Last Life

Last Life
Apakah Dia Berkhianat?


__ADS_3

"Apa ini sungguh dirimu Anita? Kamu tadi... merubahnya menjadi berlian lalu... menghancurkannya hingga berkeping keping?"


Willy sepertinya sudah menyadari akan hal itu, pantas saja dia saat ini kebingungan dan bertanya-tanya, apakah aku Anita yang dia kenal.


"Ini aku, kamu tenang aja Will. Aku sekarang memiliki kemampuan baru yang tak kalah hebatnya dengan punyamu!"


"Menarik sekali, kemampuan yang sangat berguna. Dan luar biasa."


Willy memujiku seraya dirinya menuju kearah ku, dia menaruh sabitnya di pundaknya sambil tersenyum penuh arti.


"Hey...Anita, aku kagum sekali melihatnya. Apalagi kamu berani melepaskan diri dari tuntutan peran yang selama ini kamu sembunyikan!"


"Apa artinya Willy sebelumnya tahu aku ini sedang memerankan sebuah karakter, setelah aku pikir pikir... dia kan sudah tahu bahwa aku ini memiliki pribadi berbeda."


Meskipun aku menyadari bahwa Willy benar-benar ingin memastikan lebih jelas, namun aku berusaha memikirkan suatu hal guna mengalihkan topik pembicaraan.


"Lihat! Yang lain sedang bersusah payah berjuang mengalahkan tiruan mereka, sebaiknya aku harus bantu!" ucapku seraya melenggang pergi dari sisi Willy.


Aku melihat Yanwu sedang membantu beberapa rekan seperjuangannya dari serangan imitasi Geisha. Sementara diriku bergerak cepat membantu Nie dan Kino.


Ternyata kemampuan imitasi ini tidak bisa meniru kemampuan ilusi seseorang yang telah ditiru, hanya kemampuan tertentu saja sekaligus senjata milik korban yang bisa ditiru. Contohnya saja Willy. Aku sempat menginjak imitasi sabitnya yang memang seperti asli.


"Saatnya."


Jleb! jleb!


Kletak!


Saat imitasi Kino dan Nie berada jauh dari tubuh asli, aku sempat menyerangnya secara tiba tiba dengan berlian yang telah aku ciptakan. Lalu menusuknya hingga menjadi semacam gumpalan berwarna hijau.


Dan aku dapat menebak mana diri mereka yang asli hanya dari cara mereka menghindar dan menyerang.


"Anita? Kamu yang menusuk tiruan diriku?" ucap Nie bertanya kepadaku sesaat setelah dia melihat imitasinya, lalu menoleh kebelakang dan melihat diriku menghampirinya.


"Hmm, aku yang melakukannya."


"Luar biasa, kamu bahkan bisa menebak mana yang asli. Beruntungnya diriku karena sudah mengenalmu lebih jauh. Terimakasih bantuannya Anita..."


"Iyaa, sama sama."


"Anita, apa kamu baik baik saja? Hosh... aku kelelahan sekali dalam mengalahkan imitasi diriku tadi!" ucap Kino menghampiriku dan juga Nie.


"Padahal kan yang mengalahkan Anita!" gumam Nie.

__ADS_1


"Aku baik baik saja, harusnya kamu lebih perhatian pada dirimu sendiri. lihat. Ada luka dan darah yang keluar di pelipis mu!"


"Ah iya, aku baru sadar."


"Humph, padahal aku juga kesusahan sebelumnya, tapi aku ngga dikhawatirkan!" ucap Nie seraya bersedekap dengan raut wajahnya yang cemberut.


"Tentu saja aku khawatir juga pada rekanku."


Lalu diriku menjelaskan situasi terkini mengenai rencana penyerangan raja kepada mereka berdua, mengetahui semua imitasi disini sudah dikalahkan. Yanwu pun aku lihat sudah mengatasi imitasi lain yang tersisa.


"Jadi begitu, ada rekan kita yang sulit untuk dilacak keberadaannya oleh kemampuan telepati maupun teknologi sekalipun."


"Begitulah, dan masalahnya, dia ini otak dari rencana kita," tandasku.


"Bahkan beberapa dari kita ada yang tewas dalam rencana penyerangan ini."


Kamipun berdiskusi ketika berkumpul bersama anggota yang hadir. Terkecuali Hiyou yang sedang dalam pencarian Yanwu melalui kemampuan lain miliknya. Serta tubuh asli Brain yang sekarang ini hanyalah robot yang menyerupai dirinya.


Sementara dua orang diketahui telah lari dari tanggung jawab.


