
"Mudah saja menipu seorang manusia yang tidak berguna sepertimu, dan sok hebat di depanku."
"Willy... sentuhannya dapat membuatmu menjadi abu!" ucapku keras memberitahu.
Aku hanya bisa pasrah melihat Willy yang sudah tersentuh oleh makhluk menyeramkan itu, ini mungkin salahku karena dari awal tidak memberitahukan perihal tersebut kepadanya.
Crak!
"Haa!?"
Shut!
Tap!
Tak disangka Willy akan melakukan hal senekat itu. Dia memotong sendiri kakinya dengan sabitnya lalu melompat mundur dari makhluk menyeramkan yang menyentuh kakinya.
Darah menetes lumayan banyak pada kakinya yang terpotong, kini di depan ku Willy masih berdiri dengan satu kaki.
Dan nyatanya aksi Willy tersebut berhasil membuatnya terhindar dari kematian, karena yang aku tahu sentuhan mahkluk menyeramkan itu dapat merubah seseorang menjadi abu.
Kini aku melihat kaki Willy yang berada diseberang sana perlahan-lahan mulai menjadi abu. Lalu lenyap setelah semua bagian tidak tersisa.
"Tch, aku terlalu ceroboh asal menyerangnya," kata Willy berdecak kesal.
"Maafkan aku Willy, aku sebenarnya yang salah. Membuat kakimu menjadi seperti ini."
Permintaan maaf aku ucapkan, sebagai rasa penyesalan akibat kelalaian ku yang tidak memberitahu Willy informasi tentang sosok menyeramkan tersebut kepadanya.
"Tidak apa-apa, ini bukan salahmu. Aku hanya lengah saja saat melawannya!" ucap Willy dengan entengnya seakan tidak peduli dengan kondisi kakinya saat ini
"Drama yang menyedihkan sekali, kini sang pemeran utama pria sudah menjadi orang yang cacat, ckk," kata makhluk menyeramkan itu sambil terkekeh, kemungkinan dia sedang memancing amarah Willy.
"Jangan dengarkan kata-kata dia Willy, dia cuma ingin membuatmu emosi!" ujar ku seusai sosok itu berbicara.
"Kamu benar sekali Anita, kali ini aku tidak akan mengulang kesalahan kembali!"
"Bagus, karena kalian akan aku lenyap kan secepat mungkin!" ucap sosok itu, sorot matanya merah tajam menatap kemari.
Sementara Yanwu tidak berbicara lagi dan memilih untuk diam sembari mengamati. Ketika aku menoleh kebelakang pun dia seakan acuh.
Luar biasanya dia sudah membereskan semua makhluk menyeramkan tadi yang datang dari arah belakang.
__ADS_1
"Tempat ini sepertinya sempit untuk melawan monster sepertimu, aku perlu ruang besar agar bisa bergerak dengan mudah saat mencincang mu!" kata Willy sembari mengedepankan sabitnya. Dia mungkin saja marah kepada sosok yang ada di depannya.
Grep!
"Tidak, jangan berbuat berlebih hanya untuk mengalahkannya."
"Bagaimana bisa Yanwu sudah berada di samping Willy?"
Seakan memiliki kecepatan yang luar biasa Yanwu kini mencegah Willy yang hendak menggunakan sabitnya. Padahal jika aku amati jarak diantara keduanya lumayan jauh, tapi Yanwu bisa dengan cepat mencegahnya.
"Luar biasa. Seorang manusia sampah menunjukkan kemampuannya. Aku akui kau sangat cepat dalam bergerak!" puji sosok menyeramkan tersebut yang kemungkinan kepada Yanwu.
"Terimakasih," jawab Yanwu singkat.
"Apa yang kamu lakukan?" ucap Willy.
"Aku tidak ingin kamu menghancurkan tempat ini dengan sabitmu, hanya untuk memperluas tempat. Lebih baik serahkan saja makhluk ini padaku."
Mereka berdua kelihatannya sedang membicarakan sesuatu, aku bahkan mendengar perkataan Yanwu mengenai tempat ini yang akan dirusak oleh Willy.
Menurutku, keputusan Yanwu tersebut memanglah tepat, karena dampak negatif yang ditimbulkan saat tempat ini dihancurkan jauh lebih merugikan.
"Cih, baiklah. Aku serahkan dia kepada orang sok hebat sepertimu."
