
Bagian 6 : Hati tidak akan membohongimu
Satu hari setelah aku tidak masuk kelas. Ponselku masih terbaring mati di meja belajarku, selama itu juga aku tidak keluar kamar untuk memulihkan tenagaku kembali. Kalaupun keluar aku hanya memasak untuk ayah dan kakak kemudian kembali lagi ke atas mereka juga menganggapku sebagai babu mereka. Malam itu Zoe tertarik untuk mengaktifkan ponselnya kemudian muncul pesan masuk terus-terussan tanpa henti. Sebuah notifikasi kontak yang mengirimku pesan sebanyak 20 kali, sebelum pemilik kontak tahu pesannya sampai dirinya aku menggunakan aplikasi ketiga untuk membuka pesan itu agar tidak ketahuan. Sejenak dia merasa bersalah karena tidak memberitahu Lila dia melihat ada banyak pesan masuk ke kontaknya dari Lila.
“ Zoe!”06.02
“ Aku menunggumu dari tadi!”06.05
“ Kenapa tidak datang ke sekolah?”06.05
“ Sakit?”09.15
“ Aku makan sendiri lagi!”09.15
“ Aku sendiri disini, aku kesepian enggak ada kamu disini”09.15“ Zoe, marah ya?”09.15
“ Zoe, aku merasa senang saat kita berdua jalan-jalan bersama. Menikmati indahnya persahabatan yang akrab yang tidak pernah kurasakan. Aku senang ketika kamu menjawab perkataanku. Wajahmu yang dingin selalu mengusik rasa penasaranku. Zoe, aku cuman berharap kamu mau bertemu denganku sekali saja... sekali saja. Aku rindu Zoe, walau baru sehari berlalu tanpamu rasanya aku kesepian disini. Aku ingatkan kamu belum membayar hutangmu kepadaku! Hutangmu berlipat karena aku makan sendiri lagi!”09.19
“ Zoe, kumohon balaslah!”09.19
“ Zoe!” 09.19
“ Zoe...!” 09.19
“ Walau pesanmu singkat tapi itu berarti bagiku!” 09.19
Walau pesanmu singkat tapi itu berarti bagiku. Kata-kata indah yang menyenangkan bak menyihir pikiran pembacanya. Ada gurat kesedihan dan kesepian disana, ya disana diseberang. Sebuah rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata ataupun harga. Jika rasa itu dijual maka harganya sangat mahal, mahal dan sangat mahal. Jika mata air adalah yang murni dari bumi maka air mata murni dari kesedihan hati. Persahabatan yang terasa erat baru dua hari terasa seperti bertahun-tahun lamanya. Kata rindu darimu begitu menyenangkan dan menyentuh untukku. Ya, mungkin benar apa yang kamu katakan rindu itu berat. Lila, aku bisa menahan rindu itu. Aku tidak bisa bertemu atau menyentuhmu lagi. Aku harus menjauh, menjauh sejauh yang kubisa. Lila, mungkin selain ibuku kamu adalah orang yang mengerti maksudku. Aku tidak tahu harus melakukan apa, sama sepertimu yang tidak bisa melakukan apapun tanpaku. Teman? Itu hal mustahil untukku. Aku tidak bisa menjadi temanmu, selama ratusan tahun tidak ada yang bisa mematahkan aturan itu. Lila, jujur aku juga merasakan hal yang sama, aku merindukanmu.
^_^
Malam itu aku keluar menuju balkon rumahku, sinar bulan terang kembali. Kubiarkan tubuhku menyerap cahayanya yang putih bening itu. “ Mau sampai kapan kamu akan bertahan di sini?”. Aku melirik ke belakang, seekor rubah berwarna orange duduk diatas pembatas balkon itu. Mataku menarik malas dari rubah menjengkelkan itu. “ Ah, ternyata kamu tangguh juga!” kakinya menyentuh lantai balkon bersamaan dirinya berubah menjadi manusia laki-laki yang tampan bak idola korea. Zoe berjalan pelan mendekati pembatas itu, tubuhnya masih harus terkena sinar bulan. “ Ada apa kamu kemari, Hanson?” tanyaku menatap kearah bulan putih yang bersinar putih besar di langit.
