Last Life

Last Life
Puas Dengan Segala Apa Yang Aku Lihat


__ADS_3

Sekali lagi aku harus bermain-main dengan akting lantaran sama seperti sebelumnya ikan-ikan dari dalam air itu keluar.


Persamaannya ikan-ikan itu menjadi kerangka setelah keluar dari tempatnya, dan hal menakjubkan lainnya terlihat pada air itu sendiri.


Sebelumnya saat paus itu keluar kemudian melayang, tak jatuh. Setengah tubuh besarnya menjadi kerangka saat melewati batas air, sedangkan yang masih berada didalam normal-normal saja.


Yang kemudian sepenuhnya menjadi kerangka saat tubuhnya tak berada di dalam air lagi.


Sama halnya dengan ikan-ikan berbagai ukuran yang aku lihat sekarang ini, entah kenapa mengelilingi diriku.


Saat aku lirik Sekai dia rupanya tersenyum padaku, mengartikan jika dirinya sedang iseng atau mungkin menunjukkan sesuatu lagi padaku.


Puas melihat aksi ikan-ikan tadi maupun paus yang berada di ruangan ini melayang-layang dengan wujud kerangkanya, Sekai lalu berujar ingin menunjukkan sesuatu lagi padaku.


Entah seberapa banyak yang ingin dia tunjukkan padaku sepertinya tempat ini juga menyimpan sebuah misteri.


Didalamnya benar-benar kental akan nilai seni, bahkan yang lebih menonjol bisa dilihat dari segi kebersihan tempat ini.


Terawat dengan baik sepertinya halnya tidak pernah mengalami bencana hebat, atau mungkin memang tidak pernah sama sekali.


Kalau dipikirkan bakalan panjang jadi aku lebih baik menikmati setiap detik maupun menit saat berada disini.


Berhenti tepat didepan sebuah pintu setinggi 6 kaki lalu Sekai mencoba membukanya dengan cara tak biasa, menurut pandanganku.


Sebenarnya aku ingin tahu cara dia membuka pintu seperti apa, sayangnya tertutupi oleh badannya saat dia berkutik dengan bagian pintu itu.


Memasukinya, aku terkejut melihat ruangan luas dan tinggi ini berisi salju. Bukan karena itu, yang sampai membuatku tercengang. Tapi ruangan ini persis seperti berada di tempat lain bukan di sebuah ruangan.


Aku menyebutnya ruangan yang sudah diatur sedemikan rupa, aku berusaha untuk menyimpulkannya secara logis.


"Salju ini asli, terus dari mana asalnya salju yang berjatuhan. Hmm dari batas atap ruangan ini ternyata."


"Selamat datang di ruangan 'seribu satu musim' di ruangan ini kita bisa merasakan musim-musim yang ada di dunia, tapi hanya musim di bumi tempat asalmu saja!"


Perkataannya di akhir jelas merujuk pada tempat lain selain di bumi dengan kehidupan yang hampir sama, mungkin lima puluh persen banding lima puluh persen. Tapi itu hanya spekulasiku saja.


Dan terpikirkan olehku sebuah keganjilan pada diri Sekali dia sebelumnya mengakui dirinya tidak berasal dari bumi alternatif, aku sebut saja begitu.


Tapi bagaimana bisa dia menggunakan kemampuannya guna menciptakan ruang ajaib ini yang diperlukan pernah hidup di bumi alternatif, kecuali dia sudah berada di dunia ini lebih dulu dariku.

__ADS_1


Dan itu sudah sangat lama, jika iya tapi kenapa dia terlihat masih muda.


"Oh ya, dia kan bukan manusia."


"Kamu suka memikirkan sesuatu yang penting ya..."


"Eh.. aku hanya terkejut melihat ruangan ini di penuhi oleh salju dan latar tempat ini terlihat realistis!" ucapku gelagapan, bagaimana tidak. Dia menepuk pundakku barusan.


Ruangan ini ternyata dapat beralih alih musim serta tempat terjadinya musim itu sendiri, aku sempat request kepada Sekai musim hujan di tempat yang sangat aku rindukan.


Sekai lalu menyentuh kepalaku kemudian dia menyuruhku untuk membayangkan kondisi dan keadaan tempat yang aku inginkan. Setelah itu aku membuka mataku lebar-lebar.


