
Mahluk ini aku lihat berwujud seperti kadal raksasa dengan otot-ototnya bak binaragawan, bahkan lebih baik daripadanya.
Tampangnya bengis dan tatapannya menakutkan bagi siapa saja yang berada didekatnya. Dan dari kejauhan aku bisa melihatnya dengan jelas tampangnya.
"Tenang saja, pacarmu itu adalah seseorang pria tangguh. Dia mungkin bisa mengalahkan monster level tiga ini tanpa harus kesusahan, lagian pacarmu memiliki kecepatan di luar batas manusia."
Meskipun begitu aku belum pernah melihat Marin menggunakan kemampuan dirinya yang lain dia itu seperti halnya mengandalkan teknik pedang dan kecepatan.
Beberapa saat makhluk itu mulai menyerang Marin dan masih bisa dihindarinya seperti biasa.
"Kecepatan Marin memang tidak bisa diragukan."
Mungkin karena serangannya tidak bisa mengenai Marin sampai sekarang ini dia marah dan sangat buas dari sebelumnya hingga menghancurkan arena tersebut dengan tekanan perubahan abnormal.
Dan beruntung bagi para penonton lantaran arena pertarungan tersebut terkurung oleh sebuah pelindung.
Marin berhasil menebas lehernya sehingga peluang menang semakin besar. Selain leher rupanya luka lain terlihat pada tubuh monster itu hanya saja aku tidak melihat gerakan lambat Marin saat menyerangnya. Gerakannya terlalu cepat.
"Kamu tahu, kadal itu seperti amuba atau mungkin evolusinya. Saat bagian tubuhnya terpotong bisa tumbuh kembali menjadi bagian dari kehidupan lain dirinya, tapi apa jadinya jika luka fatal pun bisa regenerasi dengan cepat, lihat itu!"
Monster itu aku lihat memiliki kemampuan meregenerasi diri yang begitu cepat, dibandingkan dengan regenerasi Willy pada saat bagian tubuhnya terpisah.
Anehnya kali ini monster itu berkembang dengan pesat hingga tubuhnya lebih besar dan terlihat lebih menakutkan dari sebelumnya, yang bahkan kecepatannya hampir mengimbangi Marin.
Brak!
Arena di penuhi oleh asap sehingga diriku maupun penonton tidak bisa melihat pertarungan mereka.
"Lagian dari mana pria ini menyimpulkan jika kadal sama halnya dengan amuba, ada perbedaan mendasar antara keduanya. Kecuali..."
Asap yang menutupi menghilang pandangan ke arah arena pun kembali normal seperti semula. Hanya saja aku dikejutkan dengan tubuh monster itu yang terkoyak bagaikan tercabik-cabik.
Bagian tubuhnya pun ada yang terpisah namun dia sepertinya masih hidup, dilihat dari dirinya yang masih berdiri tegak.
Aku lalu menyembunyikan diri dari penonton berniat untuk menyampaikan pesan kepada Marin.
"Marin, kamu lebih baik lakukan serangan terakhir kepadanya. Jangan sampai dia meregenerasi diri lagi!"
__ADS_1
"Ya, aku tahu."
Terkadang sesuatu yang terlihat hampir putus asa dan sudah dipastikan akan kalah malah menunjukkan taringnya pada perlawanan terakhir.
"Argh!!"
"Marin!?" ucapku berteriak khawatir pada keadaan Marin saat ini, dia menerima pukulan dari monster itu ketika dirinya hampir saja mendekatinya.
"Gawat, ini gawat. Monster itu jauh lebih kuat berkali-kali lipat dari sebelumnya, mungkin pacarmu bisa saja..."
"Tidak mungkin! Marin nggak akan kalah semudah itu!" sahutku menyela perkataan pria ini penuh penekanan pada ucapanku sembari menatapnya lekat.
"Hehe aku minta maaf, semoga saja pacarmu baik-baik saja."
"Marin... ku harap kamu segera bangkit, karena monster itu mulai mendekati dirimu..."
Penonton sama sekali tidak bergeming malahan seakan menyaksikan momen yang mereka tunggu-tunggu.
Sementara monster itu hampir dekat dengan diri Marin yang masih tergeletak pada tanah retak dan tidak stabil. Kemungkinannya dia sedang tak sadarkan diri, jika seperti itu aku harus turun tangan untuk membantunya.
"Alex bantu aku, ku mohon tukarkan diriku dengan Marin!" ucapku berbisik pada telinga pria ini.
