
Sesuatu mengejutkan melintas berasal dari arah kastil itu seakan hempasan gelombang yang melesat dalam radius tertentu, mampu memberikan sensasi bagi orang yang tak sadar terlewati gelombang barusan.
Tak sabar ingin cepat sampai, aku pun mempercepat langkahku menuju kastil yang nampak tenang-tenang itu. Terlihat sepi entah ada orang atau tidak didalamnya.
Dikarenakan gelombang tadi nuansa sunyi sepi pada kastil itu malah lenyap berganti ketertarikan rasa penasaran menggebu pada diriku, tentang sebuah pertanyaan "apa yang terjadi didalam kastil megah itu" dan diriku harus mengetahuinya.
Hampir dekat dengan pintu utama diriku maupun yang lainnya dihadang oleh dua orang pria.
"Kalian pasti ingin menganggu jalannya perebutan tahta, tidak akan ku biarkan kalian seenaknya masuk!" ucap salah satu pria itu dengan ekspresi serius penuh penekanan dalam setiap perkataannya.
Dia bilang menganggu jalannya perebutan tahta, artinya hal itu berhubungan dengan Luu yang mana dia tidak terlihat lagi sampai saat ini.
Serta aku berasumsi kakak beradik sedang bertarung demi memperebutkan kekuasaan, hitam dan putih.
Ting!
"Bodoh. Memangnya dengan kata-kata payah itu bisa membuat kami tunduk huh, dimana otakmu, pria sok kuat!" sementara salah satu dari rekanku memprovokasi pria yang berucap tadi sembari menyerangnya menggunakan senjata.
Ting! ×10
Mereka lalu beradu senjata pedang melawan tombak.
Splash...
Wuggh...
Brakk!!
Selagi salah satu dari mereka fokus bertarung dan memilih untuk berduel dengan rekanku tadi yang memprovokasi kemudian pergi meninggalkan tempatnya. Diriku langsung saja menyerang pria satunya.
Di lanjutkan dengan serangan pemukul seperti gada yang digunakan oleh pria dari rekanku, hanya saja pria itu masih sempat menghindar dari serangan mendadak dan tajam itu.
"Repleknya sangat bagus, kalau begitu aku coba dengan serangan jarak jauh yang akan mengepungnya!"
Di saat waktu senggang sementara rekanku yang bersenjatakan pemukul terus menyibukkan pria itu, diriku sedang mengumpulkan air berasal dari air mancur.
Kini sudah berkumpul dan menyatu bak air bah, melayang di udara lalu aku kendalikan ke arah pria itu.
"Minggir dulu!" ujarku pada rekanku. Lalu dia dengan sigap memahami apa maksud dari perkataan ku, bersamaan dengan itu dia melakukan gerakan mundur dadakan.
Target kini sudah dalam kepungan air dari berbagai sisi.
Byurr...
Splash...
Splash...
Tenggelam dalam air bertekanan tinggi dengan putaran layaknya tornado sembari aku cepat kan putarannya.
"Hei... kamu hebat sekali, bagaimana caranya kamu lihai dalam mengendalikan air, itu sangat keren dan menakjubkan!" ucap pria dari rekanku sempat-sempatnya memberiku pujian pada skill mengendalikan air yang kulakukan, padahal aku dibantu oleh sebuah tongkat. Tapi sepertinya dia tidak menyadarinya.
Splash...
__ADS_1
"......"
Bruk..
Tidak menyangka akan ada serangan kejutan seperti ini langsung saja membunuh rekanku dalam sekejap lantaran kepalanya berlubang terkena cipratan air bertekanan tinggi.
Aku merasa ngeri saat darahnya mengenai wajahku, karena sebelumnya dia rela melindungi diriku agar tidak terkena cipratan air itu.
Harusnya aku yang berada di posisinya sekarang.
Dia begitu mudah mengorbankan nyawanya demi seseorang yang belum lama dikenalnya, sehingga membuatnya mati secara mengenaskan. Sebenarnya apa yang terjadi?
Bukannya pria tadi sudah aku lumpuhkan dalam air itu yang mungkin saja dia sudah tercabik-cabik.
Tapi bagaimana bisa ada serangan air bertekanan tinggi tadi.
Kemungkinannya ada dua, ada orang yang memiliki kemampuan mengendalikan air, atau bisa saja pria itu masih hidup dan menggunakan air tersebut sebagai serangannya.
Air layaknya tornado itu entah mengapa tidak bisa aku kendalikan lagi dan sangat susah saat mengendalikannya.
Wos...
Crak.
Wos..
