Last Life

Last Life
Apa Yang Membuat Tak Jadi Mengungkapkan?


__ADS_3

Apa yang aku lihat sekarang ini sangat mengejutkan diriku bahkan jauh didalam lubuk hatiku sekalipun, karena sekali lagi Sekai menunjukkan sesuatu yang lain daripada yang lain.


Tempat ini berada di udara hingga jauh dari permukaan tanah dan hampir menyentuh awan.


"Tenang saja, kita ini tidak terlihat oleh apapun. Keberadaan burung yang melekat dengan tempat ini tidak terdeteksi oleh sistem navigasi sekalipun, ada semacam sihir khusus telah aku gunakan!"


"Dan untuk keamanan sendiri sangat terjamin, percayalah padaku."


Ekspresi Sekai saat mengatakannya terlihat serius serta menyakinkan seakan menarik diriku untuk percaya padanya.


Lagian sejak diriku ini bertemu dengannya aku memutuskan untuk sepenuhnya percaya kepada Sekai, karena dia adalah harapan diriku di waktu ini.


Dan dia itu sangat berarti bagiku, lebih dari apapun. Yah. Tapi terkadang manusia mengubah dirinya sendiri dan mengkhianati perkataannya.


Itulah kenapa diriku dulu sempat memiliki sifat tidak percaya kepada orang lain.


Tapi, hal itu berkurang seiring berjalannya waktu lantaran aku mendapatkan sahabat sejati dan kebahagiaan lainnya.


Menghiasi kehidupan kesendirianku sampai pada akhirnya aku membutuhkan uluran tangan seseorang.


Di dunia ini pun aku sempat kembali pada sifat diriku yang dulu, namun itu seakan bagian dari diriku yang tak mungkin lepas begitu saja.


Hampir saja mengendalikan diriku sepenuhnya dalam kesenangan yang bergabung menjadi satu dengan sifat lain yang pernah aku ciptakan.


"Tidak usah cemas... aku akan selalu berada di sampingmu dan melindungimu disaat dalam bahaya, kapanpun itu!" ucap Sekai di waktu diriku merenung hingga membuatku membulatkan mata. Dan menatapnya lekat.


"... kamu kenapa begitu peduli padaku, bukannya kita baru kenalan kemarin?" tanyaku bingung terhadap Sekai, dia ini dapat aku percayai atau malah sebaliknya.


Entah mengapa akhir-akhir ini instingku menjadi tumpul, apakah efek samping dari pengulangan waktu permulaan ini masih belum usai.


Sekai diam sesaat lalu dia terlihat membuka mulutnya "Sebenarnya aku... em aku... aku berniat menjagamu!"


"Cuma itu kah? Sepertinya kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Jadi katakan saja dengan jujur?" tandasku kepadanya sembari menatapnya agak dekat. Mendekatkan wajahku.


"Baik, baik aku katakan, tapi aku takutnya kita akan jauh setelahnya..."


Dari raut wajahnya itu membuat diriku menebak apa yang akan dia katakan padaku sampai malu-malu seperti tadi.

__ADS_1


Dalam satu sisi dirinya cemas jika saja aku menolaknya, itu artinya dia mau menembak diriku.


Tentu saja akan ku tolak karena aku tidak pernah memikirkan hal itu dengan serius, aku jujur pada diriku sendiri. Sebelumnya pun aku lakukan karena terpaksa.


Tapi seakan kepribadian diriku yang lain mendorong diriku untuk menerima hal itu.


"Maaf membuatmu menunggu, jadi aku sangat men..."


Jdarrr!!


Suara petir di siang bolong ini sangat mengejutkan diriku dengan suaranya yang keras dan tidak diduga-duga.


Mungkin lebih mengagetkan daripada jumpscare film horor yang pernah aku tonton.


"Sepertinya akan turun hujan, ada awan comulonimbus dari arah selatan!" ucap Sekai memberitahu apa yang dilihat, entah kenapa dia bersikap berbeda dalam sekejap, ekspresinya pun tidak seperti di detik sebelumnya.


"Jadi apa yang mau kamu katakan padaku?" tanyaku lagi.


"Ah... sayang sekali, aku lupa apa yang ingin aku katakan kepadamu Anita, mungkin tentang petualangan yang akan kita lakukan ini!" jawabnya terlihat dibuat-buat sama seperti senyumannya itu. Menurutku ada hal yang membuatnya tidak ingin mengatakan isi hatinya kepadaku.


