Last Life

Last Life
Kesalahan Kecil Menguntungkan Lawan


__ADS_3

Mendapati sebuah ide cemerlang guna meloloskan diri dari kejaran naga api itu sekaligus mengalahkannya, pertama-tama untuk sekarang ini aku harus berhati-hati dalam memancing subjek agar masuk kedalam jebakan rencana ku.


Karena menurut sebuah asumsi yang sudah aku analisa dengan teliti, naga api itu selain memiliki kendali dirinya sendiri juga memiliki pola pikir layaknya naga sungguhan.


Meskipun belum terbukti secara jelas dan masih sebuah asumsi liar tapi aku yakin akan hal itu, feeling yang aku rasakan sekarang ini mungkin saja adalah sebuah keberuntungan yang tak disangka-sangka.


Saat menuju ke arah perairan sesaat setelah aku pastikan sebuah kemungkinan nantinya, dalam perjalanan kesana aku terus menyerang naga itu.


Walaupun aku tahu serangan air tidak mempan sama sekali, tapi aku masih tetap meneruskannya.


Karena sebenarnya sengaja aku lakukan guna mengalihkan perhatian naga itu dari pemikiran tubuhnya yang akan lenyap dengan mudah jika mengejar targetnya sampai ke tengah perairan.


Serta kelebihan kemampuan diriku melalui tongkat ini akan jauh lebih besar ketika berada di suatu tempat tertentu. Tak lain adalah tempat dengan jumlah air yang sangat banyak.


Naga api itu entah mengapa aku lihat agak lamban dari sebelumnya, bahkan tak mampu menyamai tunggangan diriku sekarang ini, yang sebelumnya hampir saja mendekati diriku dan membunuhku hingga hangus.


"Hiii..."


Membayangkannya saja sudah membuatku ngeri maupun tidak nyaman, dan ada rasa kesal pada seseorang.


Yanwu, dia pasti sengaja agar diriku mampu menjaga diri sendiri dengan baik, misalnya saja aku dalam situasi dan keadaan berbahaya sebelumnya.


Hanya saja mengingat lagi kejadian tadi kurasa dia tidak terlalu gila, karena sempat membantuku di saat nyawaku nyaris saja terancam.


Dia mungkin saja senang sekarang, karena mungkin saja dia melihatku maupun memperhatikan diriku dari jarak jauh.


Dan pertanyaan ku cuma satu, bagaimana caranya dia mengetahui keadaan diriku dengan jelas yang sedang dalam bahaya?


Beberapa saat hingga perairan terbuka terlihat, dari jauh jarak aku mencoba untuk mengendalikan air begitu banyak dalam wilayah perairan ini.


Nyatanya bisa aku kendalikan dan ku buat semacam gelombang besar sebagai percobaan akhir.


Naga api itu tetap mengikuti diriku hingga akhirnya terjebak dalam kurungan penjara air yang sudah aku rencanakan sebelumnya.


Saat sudah memasuki perairan dan jauh dari daratan.


"Huh!? Kenapa dia bisa selincah itu dalam menghindar dari celah penjara air. Naga itu... keluar dari dalam sana?"

__ADS_1


Tak ku sangka dugaan ku dari awal memang benar dan menjadi sebuah kesimpulan jelas yang terbukti oleh penglihatanku barusan.


Naga api itu benar-benar memiliki otak. Yang ketika dirinya merasa terancam otomatis akan melakukan tindakan nalurinya secara spontan.


Splash...


Splash...


Splash...


Ku kendalikan banyak air sekaligus untuk mendekati naga api itu, namun naga itu lebih pintar dari yang aku duga.


Lantaran sekarang ini naga api itu berada jauh di atas diriku dan melancarkan serangan dengan semburan bola api.


"Haha.. tapi wilayah ini adalah kerajaan bagiku, jadi kamu naga api, tidak akan bisa mengenai ku!!" gumam ku sambil berteriak kencang agar naga itu bersemangat untuk mengincar dan menyerang ku terus-terusan.


Tak lama serangannya makin di ditambahkan seakan-akan diperbanyak dalam satu waktu yang sebelumnya terdapat jeda. Bola api dari mulut naga api itu terlihat seperti machine gun saat aku lihat dengan seksama.