__ADS_1
“ Kamu tahu tidak, Raja Obey sekarang sudah turun dan memberikan tahtanya kepada pewarisnya. Sebetulnya aku membencinya dia sering sekali memijak ekorku entah itu sengaja atau tidak!” ucapnya kesal mengelus ekornya dibelakang.
“ Kaisar? Dari klan Xilam Harimau?”
“ Aku membencinya, keamanan disana diperketat semenjak dirinya naik dan segalanya berubah. Dia menipu rakyat dan menumbuhkan kebencian para siluman juga klan terhadap manusia sehingga tidak ada lagi yang berani menyelinap ataupun pergi ke dunia manusia” Ucap Hanson memainkan telinga rubahnya yang meruncing keatas.
“ Zoe, mungkin kamu akan segera ketahuan jika kamu disini. Ditambah lagi kamu membuat inang
baru” ucapnya asal. Mataku menatap tajam begitu menyebut inang baru.
“ Inang baru?” Tanyaku menekan.
“ Aku tahu kamu tidak sengaja, kamu kan keturunan klan serigala putih sedangkan aku bangsa rubah ya aku masih bisa merasakan indramu walau sedikit. Kamu pasti menyentuh manusia kan, tapi kamu malah terbawa suasana sehingga lupa aturannya kan?”
Jujur, Hanson lebih mengerti dibandingkan denganku. Dia adalah pengawasku bisa dibilang kami satu keluarga walau jenis kami berbeda. Hanson adalah siluman rubah orange yang sangat lincah dan licik aku mempercayainya selama dia tidak mengkhianatiku. Hanson yang tinggi berpostur sama sepertiku hanya saja aku adalah manusia siluman sedangkan Hanson murni siluman. Bisa dibilang didalam tubuhku terdapat darah manusia dan darah siluman. Jenis sepertiku sangat langka sehingga banyak manusia ataupun siluman mengincarku hanya untuk mengambil kekuatannya.
“ Ya, kamu benar. Beritahu aku bagaimana memutus inang ini!” ucapku menatapnya yang masih bersender malas di pembatas balkon.
“ Selama masih baru terjadi maka masalahnya cukup mudah untuk diatasi, kamu tinggal memutuskan perjanjiannya kemudian menghapus ingatannya, masalah selesai!” ucap Hanson duduk diatas pembatas balkon.
“ Jangan asal bilang dong, harus ad-“
“ Aku berikan daging gratis untukmu, selama kamu tidak mau aku putuskan kepalamu!” ucap Zoe mengancam memotong Hanson.
^_^
Pagipun datang, sesuai rencana Zoe yang sudah disusun list oleh Hanson. Hanson baru keluar kamar mandi dengan bertelanjang dada dihadapan Zoe tanpa malu. “ Aku mau minta imbalanku sekarang!” ucapnya mengeringkan rambutnya dengan handuk putih.
“ Tunggu, setelah masalahku dibawah selesai dan jangan keluar!” ucapnya membanting pintu. Hanson terdiam bengong melihat Zoe yang dingin. “ Seandainya kamu tahu kebenarannya, Zoe!” batinnya.
Zoe turun dari kamarnya bergegas membuat sarapan untuk kakak dan ayahnya. Berbekal ingatan yang dia tidak tahu darimana asalnya itu dia bisa memasak ya walau itu sedikit aneh.
__ADS_1
Plak!
Dipagi buta begini sudah ada tamparan keras bertengger di pipiku yang tak kunginkan sedikitpun. Aku tahu itu siapa, siapa lagi kalau bukan kakakku, Yuli. Aku harus mendengar berbagai ocehan dan bentakan plus tamparannya yang bukan apa-apa untukku. Coba kalian pikirkan sejenak, sebelumnya ada aku melihat tumpukan buku kakakku di meja? Hari jum’at lalu memang tidak ada tugas, entah apa yang ada dipikiran kakakku ini.
“ Bukannya hari jum’at kakak libur tugas?” ucap Zoe menunduk. Deg! Apa baru saja kamu katakan Zoe! Kau sama saja mendaftar gratis ke kandang buaya!. Sepasang mata menatap benci dari lantai dua, benci bukan karena Zoe yang ceroboh namun wanita bodoh yang ada di depannya. Plak! Aku tahu harus mendapatkan ini karena aku mengatakan hal yang bodoh sekali lagi. Mendapat dua tamparan sungguh mengejutkan untuk siapa saja namun tidak untukku. Aku sudah capek menghitung dan menahannya.
