
Rencana seperti biasa dibahas pada malam hari yang bertujuan agar ingatan setiap orang selalu teringat pada rencana.
Siang ini Brain memutuskan untuk mengeluarkan para rekan baru melalui perantara kemampuan pengendalian Lina.
Di lahan seluas lapangan bola bahkan lebih luas lagi yang ditumbuhi oleh rumput teki yang diibaratkan sebagai alas dan pohon-pohon yang tidak berdekatan satu sama lain sebagai target latihan.
Yang aku tahu dari Brain, para tahanan ini sudah sangat lama mendekam di penjara sehingga jarang menggunakan kemampuan miliknya.
Sehingga latihan dilaksanakan dengan tujuan memperkuat kemampuan masing-masing seperti sediakala.
"Yin masih tidur Ryu?" tanyaku pada Ryu tengah melihat 6 rekan baru berjalan bersama namun dalam pengaruh kemampuan Lina.
"Anak itu katanya mau belajar, dia terakhir kali aku lihat sedang memegang buku!" sahut Ryu.
Brain pun menyuruh Lina untuk menyadarkan mereka semua dari kendali satu orang.
Wosh...
Sungguh membuatku terkejut karena wanita pilihanku yang ahli dalam teknik menggunakan pedang kini kabur dengan kecepatannya.
"Brain!? Dia..." ucapku khawatir.
"Tenang saja, sebelumya aku telah menciptakan alat yang tertanam pada tubuh mereka. Sehingga jika salah satu dari mereka memutuskan untuk lari maka hidupnya akan terancam!"
"Bukannya kamu bilang tidak bisa menciptakan dalam wujud sekarang ini, robot?" tanyaku penuh selidik.
"Ada alasan yang tidak bisa aku jelaskan maupun aku kasih tahu padamu Anita, jadi untuk sekarang ini kamu tenang saja. Nikmati melihat rekan baru kita ini menggunakan kemampuan miliknya."
"Sebenarnya aku masih penasaran pada alat yang ditanam pada tubuh mereka, dan akibat yang ditimbulkan jika saja mereka memutuskan bunuh. Yah. Untuk menjawabnya aku bisa melihatnya sekarang."
Wanita itu ambruk setelah melesat cepat untuk kabur, dia pun kesulitan dalam berdiri. Yang menurutku alat tanam tersebut dialiri oleh listrik.
Pada tahanan yang lain sementara dalam kendali Lina lagi hanya saja untuk wanita yang kabur tersebut dibiarkan begitu saja.
Dia tetap memaksa berdiri meskipun aku melihatnya dengan teliti seperti dirinya melawan alat tanam tersebut dengan tekad dirinya.
__ADS_1
Dia lalu menaikkan sarung pedangnya sebagai aba-aba jika dirinya menyerah untuk kabur, itulah aku tangkap dari penglihatanku saat ini.
"Sepertinya dia kapok untuk mencoba kabur lagi," ucap Lina.
"Belum, orang sepertinya pasti memilih untuk menyerah sementara, untuk kedepannya dia tidak past akan tetap setia pada kita."
Mendekati dengan langkah gontai wanita itu menuju kemari yang membuatku bersiap-siap jika saja dia hendak menyerang secara tiba-tiba.
Brain maupun Ryu hanya terlihat tenang menunggu kedatangan wanita ahli pedang pilihanku tersebut, aku lihat tidak ada kekhwatiran di wajah Ryu sama sekali.
Berbeda dengan Lina yang nampak khawatir dan gelisah meskipun dia unggul pada situasi sekarang ini. Yah. Tapi belum tentu harapan seseorang akan sama seperti ekspektasinya.
"Aku menyerah, kalian menang sekarang. Jadi tolong lepaskan sesuatu yang ada didalam tubuhku!" ucap wanita tersebut terlalu dekat dengan Brain. Entah mengapa dia bisa mengetahui bahwa Brain yang telah membuatnya seperti ini.
"Tentu saja aku akan melepaskan sesuatu itu, asalkan kamu sendiri bersedia membantu kami dalam rencana penyerangan raja!" jawab Brain.
"Cih, sebelumnya aku berpura-pura menerima karena menunggu kesempatan untuk kabur saat kalian lengah, ternyata kalian jauh lebih pintar dari yang aku kira. Maka dengan terpaksa aku bersedia membantu."