Derap langkah kaki mulai terdengar lagi dari arah depan maupun belakang yang seakan mengepung kami dari segala penjuru.
Suara langkah kaki makhluk menyeramkan yang aslinya adalah manusia yang dijadikan budak.
Bukan hanya itu saja, sekelebat bayangan hitam muncul dan terbang lalu turun dan membentuk wujud berjubah hitam, tepat di samping sosok menyeramkan berkepala ular.
"Lemah. Memanggil bala bantuan!" kata Willy.
"Bukannya kau sendiri yang lemah, karena menyerahkan perlawanan mu kepada pria di sampingmu! Mestinya kau berpikir lagi bocah!"
"Abaikan dia Willy. Ada hal yang lebih penting untuk kamu lakukan sekarang ini, apa kamu masih bisa bergerak sekarang?" ujar Yanwu sembari bertanya di akhir katanya, sepertinya dia memahami situasi sekarang sama sepertiku.
"Hah, ya aku masih bisa. Tapi darah di kakiku terus keluar tanpa henti, kalau bisa aku meminta pertolongan darimu."
"Hem dengan senang hati."
Kemudian muncul kristal pada telapak tangan Yanwu dan langsung mengarahkannya pada kaki Willy yang terluka.
__ADS_1
Alhasil darah segar yang mengucur tersebut dibuat membeku dengan kristal yang diarahkan oleh Yanwu tersebut kepada kaki Willy.
Bahkan kaki yang terpotong tersebut ditambahkan dengan bagian-bagian kristal yang mulai membentuk sebuah kaki sebagai ganti kaki Willy.
"Kelihatannya laki-laki ini mempunyai kemampuan yang berbeda dari yang lain. Sayangnya dia berada di pihak yang salah," gumam sosok berjubah hitam yang suaranya dapat aku dengar.
Willy bergerak mengamankan area belakang, sedangkan Yanwu memutuskan untuk melawan kedua sosok menyeramkan di depannya.
Sebenarnya sosok berkepala ular tersebut sangatlah besar, tingginya bahkan berkali-kali lipat dari ketinggian manusia normal.
Saat ini Willy melakukan serangan beruntun terhadap makhluk yang mendekatinya menggunakan kemampuan miliknya. Tidak mau menjadi beban aku pun mulai membantunya.
Yang sebelumnya diriku disalurkan semacam kemampuan pemberian dari Yanwu. Kemampuan tambahan tersebut dapat melenyapkan mahluk menyeramkan itu melalui serangan ku yang ditingkatkan.
Meskipun begitu Willy tetap membantuku secara diam-diam saat makhluk itu mendekat ke arahku. Dia malah menyisakan sebagiannya kepadaku yang bisa dihitung dengan jari.
Kali ini aku bisa leluasa dalam menggunakan teknik beladiri yang telah aku pelajari, apalagi ditambah dengan peningkatan kemampuan sekarang.
Suara hujan deras disertai petir pun tidak menganggu ku sama sekali, yang ada aku merasa senang karena dapat dengan bebas meluapkan segala emosi dan amarah yang terpendam di hati pada sosok menyeramkan yang ku lawan.
Crak! crak!
Bush...
Suara pertarungan sengit terdengar dari arah Yanwu menyerang dua sosok menyeramkan itu. Sesekali aku melihatnya dan memperhatikan Yanwu menggunakan kemampuannya.
"Semburan api!?"
Entah karena lengah atau serangan dadakan Yanwu yang berada di udara terhimpit oleh dua serangan, antara api dan kekuatan kegelapan.
"Fokus Anita! Kalau kamu memang penasaran melihatnya, biar aku saja yang melawan keroco-keroco ini?"
"Oke, aku serahkan padamu Willy..."
Pada akhirnya aku memilih untuk melihat pertarungan Yanwu daripada meneruskan membantu Willy. Ya, itu karena aku penasaran sekali terhadap kemampuan milik Yanwu.
Semburan api bersamaan dengan serangan kekuatan kegelapan tidak mempan pada Yanwu. Yang bahkan sehelai pakaiannya pun tidak ada yang rusak maupun terbakar.
Seperti halnya dia tidak terkena serangan dari kedua makhluk menyeramkan itu sedikitpun, Yanwu kini masih berada di udara lalu sejurus kemudian dia datang pada sosok berkepala ular.
Bugh!!
__ADS_1