
"Maaf tuan, sepertinya saya harus pergi karena memiliki kesibukan!" ucapku langsung saja memutuskan untuk pergi, karena semakin lama malah kesalahpahaman antara diriku dan pria itu makin melebar.
Pergi dari tempat makan tadi kini aku masih bingung mau mencari kemana lagi ras manusia dewa itu yang berada di dataran langit ini.
Ingin meminta bantuan tapi kepada siapa, lagian misi ini sangatlah rahasia sebenernya.
Yanwu yang menjadi rekanku di misi ini pun begitu teganya pergi meninggalkan diriku sendirian di wilayah yang luas ini tanpa pengetahuan tambahan.
"Malangnya nasibku..." gumam ku yang mengasihani diriku sendiri.
Aku pun sampai berpikir jika aku kena sial gara-gara bertemu dengan pria itu.
Dan karena sebuah janji aku harus menghadiri undangan dari pria paruh baya itu malam ini, semoga aja sebelum malam hari Yanwu datang menemui ku dan membawa kabar baik
Hingga satu jam aku menunggu dengan sabarnya. Dan sepertinya aku harus mengakhiri penantian ini dengan usaha dan perjuangan.
"Baiklah, aku akan berusaha keras untuk bertemu dengannya lagi!!" ucapku dengan semangat yang membara bangkit dari tempat duduk di sebuah toko.
"Pfff... hahaha..."
Suara tertawaan terdengar namun tidak diketahui wujudnya.
"Kamu sepertinya sedang mencari seseorang, bagaimana kalau aku membantumu? Sebenarnya aku sudah mengamati dirimu sejak tadi!"
Lagi dan lagi aku bertemu dengannya seperti tidak ada orang lain lagi yang terus aku temui, secara beberapa kali selain dirinya.
Mendengar tawanya tadi dia sepertinya mengejek diriku karena selalu nampak terus dari tadi.
Dan aku tidak peduli dirinya yang sebelumnya memperhatikan diriku.
"....."
Langsung saja aku melenggang pergi dari sini dan kembali fokus pada misi untuk menemukan ras manusia dewa itu, meskipun membutuhkan waktu sampai malam hari.
Grep.
"Lepaskan!!"
"Lihat! Ada seorang suami yang berperilaku keras kepada istrinya!"
"Pasti bakal seru sih, lagian aku ini tak punya pasangan."
"Ayo lihat, seperti apa masalah rumah tangga mereka!"
Tak lama beberapa orang mendekati kami berdua setelah diriku berteriak lantang ingin lepas dari genggaman tangan pria itu.
"Nona manis... apa nona mendapatkan kekerasan rumah tangga, kalau iya nona jujur saja! Saya sebagai kakak tertua, akan membantu nona..."
__ADS_1
"Tapi mereka kelihatannya pasangan yang serasi, kenapa bisa bertengkar ya?"
"Hmm, benar sekali. Yang satu cantik dan satu lagi tampan!"
Mendengar bisikan orang-orang yang melihat diriku dan pria menyebalkan ini sepertinya mereka sudah salah paham sekarang. Dan aku paham situasinya seperti apa.
Maka cara terbaik untuk menyelesaikan hal ini dengan cara berbalik menunjukkan fakta palsu. Seolah-olah adalah kenyataan yang sebenarnya.
"Saya memang istrinya, nona, hanya saja saya tadi salah mengira jika dia bukan suami saya! Itu karena di pagi hari rumah kami kemasukan pencuri yang sempat menodongkan senjata kepada diriku...!"
"Benar, para pencuri kerap kali beraksi akhir-akhir! Kalau begitu kita harus memperkuat keamanan, entah itu di siang hari maupun malam hari!" ujar seseorang membenarkan penjelasan ku, tak ku sangka para pencuri akhir-akhir ini kerap beraksi di wilayah yang terlihat aman dan damai.
"Setuju!!" serentak beberapa orang menyetujui saran dari orang itu.
"Hmm, jadi seperti itu. Saya sepertinya telah salah paham, maaf ya nona manis..."
"Tidak apa-apa."
Kerumunan yang menyaksikan kesalahpahaman tadi akhirnya bubar, dan aku langsung menarik pria ini sejauh mungkin dari tempat tadi. Karena aku melihat ada seseorang yang sedang mengamati dengan tatapan aneh.