Sementara serangan itu tak dapat menyentuh ku sama sekali, disebabkan oleh pelindung layaknya air bah lalu ku bentuk seperti sebuah ombak besar yang kini tengah ku kendalikan, dan sengaja dijadikan pelindung.


Blush...


Bola api itu langsung lenyap setelah mendarat pada gelombang air tersebut.


Beberapa saat berlalu hingga tanpa disadari oleh naga api itu bahwa tubuhnya kini dibuat semakin mengecil, dikarenakan bola api yang dikeluarkannya.


Pada akhirnya eksistensinya lenyap di udara. Filosofi merujuk pada manusia yang sedang asyiknya dalam mengejar dunia.


Selesai mengatasi ancaman dari konsekuensi kesalahan diriku sebelumnya aku pun langsung bergegas kembali kesana.


Demi membantu Leonin dalam mengalahkan perempuan yang katanya ras manusia dewa itu.


Tapi ada kemungkinan jika dia sudah mengalahkannya, ataupun sebaliknya dan ini adalah kemungkinan kecil menurutku.


Dalam perjalanan yang untungnya masih ku ingat rutenya, aku membawa air dalam jumlah banyak yang kini melayang di udara.


Memang agak terlalu berlebihan atau bisa saja sangat berlebih, tapi kulakukan dengan sadar agar diriku aman sentosa serta antisipasi jika saja kemungkinan buruk terjadi.

__ADS_1


Yaitu kebakaran yang disebabkan oleh perempuan itu.


Melihat arena hutan yang terbakar aku pun mempercepat tunggangan yang kini berganti menjadi mobil bermesin jet.


Gilanya aku masuk kedalam mobil yang ku bentuk dari air ini dan duduk dengan tenang didalamnya.


Byur...


Ku arahkan air dengan tepat pada pepohonan yang terbakar secara merata dengan intensitas air secukupnya.


Terlihat pula Leonin yang tengah memadamkan api dengan cara pembekuan menggunakan kemampuan es miliknya.


Mendarat dengan lancar dan keluar dari dalam mobil air serta sudah selesai mengurusi api yang membakar pepohonan dalam area tak terlalu luas, dibandingkan dengan area yang terbakar hingga beberapa persen di hutan ini sebelumnya.


Tak ku sangka Leonin dengan puas tertawa saat melihatku keluar dari mobil. Benar-benar diriku terlihat konyol gara-gara kelakuanku sendiri.


Tapi jujur saja saat aku menduduki air yang seharusnya membuat basah diriku malah sama sekali tidak berefek padaku.


Mungkin tongkat pengendali air ini juga memiliki sihir khusus. Jika iya aku sangat berterimakasih kepada Sekai.


"Cukup ketawanya, ngomong-ngomong perempuan itu apa berhasil kamu kalahkan?" tegas ku sembari bertanya mengenai perempuan itu kepada Leonin. Dari ekspresinya yang tenang-tenang saja sudah pasti perempuan itu telah dikalahkan olehnya.


"Oh, dia berhasil lolos setelah mengalihkan perhatianku pada pepohonan yang terbakar!"


"Tapi kenapa kamu bisa semudah itu meloloskan dia, kan kamu bisa sekaligus..."


"Bukannya dia kabur gara-gara dirimu ya!"


"Huh? Gara-gara aku, atas dasar apa?"


"Bukannya kamu yang telah memberi ide kepada perempuan itu untuk membakar hutan, sehingga diriku terpaksa memadamkan api agar kebakaran tidak menjalar secara berlebih!"


Tidak ku sangka perkataan ku sebelumnya dijadikan Leonin sebagai tameng yang di satu sisi memang ada benarnya juga, membuatku dalam posisi ini jadi serba salah.


"Baiklah, pilihan paling sederhana adalah dengan mengalah dan mengakui kesalahan."


"Ya udah, aku mengaku bersalah, tapi kemana perempuan itu pergi?"

__ADS_1


"Kalau aku tahu pasti sedang mengejarnya!"


"Grrt.. terus kita mau kemana lagi kalau jejak perempuan itu pergi kamu tidak tahu?" hampir saja aku kelepasan dan hendak marah, tapi untungnya ku tahan sembari melanjutkan arah pembicaraan.


__ADS_2