
Geisha dan Nie masih dalam keadaan baik-baik saja terlepas dari aksi penyerangan di kamar tadi sebelumnya. Rupanya mereka sedang tertidur pulas berduaan bersama.
Aku rasa ruangan ini kedap suara, itulah mengapa mereka tidak mendengar suara kebisingan yang di timbulkan dari suara-suara penyerangan tadi.
"Mereka berdua kelihatannya kelaparan, dilihat dari raut wajah Nie dan Geisa saat sedang tidur, seperti menahan rasa laparnya," ucapku seraya menghampiri tas ransel yang aku taruh di kursi.
Meskipun mereka berdua memiliki kemampuan khusus tetapi mereka juga manusia biasa yang harus makan dan minum.
Kecuali mereka memiliki kemampuan beda dari yang lain, tidak makan dan minum pun masih bisa hidup.
Karena di dunia ini membuat para penghuninya bukan sekedar merasakan sensasi yang berbeda dibandingkan saat hidup di dunia alternatif.
Melainkan banyak sekali aturan dan rintangan demi menjalani kehidupan di dunia yang keras ini, berbanding dengan realita yang sebenarnya sebagai konsekuensi atas tindakan mereka sebelum berada di dunia ini.
Ketika aku memikirkannya aku mala menyesal kepada diriku sendiri yang juga melakukan aksi tidak terpuji tersebut.
Alasan aku melakukan bunuh mungkin karena rentetan kehidupan di dunia atau mungkin karena psikologis ku yang terganggu. Itupun mungkin karena sebab tertentu juga. Alasanku itu tidak bisa aku simpulkan dengan pasti sebab hanya pemikiran ku saja.
Aku harap ketika aku mengingatnya kembali aku tidak akan terkejut sama sekali. Dan menyesal karena telah memilih jalan tersebut.
"Kurasa situasi mulai aman, dan raja kini belum menemukan tempat persembunyian ini. huh... tapi aku masih memikirkan Kino, si pus, Noel, dan pria pembawa sabit itu terus..."
"Satu persatu orang maupun yang ada di dekatku mulai menghilang dari pandanganku, biasanya aku tidak merasakan emosi apa-apa namun sekarang ini aku sedikit khawatir, apalagi memikirkan tentang mereka."
"Coba aku lihat apa saja yang aku bawa didalam ransel ku, aku lupa-lupa ingat," aku pun mengecek kembali kedalam tas ranselku.
Beberapa menit setelah aku selesai memasak, Geisha bangun dan beranjak menghampiri ku.
"Kamu bisa memasak?"
Pertanyaan tabu ketika aku dengar darinya.
"Emm.. aku masih belajar, lagipula karena situasi tadi perutku jadi lapar jadi... aku sempatkan memasak sekalian buat kalian juga."
"Makasih banget ya, sayang. Kamu perhatikan banget sama kami, ternyata. Hmm, lalu dimana dua orang itu dan pangeran yang melakukan perjanjian denganmu?"
"Iya, sama-sama. Sebenarnya tadi ada sedikit kekacauan..."
"Kekacauan, kekacauan apalagi?"
"Ya, tadi Siniken orang yang meniru Willy memberontak hendak lari, jadi ketika kamu tidur terjadi konflik antara pangeran dan Siniken yang berusaha lari dari sini!"
"Kamu... sepertinya aku melupakan sesuatu. Apa ya, hmm?" Geisha menatapku dengan pandangan mata sulit aku artikan.
"Mungkin karena pertarungan dan aksi kejar-kejaran tadi, jadi..."
"Enggak, bukan itu. Oh, iya kamu sebelumnya menunjukkan sikap jati dirimu yang asli kan?"
" ...itu karena situasi, aku sebenarnya juga nggak mau kak!" balasku beralasan.
__ADS_1
"Tapi aku sudah mulai mengerti orang sepertimu, Anita. Lagipula kita ini hampir sama, kemungkinannya begitu, hanya saja aku lebih tua darimu!"
"Aku hanya mau sarankan agar kamu berubah! Sebelum semuanya terlambat."
" ......"
"Kalian tidak mengajakku sekalian!"
Pangeran pun datang dalam bentuk dirinya lagi. Dan di belakangnya ada Siniken yang mengekori.
"Dia? Bukannya...?"
"Tenang saja, Putri. Sebagian tubuhku telah masuk dan mengendalikannya dari dalam, sekarang ini dia lebih terlihat seperti orang mati!"
"Ya, kamu luar biasa pangeran," pujiku kepada pangeran yang di balas dengan senyuman dan tatapan intens darinya.