Tanpa sepatah kata-kata lagi Zoe memasak sarapan untuk keduanya kemudian naik ke kamarnya. Di kamarnya Hanson sudah berubah menjadi rubah berwarna orange yang indah, tapi dia duduk diatas tempat tidurku. “ Masih yakin mau disini terus?” ucapnya membelah keheninganku.
“ Ayo, kita pergi! Sebelum Lila berangkat sekolah kita harus-“ kata itu terhenti di udara seakan ada rasa tidak setuju mengisi benaknya. “ Memutuskan ikatanku!” ucapku pelan. Hanson hanya bergeming membungkam mulutnya, tak ada yang keluar dari mulutnya sama sekali. Dia hanya menatap sibuk Zoe yang mengganti pakaiannya.
“ Semenjak kamu semakin tumbuh dewasa bau silumanmu mulai terasa jelas bagiku. Hati-hatilah, sebagian manusia bisa merasakan bau silumanmu terlebih kamu bangsa yang disegani!” ucap Hanson. Ucapan Hanson membuat langkah Zoe terhenti, ada kata peringatan disana itulah yang di rangsang pikiran Zoe saat itu.
Zoe mengaktifkan ponselnya kemudian melihat layar roomchatnya itu. Sekali lagi ada banyak pesan masuk dari Lila ke kontaknya. Dia hanya membaca pesan yang terakhir kali terkirim oleh Lila.
“ Zoe, dimana aku sedang menunggumu! Kali ini aku rela telat sebelum bertemu denganmu!”
“ Aku berada di dekatmu!” sesegera mungkin aku membalas pesan terakhir kali untuk Lila. Rasanya ada sesak disini, disini. Hanson berdiam di dalam bayangan Zoe untuk menghindar dari Lila. Lila terkejut melihat Zoe berjalan sedikit cepat ke arah Lila. Zoe hanya bisa terdiam tanpa menatap sedikitpun Lila didepannya. Hanson bergerak berpindah bayangan ke bayangan Lila. Sontak kesadaran Lila hilang diambil alih oleh Hanson.
“ Maafkan aku Lila!” bisiknya menyayat luka kecil di telapak tangan temannya itu. Kemudian jari jemarinya menempel kuat di jari Lila.
“ Menggema, menggema, menggema lantunan malam.
Terputuslah ranting pohon ek.
Sampai ular memutuskan ekornya sendiri
Memutus tujuh perjanjian antara manusia dan siluman
Kali itu Zoe menangis itu adalah terakhir kalinya dia melihat Lila dengan mata kepalanya sendiri. Disaat yang bersamaan Hanson menarik ingatan Lila tentang Zoe dan menyimpannya dalam ekor rubah ke tiganya. “ Ck! Gadis ini begitu banyak sekali mengingat Zoe!” batinnya. Hanson sedikit agak lama menyerap ingatan Lila tentang Zoe sementara darah Lila yang disayat Zoe di telapak tangan Lila perlahan mulai perlahan berhenti.
“ Sudah, kita harus segera pergi!” bisik Hanson.
__ADS_1
Keduanya melompat pergi menghilang begitu saja. 10 detk setelah keduanya menghilang Lila kembali tersadar luka di tangannya menghilang setelah dia menyadarkan diri. Zoe kembali ke rumahnya bersama Hanson. Tidak ada kata-kata ataupun tindakan kesal. Hanya hening yang mendominasikan kamarnya sedangkan Hanson kembali ke dunia siluman karena dia harus menunjukkan diri di dunia sana jika pun hilang sebentar saja dia akan penjara. Saat itu sedang musim dingin Zoe menutup rapat pintu dan jendelanya. Kini dia hanya bisa berharap ingatan Lila tentangnya benar-benar hilang diserap Hanson. Matanya menatap lesu ke arah dinding kaca transparan itu sambil merebahkan tubuhnya di samping tempat tidurnya.
“ Aku merindukanmu” gumamnya sendiri.