Last Life

Last Life
Taktik Sempurna Untuk Mengalahkannya


__ADS_3

Suara langkah kaki itu berasal dari wanita dengan gaun serba hitam bersenjata sabit dan mempunyai sayap pada belakang tubuhnya.


Serta ada penutup kepala bertanduk seperti halnya kerudung. Dan aku amati perempuan itu ternyata memiliki rambut yang panjang.


"Hmm... kamu ya yang bakalan jadi lawanku!" ucapnya membuatku tidak mengerti apa maksud perkataannya.


"Aku tidak mengerti situasinya, bisakah nona yang manis dan cantik memberitahukannya padaku... aku akan sangat berterimakasih..." ucapku sembari membungkukkan badanku sedikit.


"Karena kamu ramah dan sopan aku tidak akan memberimu kematian menyakitkan. Jadi kamu ini sedang dalam ilusi Tanaki, orang yang memimpin kota ini. Dalam ilusi ini kamu harus melawan diriku agar dapat keluar dari loop tempat ini, bukannya kamu merasa seperti berulang-ulang?" jelas perempuan itu nampak serius dari ekspresinya yang seakan tak ada kebohongan, sayangnya aku tidak mempercayai seratus persen perkataanya.


"Apa tidak ada cara lagi selain bertarung denganmu agar saya dapat keluar dari sini, aku sebenarnya dalam keadaan tidak diuntungkan saat melawan nona..." ucapku sengaja dengan nada berbicara rendah dan menekuk wajah


"Ya sudah, karena kita dalam ilusi kamu boleh memilihkan tempat yang akan menjadi arena bertarung kita. Untuk pertarungan yang disebut duel aku tidak bisa tiadakan, sebaliknya kamu aku beri kesempatan menguntungkan. Meskipun pada akhirnya aku yang akan mengalahkan dirimu!"


Dari aktingku sebelumnya sekaligus taktik diriku dalam mengulur waktu demi memikirkan sebuah rencana aku juga mendapati sebuah ide.


Tapi pertama-tama aku harus memastikannya, karena bisa saja asumsi ku salah.


"Jadi kalau Nona kalah aku bakalan bebas, tidak usah sampai membunuhmu?" tanyaku.


"Hmm... bisa juga, tapi untuk membuat diriku mengakui kekalahan itu sangat sulit lho... aku sampai sekarat pun tidak akan mengaku kalah..."


"Sekarang aku mengerti aturannya, kalau begitu aku memilih tempat di pulau kecil yang terkepung oleh lautan luas!"


"Huh? Ya sudah aku tepati perkataan ku."


Dalam sekejap tempat yang awalnya didalam kastil beralih ke sebuah pulau sesuai dengan gambaran permintaanku.


Dengan ini rencana ku selangkah lagi menuju keberhasilan berkat keluguan perempuan ini.


Slash...


Slash...


Dia kemudian langsung menyerang diriku dan berhasil aku hindari sabitnya itu yang seakan-akan hendak menebas.


Sut...


Drap.


Sut...

__ADS_1


Drap.


Sut...


Trak.


Berganti serangan tajam berasal dari bulu pada sayapnya yang dapat masuk kedalam tanah keras yang aku pijak hingga membuat batang pohon kelapa berlubang dengan mudah.


Perempuan itu saat ini terbang lumayan tinggi di udara dan terus melakukan serangan dari jarak jauh.


Dia aku perhatikan tidak serius sekali untuk mengalahkan-ku malahan aku tebak lebih ke arah memberiku kematian yang menyakitkan.


Dia mungkin saja memiliki kebiasaan buruk yaitu suka menyiksa, lantas bagaimananya jika kebalikannya.


"Ayo lakukan serangan, aku bosan melihatmu menghindar terus-terusan. Apa kamu tidak memiliki kemampuan?" tanya perempuan itu sudah mulai kesal dan bosan.


Dengan ekspresi terkejut dan mata membola sekaligus gelagapan aku tunjukkan padanya.


Lalu aku memutar badan dan lari menuju bibir pulau ini yang berpasir.


"Kamu beneran tidak punya kemampuan, kalau begitu aku yang akan menang.. jangan lari...!"


Batu karang dan buah kelapa menjadi serangan tiba-tiba yang mengarah pada perempuan itu hingga membuatnya sibuk dengan itu.


Penyebab batu karang dan buah kelapa dapat aku kendalikan karena didalamnya terdapat air.


