Last Life

Last Life
Perlawanan


__ADS_3

"Anita, aku mendapatkan rekan baru. Dia menyerahkan dirinya sendiri lantaran telah aku kalahkan, bagaimana pendapatmu? Apa aku habisi dia saja?" ucap Yanwu menanyakan pendapat kepadaku selagi aku meminum air dari dalam kendi.


"Pyuh... leganya... Hmm menurutku kita jadikan dia rekan dulu sementara, apalagi kita kekurangan rekan karena beberapa dari kita telah terbunuh!" sahutku.


"Yah. Itu usulan yang bagus. Aku setuju."


"Terimakasih sudah mau berbelas kasih kepadaku..."


Perempuan muda ini lalu sujud dihadapan Yanwu sebagai rasa terimakasihnya karena masih diberikan kesempatan hidup oleh Yanwu.


"Sudah, sudah, kamu berdirilah. Jangan merendahkan diri seperti itu!" ucap Yanwu.


Aku pun merasa kasian melihat perempuan itu dengan ekspresi terharu saat bersujud tadi. Dan hendak aku menghampirinya dan menyuruhnya untuk berdiri, namun Yanwu lebih dulu dariku.


Aku pun bertanya kembali kepada Brain mengenai satu orang lagi yang belum dia sebutkan keberadaannya.


"Brain, kamu melupakan satu orang, dia bernama Klie!" ucapku mengingatkan.


"Kamu tahu nggak, kebenarannya sekarang ini?"


"Dia masih terekam oleh drone, dan terdeteksi dengan mudah. Bukannya dia masih dalam kendali dia!"


"Walaupun gerakannya sangat cepat aku masih bisa mendeteksi keberadaannya melalui ciptaan termutakhir yang telah aku buat."


Sebenarnya perkataan Brian barusan adalah tamparan keras bagi dirinya sendiri, karena ciptaan yang dia sebutkan "termutakhir" masih belum bisa mendeteksi keberadaan rekan dekatnya, Hiyou.


Robot menyerupai diri Brain pun beranjak bangun. Dan aku masih tak percaya bahwa Brain yang sekarang ini aku lihat bukanlah dirinya yang asli, melainkan robot.


Padahal selagi melakukan penyusupan dan berbincang dengan kami saat dalam perjalanan menuju kerajaan. Dia nampak seperti manusia pada umumnya.


Dari awal menjalankan misi, diriku memang sudah curiga pada Brain, dia seperti orang yang berbeda saat menjelaskan rencana penyusupan kembali ketika hendak memulai misi di tim satu yaitu bertugas sebagai penyusup kedalam kastil dan mengincar dua orang yang dianggap ancaman.


Di tambah membebaskan para tawanan diruang bawah tanah. Dan hal yang mencurigakan darinya adalah caranya berbicara serta watak dan sifatnya lain dari aslinya.


Yang aku ketahui tentang Brain, dia ini orangnya sukar sekali untuk berbicara. Ekspresinya yang acuh dan tidak peduli adalah ciri khasnya.


Bahkan aku seringkali menyebutnya pria beraura dingin, yang memang terbukti dari sifatnya itu.

__ADS_1


"Pertama-tama, kita akan kalahkan orang berkemampuan ilusi terlebih dahulu, lalu membantu yang lainnya. Bila perlu kamu yang membantu mengalahkan imitasi yang meniru wujud!" perintah Yanwu secara tiba-tiba dia kini menjadi ketua dadakan.


"Oke, aku setuju. Tapi kalian berdua harus berhati-hati saat menghadapinya, lantaran kemampuan ilusinya sangat berbahaya setingkat dengan kemampuan ilusi milikmu Anita!" ujar Brain kepadaku dan Yanwu. Lalu dia beranjak pergi setelah selesai dengan perkataannya.


Di langit terlihat banyak sekali drone berterbangan dan baru saja aku sadari setelah lama tidak mengetahui sebelumnya, dengan ketinggian yang mencapai gedung lantai 8 menurutku.


Selain drone, aku pun dikejutkan pula oleh robot-robot berukuran besar yang telah Brain ciptakan untuk membantu kami.


5 robot tersebut baru saja keluar dari tanah dengan desain yang berbeda-beda, seperti halnya memiliki kegunaan dan kekuatan masing-masing.


"Hmm, kemampuannya sungguh menarik," gumam Yanwu yang dapat aku dengar.


