
Seketika pria berpenampilan menarik ini menjadi sorotan yang lain, tapi tidak semuanya. Dua tahanan yang kini dijadikan rekan tetap fokus pada latihannya, bahkan Aku melihat ada yang acuh juga padanya.
Ternyata fisik pria berpenampilan menarik ini lumayan hebat juga, yang sebelumnya dirinya dapat menghancurkan pohon besar tadi dengan mudah.
"Bagaimana dengan bukti ini sekarang, aku luar biasa bukan. Dan pantas untuk menjaga seorang ratu," gumamnya dengan nada sombong sembari menyorotkan tatapan sekilas kepada wanita ahli pedang.
Berhubung aku tidak terlalu mengenal mereka bahkan nama keduanya yang aku belum tahu, maka aku putuskan untuk berkenalan terlebih dahulu. Akan sangat baik jika aku bisa mengakrabkan diri dengan mereka berdua, dua orang pilihanku yang memiliki kemampuan luar biasa.
"Namaku Lu Yang berasal dari keluarga terpandang saat aku masih hidup, pekerjaanku seorang aktor sekaligus produsen para aktris."
"Karena terpaksa aku harus mengatakannya, hanya sekedar nama tidaklah penting. Panggil saja aku Marin."
"Baik, sekarang giliran-ku. Namaku Anita Hara panggil saja aku Anita."
Aku pun sudah berkenalan dengan mereka berdua, lalu melanjutkan mengamati mereka berlatih dengan kemampuannya masing masing.
Tapi mengingat kembali Marin yang sebelumnya menghalau serpihan pohon yang melesat dengan menggunakan sarung pedangnya, diriku jadi terpikirkan untuk meminjamkan pedang padanya.
Diriku lalu menghampiri Brain untuk meminta bantuan kepadanya menciptakan pedang dengan kemampuannya.
"Boleh ya Brain, aku cuma ingin membantu Marin yang sekarang ini tidak memiliki senjata. Padahal keahlian dirinya selain bergerak cepat adalah teknik memainkan pedangnya!" jelasku agar Brain mau membantuku.
"Iya, alasanmu masuk akal juga. Akan aku buat pedang untuknya sekarang. Sebenarnya kamu terlalu baik Anita kepada orang-orang mantan tahanan ini. Menurutku mereka bisa saja membelot, apalagi kemungkinannya tidaklah terlalu besar maupun kecil bagi mereka untuk lolos."
"Iya sih, tapi kan melalui rencana yang telah disempurnakan malam ini aku yakin bakalan memperkecil hal itu."
Tak lama menciptakan pedang menggunakan kemampuan Brain yang berhubungan dengan imajinasi, pedang ini ternyata lumayan bagus sekali kualitasnya.
Setelah itu aku memberikannya kepada Marin agar langsung dia gunakan untuk berlatih. Dan baru beberapa saat dia langsung menunjukkan teknik pedang yang dimiliki olehnya, sekaligus menjajaki pedang baru tersebut.
"Hiyaat!!"
__ADS_1
Swosh...
Pohon yang diserangnya sebagai target langsung terpotong dengan rapi sekali tebas, beberapa detik setelahnya lalu roboh.
"Kamu menyebut kemampuan diriku tadi biasa-biasa saja, sekarang dirimu hanya menunjukkan teknik pedang yang semua orang bisa melakukannya!" cibir Lu Yang menangapi aksi Marin barusan.
Sementara Marin hanya diam saja dan kembali melanjutkan latihannya. Aku menebak jika dia menyembunyikan keahlian pedangnya, dan hanya digunakan pada situasi tertentu saja.
Aku memahami jika Marin adalah orang yang tidak mudah untuk digoyahkan hatinya. Beda jauh dengan Lu Yang.
Disebelah kiri ku, aku juga melihat rekan lain yang belum aku ketahui namanya. Karena informasi yang Brain berikan hanya sekedar nomor tahanan dan kemampuannya saja.
Melihat dari jauh sebuah kabut hijau yang sedang di kendalikan oleh seseorang membuat diriku penasaran apa yang akan dilakukan olehnya dengan kabut tersebut.
Seingat ku dia itu orang pilihan Brain yang memiliki kemampuan racun.
Yang ternyata diarahkannya pada pepohonan berada didepannya, dari jauh aku melihat pepohonan itu langsung mengering seperti nutrisi dan unsur lain didalamnya terserap habis oleh kabut tersebut.
