
Perpisahan antara orang tua dan anaknya mengingatkan diriku pada nenek, dulu saat aku pergi bekerja beliau selalu mengucapkan perpisahan meskipun aku hanya pergi bekerja.
"Ingat, jangan nakal dan merepotkan mereka Yin. Kamu ini harus jadi gadis baik," pinta Ryu kepada Yin sambil mengelus kepala anaknya.
Harapanku juga sama seperti yang dikatakan oleh Ryu, aku ingin putrinya ini menjadi gadis yang baik, meskipun aslinya memiliki sifat lain berbeda dengan apa yang dia lihat sekarang.
Apa mungkin Yin meniru sifat ibunya, tapi aku belum bisa memastikan karena aku tidak terlalu tahu ibunya orang seperti apa.
Untuk Quin dan Kay sendiri mereka dimasukkan juga kedalam cincin ruang demi menghindari hal buruk yang menimpa mereka yang dalam ilusi mimpi.
Pasalnya jika mereka berdua diserahkan kepada Ryu bisa saja ada kejadian buruk yang mungkin saja terjadi. Dan aku tidak ingin hal tersebut terjadi, mengetahui pada saat Yin mengatakan isi hatinya yang ingin melihat ibunya sampai dia besar nanti.
Untuk Ryu sendiri tidak keberatan akan keputusan dariku tersebut, apalagi Willy menggunakan keahlian dadakannya memanipulasi Ryu dengan perkataannya, sehingga Ryu dapat dengan mudah menuruti perkataannya.
Kamipun pergi meninggalkan Ryu seorang diri pada bangunan besar tersebut yang katanya adalah bangunan bekas pabrik makanan kalengan.
Sebelum pergi pun aku sempat berpesan dan menasehati dirinya berharap dapat mengurangi rasa sakit dihatinya.
Salah satunya mengenai harapan dan impian Yin yang aku kasih tahu kepadanya.
Serta aku meminta tulisan tangannya pada sepucuk surat.
"Anita, menurut kamu cincin ruang milik Yanwu sebesar dan seluas apa ruangan didalamnya? Aku ingat-ingat sebelumnya cincin ini pernah dimasuki oleh banyak barang-barang dan juga orang lain didalamnya?" ucap Willy ada ekspresi khawatir diwajahnya, sepertinya benar apa yang dia katakan.
"Aku pun juga berpikir begitu, tapi... Bukannya tadi ditambah dua orang lagi dan akan bertambah orang yang ada dalam cincin ruang tersebut, apa tidak menimbulkan kerusuhan orang yang ada didalamnya?" sahutku balik menanyakan pendapat bahkan aku sendiri merasakan rasa cemas.
"Tenang saja, aku dengar dari Kino jika cincin ruang ini terdapat penjara tersendiri bagi orang yang masuk kedalamnya. Jadi aman-aman saja!"
"Tapi belum tentu juga kan, mereka dipenjara dalam keadaan terpisah?" tandasku memikirkan kemungkinan seperti itu.
"Iya juga ya."
"Aku diabaikan aja nih, aku juga mau ikutan gobrol bareng kalian."
Yin menyela obralan ku dengan Willy, dia menatap kami berdua dengan raut wajah cemberut dengan pipi kembungnya yang manis kemerahan.
Membuatku ingin sekali mencubit pipinya itu, tapi aku tahan jika dihadapan Willy.
__ADS_1
"Memangnya anak kecil sepertimu mengerti apa yang kami bicarakan, palingan cuma menganggapnya omong kosong belaka karena tidak memahaminya ck."
"Aku paham kok, apa yang kalian berdua katakan! Aku ini udah umur 14 tahun! Jadi beberapa perkataan orang dewasa aku dapat memahaminya!"
Tidak disangka tebakanku mengenai umurnya benar-benar akurat, bahwa Yin berumur 14 tahun.
Memang benar keahlian trik sulap dapat membantuku sewaktu-waktu.
Dan menurut pendapatku Yin ini memang menunjukkan dirinya seperti orang dewasa, padahal ada sisi kekanak-kanakan yang masih melekat dalam dirinya.
Contohnya pada saat dia menangis sejadi-jadinya lantaran tidak dibolehkan membawa barang kepunyaannya banyak-banyak.
Tapi untuk anak usianya aku sangat terkejut dia agak bersikap dewasa sedikit, dan ini baru pertama kalinya aku sangat dekat dengan anak kecil.
