Last Life

Last Life
Apakah Sudah Matang Rencana Ini?


__ADS_3

Selesai membahas mengenai rencana melawan balik pihak kerajaan dinamakan dengan "rencana terakhir" aku sekarang ini memilih untuk kembali ke kamar.


Tak lupa diriku membawa beberapa makanan ringan yang waktu itu aku dapatkan bersama Nie dan Geisha di mall terbengkalai, lalu setelah itu menitipkannya kepada Yanwu. Tidak tahunya semua produk dan barang yang aku ambil waktu itu terdapat di rumah ini.


Masih terjaga rapi dalam sebuah karung yang memang saat itu aku gunakan sebagai wadah sementara.


Ceklek!


"Kamu sudah selesai menghadiri pembahasan rencana itu, dan tidak ada pembahasan lagi setelahnya?" tanya Gerry saat aku membuka pintu kamar dan itu agak membuatku terkejut, dia terlihat sedang duduk di ranjang sembari mengasah pedang yang satunya.


Pakaian yang dikenakannya pun berbeda dari sebelumnya saat terakhir aku meninggalkan dia untuk menghadiri pembahasan rencana.


Aku pun masuk sembari menutup pintu dan menguncinya dengan asalan pribadi agar Yin tidak sembarangan masuk, dan itu berlaku bagi siapa saja.


Belum menjawab perkataan Gerry tadi aku malah duduk disampingnya sembari menghela nafas panjang.


"Udah selesai, em ini, aku bawain kamu makanan ringan!" jawabku atas perkataan yang dilontarkan Gerry sebenarnya sembari menyodorkan kepadanya tiga snack makanan ringan.


"Oh, makasih. Kamu tahu sekali aku mengharapkan sesuatu yang bisa dimakan."


"Kalau begitu kamu pasti lapar, biar aku bawakan masakan buatan ku," ucapku hendak bangkit namun di tertahan oleh Gerry, dia memegang tanganku untuk mencegah.


"Tunggu dulu, kamu pasti lelah selepas berada di ruangan itu selama dua jam lamanya. Mendingan kamu istirahat saja, biar aku saja yang menyelesaikan masalah perutku ini."


Aku pun mengangguk disertai senyuman terbaikku yang aku tunjukkan kepadanya, terlihat wajah senang dan puas Gerry padaku.


Gerry lalu membelai rambutku dan mengelusnya pelan beberapa saat, dan aku tidak bisa menolaknya karena kerelaan ini sebagai bentuk keseriusan diriku pada hubunganku sekarang ini.


Yang selangkah demi selangkah mencapai puncak keberhasilan meyakinkan Gerry seratus persen jika aku ini sangat berarti baginya.

__ADS_1


Setelahnya, Gerry beranjak bangkit lalu menaruh pedangnya pada sarung dibelakang badannya.


Klek.


Dia pun menutup pintu yang kemungkinan bergerak dengan cepat agar dirinya tidak ketahuan oleh penghuni rumah ini selain diriku.


Membuka kemasan snack lalu melahapnya dua potong kentang pipih dengan rasa balado. Dikala mengingat kembali perkataan beberapa orang saat pembahasan rencana terlintas juga dalam pikiranku bahwa aku ini mempunyai pedang, yang aku temukan secara tidak disengaja.


Yah. Pedang tersebut masih berada di tempatnya sekarang. Aku masih menaruhnya pada wadah khusus pertama kali aku menemukannya.


Dan aku belum bisa memutuskan apakah aku akan membawanya sebagai senjata cadangan dikala aku dalam keadaan sulit saat rencana sudah dimulai.


"Karena sekarang ini aku bisa mengangkat pedang ini dibandingkan dengan sebelumnya, saat pertama kali aku mengangkatnya. Pedang ini terasa sangat ringan dan menurut gambaran ku kedepanya, ada saat-saat dimana pedang ini dibutuhkan."


Menghabiskan beberapa snack hingga akhirnya pintu terlihat terbuka, aku pun memandang ke arah pintu untuk memastikan siapa gerangan.


Brain lalu memasuki kamar tempatku beristirahat seraya menutup pintu pelan.


"Maaf, sebenarnya aku tidak ingin menimbulkan suara disaat aku memasuki kamarmu. Dan tenang saja, aku ini hanya ingin mengobrol denganmu. Tidak usah khawatir karena kamar ini kedap suara sekarang!" jelas Brain menjawab sebagian perkataan ku sebelumnya.


