
Lalalalala...
"Sudah jam berapa berisik sekali..."
Saat aku beranjak bangun selagi mengucek mata ternyata suara berisik tersebut berasal dari ponselku yang berdering.
Aku pun mengambilnya yang terpasang kabel charger, kemudian mematikan alarm berbunyi lagu era tahun 2012 mungkin lagu tersebut kesukaan si empunya ponsel.
Karena sebelumnya aku tidak mengatur ulang nada dering alarm, dan hanya mengatur jamnya saja.
"Hoamm..."
"Kok aku masih ngantuk ya, padahal udah tidur beberapa jam. Pukul 20.01 masih ada waktu bagiku untuk berlatih kemampuan milikku."
Sebelum memulai latihan aku awali dengan meminum segelas air putih yang aku taruh di atas nakas sebelum aku tidur.
Gleg... gleg...
"Hhaa otakku langsung mendingan tidak pusing lagi setelah minum, mungkin gara-gara tubuhku kekurangan ion. Jadi saat bangun tidur rasanya masih lelah dan kepalaku agak pusing."
Setelah itu melakukan pemanasan merenggangkan tubuh di mulai dari sekarang.
"1..2..3..4..5..6.."
"Heh? Ada sesuatu dibawah tempat tidur?" ucapku sembari menelisik bawah tempat tidur terlihat ada kotak kayu.
Tanpa berpikir panjang aku langsung mengambilnya dan membawanya ke atas tempat tidur.
"Kotak kayu ini sangat panjang ternyata, kira-kira apa yang ada didalamnya?"
Ketika aku membukanya secara perlahan-lahan hingga terbuka lebar penutup kotak kayu ini, ternyata didalamnya terdapat pedang.
Mengejutkan, karena seumur hidupku aku tidak pernah memegang pedang sama sekali. Ya. Itu normal di kehidupanku sebelumnya.
"Mungkin pedang ini milik si empunya rumah, lebih tepatnya yang dulu mendiami kamar ini. Atau kemungkinan lainnya."
"Astaga, berat sekali pedang ini. Aku kesusahan sekali saat mengangkatnya. Jika dilihat-lihat lagi, pedang ini ramping dan tipis, tetapi mengapa aku kesulitan mengangkatnya hmm?"
Tok! tok! tok!
"Anita, apa kamu ada didalam? Bolehkah aku masuk sekarang?"
Suara Geisha terdengar berat seperti sedang menahan sakit. Lalu aku beranjak dan membuka pintu untuknya karena memang terkunci dari dalam.
Dia langsung masuk begitu saja tanpa memastikan lagi untuk ijin masuk kedalam, aku yang melihatnya mengira dia sedang terburu-buru akan sesuatu.
__ADS_1
Bruk!
"Anita, kepalaku sakit karena roh-roh jahat menghantui diriku dikarenakan aku tidak menuntaskan keinginan mereka yang belum terselesaikan. Aku harap kamu bisa membantuku, aku dengar kamu bisa menggunakan kemampuan hebat!"
"Bagaimana caranya aku membantumu? Aku tidak mengerti apa-apa soal roh?"
"Aku mendengarnya dari Willy sebelumnya, bahwa kamu bisa memasuki ingatan seseorang jadi aku mohon kamu hilangkan ingatan roh jahat yang tersimpan didalam kepalaku!"
Aku sebenarnya bingung di awal, ketika melihat Geisha tiba-tiba masuk dan langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur ini.
Apalagi dia meminta bantuan dariku di waktu-waktu seperti ini. Meskipun ada perasaan tidak ingin membantunya dan memilih orang lain dalam menanganinya, tetapi sebagai teman aku akan berusaha sebisa mungkin.
Mengingat kemampuan diriku ini masih terbatas pada saat menggunakannya. Sesekali aku ingin menggunakannya demi menolong Geisha.
"Oke, tapi kamu tenang dulu kak. Rileks kan tubuh dan lawan roh jahat tersebut dengan kesadaran diri. Selagi aku memfokuskan kemampuan untuk memasuki ingatan kakak!" perintahku dengan tegas kepada Geisha dibalas anggukan darinya.
Kembali diriku memasuki ruangan kosong gelap dan tidak diketahui luas didalamnya. Saat aku membuka mata aku kira aku ini buta tapi nyatanya kegelapan pekat memenuhi segala ruang tempat ini.
