Last Life

Last Life
Wajah Aslinya


__ADS_3

Waktu itu aku masih menjadi seorang pesulap amatiran, meskipun begitu hasil yang aku dapat dari profesi tersebut lumayan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.


Lelah dan keringat yang mengucur tidak menjadi halangan buatku kala itu, bahkan panas-panasan dan kehujanan sudah terbiasa buatku.


Hidup memang penuh perjuangan. Hasil dari kerja keras lah yang membuat seseorang keluar dari kehidupan yang sebelumnya.


Aku memang miskin, namun hatiku tidak ingin miskin hati hanya gara-gara rasa iri dan dengki.


Flashback off


"Apa aku harus mengalahkan orang ini, dia kelihatannya seperti orang jahat. Dilihat dari pakaianya yang didominasi oleh warna hitam dan beraura menakutkan. Dan mungkin saja dia seorang pembunuh!"


Selagi aku belum ketahuan, aku pun berusaha keras memikirkan cara untuk melumpuhkannya. Tanpa aku harus menyakitinya maupun membunuhnya dengan kemampuanku.


"Oh, iya. Saatnya aku menggunakan semprotan cabai ku!"


Note: Di luar bangunan


"Kalian lihat Anita, nggak? Aku cari-cari dia dari tadi tidak ketemu, apa dia ijin sebelum pergi, ke kalian?"


"Tadi dia ada disini, hmm tapi... sudah nggak ada!"


"Kamu ini! Bukannya aku sudah bilang, untuk memantaunya selagi aku pergi!"


"Sudah sudah. Lebih baik kita cari dia sama-sama, aku akan pergi kesana!"


"Tsk, kalian ini!"


"Nie, kamu menyadari nggak? Willy sekarang berubah tidak seperti dulu!"


"Iyaa, dia terlihat berbeda sekarang ini. "


Ketika orang itu lengah, dari belakang aku mengagetkannya dan langsung menyemprotkan semprotan cabai milikku.


"Arghh!"


"Berhasil!


"Sekarang waktunya!"


Tap!


Orang ini masih bisa menangkis pukulan ku meski dalam keadaan menyulitkan yang mengarah pada titik buta.


"Hiyaa.."


Tep! Bug!


"Huuh, dia jago juga rupanya."


Aku mendapati pukulan yang mengenai lenganku saat mengelak serangan darinya.


"Kayaknya, dia akan menggunakan kemampuannya!"

__ADS_1


Ia pun mengerakan kedua tangannya yang seketika benda-benda di sekitarnya melayang.


"Mati aku!?"


Shut!


Brak! brak! brak! brak!


"Emm!?"


"Ternyata kamu disini, Anita! Tenang saja. Aku datang menyelamatkanmu!"


"Willy?"


Tiba-tiba saja, setelah aku membuka mata usai terdengar suara berisik. Suara Willy membuatku terkejut karena dia sudah ada dihadapan ku.


Kemungkinan dia memblokade serangan dari orang berkemampuan telekinesis itu.


Tak lama pertarungan antar keduanya terjadi, sementara aku hanya bisa menyaksikannya saja dari kejauhan. Tak ingin aku yang lemah akan menjadi sasaran empuk orang itu.


Kemampuan mengendalikan benda sangat luar biasa apapun yang disekitarnya bisa ia kendali bebas sesuka hati dengan mudahnya, bahkan menggunakannya sebagai senjata untuk melawan Willy yang dengan senjata pamungkasnya, sabit.


Brakk!!


Tempat ini sudah menjadi area pertempuran antara keduanya, mereka tidak halnya menghancurkan sekelilingnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Padahal rumah ini harus dijaga oleh orang itu, namun dia terlihat tidak memperdulikannya.


"Perasaan dari tadi sangat berisik, lalu kemana dua wanita itu? Dia tidak kabur kan?"


Dalam situasi ini terus terang saja aku bingung memikirkan cara bagaimana aku dapat membantu Willy.


Dari tadi pertarungan antar mereka sangat sengit dan menguras tenaga keduanya. Dan kulihat Willy dibuat kesulitan menghadapi lawannya itu.


"Tsk, ternyata orang aneh sepertimu sangat kuat juga!"


"......"


Orang itu lalu mundur dan melakukan gerakan menghempaskan tangan.


Lalu dengan gerakannya itu membuat sekitaran tempat ini hancur olehnya, menjadi beberapa serpihan.