Dan tongkat pemberian Sekai dapat berfungsi dengan baik dalam ilusi ini.


Diriku lalu menjatuhkan lutut pada pasir kemudian kedua telapak tanganku aku tempelkan pada pasir seakan menarik sesuatu yang ada didalam.


"Kamu ternyata punya kemampuan psikis ya, sedang apa kamu? Apa merasa terpuruk hingga melakukan hal begitu?" tanya perempuan itu yang sesuai prediksi ku mampu lolos dari banyaknya buah kelapa dan batu karang yang menyerbunya.


"Iya, aku dalam keadaan terpuruk saat ini. Karena aku sadar bahwa melawan nona tidak akan berhasil hingga membuat nona kalah. Lebih baik nona langsung saja mengakhiri nyawaku...!" ucapku dengan ekspresi yang sesuai dengan perkataan ku, tentu saja hanyalah akting semata.


Aku lalu beranjak bangun dan menatapnya sembari menunggu keputusannya.


Dia lalu berkata tidak akan membunuh diriku sebagai gantinya aku harus menjadi objek penyiksaan seterusnya.


Perempuan itu bahkan menawarkan padaku berbagai kenikmatan yang bisa dirasakan dalam ilusi ini, ketika diriku memiliki waktu luang tidak disiksa olehnya.


"Aku mau, aku mau..."

__ADS_1


"Eh? serius kamu mau?"


Splash...


Splash...


"Humph..."


Air dari dalam pasir keluar dan kumasukkan dalam mulutnya guna mengendalikan dirinya seperti teknik yang digunakan oleh Ryu saat mengendalikan orang berkemampuan peniru, Siniken pada saat itu.


Sementara sebagai pengaman aku membuat perempuan ini tidak bisa bergerak lantaran pasir dibawahnya aku buat layaknya pasir hisap yang dapat merangkap dirinya, meskipun hanya kakinya.


Lalu aku kendalikan air dalam tubuh perempuan ini yang lumayan banyak dengan membayangkan jaringan darah hingga membuatnya meringis kesakitan.


Hingga diriku berhasil mengendalikan perempuan itu tanpa adanya perlawanan kemudian langkah terakhir membuatnya mengakui kekalahan.


Cara lain untuk keluar dari ilusi ini dengan membuatnya mengakui kekalahan dan aku tidak mau sampai membunuhnya, karena dia baik padaku sebelumnya.


Menggunakan cara seperti ini adalah pilihan bijaksana menurut diriku demi membalas kebaikan perempuan ini mau memberi kesempatan untuk memilih tempat bertarung.


Karena kalau tidak, aku bakal kesusahan sekali dalam menghadapinya.


Sebab, tongkat ini tidak dapat mengendalikan air jika sejauh mata memandang tak nampak zat cair itu. Otomatis membuat ku tidak bisa mengendalikan air.


"A- aku mengaku kalah..." ucap perempuan itu yang telah aku cuci otaknya.


Kebiasaan buruknya ternyata berlaku pada dirinya sendiri saat dia disiksa. Dan aku memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melancarkan rencana ku.


Yang nyatanya berhasil membuatnya mengaku kalah, karena aku berkata "Akan memberinya kepuasan selamanya" kata akhir sedikit mengarah ke hal dewasa tapi itulah akhir dari rencana ku.


Sekitaran ku lalu mulai memudar dan kembali diriku berada di tempat sebelumnya.


Waktu pun aku lihat pada jam tangan pemberian dari Sekai tidak ada yang berubah, dari awal hingga diriku terkena kemampuan ilusi dan keluar tetap sama saja pada jam dan menit diawal.


Berlari menuju ke sumber suara gaduh hingga akhirnya aku melihat Yanwu mengalahkan orang yang aku duga adalah pemimpin kota ini.


Diriku terkejut karena Yanwu menempati janjinya pada rencananya saat keadaan pemimpin kota ini tidak bisa diajak negosiasi.


Yanwu lalu menyerahkan Tanaki nama pemimpin kota ini yang aku ketahui dari perempuan itu kepada Luu maupun Sekai.


"Jadi selama ini... didalam kastil... memang benar-benar ada pertarungan memperebutkan tahta?" tanyaku saat Yanwu mendekati diriku dengan terbang melayang seakan dia memiliki ilmu peringan tubuh.

__ADS_1


__ADS_2