Last Life

Last Life
Realita Membunuh


__ADS_3

Perbatasan kota Tirani terlihat jelas dengan kota mati yang bersebelahan saat aku maupun Sekai menunggu giliran pengecekan.


Entah karena alasan apa aturan tidak masuk akan mengharuskan sepasang kekasih yang boleh memilih kota Tirani untuk yang pertama kalinya.


Menurutku ada sesuatu yang disembunyikan.


Kini giliran-ku, seorang wanita berpakaian rapi stelan jazz sedang mengecek ku sementara Sekai terpisah denganku.


"Selamat anda lolos, silahkan masuk kedalam lebih dulu!" ujar wanita yang mengecek ku dengan senyuman ramah menyuruh untuk memasuki gerbang seakan ada garis atau mungkin area pembatas saat aku hampir melewatinya.


Dan ternyata pemandangan didalam berbeda sekali dengan kenyataan yang aku lihat di luar sama sekali seperti iklan penipuan.


Kemungkinan pembatas itu memang dipasangi oleh kemampuan ilusi, itulah sebabnya berbeda sekali dengan yang aku lihat.


Dari luar didalam sini sungguh seperti kota yang makmur kota yang sangat cocok untuk disinggahi maupun dijadikan tempat menetap.


Tapi nyatanya, yang aku lihat sekarang ini adalah kebalikannya.


Tap.. tap..


Kota yang sangat kumuh seperti halnya ditempati oleh orang-orang diperbudak saja. Bahkan aku mendapati serangan tak terduga dari arah belakang, yang untungnya sempat aku hindari.


Empat orang berpakaian dari besi sembari menunjukkan kemampuannya mengepung diriku membentuk bundaran perlahan menyempit.


"Cih, ternyata keindahan palsu kota ini memang jebakan untuk menjebak orang-orang luar agar memasukinya!"


"Menurut lah gadis kecil, kami tidak akan menyakitimu jika kamu tidak bertindak menyulitkan kami!"


"Benar, kami hanya akan membawamu kepada pemimpin kami!" timpal rekan orang-orang ini kepadaku. Sepertinya memang ada yang tidak beres dengan kota ini, mereka pasti menangkapku untuk dijadikan pemuas kebutuhan.


Terbukti dari pemandangan yang aku lihat, disana beberapa wanita tanpa busana berjalan dengan tangan terikat terhubung pada satu tempat, mereka bahkan mendapatkan kekejaman secara fisik.


Jujur saja, hal itu membuat darahku mendidih seketika dan di satu sisi diriku merasa sangat kesal kenapa Yanwu tidak memberitahukan akan sisi buruk kota ini sebelumnya.


Jawaban yang mungkin saja dia ucapkan, mungkin karena tidak mengetahui sisi buruk ini.


Kini aku hanya bisa mengulur waktu sembari menunggu kedatangan Sekai ku harap dia akan membantuku.


Melawan mereka akan sangat sulit karena mereka memiliki kemampuan, sedangkan diriku hanya skill bela diri, sulap, dan psikologi, serta beberapa lainnya yang sepertinya tidak terlalu berguna.

__ADS_1


Namun trik psikologi dapat ku gunakan untuk mengulur waktu.


"Tunggu! Aku mau kesini memang ingin menawarkan diri kepada pemimpin kalian, sementara kekasihku memiliki hal penting yang akan di bicarakan kepada pemimpin kalian. Apa ini sikap kalian menyambut tamu terhormat, huh!?" ucapku serius sembari menekankan kata yang diperlukan.


Mereka berempat saling pandang lalu salah satu dari mereka mendekatiku.


"Maaf atas sikap kami nona, silahkan ikuti saya untuk bertemu dengan kekasih nona!"


"Hm, tidak apa-apa, aku maafkan kalian. Tapi sebagai gantinya aku akan menuliskan laporan apa yang akan aku ucapkan kepada pemimpin kalian, gara-gara tadi aku sampai lupa bagian-bagian tertentu. Jadi berikan aku pena dan kertas!"


"Baik nona, akan saya ambil."


Menulis laporan adalah dalih sebenarnya melalui kertas aku akan menjelaskan situasi sekarang kepada Sekai.


Usai menulis aku pun mengikuti pria tadi sembari memikirkan antisipasi maupun rencana dadakan bagiku, ketika dalam keadaan terdesak tanpa Sekai.