Perjalanan selanjutnya adalah menuju tempat kediaman 4 orang yang sebelumnya pernah aku kenal. Mereka orang-orang berkemampuan yang memiliki kemampuan unik menurutku. Cocok untuk diajak bekerjasama dalam hal apapun.
Ketika aku cek jam pada ponsel tersisa 7 daya baterai, ternyata sudah pukul 14.32 hanya untuk menemui Ryu di waktu sekarang ini.
Kira-kira sudah beberapa jam lebih perjalanan menuju kediaman Ryu ditambah waktu mengunjunginya, aku lupa?
Meskipun harus terpaksa berjalan tapi aku harus mencari alternatif lain sebagai solusi mempercepat durasi perjalanan. Mengingat sudah banyak waktu yang aku habiskan hanya untuk mencari rekan-rekan kuat demi melawan orang-orang kerajaan.
Langkah Willy kemudian terhenti dan dia langsung saja melafalkan sesuatu terdengar seperti mantra sambil kedua telapak tangannya menyatu kedalam, satu terbuka dan satu lagi terkepal.
Lalu muncul serigala berbulu putih berukuran lumayan besar yang aku rasa serigala ini adalah hewan yang Willy panggil melalui mantra yang dia lafal kan barusan.
Sungguh serigala cantik yang menawan menurutku, tapi aku penasaran bagaimana Willy bisa memilikinya berserta kemampuan memanggil hewan.
Dan apakah serigala ini yang akan dijadikan tumpangan nantinya, tapi kan cuma satu.
"Wah... serigala yang cantik, aku jadi ingin memeluknya," ucap Yin memuji serigala tak jauh dari tempatnya.
"Perkenalkan, ini adalah hewan summon yang aku dapatkan dari temanku yang memiliki kemampuan memanggil hewan berkekuatan unik!" jelas Willy sedangkan aku hanya manggut-manggut memahami penjelasannya.
"Apa hewan ini yang bakal menjadi tumpangan kita kak?"
Yin ternyata berpikir sama denganku, dia cukup pintar memahami situasi dan kondisi rupanya.
__ADS_1
"Benar sekali, serigala ini yang akan menjadi tumpangan kita nantinya."
"Tapi cuma satu, mana bisa ditunggangi tiga orang sekaligus?"
"Ucapanku belum selesai anak kecil, serigala ini dapat membela dirinya menjadi tujuh dan mempunyai kekuatan yang berbeda!"
Barusan Willy mengatakan jika serigala ini dapat membela dirinya menjadi tujuh bagian, bukannya itu terlalu luar biasa sekali untuk hewan summon yang dimilikinya.
Apalagi setiap bagian yang terbelah menjadi wujud serigala lagi mempunyai perbedaan antara yang satu dan lainnya, dengan kekuatan masing-masing yang beragam.
"Ghost, sekarang waktunya bagimu untuk membela diri!"
Kemudian keluar dua serigala dalam diri dikedua sisi kanan dan kiri serigala dengan sebutan ghost itu.
Serigala berwarna merah api dan satu lagi berwarna abu-abu, namun tubuhnya sebagian tinggal tulang.
"Ayo kita kita bergegas! Hari sudah mulai sore, tidak bagus bagi kita jika bergerak dimalam hari. Dan untuk keamanan tenang sana, serigala ini sudah jinak ketika aku sudah menunjuk orang yang tidak akan diincarnya!" jelas Willy lagi.
"Aku naik serigala putih!" ucap Yin menimpali.
"Tidak. Kamu naik blaze saja! Ghost lebih cocok jika Anita yang menungganginya."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi tapian, kalau tidak menurut... aku bakal tinggalin kamu anak kecil!" ucap Willy dengan katanya yang sarkas membuat Yin menunjukkan wajah sedihnya hingga aku menghampirinya.
"Jangan sedih... aku tidak keberatan kok kalau kamu mau menunggangi ghost," ucapku sembari menenangkan Yin.
"Tidak apa-apa kak, aku akan naik Blaze saja. Lagipula menuruti perkataan majikan kan adalah contoh budak yang setia."
Aku hanya menggelengkan kepala menanggapi sifat masokis anak ini.
Sementara Willy hanya berdecak saat menanggapinya.
"Oke, sudah diputuskan. Bahwa aku akan naik Bone!" tandas Willy.
Dan perjalanan kami selanjutnya pun dimulai.
__ADS_1