Kami berdua lalu menuju tempat Profesor Fox berada, yang kini menurut informasi dari Brain sedang melawan Ryu, Lina, dan orang berkemampuan mengerakan benda bernama Sihan.


"Kalau dipikir-pikir... aku sepertinya melupakan seseorang, hingga aku melupakannya dan baru ingat, jika orang itu tidak asing bagiku?"


Menggunakan kemampuan teleportasi yang baru saja Yanwu gunakan, kamipun memasuki portal yang langsung terhubung di tempat Profesor Fox berada, itulah yang dikatakan oleh Yanwu padaku.


"Yah... karena kamu sudah tahu identitas diriku yang sebenarnya, maka aku tidak akan sungkan lagi menggunakan berbagai kemampuan milikku!"


"Humph. Udah terlambat mengatakannya!"


Saat ini aku melihat Lina yang dipapah oleh Sihan, sementara Ryu dengan keadaan berdiri tidak tegak terlihat sudah kehabisan tenaga dan sudah babak belur.


Aku amati lebih jeli lagi ternyata pakaian mereka basah kuyup.


"Yanwu, kamu bantu mereka dulu ya, dan aku yang akan memasuki ingatan orang yang mengenakan topeng itu!"


"Justru malah sebaliknya Anita. Kamu lihat, orang itu dengan seksama, yang disebut sebagai Profesor. Dia sangat banyak celah bukan? Yang artinya dia sengaja memancing agar ada yang menyerangnya!"


"Kita tidak tahu jebakan seperti apa yang sedang dia persembahan kepada korbannya!" ujar Yanwu berbisik kepadaku.


Yanwu lalu menghilangkan kemampuan penghilang keberadaan sehingga kami berdua dapat diketahui keberadaannya.


"Anita!? Yanwu!?" ucap Nie.


Kami berdua tepat berada di samping Sihan yang tengah memapah Nie. Sihan lalu menghentikan langkahnya karena terkejut.

__ADS_1


"Ada orang yang masih ingat namaku juga ternyata," gumam Yanwu.


"...tch akhirnya bala bantuan tiba, meskipun hanya dua orang," kata Sihan.


"Kalian terlambat, aku sudah babak belur seperti ini. Aku harap kalian berdua bisa mengalahkannya..."


Wosh...


Ryu tidak sadarkan diri selagi dia berbicara lalu Yanwu dengan cepat sudah memberikan sandaran untuknya.


Mengejutkannya dia lalu memasukkan Ryu kedalam cincin ruang miliknya.


"Dengan ini beban telah berkurang."


Wosh...


"Cepat sekali gerakan mu!?"


Dalam sekejap lagi Yanwu sudah berada di sampingku. Sampai-sampai Sihan hampir melepaskan Nie saking terkejutnya.


"Kalian berdua jika tidak sanggup lagi untuk melanjutkan, lebih baik aku masukkan kedalam cincin ruang milikku. Dan tenang saja, didalam sana kalian tidak akan sengsara!" ujar Yanwu.


"Walaupun berat mengakuinya, tapi aku terpaksa beristirahat terlebih dahulu, dan aku setuju."


"Maaf, aku masih mau membantu."


Tidak disangka Lina yang terlihat acak-acakan sekarang malah tetap memaksa untuk membantu.


Dalam menanggapinya, Yanwu membuat pingsan Lina dengan sentuhan jarinya.


Pandanganku lalu beralih ke arah Profesor Fox yang tetap berdiri sejak tadi. Dia sama sekali belum melakukan tindakan apa-apa saat aku dan Yanwu datang kemari.


Dia seperti acuh dengan kedatangannya kami yang sebelumnya muncul secara tiba-tiba saat menampakan diri setelah kemampuan penghilang keberadaan dilenyapkan.


Sama sekali dirinya tidak bereaksi apapun sehingga diriku membenarkan perkataan Yanwu sebelumnya, bahwa orang ini sedang menunggu lawannya menyerang.


Dalam hatiku sebenarnya ada keraguan pada sebuah anggapan diriku jika saja aku memasuki ingatan orang itu. Aku masih belum seratus persen nyakin jika kemampuan ku tidak mempan padanya. Atau aku menyebutnya dia menepis saat aku memasuki ingatannya.

__ADS_1


"Sudah cukup. Kini giliran diriku untuk bermain-main."


Setelah memasukkan Nie dan Sihan, Yanwu langsung saja mengeluarkan perempuan tadi dari dalam cincin ruang miliknya beserta orang yang memiliki kemampuan menciptakan senjata api.


__ADS_2