Crak.
Malahan cipratan air bertekanan tinggi menargetkan diriku bagaikan panah, karena memiliki jeda.
Yang untungnya dalam jeda itu memberiku kesempatan untuk lari.
Namun sayangnya, serangan berikutnya begitu mematikan dilihat dari kecepatan cipratan air itu yang lebih cepat dari sebelumnya.
Srek..
Srek..
"Ah..!" membuatku meringis kesakitan karena luka yang kudapatkan terasa perih.
Dikarenakan cipratan air itu berhasil mengenai leher dan wajahku, kali ini aku beruntung karena lukanya kecil hanya sebuah goresan.
Berkat kelenturan tubuh dan replek aku dapat meminimalisir dampak mengerikan serangan itu.
Dap..
Dap..
"Huh...!?"
"Sepertinya kamu tidak bisa berbuat apa-apa, kemampuan tongkatmu itu tidak berfungsi untuk sekarang ini!" ucap perempuan yang kini melindungi diriku menggunakan kemampuannya.
Ada penghalang transparan yang menghalau serangan cipratan itu.
__ADS_1
Sebenarnya tiga orang di pihaku bersedia untuk memasuki kastil, sedangkan empat orang menolak untuk ikut.
Mereka pasti bukan rekan sejati Luu.
Dan aku baru saja ingat jika aku mempunyai rekan satu lagi hanya saja tidak kusadari keberadaannya, saat pria itu terbunuh hingga cipratan air bertekanan tinggi mendadak menyerang diriku hingga rekanku yang menjadi korban dan terbunuh sebelumnya.
"Ah iya, aku tidak bisa menggunakannya sekarang," jawabku berterus terang.
"Tidak berguna. Kau membiarkan dia mati mengenaskan hanya karena kelengahan dirimu, ck..!"
"Harusnya aku yang berkata seperti itu, mengingat beberapa waktu lalu perempuan ini tidak membantu diriku!"
"Maaf, aku minta maaf, aku tidak sengaja..." ucapku lagi dengan ekspresi sedih merasa bersalah.
"Cih, kenapa orang lemah sepertimu tidak mati saja. Luu malah menyerahkan gadis manja sepertimu untuk ikut menyerbu!" decak perempuan itu dengan perkataannya yang menusuk diriku.
Perempuan itu lalu balik menyerang ke arah tornado air sumber dari serangan mematikan lagi berbahaya yang dapat merenggut nyawa.
Hingga mampu menghilangkan air tornado itu bersamaan dengan gerakan telapak tangannya yang menutup.
"Kemana hilangnya air itu?" spontan aku langsung bertanya.
"......."
Tidak ada jawaban lagi dan perempuan itu tetap diam mematung. saat aku melihatnya sekilas, ekspresi sedih datang kepadanya.
Yang sebelumnya selalu menunjukkan ekspresi datar kini mendadak sedih.
Daripada menunggu jawaban tadi dan dirinya yang bergerak aku memilih untuk melanjutkan langkahku demi memasuki kastil.
Saat aku sudah memegang pintu utama dan menoleh kebelakang penasaran dengan perempuan itu, ternyata dia sedang menangisi seseorang.
Yah. Seseorang itu ternyata pria yang menyelematkan nyawaku dari kematian.
Pantas saja sebelumnya dia agak kesal dan jengkel kepadaku, di satu sisi dia berusaha untuk menahan amarahnya.
Mengingat lagi dirinya yang tetap melindungi diriku, meskipun tahu penyebab pria itu mati karena diriku yang lengah.
Jujur saja aku merasa jengkel kepada Yanwu untuk sekarang ini, rencananya terlalu membahayakan diriku.
•••
Meski aku sudah berada di dalam kastil nyatanya kondisi tempat ini tetap sama seperti luarnya, sunyi sepi tidak ada siapa-siapa yang menyambut kedatangan seseorang yang memasukinya.
Bahkan sekedar penyerangan diam-diam pun belum menunjukkan eksistensinya.
Aku terus melangkah maju lalu memasuki ruangan demi ruangan.
Sampai-sampai aku merasa ada yang aneh. Diriku terus berjalan tanpa tujuan lalu terus menjumpai ruangan yang sama.
Baru saja aku sadari dan kini malah membuatku bingung.
"Apa aku terkena kemampuan ilusi? Sudah lama semenjak saat itu aku tidak terkena kemampuan jenis ini lagi."
__ADS_1
Tap.. tap.. tap...
Suara langkah kaki terdengar menuju kemari, kurasa aku harus berhati-hati mulai detik ini.