetak imajinasi yang mulai mengambar halus di kertas pikiranku. Jujur semenjak aku lahir kedunia ini segalanya berbau aneh dan tidak normal. Kata Hanson aku dibesarkan oleh laki-laki yang kuanggap ayah itu akibat kemauan Yuli kakakku menjadikanku bonekanya. Aku mengetahui kalau aku seorang siluman serigala setelah kebutuhanku akan cahaya bulan dan daging menjadi-jadi namun untungnya Hanson muncul dan mengawasiku kala umurku masih 14 tahun Hanson masih berbentuk rubah orange yang selalu datang tepat matahri terbenam dia selalu menemaniku melewati masa-masa itu. Rasa kantuk mulai menyerangku, mantel yang kupakai ini terasa menghangatkan tubuhku membuat tubuhku nyaman dan mengundang rasa kantuk. Ada cahaya orange muncul disebelah timur hutan yang kami lewati aku sudah mengira hari mulai pagi namun mataku masih terlelap ngantuk dan akhirnya tertutup rapat bersamaan cahaya yang kupikir matahari itu redup.


^_^


Hanson membangunkanku seraya menyentuh tangannya keleherku, itu terasa dingin dan menjalari tulang leher belakangku. Seakan ada aliran air es kutub dingin mengalir di sepanjang tulang leher kemudian menyentuh tulang belakangku membuatku tersentak kaget.


“ Hei, bangun serigala malas! Sudah saatnya kita berangkat, aku tidak mau disalahkan kakekku nanti jika telat membawamu memasuki gerbang itu!” ucapnya mendengus kesal. Tanpa sadar aku menggenggam tangan Lila dan mengikuti Hanson yang bergerak menuju kapal kecil didepan tak jauh dari kami.


Perjalanan ini berawal dari beberapa jam lalu ketika Zoe tidak sengaja kembali membawa dan menyentuh manusia lagi. Sejujurnya Zoe hanya membantu Lila yang hendak di pergoki sama dua laki-laki berhidung belang. Namun nyatanya Zoe malah memakan sedikit dari darah milik Lila dan membuat Zoe dan Lila saling terikat satu sama lain. Dan membuat mereka harus berurusan dengan dunia Zoe untuk segera meresmikan ikatan itu kalaupun diputus salah satu dari mereka harus...mati.


“ Aku tidak menyangka, insting seekor serigala akan darah sangat kuat ya?” sindir bHanson menuntun Lila menaiki tangga kapal yang tepat berdiri di belakangku. Aku mendengar sindirannya yang kesal karena harus repot-repot membawa keduanya ke dunia siluman. Aku sadar, seharusnya aku tidak menjilat darah yang menetes di lantai kamarnya selepas membawa Lila ke kamarnya untuk diobati. Bau asin air laut tercium dan menganggu penciumanku. Mata Lila melirik kearahku seraya membantuku naik ke kapal yang terlihat susah untukku yang baru pertama kali menaiki kapal. “ Tenang saja, perbuatanmu tidak salah. Bukannya sudah alamiah seekor serigala menginginkan darah?” ucapnya tersenyum kearahku. Ya, aku tahu itu. Lila benar seekor serigala memang wajar untuk mencoba merasakan darah, Lila tahu kalau aku sama sekali belum meminum darah manusia. Selama ini aku hanya diberi darah novo oleh Hanson untuk menghilangkan dahagaku atas nafsuku terhadap darah manusia.