"Apa? Emm... aku akan memberimu hadiah sebagai gantinya."
Memohon dan memainkan trik adalah cara satu-satunya aku bisa menyelamatkan nyawa Marin. Dan tentunya aku harus berpura-pura lunak kepada Alex untuk mendapatkan hatinya.
Brak!
Namun sayangnya suara tadi mengalihkan atensi ku yang kini buru-buru menatap arena sampai terlintas hal buruk menimpa Marin.
"Yaa!!!"
"Luar biasa sekali!!"
Sorak penonton mulai riuh tepukan dan siulan menggema dalam sekejap. Setelah aku lihat ke arah arena dengan seksama ternyata Marin sudah berhasil mengalahkan monster itu, dirinya kini sedang memasukkan pedangnya kedalam sarung.
Sama sekali aku tidak bisa memprediksi serangannya sebelumnya dan jika pukulan tadi hanyalah jebakan, Marin harusnya melakukan serangan mematikan seperti ini agar tidak terkena pukulan dari monster itu sebelumnya.
__ADS_1
Tapi melihatnya berdiri dengan kharisma jati dirinya membuatku sangat bersyukur, karena dirinya bisa selamat dari detik-detik kematian.
"Menakjubkan sekali, memutar balik keadaan dalam sekejap. Tapi bisa-bisanya monster itu lengah sehingga dirinya harus mati konyol?"
"Hmm, ada benarnya juga yang dikatakan pria ini, bahkan tubuh monster itu menjadi beberapa bagian dan tak bisa meregenerasi diri lagi."
Seusai diumumkan berakhirnya penilaian kedua ini pada tahap terakhir wakil penilai memberikan hasil akhir para peserta seleksi.
Untuk tahap akhir tadi tersisa hanya empat orang saja yang berhasil melewati level tiga penilaian kedua, termasuk Marin.
Sementara jumlah keseluruhan para peserta saat ini berjumlah delapan orang yang dari awalnya terdapat dua puluh peserta seleksi prajurit.
"Selamat bagi para peserta seleksi yang sudah bertahan pada penilaian ini, kalian semua akan diangkat menjadi prajurit elit dan mendapatkan jaminan tinggal didekat istana. Dan berbagai manfaat lain yang bisa kalian dapatkan, jika berkontribusi dengan baik dan mengabdikan diri sebagai pelindung kerajaan!"
Diriku sekarang ini berada didepan para penilai tak jauh dari mereka bersama peserta lain yang sebentar lagi akan diangkat menjadi prajurit sungguhan. Sedangkan diriku dan Marin hanya demi bertemu raja mengikuti seleksi ini.
"Harus saya katakan, sebenarnya ada penilaian ketiga yaitu "pertarungan antar peserta" guna memilih seseorang berbakat diantara kalian yang akan dijadikan sebagai ketua regu, hanya saja sistem pemilihan tersebut sudah kami ubah mendadak!"
Tak salah lagi Lu Yang adalah pelakunya kemungkinan dia mencuci otak para penilai dengan kharisma dan wibawanya sehingga sistem pemilihan orang berbakat ditiadakan.
"Berdasarkan nilai yang kalian peroleh pada penilaian awal hingga akhir, yang akan menjadi ketua adalah... Marin. Selamat!"
"Hm, aku akui dia pantas menjadi ketua."
"Cih, hanya mengandalkan kecepatan dan teknik berpedang saja, bahkan aku lebih baik darinya dari segi kemampuan!"
"Wuyan... kamu jangan begitu..."
"Lumayan, dia mungkin menjadi ketua yang luar biasa. Hanya saja aku tidak suka orang yang berkhianat."
"........"
"Dia adalah berlian yang harus di poles!"
Ucap para peserta lain yang sedang mengomentari Marin yang diangkat menjadi ketua regu. Dan aku baru sadar jika ada seorang wanita lagi selain diriku yang lolos sampai akhir. Dan juga Marin, hanya saja yang lain melihatnya seperti seorang pria.
"Serta kalian berkesempatan untuk bertemu dengan raja, sekaligus berbicara empat mata dan bertanya-tanya dengan Yang Mulia!"
__ADS_1
Dan hal inilah yang aku tunggu-tunggu yaitu bertemu dengan raja guna mengendalikan dirinya dan membongkar kejahatannya selama ini.
Tapi wakil penilai ini tidak menjelaskan secara spesifik kapan kami bisa bertemu dengan raja. Aku harap bisa segera bertemu dengannya agar tidak membuang banyak waktu.