
Jalanan yang sepi membuat Kwen mengemudi bak seorang pembalap dengan laju mobil yang dipercepat setiap waktu.
"Kak, harusnya kita melewati jalan pintas agar lebih cepat sampai!" ucapku pada Kwen.
"Sulit. Karena sekarang kita tidak memiliki map kota ini?"
"Tenang saja kak, aku tahu jalan pintasnya. Jadi ikuti apa yang aku katakan!"
"Baiklah, aku akan mengikutinya."
Bremm...
Kecepatan yang tak biasanya aku rasakan kini aku merasakannya dan benar-benar serasa berada di lintasan balap.
Suara ledakan hingga kini belum terdengar lagi sementara kota sudah kosong tidak ada mobil yang melaju selain mobil yang kami tumpangi.
Apa mungkin perang akan segera terjadi yang membuat para penduduk harus semuanya segera dievakuasi.
Meskipun begitu aku tidak mengetahui keadaan di luar wilayah ini dengan pasti. Apakah sedang terjadi penyerangan atau tidak, aku hanya dapat berharap perang tidak segera terjadi beberapa waktu kedepan.
"Kanan!"
"Kiri!"
Selagi aku menunjukkan jalan pintas kepada Kwen saat mengendarai mobil, Nie mengatakan jika ia melihat ada drone berukuran kecil yang melayang di udara. Yang katanya sedang mengikuti mobil kami dari tadi.
"Anita, lihat! Drone nya mulai menuju kemari..."
Aku lalu menoleh dan melihat drone tersebut dari arah samping yang ternyata benar apa yang disampaikan oleh Nie, bahwa drone tersebut seperti sedang mengikuti.
"Bagaimana ini kak?" aku bertanya kepada Kwen berhubung dia adalah ketua. Dia pasti memiliki keputusan pada saat seperti ini.
"Di mobil ini, apa tidak ada sesuatu yang dapat dilempar?"
"Aah? Bentar aku cari dulu!"
Posisi dudukku berada di depan bersama Kwen sedangkan Nie memilih untuk duduk di kursi belakang sejak awal.
Kali ini aku dan Nie kompak mencari sesuatu yang disebutkan oleh Kwen tadi mengenai sesuatu yang dapat dilempar.
"Di harapkan untuk mobil berwarna biru diminta untuk menepi, karena kalian terlihat mencurigakan!"
"Hah, jadi itu sebabnya..." aku langsung menyadari jika drone tersebut adalah utusan dari seseorang, karena kami terlihat mencurigakan dengan mobil yang melaju di jalan raya.
"Apa pengemudi tidak mendengarkan? Saya memberikan kesempatan sekali bagi pengemudi untuk menepikan mobilnya, jika tidak. Kami akan terpaksa memberhentikan mobil secara paksa!" ancam pemberitahuan yang dikatakan oleh seseorang melalui perantara drone dengan suara yang dikeraskan.
"Kwen, sepertinya kamu harus berhenti deh, aku nggak mau kena masalah!" ucap Nie.
"Buat apa aku menuruti mereka, terkadang apa yang mereka katakan tidak sesuai dengan perkataan mereka dari awal. Meski kita berhenti ujung-ujungnya kita pasti akan di tangkap juga!"
__ADS_1
"Umm..."
"Tapi kak, kita akan..."
"Kak, kak terus. Panggil aku Kwen aja, aku tidak suka kamu memanggilku begitu!"
"Iya, deh gapapa," jawabku dengan terpaksa. Entah mengapa Kwen terlihat emosi sekali saat ini, apa dia sedang kesulitan dalam mengambil keputusan.
"Jangan salah kan aku karena terpaksa memberhentikan mobilmu, sekarang ini diluar wilayah sedang genting sedang bersiap untuk menghadapi serangan manusia penyihir. Jadi sekarang ini penjagaan kota agak sedikit berkurang, dan demi keamanan, kini aku sebagai petugas akan mengamankan kalian segera!"
"Kwen!?"
"Hum, lagian dengan cara apa mereka bisa menghentikan mobil kita?" sahut Kwen yang mengabaikan saran Nie.
Teng!
"Suara apa itu!?" dengan terkejutnya Kwen terkaget hingga kemudi mobil hampir ia lepas karena suara tadi. Karenanya mobil pun menjadi oleng kekiri.
Teng! ****! ****!