"Sekai..."


"Anita, kamu.. tidak apa-apa, aku khawatir kamu kenapa-kenapa."


"Padahal hanya sebentar aku jauh darimu..." saat mengalah ucapan tadi dengan tubuh dekat dengan Sekai aku menaruh kertas tadi pada telapak tangan Sekai, lalu menutupnya.


Dia sepertinya halnya memperhatikan gerak gerik kami berdua setelah Sekai sebelumnya mendadak menggunakan kemampuannya karena terkejut.


Sebenarnya di luar kereta kuda ini dikawal oleh banyak pengawalan darat dan udara. Untuk darat disekitar kereta kuda ini ada banyak para kesatria, aku menyebutnya, yang menunggangi kuda, sementara di udara ada kesatria yang dapat terbang seperti memantau dari atas.


"Argh!!!"


"Argh!!!"


"Argh!!!"


Suara itu membuat pria didalam kereta kuda ini membulatkan mata lantaran terkejut mendengar suara pembantaian di luar, yah, aku yakin sekali.


Sekai lalu mengisyaratkan kepadaku untuk meringkus pria didekat ku, aku pun mengangguk faham saat pria itu tidak memperhatikan kami lagi.


"Tuan, apa bisa lihat tangan saya, seperti saya butuh sentuhan lembut agar tidak ketakutan..."


Dan saat korban memakan umpan dan langsung menyentuh tanganku, aku langsung saja meninjunya sekuat tenaga.

__ADS_1


Membuatnya langsung tak sadarkan diri dalam keadaan terlentang.


Sekai lalu keluar dikuti olehku yang sudah terlindungi kemampuannya.


Untuk aksi penyerangan tadi sudah ku duga dilakukan oleh pria itu, yang sebelumnya mengajak bekerjasama sama.


Kini di tengah kota lebih tepatnya di luar kereta kuda, sekitarannya menampakkan pemandangan pembantaian begitu keji.


Bagi warga kota yang melihat mereka lari terbirit-birit, sementara beberapa orang yang menuju kemari dengan menggunakan kemampuannya tak sempat melangkah satu langkah lagi.


Karena tubuh mereka terpotong-potong dalam keadaannya sekarang.


Tap..


"Kalian berdua memang pintar, memiliki cara tersendiri untuk tidak berurusan dengan mereka di awal. Malah kalian seperti tamu terhormat. Baiklah, mari ikuti aku terlebih dahulu. Kita akan bersembunyi sembari berbincang-bincang sedikit mengenai suatu hal penting!" titah pria itu yang sebelumnya muncul secara mengejutkan.


Aku maupun Sekai kemudian menyetujui pergi terlebih dahulu dari lokasi ini sekarang.


Sekai mendekati diriku dia lalu berkata agar aku memegang tubuhnya erat, karena akan membawaku bergerak cepat.


Di suatu bangunan kosong.


"Sebenarnya kamu ini memiliki keperluan apa sampai ingin bertemu segala dengan Pemimpin kota ini, apa dengan cara brutal tadi sebagai sambutannya?" tanya Sekai disertai cibiran di akhir ucapannya.


"Kalian pasti sudah tahu bukan, kota ini adalah neraka, bisa saja disebut sebagai tempat peristirahatan terakhir paling rendahan bagi mereka yang awam pada keadaan asli kota ini!"


"Untuk asalan aku ingin bertemu dengan pemimpin kota guna membunuhnya, dia sebenernya Kakakku!" imbuh pria itu sembari membuka penutup wajahnya. Mengungkap dirinya adalah adik dari pemimpin kota ini.


"Kamu beneran bukan musuh kan, kalau musuh kami pasti..." ucapku menyela.


"Aku berada di pihak kalian, ya.. untuk sekarang ini. Akan berubah jika kalian mengatakan tujuan kalian kemari, sama sepertiku ingin bertemu dengan pemimpin kota ini!"


"Menangkapnya dan menghukumnya!" jawab Sekai membuatku terkejut, kurasa ada yang belum aku fahami.


"Bagus, tujuan kita sama, aku pasti akan membantu kalian yang lemah ini hehe.."


"Apa kau bilang!?" sahut Sekai spontan.


Mengingatkan diriku pada pertengkaran Yanwu dan Sekai.

__ADS_1


__ADS_2