Kami bertiga berjalan menuju kearah burittan kapal dan duduk bersembunyi di balik terpal biru yang menutup kami. Beberapa saat kemudian terdengar deru mesin kapal memacu meninggalkan daratan setelah getaraannya terasa di bawah kami. Selang berapa menit kemudian Hanson mengibaskan terpal yang menutupi kami dan melihat mereka telah jauh dari daratan yang mereka pijaki. Yang terlihat hanya hamparan laut biru luas tak berujung dengan cahaya matahari yang menyilaukan mata ditambah burung camar laut muncul satu persatu kemudian menghilang dari permukaan. Lila mengajakku untuk menuju kedepan kapal mengingat dirinya tak kuat duduk di belakang dengan bau amis ikan nelayan. Aku melihat pemandangan yang berbeda berbeda ketika aku memandang laut dari belakang burit kapal. Ada banyak burung camar terbang mengitari permukaan laut mencoba menangkap ikan yang muncul ke permukaan. Zoe terdiam seribu bahasa melihat pemandangan indah menakjubkan itu. Beberapa ekor lumba-lumba muncul memberikan suaranya seakan menyapa kami berdua. Lila menikmati pemandangan itu seraya berpegangan pada mantelku yang dipikirnya tiang besi. Mataku menatap tajam kearah burung elang yang terbang mengitari Lila beberapa kali tampak mengintai dengan waspada. Lila yang tidak menyadari hal itu hanya diam menikmati pemandangan dihadapannya itu. Srek! Sesuai dugaan Zoe elang itu mengepakkan sayapnya dengan cepat mencoba mendekati Lila, alhasil tangan kiri Zoe yang menjadi penangis terluka terkena cakaran kaki elang itu. Hanson yang mendegar teriakan Lila keluar dari kemudi kapal yang sedari dia duduk bersama kapten. Matanya liar mencari siapa pelakunya, “ Apa yang terjadi?!” tanyanya panik. Matanya terkejut melihat tetesan darah yang keluar dari lengan kiri Zoe. “ Sepertinya ada yang hendak menyakiti Lila, lihat elang itu!” tunjukku kearah elang yang terbang berbalik kearah kami.


“ Apa itu Adelaar?” tanyaku bersamaan dengan Lila.


“ Sejenis manusia elang yang sangat ramah ketika malam dan sangat ganas ketika matahari muncul!” ucapnya mengambil sebatang besi didekatnya menghalau burung bangkai yang melihat luka Zoe. Seketika luka di lengan Zoe menghilang bersamaan dengan tangan Lila yang menyentuh lukanya. Dia menyimpan pertanyaan kenapa lukanya bisa sembuh. Dan sekarang mereka harus menghalau para Adelaar itu pergi. Tapi akibat campur tangan Lila menyentuh luka itu sebuah lambang Kynodontes tanpa sepengtahuan Zoe dan lainnya. Merasa kesal Zoe mengeluarkan aumannya dengan kuat dan keras sehingga menghempaskan burung-burung yang terbang didekat mereka terhempas kuat jatuh kedalam air laut. Hanson dan lila terkejut dengan kekuatan yang dimiliki Zoe.


“ Aku tidak yakin bagaimana mungkin kekuatanmu bisa muncul?” tanya Hanson heran. Usai ketiganya meninggalkan daratan Inggris akhirnya mereka sampai didaratan Islandia tanahnya misteri. Menurut Hanson Islandia sama halnya dengan Inggris bedanya Inggris tempat tinggalnya para magus, peri, dan misteri kuno. Sedangkan Islandia tempat asalnya misteri dan kekuatan dari segala kekuatan.


Kapal mereka mendekat dan menepi ke sebuah dermaga kecil yang sepi. Hanya beberapa orang nelayan yang lalu lalang membawa kotak jaring berisi ikan segar tangkapan mereka. Hanson kembali menuntun kami menuju sebuah tempat yang bernama Stevia. Nama itu terasa cukup asing bagiku dan Lila namun untuk Hanson sendiri dia tidak sama sekali asing. Kami harus segera menuju ke daerah yang bernama Stevia itu. Kata Hanson Stevia itu sebenarnya nama pegunungan batu tak jauh dari tempat kami berdiri saat ini. Namun perjalanan kami tersendat melihat tak ada satupun kendaraan yang lewat untuk membawa kami menuju ke kaki pegunungan


Stevia.