"Huft... sudah, kita berpisah disini! Ku harap kamu orang yang aku cari-cari, tapi sepertinya bukan. Um... ya sudah aku pergi dulu!"
"Tunggu. Orang yang kamu cari seperti apa dia itu?"
"Maaf aku tidak bisa menjelaskannya!"
"Oke."
•••
Langit berwarna jingga dan burung-burung yang terlihat berterbangan sedang kembali ke rumahnya masing-masing, sementara diriku tidak punya rumah dan harus mencari seseorang sampai ketemu.
Beberapa jam mencari dengan petunjuk yang minim tidak membuahkan hasil sama sekali. Yang ada malah menguras tenagaku seperti waktu lembur.
Dan dari pencarian yang tak kunjung mendapatkan hasil ini aku mengetahui kepribadian pria yang bernama Junjie, dia ternyata serius saat membantu diriku.
Hanya saja perkataannya saat menjabarkan orang yang dia tanyai kurang mengenakkan, intinya dia tidak percaya kepada orang itu.
Padahal yang ditanya tidak tahu sama sekali sampai ada yang kebingungan dan Junjie memaksa agar dia mengingat-ingat kembali, orang yang beberapa jam lalu berpapasan dengannya.
Selain mencari ras manusia dewa itu aku juga memiliki beban tersendiri, yaitu mengawasi Junjie.
"Ini, aku belikan mie instan untukmu. Makanlah!" ujar Junjie sembari menyodorkan mie instan yang sudah masak kepadaku. Dia sepertinya pergi untuk membeli mie ini.
Kami duduk disebuah kursi panjang yang ada di dekat danau sembari melihat langit jingga, sambil menikmati mie instan dalam sebuah mangkuk sedang.
__ADS_1
"Aww panas shs..."
"Hati-hati saat memakan mie nya, masih panas, tiup dulu! Apa aku harus bantu tiup untukmu?"
"...aku bisa sendiri terimakasih."
Usai menghabiskan mie aku berniat untuk kembali melanjutkan pencarian, namun Junjie menahan ku lagi dengan dalih tunggu sampai mie dicerna dengan balik di dalam perut.
Mendengar ucapannya yang lembut entah kenapa aku seperti terhipnotis dengan kata-katanya itu. Membuatku duduk kembali.
"Apa aku boleh curhat?" tanya Junjie.
"Boleh, ngga ada yang ngelarang kok.."
"Pertama-tama aku mau bertanya, kamu orang luar bukan?"
"Hmm."
"Ternyata benar, jadi aku simpulkan kamu sedang mencari seseorang yang sangat ingin kamu temui, yang tak lain adalah kekasihmu!?"
"Bukan, aku tidak mencari kekasih. Aku tidak punya malahan!" jawabku sedikit malas.
"Haa aku lega... Dan jujur saja aku sempat kepikiran untuk tidak berhubungan dengan wanita, karena hidup sendiri itu ternyata mengasyikkan. Namun hal itu kini berubah, semenjak aku bertemu dengan seseorang!"
"Terus?"
"Ya... aku akan membuatnya merasakan hal yang sama sepertiku."
"Oh..."
Setelahnya, kami berdua menyaksikan pemandangan indah matahari tenggelam dalam diam, hanya saja hatiku merasakan kebahagiaan saat menikmati waktu senggang kali ini.
Hingga hari berganti malam, namun Yanwu belum kunjung menemui ku, apa aku harus teriak dan sedang dalam kondisi terdesak agar dia kemari?
Selang beberapa waktu, karena diriku tidak tahu akan pergi kemana lagi dan tak memiliki tempat tinggal, akhirnya aku mengiyakan untuk tinggal malam ini di kediaman Junjie.
Saat ini aku tengah berada disebuah tempat pemandian di dalam ruangan besar ini, nyatanya Junjie yang hidup sendiri memiliki segala yang dia butuhkan sekarang ini.
"Harus kuakui dia itu orang kaya."
Salah satunya tempat pemandian didalam kediamannya yang sangat aesthetic ini. Jujur, aku sangat menikmati waktu santai sekarang ini.
Tap.. tap.. tap..
"Ada suara langkah kaki di atap!?"
__ADS_1