
Kini aku berada di sebuah rumah mewah mirip sebuah istana digunakan sebagai tempat tinggal bagi para prajurit elit.
Seorang pria berkacamata yang mengaku berumur 45 tahun menjelaskan kepada diriku maupun yang lain saat mengantarkan kami ke kamar masing-masing.
Katanya setiap orang berhak memiliki kamar pribadinya sendiri, meski telah diberikan ruangan khusus dengan segala kemudahan yang layak untuk mereka dapatkan.
Aku sendiri terpisah dengan Marin dan kamar ini sangatlah luas untuk aku tempati sendirian, bahkan seakan-akan aku seperti berada di sebuah hotel bintang lima.
"Hmm, tinggal disini sangat tentram kayaknya, persis seperti di era kekaisaran dekorasinya. Tapi aku kesini bukan untuk ini, ada hal yang harus aku lakukan!"
Tok..tok..tok..
Suara ketukan pintu membuatku beranjak dari posisi duduk untuk melihat seseorang itu dan baru beberapa menit aku beristirahat malah diganggu.
"Boleh aku masuk?" rupanya seseorang itu adalah Marin.
"Dengan senang hati, mari masuk," sahutku dengan senyum ramah, karena ada dari peserta seleksi melihat kearah ku. Aku pun menutup pintu setelah Marin masuk.
Kami berdua duduk di meja kecil sembari meminum teh dan membicarakan lagi tentang jalannya rencana.
"Selangkah lagi kita bisa bertemu dengan raja. Mungkin hari ini, kalau tidak lusa," ujar Marin sembari menyesap teh.
"Iya, tapi kita harus berhati-hati pada Siniken yang sebelumnya mengetahui keberadaan kita! Selain itu dia lumayan sulit untuk dicari, sebab kemampuannya sangat merepotkan!" sahutku.
"Tenang saja, kau tidak perlu memikirkan terlalu banyak masalah. Sesekali pikirkanlah dirimu, lebih baik kamu mandi dulu saja!"
"Untuk rencana biarkan saja berjalan dengan semestinya, baru jika ada pengganggu salah satu dari rekan kita pasti akan mengatasinya," imbuh Marin mengutarakan pendapatnya.
Yah. Apa yang dikatakan Marin relatif dan aku setuju bahwa rencana ini tidak dibebankan kepada seorang saja Brain pun menyerahkan urusan Siniken pada dirinya dan rekan yang bersamanya.
"Hah, emm... ya udah aku mandi dulu. Mungkin setelah mandi pikiran ku kembali fresh lagi."
Aku berendam guna merilekskan diri namun di tengah diriku hendak memejamkan mata suara 'kresek' terdengar di telingaku.
__ADS_1
Rupanya Brain menginformasikan mengenai kedatangan wakil manusia tidak berkemampuan itu yang bermaksud mendeklarasikan perdamaian antar ras manusia lebih simbolis abadi.
Yang artinya jika diriku menyerang raja besok secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, apabila diketahui maka dianggap sebagai musuh oleh ras manusia tidak berkemampuan.
"Ada perubahan rencana padamu dan Marin, Anita. Kurasa cara terbaik mengalahkan raja adalah membongkar kejahatannya. Karena berisiko tinggi saat melawannya menggunakan kekuatan otot!" ujar Brain pada alat itu.
"Hmm, aku paham Brain. Tapi bagaimana keadaan Ryu, apa dia baik-baik saja, terus Siniken apa dia tertangkap?" tanyaku mengkhawatirkan Ryu maupun Yin dan bertanya mengenai ancaman yang bisa saja mengacaukan rencana.
"Tebakan mu benar, Siniken pelakunya. Dia sudah tertangkap oleh tipuan Lisa dan rekannya, lalu Ryu dia aku temui baik-baik. Oh ya, ada pesan dari anak kecil itu bahwa dirinya kangen sama kamu!"
Mendengar Ryu maupun Yin dalam keadaan baik-baik saja hatiku jadi tenang.
Dan aku sempat terperangah saat Brain mengatakan jika Siniken berhasil di tangkap mungkin dia lengah atau saja masuk dalam jebakan Lisa dan rekannya.
