Last Life

Last Life
Ada Apa Dengan Yanwu Dia Begitu Hati-hati


__ADS_3

Masih dalam pengejaran terhadap salah satu ras manusia dewa yang akan kami ajak untuk bergabung, tetapi sepertinya dia merasa kurang nyaman lantaran mengetahui kehadiran diriku maupun Yanwu.


Sehingga dia pergi sebelum diriku mengenal maupun melihat wajahnya. Dia dari belakang terlihat memakai pakaian biasa, ala pertengahan Eropa namun yang menonjol darinya adalah pakaiannya itu.


Dia terlihat sederhana yang mana menurut bayangan diriku tidak sesuai dengan eksistensi para ras manusia dewa, yang didorong oleh dirinya sendiri untuk rapi dan bersih.


Tapi semua orang memang memiliki stylenya masing-masing aku sendiri pun akan marah jika di komentari, lantaran menurut mereka sangat tidak cocok dengan diriku.


Bagiku kenyamanan itu nomor satu terkadang mengikuti tren sewaktu aku masih hidup ujung-ujungnya akan mati gaya, dan bisa terjadi pemborosan.


Sederhana adalah satu kata dengan makna luar biasa.


Manusia ras dewa itu kini mempercepat dirinya dengan setiap tolakan di atas bangunan-bangunan maupun rumah-rumah warga.


Aku juga merasakan Yanwu mempercepat dirinya membuatku agak kencang berpegangan pada tubuhnya.


"Mm..."


Sekilas aku melihat senyum terukir jelas pada raut wajah Yanwu dikala aku berpegang padanya dengan kedua mata tertutup, tapi sebenarnya aku membuka satu mataku sedikit untuk melihatnya.


Mulai menyulitkan, karena ras manusia dewa itu melewati tempat-tempat sempit maupun berbahaya seperti saat melewati pabrik batu bara.


Jantungku dibuat berpacu dengan cepat daripada biasanya apalagi Yanwu nyaris saja membahayakan diriku.


Sama sekali entah mengapa keduanya tidak menggunakan kemampuannya sama sekali, apa mungkin dugaanku dari awal memang benar.


Jika wilayah ini maupun negara ini menerapkan sistem khusus pada kemampuan seseorang.


Agar tidak terlalu berlebihan dalam menggunakan kemampuannya. Tapi seperti apa sistem absolut itu, yang dapat mengikat seluruh warganya, aku jadi penasaran?


Dan Yanwu kurasa dia telah memahami hal itu membuatnya harus mematuhi agar tidak dicurigai.


"Kalau benar begitu pemikiran aku sama Yanwu nggak beda dikit dong hihi..."


Teringat bahwa aku sebelumnya keceplosan sampai bilang begitu didalam hati, yang pastinya Yanwu mengetahuinya.


"Eh? Kok kita berhenti sih, dia makin jauh Yanwu..."


Aku meronta sembari menyuruhnya untuk tetap mengejar ras manusia dewa itu tapi sekarang ini Yanwu malah berhenti, apa maksudnya.

__ADS_1


Menurutku jika melakukan pengejaran dengan kecepatan seperti ini sembari memikirkan taktik, pasti bisa menghadang ras manusia dewa itu.


Tidak mungkin kan jika dirinya putus asa dikarenakan tidak mampu mengejarnya?


Setahuku kecepatan Yanwu setara dengan Klie, bahkan melampauinya.


"Aku curiga dengannya, itulah mengapa aku berhenti. Tapi tenang saja, aku memiliki ide untuk menyikap jati diri ras manusia dewa itu di negara ini. Jadi kamu tidak usah berniat ingin melepaskan diri!" ucap Yanwu di akhir begitu mengintimidasi, meskipun alasannya berhenti mengejar ras manusia dewa itu dapat aku terima. Tapi aku merasa seperti tawanannya saja.


Yanwu kini bergerak ke arah sampingnya bertolak belakang dengan arah pengejaran yang seharusnya, semakin membuatku bingung dan geleng-geleng kepala.


"Hiks... aku lapar ma..."


"Iya sayang, mama tahu, mama juga lapar. Tapi sabar ya, mama cari uang dulu, nanti mama beliin makanan enak buat kamu..."


"Hiks.. iya ma..."


"Ini. Aku bawa makanan sama sedikit keberuntungan buat kalian!"


"Eh, ini terlalu banyak... saya tidak bisa menerimanya..."