Fokus ku kemudian teralihkan pada ingatan buruk seseorang yang bertambah terus-menerus seiring waktu.
Ingatan buruk teramat banyak yang sepertinya dapat membuat isi kepala seseorang yang mengalaminya meledak saat mengingat maupun membayangkannya.
Atau bagi mereka yang tidak kuat menahan rasa sakit ini.
Kenangan buruk berupa kematian paling mengerikan dan tragis serta memilukan menjadi satu dalam bayang-bayang diriku. Seperti halnya aku yang merasakannya.
Bahkan roh jahat tersebut ada yang menganggu diriku yang sedang dalam keadaan setenang air. Satu celah saja bisa mereka manfaatkan dengan baik.
Aku merasakan sensasi tersebut secara perlahan-lahan namun aku berhasil melewatinya dengan mudah.
Fokus diri sendiri terkadang lebih kuat dibandingkan fokus yang dipengaruhi oleh seseorang maupun hal lain.
Hingga terpikirkan suatu cara paling sederhana untuk melenyapkan roh jahat tersebut agar mereka dapat melalui tahap kehidupan selanjutnya.
Meskipun dengan kebohongan belaka yang aku ciptakan pada setiap ingatan mereka.
Yaitu mengantikan ingatan buruk menjadi kenangan menyenangkan dari sebuah harapan mereka masing-masing.
Kini ingatan roh-roh jahat tersebut berangsur-angsur berkurang aku rasakan selama diriku menciptakan kenangan menyenangkan pada setiap roh tersebut.
Dikala aku membuka mataku terlihat roh-roh yang keluar dari dalam diri Geisha, kemudian lenyap begitu saja.
Hanya saja kemampuan Geisha ini menurutku sangat beresiko bagi dirinya melihat roh yang seharusnya tunduk kepadanya yang aku tahu malah menjadi senjata makan tuan bagi dirinya sendiri.
Serta bom waktu yang setiap saat bisa meledak kapanpun.
__ADS_1
"Kepalaku tidak sakit lagi?"
"Sepertinya Geisha sudah baikan."
"Terimakasih banyak Anita, aku tidak tahu harus berbuat apa jika kamu tidak segera membantuku."
"Jadi itu sebabnya Geisha langsung menuju ke kamarku ketimbang mencari pertolongan pada yang lain, selain dekat juga agar dia tidak berlarut-larut merasakan rasa sakit itu."
"Sama-sama kak, yang penting kakak sudah baikan sekarang."
"Kamu boleh memanggilku kakak, bila perlu aku akan menjadi kakak perempuanmu di dunia ini. Karena kamu sudah menyelamatkan hidupku."
Geisha terus memeluk erat diriku seperti halnya sedang membutuhkannya sekarang.
Aku pun tidak keberatan sama sekali yang terpenting
diriku dapat berguna bagi orang lain.
Karena ada kenikmatan tersendiri saat aku berbuat hal baik kepada orang lain maupun saat membantunya. Sayangnya, itu tidak berlaku ketika aku berada di duniaku sebelumnya.
"Huh!?"
"Eh? Apa aku terlalu erat ya memelukmu?"
"Bukan bukan, aku cuma terkejut saja saat melihat cicak yang jatuh!"
"Aku kira kamu sesak nafas karena aku memelukmu agak lama."
"Nggak kok, aku malah senang ketika dipeluk oleh orang yang mau menjadi kakakku kedepankan."
"Kamu ini pintar berkata manis ya, ya sudah, aku balik ke kamar dulu mau siap-siap berkumpul di ruang tengah. Kamu juga ya, adikku tercinta."
"Hehe aku akan menyusul nanti kakak cantik."
"Fufu..."
Geisha lalu pergi meninggalkan kamarku sembari dia menutup pintu kamarku setelahnya.
Sebenarnya yang membuatku terkejut adalah letak keberadaan pedang dalam kotak kayu tadi yang hilang begitu saja tanpa aku sadari.
Aku bahkan berpikir hal mistis ketika penalaran tidak bisa aku simpulkan.
Pedang yang belum aku coba malah hilang bak ditelan bumi.
Pukul 20.34 aku lihat di ponsel ketik ini. Ponsel yang di tahun asliku sangat jarang dipakai lantaran kalah saing dengan ponsel yang lebih pintar.
__ADS_1