Beberapa anggota yang hadir antara lain Nie, Geisha, Yin, Kino, Kwen, Yanwu, Brain, dan diriku. Untuk relawan yang mengikuti tadi tersisa dua orang.


"Ini mengejutkan!" ucap Yanwu.


"Apa kamu menemukan keberadaan Hiyou?" Kwen bertanya lebih cepat daripada yang lain seperti mewakilkan.


"Orang yang kita anggap otak rencana ini malah berada di wilayah manusia tidak berkemampuan!"


Bukan sesuatu yang mengejutkan jika Hiyou kini berada di wilayah manusia tidak kemampuan, tapi keberadaan itu bisa saja merujuk pada dirinya yang dianggap telah berkhianat.


"Apa benar begitu, informasi tersebut benar benar terbukti?" ucap Kwen yang terlihat masih mempertanyakan informasi Yanwu barusan.


Misalnya aku berada di posisi yang sama pasti aku akan berusaha untuk memastikan bahwa teman dekatku sendiri tidak persis seperti perkiraan buruk yang kini sedang diomongkan.


"Kemampuan ku ini bisa aku gunakan untuk mencari keberadaan seseorang dari jarak yang lumayan jauh, dan terbukti akurat!" jelas Yanwu dengan sorot mata serius.


"Dia berkhianat rupanya."


"Aku tidak menyangka sekali, dia bisa sekejam itu memaksa kita untuk mempercayai rencananya ini."


Aku juga mendengar Nie dan Geisha menanggapi keberadaan Hiyou yang mereka berdua anggap telah berkhianat.


"Dalam kondisi ini kita seakan jadi bidak yang sedang diatur untuk berperang, namun di satu sisi kita dalam jebakan seseorang. Yah, meskipun belum pasti," kata Willy.

__ADS_1


"Kau ini, jangan mengarahkan yang lain pada anggapan buruk. Bisa saja ada maksud lain kenapa otak rencana penyerangan ini berada di wilayah manusia tidak berkemampuan."


Untungnya Kino mau menjadi penenang dalam keadaan salah sangka ini, yang belum diketahui pasti kebenaranya mengenai Hiyou yang berada di wilayah manusia tidak berkemampuan.


"Dimana ayah kak?"


Ditengah keadaan ini Yin menghampiri diriku dengan ekspresi gelisah dan ada air mata kecil yang aku lihat di dekat sudut matanya.


"Ayah kamu baik baik saja kok, dia ada di tempat yang aman setelah..."


"Apa terjadi sesuatu dengan ayahku kak!?"


"Hmm aku keceplosan, jadi apa boleh buat."


"...ayahmu sebelumnya cidera, dan itu tidak terlalu parah. Jadi kamu tenang saja ya, Yin."


"Benarkah, tapi diriku masih belum tenang jika sekarang belum mengetahuinya kak..."


Tidak ingin berlarut larut dalam obrolan ini aku pun langsung saja memeluk Yin sambil menjelaskan keberadaan ayahnya dengan jelas.


Di bumbui dengan kata kata menyenangkan yang mudah dicerna oleh anak seusianya. Hingga Yin percaya sepenuhnya kepada diriku.


Drakk!


Drakk!


Suara mengagetkan berasal dari arah belakang, setelah aku tengok ternyata dua orang raksasa yang pernah aku lihat sebelumnya.


"Bukannya dia sudah aku bunuh!?" ucap Brain terkejut.


"Huh... Datang lagi ancaman, setelah yang tadi sudah kita bereskan," gumam Willy, dia aku lihat hanya acuh kepada kedatangan dua orang berbadan raksasa ini.


Tak lama datang orang orang lain yang aku pastikan adalah para prajurit kerajaan. Mereka datang dengan cara sendirinya dengan kemampuannya masing masing. Mengagetkan, secara tiba tiba, dan tak bisa diterima oleh logika.


Sepertinya mereka memiliki kemampuan yang beragam dan unik. Bahkan diantaranya aku prediksi memiliki kemampuan yang luar biasa.


Salah satunya terbukti dari aura kegelapan yang menyelimuti dirinya, yang aku lihat dengan seksama dikelilingi oleh kepala kepala sosok aneh.


Di tambah dari tatapan membunuhnya yang diarahkan kemari, aku pun melihatnya sampai tidak berani untuk berlama lama melihatnya.


"Lawan sebanyak ini, apa kita bisa menang?" ucap Nie.


"Kayaknya hanya takdir yang bisa menentukan!" dijawab oleh Geisha.

__ADS_1


"Yanwu, kita..." ucapku menanyakan Keputusan yang akan Yanwu perintahkan dalam kondisi terdesak seperti ini.


__ADS_2