
Quin serta Kay kini terlelap dalam mimpi indahnya, ketika Yin menggunakan kemampuan miliknya hanya untuk mereka berdua.
Sementara Willy dia berusaha menenangkan Ryu yang masih termakan emosi akibat perkataan istrinya barusan, mengatakan jika dirinya benar-benar selingkuh.
Pasti hati dan perasaannya kini hancur mengetahui kenyataan pahit rahasia istrinya selama ini, bahkan aku sendiri seakan merasakan hal sama seperti dirinya sekarang ini.
Rasa sakit dalam hati beserta emosi yang menggebu, dadaku merasakannya terlalu besar efek samping melihat perselingkuhan.
Kini aku memeluk Yin erat sambil mengelus kepala dan punggungnya lembut, kasian sekali dia harus merasakan hal serupa dengan ayahnya.
Aku sendiri tahu jika Yin sudah bersikap dewasa dan mengerti tentang masalah kedua orangtuanya, dibandingkan dengan umurnya.
Dari awal melihatnya saja aku sudah memastikan akan hal itu darinya dilihat dari penampilan, caranya berpakaian, berkata, dan memahami lawan jenis.
"Tenanglah, semuanya akan berlalu begitu cepat jika kau tidak terlalu banyak memikirkannya sekarang. Dinginkan dulu kepalamu lalu tentukan langkah dan tujuanmu kedepannya. Toh, kamu memiliki anak yang cantik. Dia pasti akan memilihmu karena memahami keadaan orang tuanya."
Benar-benar Willy hari ini baik sekali mau melakukan hal yang sebelumnya dia kira tidak penting, aku jadi merasa terharu saat mendengar kata-katanya kepada Ryu.
"Yin, kamu memahaminya bukan? Jadi kamu mengerti situasinya bahwa yang kamu alami ini adalah..."
"Takdir dan sebab akibat!" ucap Yin dengan senyuman miliknya yang manis.
"Kamu ini lucu tahu, tadi benar banget sih," jawabku seraya menyentuh kedua pipi Yin.
Setelah masalah tadi sudah berangsur membaik kini Ryu akhirnya memutuskan kehendaknya selanjutnya.
"Yah, berhubung diriku mengalami hal seperti ini jadi untuk sementara aku akan menenangkan diri terlebih dahulu, baru ketika mentalku sudah pulih pasti akan menemui kalian berdua!" ucap Ryu dengan ekspresi hangat namun aku rasa hatinya tidak sama seperti ekspresinya sekarang.
"Papa... aku mau ikut sama kakak cantik, boleh ya..." ucap Yin yang masih berada didekat ku memeluk diriku.
"Hmm boleh, asal kamu jangan nakal dan membuat mereka kerepotan saat kamu ikut!" pinta Ryu kepada anaknya yang memiliki sifat berbeda sekali ketika keberadaan ayahnya disekitarnya. Yang sepertinya Ryu tidak tahu bahwa anaknya itu masokis.
Aku rasa sifat masokis nya akan dia tunjukkan jika ayahnya tidak berada didekatnya.
"Asyik... aku akan bersenang-senang berarti."
"Cih, anak menyebalkan. Memangnya kami selanjutnya mau pergi liburan apa!" ketus Willy menangapi Yin yang antusias ikut bersamaku.
"Willy... Kan udah bilang kamu harus baik kepada anak kecil apalagi dia..."
__ADS_1
"Iya iya, aku mengerti. Kamu ini seperti seorang istri saja ya, cerewet."
Baru kali ini Willy mengatakan hal seperti itu kepadaku di waktu ini.
Beberapa menit kemudian, setelah Yin selesai membawa barang-barang miliknya yang kemungkinan baju dan sebagainya. Kini waktunya berpisah dengan ayahnya.
"Yin, kamu nyakin membawa ini semua, apa tidak kebanyakan?" tanyaku kepada Yin yang sedang mengecek kembali barang bawaannya.
Tas kecil yang dipakainya dan tas berukuran besar berisi baju-bajunya, sudah lengkap seperti hendak pulang kampung aku rasa.
Lalu siapa yang bakal membawa barang yang amat banyak ini?
Di satu sisi aku melihat Willy yang seperti sudah akrab dengan Ryu, mereka berdua berbincang-bincang pada meja kayu yang entah sedang mengobrol kan apa.
Setelah semuanya beres, lebih tepatnya seusai anak perempuan ini berkemas. Akhirnya kami memutuskan untuk segera bergerak.
