Last Life

Last Life
Begini Sajakah?


__ADS_3

Bag! bug! bag!


"Gerakan Lina cepat sekali... Kini aku hanya bisa menahan serangannya dulu sampai aku menemukan celah."


Bertubi-tubi Lina terus mendesak ku tanpa memberiku jeda sama sekali, sedangkan aku hanya menahan dan menganalisa saat melawannya terlebih dahulu.


Bugh!


"Ternyata kamu nggak bisa beladiri ya, aku kira kamu sehebat yang dikatakan Siniken. Humph, apa dia bercanda sebelumnya," ucap Lina meremehkan ku.


"Tapi... kamu kuat juga bisa menahan serangan dariku tadi, meski pukulan ku sudah mengenai pipimu. Hebatnya lagi kamu tidak teriak kesakitan."


Pukulan Lina memang mengenai pipiku hingga membuatku tersadar jika aku ini bisa membuatnya terluka dalam sekejap.


Entah kenapa rasa nyeri di pipiku membuatku jadi bersemangat dan ingin meluapkan rasa emosiku. Namun jika aku kelepasan maka pribadi diriku saat ini akan tercemar.


"Kamu tidak apa-apa kan, kamu bahkan tidak bergeser sedikitpun setelah terkena serangan tadi!" ucap Lina terdengar seperti mengkhawatirkan lawannya, namun siapa sangka di balik wajahnya yang cantik dia juga memiliki masa lalu yang kelam sehingga bisa berada di tempat seperti ini.


Bukannya tadi dia mengatakannya sendiri, bahwa kelebihan dirinya ia gunakan untuk menghasilkan uang. Jadi aku bisa menebak kehidupan dan pekerjaannya saat dia masih hidup.


"Tidak apa-apa. Aku cuma terkejut saja karena pukulan dadakan mu tadi," balasku sambil membenarkan rambutku.


"Heh? Kamu beneran nggak merasakan apa-apa akibat pukulan ku?"


"Udah cukup basa-basinya, aku mau bantu teman-teman ku!"


"...Kalau begitu aku akan lebih serius dan mengalahkan mu!" balas Lina.


Hingga aku akhirnya aku berhasil mengalahkan Lina setelah menemukan kesalahan fatalnya. Emosinya membuatnya tidak bisa mengontrol diri saat berduel yang berakibat pada kewaspadaannya dirinya yang berkurang.


Aku memanfaatkan peluang tersebut supaya aku bisa mengalahkannya, trik itu pernah guru ajarkan kepadaku saat aku berlatih dengannya.


Guru memang suri tauladan yang baik mau mengajar aku tentang kepedulian terhadap sesama tanpa pandang bulu, bahkan mengajarkan hal yang berhubungan tentang kehidupan manusia.


Bahwasanya manusia memiliki dua sisi yang tidak terlepas dari dirinya masing-masing. Lalu sisi itu terbentuk oleh berbagai macam faktor yang meliputi dirinya semenjak lahir.


Mengingat lagi tentang hal-hal baik yang diajarkan oleh guru di masa lalu membuatku jadi rindu kepadanya. Guru adalah orang tua kedua bagiku.

__ADS_1


Sedangkan sisi buruk ku aku lupa dia berasal dari mana, apakah ada orang lain yang mempengaruhi ku atau aku sendiri yang berubah. Mungkin ingatan tersebut juga berhubungan dengan diriku yang bunuh diri, karena aku tidak bisa mengingatnya sama sekali.


Bahkan aku masih menyesali kematian ku yang disebabkan oleh diriku sendiri sehingga aku berada di dunia aneh ini. Tapi belum tentu juga aku bunuh diri karena kemauan ku. Mungkin aku di paksa untuk bunuh diri oleh seseorang.


Situasinya semakin kacau karena tepat ini benar-benar berubah menjadi tumpukan hewan-hewan mati yang terbunuh.


Daging dan darah berserakan dimana-mana terutama bagian tubuh hewan yang terpotong.


Sampai aku harus menutupi hidungku karena bau amis dari darah yang masih mengucur. Bahkan lebih kasian lagi ada hewan mirip kecoa yang masih dapat bergerak setelah kepalanya terpenggal.


Ada lagi belalang mati yang tergeletak dengan tubuh yang bergerak, setelah aku lihat agak lama keluarlah cacing dari dalam tubuhnya menggeliat.