Aku melihat ke arah drone yang ternyata suara tersebut di timbulkan dari serangan kecil drone yang kemungkinan mengarah ke ban mobil, seperti peluru kecil. Sementara yang tidak mengenainya akan meleset mengenai bagian mobil dan juga jalanan.
"Bahaya sekali mereka mencoba menembaki ban mobil kita, tsk!" kata Kwen sambil berdecak kesal.
"Tapi tetap saja aku sendiri tidak akan berhenti, karena aku tahu caranya menghindari dan membalasnya!"
"Oh, ya. Bentar lagi belok kanan kak, eh maksudku Kwen!"
"Tidak usah. Karena kita akan berputar-putar dulu!"
"Hmm, jadi kamu sudah memiliki rencana yang dapat memutar balikkan mereka, Kwen?" ucap Nie.
"Harusnya rencana ini akan berhasil dengan sempurna, kalian tenang saja."
Belokan tajam diarahkan oleh Kwen memasuki area gang sempit namun masih bisa dimasuki oleh mobil.
Terlihat mata Kwen yang terbuka lebar sedang fokus ke depan dan mencari-cari jalan untuk dilalui.
Shut! shut!
Serangan drone meleset mengenai tembok rumah salah satu warga. Drone tersebut terus mengikuti kemanapun mobil ini melaju meski Kwen sudah membingungkan drone tersebut dengan arah yang sulit di tebak sebelumnya.
Tidak sepi seperti yang aku pikirkan ternyata masih ada warga yang masih berkeliaran di luar dan enggan mengungsi ke tempat evakuasi.
Hampir saja tadi Kwen menyenggol seorang warga yang sedang berjalan di sebuah gang, tapi bukan Kwen jika apa yang dikatakannya tidak sesuai mulut.
Kemampuan menyetirnya di luar nalar sampai bisa menghindari nyawa seseorang yang hampir terancam dan hampir saja ditabraknya.
"Kyaa!!" tentu saja belokkan mendadak membuat Nie berteriak tak tahu diri.
__ADS_1
Sebenarnya aku pun bisa saja begitu, berteriak sekeras apapun yang aku bisa karena kekhawatiran dalam perjalanan ini, akan tetapi bagiku itu tidak ada apa-apanya.
Teng! teng!
"Kwen mungkin sudah kewalahan karena kejaran drone yang tak ada jedanya, apalagi ukuran kecilnya membuatnya bisa mengejar kemana pun mobil ini berada!"
"Dan jika seperti ini terus Kwen akan kelelahan, dan bisa kami mendapati jalan buntu yang membuat kami berhenti mendadak atau terluka, kurasa aku harus membantunya."
"Rupanya kalian bertiga ya, apa kalian ini penjahat berkomplot? Mobil kalian pun adalah mobil hasil curian. Bagaimana jika kita membuat kesepakatan, kalian menyerah aku akan mempermudah jalur hukum kalian!"
"Sialan. Seenaknya saja kalau bicara!!" gerutu Kwen.
"Ini. Gunakan sepatuku saja sebagai penyerangan!" ujar ku.
Dari kaca spion tengah Kwen melihatnya lalu berbicara.
"Bisa saja, tapi bagaimana caranya?"
"Bukannya kamu tadi bilang, suruh kami untuk mencari sesuatu yang bisa dilempar. Pasti untuk menyerang drone itu kan!?" tandas ku.
Shut! shut!
"Benar. Tapi sekarang ini aku belum menemukan caranya untuk menyerang balik drone itu! Dikarenakan kondisinya yang menyulitkan!"
"Ya udah kamu ikuti aku aja, kamu kan sudah berputar-putar disekitar sini demi mengelabuhi drone itu kan! Jadi pas ada belokan di depan kamu belok kiri aja!"
"Bukannya disebelah kiri nanti ada...ah iya aku ingat!"
"Hmm kamu sudah ingat ya."
"Ternyata begitu. Kamu hebat Anita."
"Aku masih belum mengerti?" ucap Nie masih kebingungan.
"Cuma kita butuh agar drone itu sedikit naik ke atas. Bolehkan aku pinjam sepatumu juga kak Nie...?"
"Eh, iya iya!"
Jendela depan mobil ini terbuka dan aku mulai melakukan penyerangan menggunakan sepatu.
Kini drone tersebut sudah naik sedikit ke atas dan...
"Belok!!"
Sretkk!!!
Crakk!
"Yes, kita berhasil menghancurkan drone itu dengan sendirinya..."
__ADS_1