Setelahnya, Sekai berkata padaku jika dirinya memiliki urusan yang harus dirinya selesaikan. Dia kemudian pergi meninggalkan diriku sendirian di bangunkan tertinggi pada tempat ini.


Tak lama tempat tujuan pertama menuju salah tempat yang didiami oleh satu ras dewa sudah terlihat, yang mana tempat itu terletak di gunung langit.


Namun aku harus mencari keberadaan Yanwu terlebih dahulu di gunung ini yang kemungkinan membutuhkan waktu lama, jika menggunakan cara manual untuk mencarinya.


Maka peran Sekai sangat penting pada kondisi seperti ini.


"Mari kita turun, pegang tanganku erat-erat ya!" pinta Sekai disaat kami berdua berada di ujung perbatasan tempat ini hendak terjun ke bawah.


Sebelumnya aku sempat memainkan drama seorang gadis yang merasa sangat takut untuk turun dalam ketinggian saat ini.


Jujur, aku sebenarnya agak khawatir jika saja ada hal buruk yang bakal terjadi. Bagaimana tidak, Sekai hendak hendak terjun dari ketinggian 10 kaki tanpa adanya sayap maupun sesuatu yang terlihat sebagai alat bantu terjun.


"Tapi Sekai, aku... masih takut..."


"Kamu tenang saja, pendaratan kita akan aman, aku berani jamin itu. Aku juga ingin menunjukkan sesuatu luar biasa kepadamu!" sahut Sekai perkataannya benar-benar menghipnotis diriku.

__ADS_1


Tidak ku sangka dia membawa diriku pada kedua tangannya lalu terjun tanpa sayap yang sebelumnya aku berpikir jika dia akan menunjukkannya di detik dirinya akan terjun. Tapi nyatanya tidak.


Aku melingkarkan kedua tanganku pada lehernya dengan erat saat ini aku merasa seperti melawan gravitasi bumi, karena perlahan-lahan disaat terjun ini kecepatannya menjadi lambat.


Tidak seperti di awal barusan yang membuatku sempat bergidik ngeri lantaran kecepatan jatuhnya lumayan menekan, dan itu bukan sebuah akting.


Muncul air yang lama kelamaan makin banyak hingga mengelilingi kami berdua dalam pendaratan yang masih belum sampai ini.


Air berwarna biru muda ini sangat estetik saat bergelombang dipadukan dengan cuaca cerah.


Mengejutkannya, lalu muncul dua ikan paus ukuran sedang dan dua paus kecil serta ikan-ikan kecil yang terlihat cantik.


Berenang didalam air yang mengelilingi kami berdua, namun tidak sampai menyentuh.


"Bagaimana? Ini adalah kejutan spesial dariku untukmu," ucap Sekai menatapku, dari posisi ini aku bisa merasakan helaan nafasnya dan melihat wajah tampannya dari dekat.


"...luar biasa, aku... sampai terperangah beberapa menit!"


"Kamu tidak pandai ya berbohong, tapi aku suka denganmu yang seperti itu."


"Heh...?"


"Tentu saja itu bercanda, aku tidak suka orang yang berbohong."


Aku terdiam mendengar perkataannya barusan yang dengan ekspresi serius seperti sedang mengintimidasi.


Membuatku jadi takut jika saja aku diketahui berbohong mengenai sifatku selama ini padanya.


Sekai lalu menganti ekspresinya yang terlihat ramah sembari menatapku dengan senyuman manisnya.


Dilanjutkan dengan penjelasannya tentang hal mengejutkan ini padaku seakan-akan dia tahu jika diriku memang membutuhkan penjelasan.


Sampai di daratan aku pun menginjak tanah dengan gemetaran hingga hampir saja aku jatuh, namun Sekai mengantisipasinya.


Sebenarnya Sekai sudah mengetahui dimana keberadaan Yanwu sekarang. Dia turun disaat tak jauh dari keberadaan dari salah satu manusia ras dewa.


Dan di depan sana aku melihat Yanwu sedang bersandar di atas pohon lebih tepatnya di salah satu rantingnya.

__ADS_1


Terlihat dia sedang memperhatikan burung berbulu indah berada di satu jari tangannya.


__ADS_2