"Tidak apa-apa, saya kebetulan sekali sedang memberikan hal ini kepada orang-orang seperti kalian. Terima saja, saya ini orang yang berkecukupan. Sebenarnya saya sangat sedih jika bibi menolak pemberian saya ini..."


Tak jauh dari tempat ras manusia dewa itu yang sedang memberikan makanan lumayan banyak dan harta benda kepada seorang ibu dan anaknya yang sedang kesusahan. Kami berdua sembunyi dan mengamati ras manusia dewa itu.


Dia ternyata memiliki hati yang mulia mau membantu sesamanya tanpa pamrih. Serta mendengar ibu itu berkata nona kepada ras manusia dewa itu aku simpulkan jika dia adalah seorang perempuan.


"Dia memiliki hati nurani yang sangat baik, benar begitu kan, Yanwu?" tanyaku sembari melihatnya.


"Memang dilihat dari pandanganmu pasti menyebutnya baik, atau bisa saja teramat baik. Tapi, apa kamu tidak melihat hal ganjil sekarang ini?!"


Aku berusaha mencerna perkataan Yanwu barusan dan memperhatikan lebih seksama apa yang aku lihat saat ini.


"Tunggu, ras manusia dewa itu kan berpakaian sederhana, tapi dia berkata kepada ibu itu sebelumnya bahwa dia orang yang berkecukupan. Bukannya ada kontradiksi dibalik ucapannya tadi, misalnya dia berbohong kepada ibu itu!"


"Tidak, tidak aku tidak boleh berprasangka buruk terlebih dahulu sebelum mengetahui kebenarannya. Bisa saja dia berpura-pura menjadi orang sederhana untuk lebih mudah memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan, hmm mungkin itu sih."


Aku melihat alis mata Yanwu berkerut seperti halnya dia tidak setuju pada ucapanku barusan didalam hati, yang memang bisa dia dengar.


"Aku kasih klue lagi untukmu. Ingat, rumah yang sebelumnya kita datangi!"

__ADS_1


"Rumah? Hmm, ehh... mungkin aja dia..."


"Yah, sepertinya kamu menyadarinya, gadis pintar. Dia itu bisa kita sebut sebagai pencuri harta benda orang kaya, lalu tujuannya mencuri untuk diberikan kepada orang miskin atau yang sedang membutuhkan seperti yang kamu lihat sekarang ini."


"Begitu ya, tapi bukannya rumah tadi terlihat sederhana. Mana mungkin disebut rumah orang kaya?"


"Sepertinya kamu perlu belajar dan berguru padaku."


Tuk..


"Aww, kenapa kamu menyakiti dahiku, sakit tahu!"


"Rumah itu memang terlihat sederhana seperti anggapanmu tadi, tapi apa mungkin rumah sesederhana itu memiliki harta benda bernilai jutaan jika kita konversikan pada mata uang dunia kita?"


"Mungkin kamu berpikir jika barang itu adalah milik rumah orang kaya yang dia curi sebelumnya, salah. Kita bisa asumsikan bahwa hari ini, awal dia melakukan aksi pencurian seperti cerita itu!"


Bener-benar perkataan Yanwu tidak bisa aku lawan lagi dengan semua dugaanku pada ras manusia dewa itu.


Jika ini pertandingan aku pasti menyerah karena malu.


Hal mengejutkan aku lihat sekarang ini, karena ras manusia dewa itu maupun ibu dan anaknya dikepung oleh orang-orang berpakaian rapi seperti seorang sipir.


Pria maupun perempuan aku lihat hendak melakukan sesuatu kepada mereka.


"Yanwu, Yanwu kita bantu dia beserta ibu dan anak itu, ayo..."


"Tidak."


"Apa kamu bilang, kamu tidak mau membantu seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan!"


"Bukan karena itu, sebenarnya hal ini adalah konsekuensi yang harus dia terima atas segala perbuatannya."


"Aku tidak perduli itu, pokoknya aku mau menyelamatkan dia, apapun yang terjadi. Jadi lepaskan aku!" ucapku sembari meronta dengan susah payah.


"Lepaskan... kamu lupa ya tujuan kita kemari untuk menolongnya!"


"Aku tidak melupakan hal sekecil itu."


"Ha.. ugrh... Aaaa!!!!"

__ADS_1


"Hei! Jangan berteriak!" ujar Yanwu sembari menutup mulutku, tapi sepertinya teriakanku barusan menyebabkan persembunyian kami berdua ketahuan.


__ADS_2