"Jagalah dirimu dengan baik, jangan berlarut-larut memikirkan masalah yang memang sudah sepantasnya terjadi karena takdir. Bersenang-senanglah dan melakukan hal lain yang membuatmu bahagia. Aku rasa sampai disini dulu perjumpaan kita, semoga kita bisa bertemu lagi kedepannya," ucap Willy menyampaikan nasehat dan perpisahan.
"Oh ya, meskipun aku benci mengatakan ini tapi aku akan mengatakannya. Jangan bunuh diri, ingat! Kalau kamu sampai melakukannya aku akan mengajari anakmu hal tidak baik," ucap Willy menambahinya yang aku rasa terlalu berlebihan.
"Iya, aku akan mendengar nasehatmu selalu dan tidak memilih jalan sukar dalam hidupku. Lagipula masih ada yang ingin aku wujudkan, yaitu melihat anakku di dunia misterius ini hidup bahagia dan memiliki sebuah keluarga."
"Pa. Aku bawa ini semua ya."
"Umm ini terlalu kebanyakan Yin, kamu kurangi saja barang bawaan mu. Bukannya ini sama saja dengan merepotkan mereka, ingat syarat kamu ikut pergi!" ucap Ryu.
"Tapi... aku butuh ini semua yah. Aku tidak bisa lepas dari semuanya..."
Dari jarak lumayan dekat dengan mereka aku masih mendengar apa yang mereka berdua bicarakan.
"Padahal cuma pakaian yang menumpuk, apa gunanya?" kata Willy yang berada di sampingku.
Hingga Yin menangis sejadi-jadinya karena ayahnya tidak membolehkan dirinya membawa barang bawaan banyak-banyak.
"Ya ampun, ini malah jadi masalah lagi."
"Tenang, aku bisa membawakan barang bawaan anak kecil ini," ujar Willy langsung menghampiri mereka berdua.
"Eh!? Beneran bisa? Kalau gitu aku terbantu," sahut Yin mendadak wajahnya berseri-seri sambil mengusap air matanya.
__ADS_1
"Tentu saja, tapi ada syaratnya."
Aku pun menghampiri Willy saat dia mengatakan syarat.
"Serius kamu bisa membawakan barang-barang ini, lalu syarat yang kamu katakan lebih baik ditiadakan kalau bisa," ucapku penasaran bagaimana Willy akan membawa barang-barang yang amat banyak ini. Serta memastikan dirinya yang bisa membantu Yin.
"Bisa, aku bisa membawanya, tapi bukan berarti aku yang membawanya, bisa pegal-pegal aku."
"Lalu dengan sabitmu yang bisa melayang Willy?" tanyaku lagi.
"Enggaklah, nanti sabit ku bisa patah. Jadi dengan ini!"
Willy mendekat kearah ku hingga terlalu dekat demi menunjukkan sebuah cincin yang tidak asing menurutku.
Setelah aku perhatikan lebih seksama ternyata cincin ini adalah cincin ruang tempat menyimpan sesuatu milik Yanwu.
Lalu kenapa bisa cincin ini ada ditangan Willy, jangan bilang kalau dia mengambilnya dari Yanwu. Kalau iya bisa jadi masalah lagi kalau Yanwu menyadarinya. Aku harap Willy meminjam cincin tersebut.
"Emm kamu meminjamnya kan, Willy?" tanyaku memastikan.
Willy menggaruk kepalanya yang tak gatal "Hehe sebenarnya aku mengambilnya dari Yanwu!"
"Benar ternyata dugaan ku, aku harap Yanwu belum menyadarinya."
Tidak disangka Willy bisa menggunakan cincin ruang tersebut untuk memasukkan semua barang bawaan Yin.
Membuat diriku hanya bisa geleng-geleng kepala pada saat melihatnya.
"Apa nggak akan hilang barang-barang milikku, tuan? Kemana barang-barang ku pergi?" tanya Yin kepada Willy yang masih menggunakan cincin ruang tersebut.
"Siapa yang kamu panggil tuan, aku ini masih muda. Dan untuk barang-barang milikmu jangan tanyakan lagi nantinya, karena aman pada diriku!" jelas Willy menjawab seluruh pertanyaan Yin tuntas.
"Duh... makasih banyak semua bantuannya kak, aku jadi makin sayang."
"Apa kamu bilang?"
"Aku sayang pada semua barang-barang milikku, humph."
Mungkin saja Yin menyukai Willy karena sebelumnya dia selalu melirik kepadanya secara sembunyi-sembunyi, bahkan dari gerak-geriknya dan perilakunya saja sudah terbaca.
__ADS_1