
"Sepertinya kita akan jalan kaki!" ujar Hiyou.
"Apa kita nggak naik burung itu lagi sebagai kendaraan? Bukannya perjalanan kita masih jauh ya...?" tanyaku kepada Hiyou berharap ada alternatif lain selain berjalan kaki menuju tempat tujuan.
"Itu karena pengumuman tadi. Yang mengatakan jika wilayah ini sedang di masuki oleh ras penyihir(ras berkemampuan), lalu aku berpikir jika kita terus melanjutkan perjalanan dengan menaiki burung... bisa saja sewaktu-waktu mereka menggunakan senjata itu maka..."
"Kayaknya pada saat di udara kita akan jatuh karena kemampuan Kwen maupun kita akan menghilang!" jelasku dari apa yang aku tangkap.
"Benar sekali. Itulah mengapa aku menyuruh kalian untuk berjalan kaki demi menghindari resiko itu."
"Bukanya masih ada waktu untuk kita menggunakan kemampuan kan?" kembali Nie bertanya kali ini dia dengan ekspresi tidak setuju.
"Lagipula mereka belum mengaktifkan kartu as nya, jadi kita masih memiliki kesempatan untuk menggunakan kemampuan," tandas Hiyou.
Kamipun memulai perjalanan kembali agar cepat sampai di tempat tujuan, serta supaya tidak memakan banyak waktu.
Karena pendaratan di sekitar pegunungan kamipun harus berjalan jauh menuju tempat pemungkiman warga berada untuk melakukan penyamaran disana.
Matahari mulai perlahan tenggelam, kira-kira sekarang ini jam 17:25 ketika aku mengeceknya lewat ponsel.
Beruntung saat aku berada di rumah keempat pria itu aku sempat diberi power bank dan hp baru oleh pria beraura dingin, meskipun begitu dia sangat baik.
"Berhubung kita akan sangat kesulitan pada saat menghubungi Billy di sebrang wilayah sana, maka cara terbaik adalah dengan menunggu Billy yang akan menghubungi kita!" ujar Kwen baru kali ini dia memberi informasi penting.
"Oh, ya. Menurutku ponselmu harus dalam kondisi off, Anita!" kata Kwen memperingati ku.
"Iya, aku matiin."
Selama perjalanan kami didengarkan oleh suara-suara burung yang berkicau.
Nuansa khas hutan yang sangat kental dan asri berbeda dengan wilayah tempat manusia berkemampuan.
Di sini kehidupan manusia hampir mirip seperti kehidupan di dunia alternatif, sedangkan sisi lain wilayah manusia berkemampuan beda jauh.
Lebih persis seperti tempat yang pernah dilanda kiamat. Kemungkinannya time line waktu pada kedua wilayah berbeda.
Srak! srak!
Terdengar suara dari semak-semak mengangetkan kami.
"Kwen," ucap Hiyou dengan suara kecil sembari menoleh kebelakang.
Posisiku berada di tengah bersama dengan Nie saat berjalan. Sementara Hiyou pada posisi paling depan dan Kwen dibelakang berjaga.
Suara tadi pun mengharuskan kami untuk berhenti.
Srak! srak!
Kwen kini mendekati ke sumber suara dengan langkah perlahan-lahan.
Roarr!!
"Singa!?"
"Singa!?"
__ADS_1
"Singa?"
Dari semak belukar tersebut keluarlah seekor singa yang kemudian hendak menerkam Kwen.
Sejurus kemudian kwen langsung membalikkan keadaan setelah ia menghindar dari terkaman singa itu, yang kini ia sedang menatapnya.
"Tenang saja. Kwen sangat ahli dalam menjinakkan hewan, bahkan singa pun tidak ada apa-apanya dihadapannya!" jelas Hiyou.
"Hmm, sepertinya Kwen dulu berhubungan dengan para hewan. Biar aku tebak dia mungkin adalah petualangan, ketua sirkus, penjaga kebun binatang, dan... seorang pro hewan buas!"
Membutuhkan waktu lima menit bagi Kwen untuk menjinakkan singa liar itu.
Kemudian ia memberi singa itu sesuatu dari dalam wadah pakan.
"Apa yang Kwen beri ke singa itu?" penasaran aku berbalik dan bertanya kepada Hiyou. Siapa tahu dia mengetahuinya.
"Tsk, banyak bertanya.."
"Eh, apa?"
"Yang Kwen beri itu adalah obat penenang berguna untuk menjinakkan hewan buas, dia meraciknya sendiri dengan bahan alam!"
"Begitu ya..."
Perjalanan kami pun berlanjut, di tambah satu lagi peserta yang ikut.
Karena di depan ada sungai kamipun melewatinya, tanpa berpikir untuk mencari jalur memutar dikarenakan akan memakan waktu lama.