"Oke, aku pegang kata-kata itu, jika saja saat dirimu keluar nanti dari dalam cincin ruang ini dan dirimu pada situasi harus memilih untuk membantu kami antara hidup dan mati, lalu kamu memilih mengabaikan rekan maka... Aku langsung membunuhmu dengan sesuatu yang ada didalam dirimu itu!" ucap Brain pada wanita itu menekankan kata pada ucapannya di akhir.
Tak lama setelahnya, enam tahanan pilihan yang menjadi rekan mulai berlatih kemampuan miliknya. Aku sendiri sedang bersama dengan pria berkemampuan dan wanita ahli pedang.
Masing-masing tahanan pilihan berdampingan dengan orang yang telah memilihnya.
"Wanita tangguh, aku bolehkah dirimu aku jadikan objek untuk membuktikan kemampuan luar biasa milikku!" ijin pria berpenampilan menarik pada wanita ahli pedang.
"Boleh saja, setelah dirimu aku cincang menjadi beberapa potongan. Lalu aku beri makan hewan buas!"
Menurutku wanita ini memiliki sifat arogan dan tidak mau diganggu pada saat dirinya merasa tenang oleh orang. Dalam artian sesuatu yang penting saja yang akan dia terima.
"Heh, sifatmu seperti diriku yang dulu, bahkan lebih kejam lagi dari kamu katakan tadi. Sebenarnya aku pernah men..."
"Udah cukup. Tunjukkan kemampuan mu kepada dirimu sendiri saja, tidak masalahkan!" ujarku sekaligus mencegah pria ini mengoceh tentang kegilaan yang telah dilakukan olehnya.
"Oke, lihat baik-baik pakaian yang aku kenakan akan berubah."
__ADS_1
Dalam waktu dua detik saja pakaian pria ini berubah menjadi pakaian aktor terkenal, sepertinya.
Berulang-ulang hingga diriku memutuskan agar dirinya menunjukkan kemampuan fisik yang dimiliki olehnya.
Kini pria itu meregangkan otot-otot tubuhnya sepertinya leher dan jari tangan. Yang kemudian mendekati pohon menjulang tinggi setinggi rumah lantai 2 serta ukuran pohon ini lumayan mengejutkan menurutku dibandingkan pohon di dunia tempat asalku.
Brakk!
Hanya serangan kelima jarinya tanpa mengepalkan tangan pria ini bisa melubangi pohon tersebut dengan mudah. Dan diriku bahkan sempat terperangah.
"Palingan hanya melubangi pohon saja, tidak lebih dari penebang kayu," cibir wanita ahli yang ahli dalam menggunakan pedang.
"Oke, lihat sekali lagi, dan jaga wanitaku agar tetap terlindungi dari serpihan pohon ini!" ujarnya membuatku kesal karena mengatakan kepada bahwa aku ini adalah wanitanya.
Wanita ahli pedang ini menuruti perkataan pria itu dan sekarang ini tengah bersiap-siap seperti halnya hendak menghalau serpihan pohon besar yang entah akan diledakkan atau dihancurkan dengan cara lain oleh pria itu.
Aku amati dari dekat ternyata wanita ini hanya memegang sarung pedang saja, sementara didalam sarung pedang tersebut tidak ada pedang miliknya.
"Pedangmu hilang atau..."
"Hancur. Huh... dihancurkan oleh seseorang saat aku menghadapinya!" jelas wanita yang membelakangi diriku ini.
Dharr!
"Aku tidak salah liat kan, dia menghancurkan pohon dengan tiga jari saja. Itu sangat mustahil. Bagaimana dia bisa melakukannya, apa kemampuan fisiknya sekuat itu?"
Srak!
Srak!
Srak!
Serpihan pohon yang melesat ke arahku dengan arah yang sulit untuk dihalau semuanya sekarang di singkirkan oleh wanita ini.
Dirinya sebelumnya maju kedepan lalu melompat diantara serpihan pohon di udara dan mengubah arah serpihan agar tidak mengarah padaku.
__ADS_1
Aku terpukau pada kecepatan dirinya yang di seperkian detik setelahnya tidak bisa aku lihat dengan mata normal.