Setelah usai berbicara Brain menyampaikan hal terakhir jika dirinya yang asli sedang mencegah Hiyou membuat ulah di wilayah ras manusia tidak berkemampuan.
Baru saja aku merasakan perasaan damai dalam diriku beberapa menit kemudian timbul masalah lagi yang mana membuatku kepikiran akal masalah itu.
Rencana ini ternyata tidak sesuai dengan situasi yang mendadak terjadi yang dapat mengubah sebagian rencana utama.
Tak lama kemudian aku selesai mandi dan Marin sudah pergi dari kamar ini dia mungkin menunggu terlalu lama diriku, jadinya dia pergi.
Lemari di kamar ini memiliki gaun berbagai macam jenis dikhususkan bagi prajurit elit wanita, saat aku memilih gaun ternyata ada kertas yang sengaja Marin tinggalkan.
Mengatakan jika dirinya meminjam dua gaun untuk tidur.
Seusai memilih dan mengenakan gaun pilihanku diriku langsung saja memakai masker penutup sebagian wajah.
Karena wajahku pastinya akan di kenali maupun diketahui oleh raja dan pelindungnya yang pernah melihat wajahku.
Meskipun sekarang ini aku lelah, tapi bagiku menahan rasa lapar adalah sesuatu yang menyakitkan dan harus aku hindari.
Kruyuk...
__ADS_1
Maka aku memutuskan untuk bertanya pada seseorang yang memiliki kewenangan di tempat ini dimana aku bisa mendapatkan informasi dariku secara cuma-cuma sekaligus.
Keluar dari kamar kini aku menuruni tangga karena kamarku berada di lantai pertama sepertinya tempat ini benar-benar hotel bintang lima dilihat dari luar memiliki banyak lantai.
Terlintas di pikiranku mengenai deklarasi damai raja dengan wakil itu kurasa ada sebab akibat mengapa mereka yang kemari tanpa pengawasan teknologi.
Menurut kesimpulan ku deklarasi ini bukan secara mendadak terjadi, tapi jauh hari sudah di jadwalkan akan diumumkan pada hari ini.
Artinya raja dapat di percaya sehingga keamanan wakil itu saja yang kemari tidak terlalu ketat.
Karena tidak menemukan keberadaan pria paruh baya itu aku pun mencoba untuk bertanya kepada salah satu peserta seleksi prajurit.
Seingat ku para peserta belum resmi menjadi prajurit elit sebelum diresmikan oleh raja, dihadapannya langsung.
"Tuan aku mau bertanya, apa tuan melihat pria paruh baya yang sebelumnya menjelaskan mengenai tempat ini?"
"Kebetulan sekali aku melihatnya menuju kearah sana."
"Kalau begitu makasih banyak bantuannya tuan," ucapku sembari menunjukkan senyuman sekilas saat diriku membuka masker sebagai tanda terimakasih padanya.
Grep!
"Tunggu, aku sepertinya pernah melihatmu?"
"Aku kan peserta seleksi juga, itulah mengapa aku berada disini," jelas ku hati-hati memberi alasan. Pria ini lalu terdiam seperti halnya sedang mengingat-ingat.
Sebenarnya selama jalannya penilaian diriku tidak mengenakan masker namun gaya rambutku aku ubah agar terlihat seperti gadis tomboi yang menutupi mukanya dengan rambut.
Di tambah penampilan wajahku saat berada di atas dinding itu di percantik oleh Lu Yang hingga terlihat perbedaannya saat aku bercermin setelah mandi.
Seingat ku aku memiliki jerawat pada wajahku dan mata panda sebelumnya, tapi setelah Lu Yang menggunakan kemampuannya padaku wajahku langsung berubah seratus persen lebih baik.
Hanya sekarang ini aku khawatir jika saja pria ini pernah melihat wajahku sebagai orang yang dicari-cari raja.
__ADS_1
"Aku terlalu ceroboh membuka masker dan memperlihatkan wajahku."
"Aku pergi dulu ya tuan,