Langit mulai tampak keemasan burung-burung pun terlihat berterbangan pulang kerumahnya masing-masing.
Sebelumnya saat dalam perjalanan kami sempat membawa beberapa ranting kayu untuk di jadikan sumber api.
Rencananya kami akan membuat api unggun. Namun sayangnya kini kami tidak bisa membuatnya.
Saat hendak kami membuatnya Kwen melihat ada drone dengan jumlah yang sangat banyak. Ia mengaku melihatnya saat memanjat pohon.
"Ini semua gara-gara si kacamata, karena dia kita dalam situasi seperti ini!" gerutu Nie yang berada di sampingku.
Ada benarnya apa yang dikatakan Nie, bahwa sebelumnya di waktu para penjaga tidak melepaskan senjata itu, kita bisa menggunakan kemampuan Kwen untuk lebih cepat sampai ke tujuan.
"Tenang kan dirimu gadis. Lihat ada banyak drone yang berterbangan mengawasi tempat ini!" ucap Kwen dengan suara kecil.
"Humph..."
"Benar apa yang dikatakan Kwen, kak. Kita saat ini tidak boleh berisik!" nasehatku pada Nie.
Semakin lama aku merasa tidak nyaman dalam situasi gelap ini. Malahan Nie terus ngomel dengan suara kecilnya.
"Baka... baka..."
Dan kini sepertinya sudah mulai mendekati tengah malam, karena sekitaran sudah sangat gelap.
"Kalau begitu terus... aku khawatir Nie akan memberontak karena tak tahan."
"Kemungkinan tersebut bisa terjadi kalau saja sekarang ini dia masih terjaga."
__ADS_1
"Sekarang waktunya kwen..." suara bisik Hiyou yang dapat aku dengar.
Tep!
Ku lihat dengan samar-samar Kwen menyatukan kedua telapak tangannya setelah Hiyou mengatakan hal tadi.
Dar!!!!!
Dar!!!!
Dar!!!!
Dar!!!!
"Apa yang Kwen lakukan, kenapa ada suara ledakan dari arah kota!?"
Brak! brak! brak! brak! brak!
Beberapa drone mulai terlihat berjatuhan di gelapnya malam. Dan jatuh mengenai pepohonan dan batu sehingga terdengar bunyi yang berisik.
Sinar bulan membuat drone-drone terlihat dengan jelas karena drone terbang di udara.
"...Apa yang sebenarnya kamu lakukan, kwen?" Nie bertanya kepada Kwen.
"Ini adalah rencana cadangan yang sudah direncanakan oleh Hiyou, jadi saat kita melewati perkotaan. Kita sebenarnya melewati tempat-tempat incaran, salah satunya adalah markas drone-drone ini dikendalikan!"
"Aku masih bingung, lalu kenapa terjadi ledakan dan kamu tadi terlihat menggunakan kemampuan?" Nie masih bertanya dan aku pun hanya mendengarkannya.
"Tadi, aku dan Hiyou sempat menjatuhkan peledak kecil saat di atas burung ke tempat yang telah ditentukan. Alhasil, saat waktunya tiba aku tinggal meledakan nya!"
"Bukannya bahan peledak akan meledak saat jatuh dari ketinggian?"
"Benar. Itulah mengapa kami memanfaatkan arah mata angin sebelum menjatuhkan. Lagipula ada tambahan parasut saat peledak itu dijatuhkan!"
"Dan sebenarnya kami menjatuhkan sepuluh, hanya beberapa yang berhasil meledak."
"Ayo kita mulai bergegas. Tadi kamu mengeluh teruskan, Nie!" kata Hiyou.
"...Aku..."
Dari tadi saat Kwen menjelaskan rencana cadangan kepada Nie, Hiyou disibukkan dengan memungut beberapa drone.
"Kurasa memang benar, mengapa tim ini di sebut tim singa. Karena otak rencananya saja sangat berani mengambil resiko. Padahal sebelumnya Hiyou sempat berbicara mengenai kecerobohan Nie sewaktu memasuki wilayah ini!"
"Bukannya hal tersebut akan menyebabkan kekacauan lebih besar karena daya ledakan peledak tadi terlihat sangat besar dan mampu meratakan sekitarannya."
Tep!
Roarr!!
"Kendaraan kita kali ini!" kata Kwen membuatku berbalik dan melihatnya.
Sementara dua burung terlihat samar-samar mendekati Kwen.
Dengan kemampuannya lagi kedua burung tersebut berubah menjadi berukuran besar. Detik ini aku masih di buat bingung karena ada kejanggalan yang terjadi.
__ADS_1
"Sepertinya Hiyou merencanakan sesuatu yang licik!"