“ Kita tidak mungkin berdiri sampai malam menunggu kendaraan kan?” ucap Hanson berlalu berjalan menyusuri jalanan desa beraspal kecil. Mereka berada di sebelah timur Islandia. Lila berjalan mengikuti langkah Hanson didepannya kemudian diikuti Lila kemudian Zoe dibelakangnya. Mantel yang dipakai Lila dan Zoe mulai menebal sesaat ketika angin dingin mulai berhembus mengingat mereka bertiga mulai memasuki daerah pegunungan.

__ADS_1


“ Apakah masih jauh lagi?” keluh Lila didepanku.


“ Sekitar dua kilometer lagi!” jawab Hanson yang terus berjalan menyusuri jalanan desa beraspal yang kecil.


“ Apa kau kelelahan?” tanyaku dibelakangnya.


“ Tida-k...”


Aku memotong jalan dan berjalan dibelakang Hanson kemudian berhenti sejenak. “ Naiklah!” ucapku kepadanya. Dia terlihat enggan untuk menyahut tawaran Zoe itu. Sebelum sempat Lila menjawab tidak, Zoe sudah membuntukan jawaban Lila.


“ Tubuhmu bisa berbohong namun hatimu tidak!” ucapku. Akhirnya aku memaksanya naik ke gendongan belakangku. Namun selama aku menggendong Lila yang kelelahan itu aku sama sekali tidak merasakan kelelahan sedikitpun tak seperti Hanson yang mulai kelelahan. Langkah kami berbelok mengikuti Hanson yang berbelok menerobos semak-semak rumput tinggi disamping kananku. Lagi dan lagi lambang Kynodontes yang tidak diketahui Zoe itu mengeluarkan cahaya redup ketika langkah mereka semakin mendekat kearah pegunungan Stevia. Langkah demi langkah kini jalan yang mereka tapaki mulai berubah menjadi batu-batuan kerikil. Semula Lila yang tadinya kelelahan kini kepalanya terangkat melihat medan yang menanjak. Beberapa pohon ek atau oak turut menyambut kami di sepanjang perjalanan tingginya yang 145 kaki itu sering dijuluki pohon malaikat karena lebarnya. Aku memungut satu daunnya yang berwarna merah itu bertepatan ini musim gugur.


“ Warnanya cantik! Aku menyukainya!” Ucap Lila bersemangat di telingaku.


“ Kau menyukainya?” tanyaku melirik kebelakang.


“ Ya, karena aku lahir disaat musim gugur!” jawabnya senang. Lila kemudian meminta untuk diturunkan dan menerima sebuah daun pohon ek yang gugur itu. Kemudian kami bertiga sampai di pegunungan Stevia disana aku bisa melihat kebawah lereng curam berbatu yang dilumuri banyak daun gugur. Hanson membawa kami menuju


tempat yang tertutup oleh batu runcing yang tinggi katanya ada sebuah gua kecil dibalik batu besar yang ujungnya runcing itu. Ternyata yang dikatakan Hanson benar, setelah kami bertiga mengitari batu runcing itu ada sebuah gua kecil yang tertutup yang tingginya sebesar pria dewasa normal.


“ Ini adalah pintu menuju dunia siluman, dan perlu kau ketahui disana tidak ada kata siluman melainkan Daimonas sebenarnya artinya sama saja yang artinya siluman. Kalau untuk siluman rubah disebut Vos dan siluman yang paling tinggi kasta atau kekuatannya disebut Lykos” ketika dia menyebut nama Lykos matanya melirik kearahku. Lila tidak tahu apa-apa tentang kasta dalam Daimonas atau siluman.


“ Aku tidak yakin baju yang dipakai Lila akan bertahan untuk mengelabui penciuman mereka akan adanya manusia masuk kedalam dunia ini. Mungkin kakekku tahu caranya!” ucapnya menuntun Lila masuk kedalam gua yang mulai bercahaya seiring Hanson membuka pintu teleportasinya.


“ Baiklah!”

__ADS_1


__ADS_2