Tentu saja karena pijakan lantai telah hancur dan bangunan rumah ini telah menjadi serpihan berterbangan aku pun jatuh karena itu.


Tang!


Tak disangka dengan gerakan luar biasa Willy menangkapku bersamaan dengan pijakan dari senjatanya yang mendarat di tanah.


"tsk!!" Willy berdecak marah melihat orang itu yang melayang di udara.


Entah karena apa orang ini menggunakan kemampuan terkuatnya hanya untuk mengalahkan kami, yang pasti dia memiliki dendam pribadi atau mungkin ingin cepat menyelesaikannya.


Kembali gerakan kedua tangannya ia lakukan. Yang kemudian mengarahkannya kepada kami, dan. Semua serpihan yang ada di udara mulai menargetkan kami dan hendak menyerbu tanpa pandang bulu.

__ADS_1


Kini aku dibuat khawatir untuk yang kesekian kalinya, berharap ada orang yang akan membantu di detik-detik ini.


Crak! crak! crak! crak! crak! crak! crak!


Ku buka mataku lebar-lebar, mataku terbelalak melihat apa yang sekarang ini terjadi. Sabit Willy bergerak cepat seakan menjadi tameng dan melindungi kami dari serangan orang itu.


Sabitnya dapat melesat dengan cepat dan melindungi si empunya.


"Apa ini kemampuan Willy yang sesungguhnya!?" dalam hati aku kagum melihat kemampuan yang dimiliki Willy.


Hanya saja waktu yang terus berlalu membuat Willy tampak kelelahan, ia bahkan tergores di beberapa bagian tubuhnya hanya demi melindungiku dari serangan orang itu yang berhasil lolos.


"Benar-benar wanita itu! Sampai detik ini pun belum kelihatan batang hidungnya sama sekali!"


"Harusnya dalam situasi ini mereka datang dan membantu Willy, mereka kan memiliki kemampuan juga!


Tenaga Willy pun mulai terkuras habis, melihatnya yang berdirinya tak beraturan sambil mengendalikan sabitnya itu ke segala arah.


Detik ini pun aku dibuat kaget melihat retakan yang muncul di sekitar bagian wajah Willy, yang membuat tampak berbeda dengan wajahnya sebelumnya.


Seperti halnya ia sedang mengenakan topeng wajah untuk menutupi wajahnya yang asli.


"Willy...!?"


Beberapa saat kemudian, datanglah bala bantuan yang entah dari mana asalnya.


Aura kegelapan pekat diiringi dengan sesosok makhluk menakutkan, mereka menyerupai manusia namun berwarna hitam seperti arwa. Dan mereka pun berterbangan mengerubungi orang itu.


Sayup-sayup aku mendengar suara perempuan yang tak asing di telingaku. Sementara setelah bala bantuan datang Willy berhenti menggunakan kemampuannya, ia lalu ambruk saat itu juga.


"Kalian kenapa baru datang?" Aku bertanya kepada Nie yang buru-buru datang menghampiri kami.


"Maafkan kami, kami sengaja melakukan ini untuk memastikan Willy apakah dia memang benar-benar dirinya."


"Kejam sekali kalian ini. Harusnya kalian menggunakan cara lain untuk memastikannya, bukan seperti ini caranya!"


"Lagipula kami sudah mengetahui kenyataannya jika dia bukan Willy yang kami kenal, itupun dia orang yang sedang menyamar?"


"Tapi cara kalian salah, kalau mau..."


"Cukup. Kamu tidak tahu rasa sakit yang kami rasakan, rasa dendam, dan rasa kecewa. Kamu cuma bisa berkomentar tanpa tahu rasanya diposisi ini."


"Seharusnya kamu berterimakasih kepada kami karena kami mau membantumu, bisa saja kami memutuskan untuk pergi meninggalkanmu begitu saja!"


Hingga orang berkemampuan telekinesis itu berhasil di kalahkan.


"Kalian tidak akan membunuhnya kan?" tanyaku kepada dua teman wanita Willy.


"Untuk apa kami sampai membunuhnya, yang harusnya kami bunuh adalah dia!" seraya Nie menunjuk ke arah Willy.


"Tapi... dia kan..."


"Udah jangan di kasih ampun, dia sudah berani-beraninya menyamar sebagai Willy!'

__ADS_1


"Aku setuju, bahwa kami akan membunuhnya saat ini juga!"


"Kelihatannya mereka berdua tidak bisa di ajak berkompromi."


__ADS_2