Melihat apa yang ada di depan mata membuatku jadi jijik dan membuatku ingin muntah, namun ku tahan. Malahan aku menggambarkannya seperti film Action yang tokoh utamanya dihadapan kan dengan serangan monster yang melawan hewan-hewan yang berukuran besar.


Memang saat ini pertikaian masih berlanjut, dan aku sedang berjalan kaki melewati bangkai-bangkai hewan-hewan ini.


"Kalian sudah bebas?"


"Ya, kami sudah bebas!" sahut Billy kepadaku.


"Terimakasih banyak atas bantuannya."


Dan ketika aku mencari temanku yang terikat karena tertangkap, rupanya mereka semua sudah dalam keadaan terbebas sekarang ini, mungkin karena aku sudah membuat Lina pingsan tadi.


"Kino, kamu baik-baik saja kan selama di tangkap oleh mereka?" tanya ku merasa khawatir terhadap Kino.


"Aku baik-baik saja, Anita. Mereka hanya menanyakan beberapa informasi penting dariku."


"Gitu ya, syukurlah kamu dan yang lain baik-baik saja."


"Ya, sebenarnya ada dari kami yang..."


"Ada yang apa?"


"Pria yang kedua lengannya putus sudah meninggal sebelumnya! Dan wanita itu terus saja menangis tanpa henti setelah ditangkap," ucap tuan Mizu menjawab.


"Apa yang tuan Mizu maksud adalah Geisha?"

__ADS_1


"Hm, iya itu namanya."


Sayang sekali karena pria pembawa sabit harus pergi lebih dulu sebelum aku sempat menyelamatkannya. Tuan Mizu bilang dia sudah meninggal sebelumnya, berarti kemungkinannya dia mati pada saat setelah terkena serangan mematikan orang berkemampuan angin saat itu.


Dan di saat itulah Siniken menyerupai dirinya guna menjebakku.


"Oh, ya. Kenapa kalian bisa berakhir di tangkap? Bukannya pangeran yang memimpin?" tanyaku ke arah pria beraura dingin dan Billy.


"Dia sebelumnya dikalahkan oleh orang yang dapat bergerak dengan cepat. Aku juga tidak tahu dia siapa?" sahut Billy sambil menjelaskannya.


"Kayaknya dia Klie orang yang memiliki kemampuan bergerak dengan cepat!" jawab tuan Mizu ikut nimbrung.


"Benar. Klie memang mempunyai kemampuan yang dapat membuatnya bergerak dengan cepat menggunakan gerakan kaki-kakinya!" sambung ku ikut menjelaskan perkataan tuan Mizu.


"Padahal kami bertiga sudah bekerjasama untuk melawannya, tapi kami masih belum bisa. Dia terlalu lincah dan cepat sehingga kami tidak bisa menyentuhnya sama sekali!" jelas Billy bercerita.


"Begitukah, dia secepat itu? Kira-kira kecepatannya seperti apa menurut pandanganmu Billy?" tanyaku.


"Mungkin saja kecepatan suara, karena gerakannya saja tidak dapat di prediksi!"


"Dia mengalahkan kalian bertiga, bukanya ada pria psikis itunya, apa tidak membantu kalian saat itu?"


"Dia kabur saat kami lengah, waktu itu kami sedang terdesak maka tidak sempat untuk mengejarnya!"


"Ngomong-ngomong kemampuan mu masih ada?" tanya tuan Mizu kepadaku.


"Masih tuan, umm tadi aku melihat Noel bertarung dengan Siniken!"


"Kemana dia sekarang?" tanya tuan Mizu mendadak dengan ekspresi agak terkejut.


"Dia kayaknya menjauh dari tempat ini, suara mereka pun tidak terdengar lagi," jelasku.


"Hmm, aku pergi dulu Anita. Dan kamu harus jaga dirimu baik-baik, karena saat ini diri jahat pangeran sedang menuju kemari!" pinta tuan Mizu sambil memberitahukan kepadaku tentang informasi diri pangeran yang lain.


"Lalu bagaimana tentang kemampuan ku?" aku pun langsung bertanya karena kepergian tuan Mizu kali ini membingungkan diriku.


Bagaimana tidak, dia pergi setelah aku mengatakan Noel sedang melawan Siniken. Terus dia memutuskan untuk pergi begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2