"Anita, kamu tadi siang memasuki ingatan robot diriku ini bukan, sekaligus memasuki ingatan asliku. Aku yakin kamu sudah mengetahui lokasi tempatku berada sekarang?"


Ternyata memasuki ingatan wujud Brain ini adalah suatu kecerobohan yang tidak aku sadari dari awal, sistem robot ciptaannya pasti memiliki teknologi tinggi sehingga dapat mengetahui jejak diriku memasuki ingatannya.


"Atau... dia dari awal memang sengaja agar aku memasuki ingatannya tanpa mencegah diriku?"


Jadi tujuan dirinya kesini kemari pasti ingin meluruskan mengapa dirinya berada di tempat yang tidak seharusnya, yaitu wilayah manusia tidak berkemampuan. Lagian sejak kapan dirinya berada di sana, apa memang sudah direncanakan oleh Hiyou karena dia sama-sama berada di wilayah itu.


"Hm, aku sudah tahu keberadaan dirimu Brain, hanya saja kenapa kamu bisa berada disana? Aku tidak menyangka jika kamu memiliki kasus yang sama seperti Hiyou, dia menghilang begitu saja meninggalkan medan pertempuran. Lalu tidak ada kabar tentang keberadaan dirinya lagi?" ucapku panjang lebar memastikan Brain menjawabnya dengan logis dan bisa aku terima.

__ADS_1


"Itu karena... aku mendengarkan Hiyou bergumam. Dia mengatakan jika dirinya akan memusnahkan semua manusia tidak berkemampuan dengan senjata terkuat yang mereka miliki, hanya seorang diri. Jadi diriku yang asli menciptakan robot tiruannya, yang kini sedang kamu lihat. Hanya untuk pengalihan saja!"


Sesuatu yang berbeda dari sifat Hiyou dia ternyata memiliki ambisi yang begitu besar untuk melenyapkan semua manusia tidak berkemampuan sekaligus, bahkan mempertaruhkan nyawanya disana seorang diri.


Dan Hiyou begitu naif karena memaksakan diri menurutku, lalu apa gunanya dia merencanakan rencana penyerangan sebelumnya. Yang disetujui oleh semua dengan kepercayaan keberhasilan seakan seratus persen menang.


"Tujuan dari pengalihan bukannya memakan banyak korban dari pihak kita Brain, apa kamu tahu alasan Hiyou melakukan hal senekat itu. Atau jangan-jangan dia mengunakan kita sebagai..."


Belum selesai aku mengatakannya Brain langsung menyelesaikan perkataan ku tersebut yang tertahan olehnya.


"Batu loncatan saja."


"Lalu kapan kamu mendengar Hiyou memiliki ambisi terlalu jauh dicapai seperti itu, kalau sebelum rencana dimulai seharusnya kamu bisa mencegah?"


Brain terdiam dan belum ada jawaban darinya lagi sampai aku menghitung waktu terakhir aku bertanya kepadanya.


"Justru karena aku termakan oleh keyakinan dan omongan darinya pada jaminan kemenangan mutlak. Di awal kita memulai misi pun diriku mengantikan peran dirinya sebagai ketua setiap tim. Saat itu aku melakukan pencegahan dan pengamatan kepada Hiyou. Pada setiap gerak geriknya aku amati hingga dia terlihat meninggalkan wilayah kerajaan olehku melalui drone."


Dan jika Hiyou benar benar menggunakan diriku maupun yang lain sebagai batu loncatan maka aku tidak bisa memaafkan dirinya begitu saja saat bertemunya nanti.


Ada balasan yang harus dia terima lantaran telah melibatkan orang yang tak bersalah harus mati dalam rencana tipuannya.


Sampai saat ini aku mengerti pada setiap pembahasan rencana Brain, karena ada hubungannya dengan Hiyou nantinya.


"Niatnya aku ingin memberitahukan hal itu kepada semua orang, Lina maupun Sihan. Sementara Ryu aku nyakin dia sudah tahu sekarang ini!"


"Maksudmu?" tanyaku.


"Kamu tahu kenapa Ryu memilih rekannya dengan kemampuan ilusi, karena kemampuan rekannya itu bisa mendengar percakapan seseorang dalam radius tertentu. Memproyeksikannya pada gambaran kemungkinan yang akan terjadi!"

__ADS_1


__ADS_2