Sedangkan Lina aku lihat selain fokus pada orang pilihannya dia juga ikut berlatih latihan fisik.
Orang pilihannya memiliki otot tubuh yang proporsional dan selalu bertelanjang dada.
Dia memiliki rambut yang panjang bermata kuning kalau tidak salah, serta kemampuan yang dimilikinya adalah 4 elemen.
Untuk Ryu sendiri dia malah mengobrol dengan orang pilihannya itu sejak dimulainya perintah dari Brain.
Aku jadi ingin tahu apa yang diobrolkan oleh mereka berdua yang sepertinya menarik, melihat dari jauh wanita itu selalu tersenyum kepada Ryu.
"Ah iya... Dia kan kemampuannya ilusi. Jadi untuk latihan fisik seperti penyerangan tajam mungkin dia tidak terlalu menguasainya."
Sementara pria berambut sebelah emas dan sebelahnya lagi perak berlatih seperti orang berkultivasi. Duduk pada sebuah batu dengan bersila, dengan mata tertutup dan kedua tangannya menyentuh lutut.
__ADS_1
Setelah lama melihat rekan baruku ini berlatih, diriku bersama dengan Lina pergi kesebuah desa untuk mencari makanan.
Dan karena Brain telah menanam kan pada tubuh rekan baru berjumlah enam orang tersebut sesuatu, diriku jadi tidak risau saat Lina tidak berada didekat mereka.
"Nona-nona, bolehkah diriku ikut bersama kalian. Niscaya aku dapat membantu kalian untuk mendapatkan sesuatu secara murah, tujuan kalian berdua ke pasar bukan?" ucap Lu Yang sembari menundukkan kepalanya sedikit saat berbicara. Menyarankan pada diriku dan Lina untuk mengijinkan dirinya ikut dengan alasan menggiurkan.
Lina berdiam diri lalu melihat kearah ku, sepertinya dia menunggu keputusan dariku.
"Boleh saja, Dia kan sudah aman sekarang, karena sudah diurus oleh Brain sebelumnya," ucapku yang sebenarnya membolehkan Lu Yang untuk ikut.
"Ya sudah aku setuju, lagian ada aku mana mungkin dia bisa lolos. Meskipun sesuatu didalam tubuhnya lenyap!" ujar Lina.
Diperjalanan aku mengobrol dengan mereka berdua Lina dan Lu Yang, dan sepanjang obrolan tersebut Lina hanya menceritakan kisahnya dengan Kile. Dari awal pertemuan sampai hal-hal yang menurutnya keren menggambarkan sosok Klie.
Sedangkan Lu Yang mengobrol denganku mengenai kehidupannya di dunia alternatif. Sepertinya dirinya yang menjadi seorang aktor terkenal sekaligus produsen aktris ternama.
"Kamu pasti hidup enak dengan bergelimang harta dan memiliki rumah serta segalanya yang senantiasa memanjakan dirimu?" ucapku sembari membayangkan kehidupan Lu Yang yang sangat didambakan oleh rata-rata orang di bumi.
"Hm, ada benarnya juga. Karena kehidupanku sama persis seperti yang kamu bayangkan di pikiranmu!" jawabnya membuatnya tercengang.
"Lah terus kenapa bisa dirimu mati karena bunuh diri?" ucap Lina asal ceplos.
Pertanyaan tersebut tabu untuk ditanyakan karena berhubungan dengan hukum di dunia ini. Dan yang pasti Lu Yang tidak akan menjawabnya. Karena dirinya sendiri tidak ingat, kecuali pada saat dirinya mulai ingat memori terakhir dirinya bunuh diri. Maka kelar sudah hidupnya.
Beberapa menit kemudian diriku dan yang lain memasuki sebuah desa. Perbatasan desa ini bahkan membolehkan siapapun untuk masuk tanpa melalui pengecekan secara ketat.
Untuk rumah para penduduk terlihat berjejer rapi seperti halnya sudah di atur saat salah satu penduduk membangun rumah mereka.
Lebih dalam lagi masuk ke desa akhirnya aku menjumpai pasar, meskipun hari sudah menjelang siang keadaan pasar masih sangat ramai.
Yang menarik selera ngemil diriku sekarang ini adalah sate beraroma khas seperti halnya di dunia alternatif.
__ADS_1