"Hiks..."


"Aku tahu, mungkin rumah ini adalah tempat yang sangat berarti bagimu, Anita."


"Iya... hiks rumah ini memiliki sejuta kenangan saat aku masih bersama dengan nenek," ucapku menjelaskan tentang rumah yang ada di depanku kepada Sekai. Diriku sekarang berada di luarnya, kehujanan.


Namun aku tidak bisa melihat nenek karena aturan dari ruangan ini adalah latar tempat tidak ada orang sama sekali kecuali diriku dan Sekai.


Tapi aku merasa bahagia dan senang bisa melihat rumah ini lagi, rasanya seperti bernostalgia.


"Aku? Kok gitu. Emangnya kenapa aku jadi pemandu?"


"Tentu saja aku ingin mengetahui tentang sekitaran tempat ini, kamu bisa bercerita sambil menunjukkan tempat-tempat yang berkesan bagimu."


Seketika aku diam menatapnya dia rupanya peka terhadap perasaanku. Yah, aku akui diriku menginginkan berjalan-jalan terlebih dahulu di tempat ini.


Sebuah kebun penuh akan tanaman sayuran aku tunjukkan kepada Sekai, tempat kenangan masa kecilku saat diriku masih polos-polosnya.


Bahwa uang itu bisa di tanam hingga tumbuh menjadi pohon berbuah uang sehingga aku dan nenekku tidak perlu lagi bekerja keras mencari uang hanya demi sesuap nasi untuk hari esok.


Mendengarnya Sekai tertawa pada bagian uang yang ditanam di satu sisi saat aku mengatakan demi sesuap nasi dia rupanya memahami.


Sampai lima tempat telah aku tunjukkan kepada Sekai berserta cerita yang melekat tentang diriku.


Note: Saat ini keduanya berada di bawah pohon.


"Sudah cukup, kita kembali sekarang. Aku tidak ingin dirimu jatuh sakit karena kehujanan!" ujar Sekai serius entah kenapa dia tersipu malu saat melihat diriku.

__ADS_1


Dan saat aku melihat keseluruhan bajuku ternyata aku sudah basah kuyup hingga memperlihatkan sesuatu yang membuat Sekai jadi seperti itu.


Tentu saja aku menutupinya dengan kedua tangan berada didepan dada.


"Heh.."


Tak disangka Sekai menutupi pakaian basah yang aku kenakan dengan jazz berbulu lembut dan kali ini aku penasaran bagaimana dia mendapatkannya.


Maka aku lihat dia dengan seksama.


"Hehe kamu penasaran kenapa aku bisa mendapatkan jazz ini, biar aku tunjukkan!"


Sekai mengambil sebuah ranting lalu dia melakukan gerakan naik turun pada ranting yang digenggamnya.


Mengejutkan, ranting itu menjadi sebuah payung yang mana dia buka dan langsung digunakan.


"Kamu bisa sulap?" tanyaku ingin mengetahuinya.


"Begitulah, ceritanya panjang."


Keluar dari ruangan tadi aku pun disuruh untuk mandi oleh Sekai karena efek hujan-hujanan bisa saja membuat seseorang sakit.


Mitosnya sih begitu, tapi yang sebenarnya seseorang akan sakit jika daya tahan tubuhnya lemah.


Aku melepaskan pakaian yang aku kenakan lalu masuk kedalam bathtub untuk berendam sembari menyenderkan kepala.


Rasanya sangat nikmat seakan rasa lelah di hari ini hilang dalam sekejap.


"Dengan lampu yang bisa digunakan berarti bangunan besar ini dialiri oleh arus listrik!"


Beberapa saat berendam dalam air hangat aku pun langsung bergegas menuju kamar yang telah Sekai tunjukkan.


Dan sekarang ini aku berada di kamar yang memang dikhususkan untuk perempuan dari segala yang ada didalamnya, mencirikan sekali.


"Ha... akhirnya aku bisa rebahan di kasur lembut lagi..."


Tok..tok..tok..


"Aku sudah membuatkan banyak masakan untukmu!"

__ADS_1


"Banyak masakan? Bukannya aku berendam cuma setengah jam?"


__ADS_2