"Kalian kenapa jadi akrab begitu?" tanya Geisha yang penasaran kepada kami karena terlihat begitu akrab.
Aku pun mulai menjelaskannya.
Hingga malam hari aku pun masih tidak bisa tidur sama sekali. Tempat ini memang nyaman untuk di tempati karena fasilitasnya yang mewah dan sengaja dibuat sebagai bunker tempat perlindungan dari bencana kiamat.
Hanya saja aku merasa tidak tentram saat ini.
Ketika aku bertanya kepada pangeran tentang tempat ini, di menjelaskan letaknya sangat tersembunyi karena berada di dalam tanah. Belum lagi kedalamnya yang mencapai gedung lantai dua.
Belum lagi di otakku banyak pikiran tentang rencana awal dan aksi penyelamatan Kino. Sepertinya baru kali ini aku bersih keras untuk menyelamatkan seseorang, padahal aku tidak mempunyai hubungan apa-apa dengannya.
Apa aku jatuh cinta kepadanya? Ya. Itu tidak mungkin karena aku menganggapnya seperti seorang sahabat bagiku.
Lalu Noel dia tidak terlihat lagi setelah kejadian yang dibuat dengan sengaja oleh Tuan Mizu.
Lalu si pus hilang karena aku melupakannya. Atau bisa jadi dia tertinggal.
Terakhir pria berkemampuan sabit yang malang itu.
"Ya, ampun... benar sekali kenapa aku tidak bisa tidur sekarang! Karena aku terlalu banyak memikirkan hal-hal seperti itu ketika berusaha untuk terlelap."
Tok! tok! tok!
"Buka saja, pintunya tidak di kunci!"
"Kamu belum tidur?"
"Terus kamu mau ngapain kesini, sama saja menggangguku kan!" ketus ku karena masih kesal belum juga mengantuk.
"Ya... aku kesini untuk melihatmu saja, tidak ada maksud lain. Tapi apa kamu ingat dengan perjanjian kita sebelumnya?"
"Aku melupakan tentang perjanjian itu dengannya!?"
__ADS_1
"Bukannya kamu memintaku untuk membawamu ke tempat yang paling aman bersamaan dengan mereka, lalu setelah aku menempatinya kamu mau menjadi istriku secara sukarela, begitu kan katamu?"
"...aku mau tanya satu hal kepadamu, sebenarnya yang kamu omongan saat itu benar atau kamu sedang membohongi ku?"
Flashback on
"" ...itu karena situasi, aku sebenarnya juga nggak mau kak!"
"Tapi aku sudah mulai mengerti orang sepertimu, Anita. Lagipula kita ini hampir sama, kemungkinannya begitu, hanya saja aku lebih tua darimu!"
"Aku hanya mau sarankan agar kamu berubah! Sebelum semuanya terlambat."
Flashback off
"Kurasa aku harus memperkecil kebohongan ku."
"Emm aku boleh jujur kan?"
Aku sedikit ragu untuk berterus terang kepadanya, apalagi sorot matanya persis seperti orang yang mau mengintimidasi.
"Sebenarnya aku asal bicara saja!"
Meski pangeran terlihat tampan namun aku tidak tahu apa yang ada di balik wajah aslinya. Apalagi dia sudah berumur ratusan tahun.
"Tidak apa-apa."
"Huh!? Dia beneran ngomong begitu, kalau iya aku selamat."
"Apa pangeran tidak sedang bercanda!" ucapku sambil menatapnya penuh selidik.
"Itu karena aku sudah sangat benci terhadap cinta palsu!"
"Pangeran apa belum memiliki istri?" tanyaku untuk memancingnya serta karena penasaran dengan kata-katanya tadi.
"Belum sama sekali."
"Ya, ampun kebohongan seperti apa yang dia ucapkan kepadaku seperti ini. Jelas-jelas dia memiliki istri yang sangat banyak sebelumnya!"
"Tapi aku dengar pangeran pernah punya seorang istri dan bahkan lebih dari satu!"
"Hey, Putri. Sebenarnya seperti apa yang orang bicarakan kepadamu tentangku, mengapa mereka bisa mengatakan hal seperti itu?" seraya pangeran mencoba begitu dekat denganku.
"Pertama kamu ini berumur ratusan tahun, kedua orang yang paling berdusta, ketiga memiliki banyak wanita, keempat wajahmu sebenarnya sudah tua!"
"Ups, aku mala keceplosan."
"Heh... siapa yang menyebarkan gosip seperti itu. Biar aku ceritakan kisah asliku yang sesungguhnya, dengarkan baik-baik dan jadilah gadis yang patuh!"
"Siapp!!" kali ini aku hanya bisa menurut.
__ADS_1