Last Life

Last Life
Kejadian Di Malam Hari


__ADS_3

Hawa dingin menyeruak masuk kedalam tubuhku, meskipun pakaian yang aku kenakan sudah ditambahkan dengan Hoodie.


"Apa-apaan hawa dingin ini, kenapa seperti di kutub Utara?" gumam ku dengan suara kecil sembari menyoroti sekitar tempatku.


Misalnya saja aku mendengar suara gaduh aku pasti langsung mengecek arah suara itu berasal. Dan beralih dari mode tenang penuh kehati-hatian.


Kletak!


"Suara itu!?"


Alangkah terkejutnya diriku saat patung wanita berambut panjang terlihat kehilangan salah satu kakinya.


Kletak!


"Siapa disana!?" ucapku seraya berbalik badan menyoroti sumber suara itu.


Sama seperti yang menimpa patung tadi sekarang patung di depanku kehilangan satu kakinya.


Hendak menggunakan kemampuan ilusi tapi diriku takut jika saja patung yang lain akan hidup, meskipun bukan aku targetkan kepada semuanya.


Kletak!


"Kamu, Hiyaa!"


Jleb!


Mendengar suara gaduh kali ini aku langsung berbalik dan secepat mungkin menyoroti sumber suara. Kini aku menemukan seseorang dengan kedua kaki dan tangan terlihat seperti patung.


Memikirkannya sesaat aku akhirnya paham mengapa patung-patung tadi kehilangan anggota badannya.


Memahami kondisi yang terjadi sekarang aku pun langsung menyerang orang itu dengan kekuatan berlian, menusuknya secara mendadak dengan tusukan berlian.


"Dia pasti orang yang kuat, karena tidak mengerang kesakitan sama sekali saat aku menusuknya. Bahkan saat menjatuhkan tubuhnya dia tetap tak bergeming."


Walaupun serangan dadakan tadi sangat tajam hingga tubuhnya tertusuk namun aku tidak mengarahkan berlian lancip pada titik vitalnya.


"Kamu siapa, kenapa bisa berada di tempat seperti ini. Lalu, kenapa kamu menggunakan tangan dan kaki patung sebagai..." ucapanku terhenti saat dia hendak berusaha untuk bangkit.


Kali ini aku harus waspada pada kemungkinan yang akan terjadi atau yang tidak aku inginkan. Karena orang ini bisa bergerak dengan cepat.


"Berhenti, jangan bergerak lagi. Kalau kamu memaksa aku akan mengurung dirimu!" ancam ku dengan suara meninggi masih menyoroti orang ini.

__ADS_1


"Heh, kau itu siapa berani memerintahkan diriku. Aku sarankan tarik kembali kata-kata mu atau aku akan membunuhmu tanpa belas kasih!" balasnya malah berbalik mengancam diriku.


Ancamannya terlalu berlebihan karena aku hanya menyuruhnya agar tidak bergerak lagi. Tidak lebih buruk dibandingkan ancaman orang ini barusan.


Crak!


"Argh! Kau... beraninya!"


"Aku serius jangan main-main denganku, aku juga tidak berbelas kasih pada orang sepertimu!"


Langsung saja aku menarik kembali berlian lancip pada tubuh orang ini tanpa menyentuh, lantaran dia memaksa akan berdiri dengan aura membunuh yang sangat kuat.


Sekejap diriku dibuat was-was yang untungnya aku mengambil keputusan tepat sebelumnya.


"Baiklah, aku mengerti sekarang. Kemampuan mu adalah ilusi bukan?"


"Hah?"


Bugh!


"Ugh!"


Wos...


"Aduh, perutku sakit. Kemana dia?"


Menyerang perutku tanpa ragu hingga perutku terasa nyeri dan langsung menghilang dari tempatnya. Pukulannya lumayan keras sampai pandangan ku mulai kabur, apalagi aku terhempas setelah terkena pukulannya beberapa inci dari posisi awal.


Aku pun beranjak berdiri sambil melindungi diri dengan pelindung berlian untuk berjaga-jaga dari serangan kejutan misal saja orang itu menyerang diriku kembali.


Dan sangat merepotkan untuk sekarang ini, karena senter yang aku pegang ikut terhempas sehingga aku yang berada didalam pelindung ini dalam keadaan setengah gelap.


Penerangan lain berasal dari berlian. Lalu aku teringat jika aku sempat membawa ponsel.


"Ini dia, untungnya aku sempat bawa ponsel setelah bangun dari tidur tadi. Huh..." ucapku penuh rasa syukur sembari menghembus nafas lega, karena ada kemudahan dibalik kondisiku sekarang ini.


Sebagai persiapan matang-matang aku langsung memfokuskan diri untuk memasuki ingatan orang itu dengan peningkatan kemampuan.


Meskipun beresiko tapi aku terpaksa melakukannya agar karena aku sudah memikirkan antisipasi bila semua patung yang ada di ruangan ini hidup dan kembali menjadi manusia.


Dam!

__ADS_1


Blarr...


Di luar pelindung ini aku merasakan tekanan kuat sehingga suara timbul dari tekanan itu menganggu diriku yang sedang fokus.


Tidak butuh lama hingga akhirnya aku berhasil memasuki ingatan orang itu setelah memalui perjuangan keras.


Sebelumnya, suara-suara gaduh itu seperti sedang diarahkan pada pelindung berlian secara bertubi-tubi.


"Sekarang ini adalah ingatan dimana dirinya sebelum menjadi patung, yah, mungkin saja."


Aku berjalan sembari mendekati orang yang aku yakini adalah seseorang yang menyerang ku sebelumnya. Kini dia dalam kondisi babak belur tengah terduduk.


Dari dekat aku melihat wajah orang yang memaksa orang ini untuk menyerah sambil menodongkan sebuah pistol, diarahkan langsung pada wajah orang yang malang ini.


Hanya saja setelah mereka berdua berbicara dan ada kesempatan bagi orang malang ini untuk menyerang tiba-tiba saja tubuhnya langsung menjadi batu seketika.


Lalu menengok kearah jam sembilan karena mendengar suara seseorang yang mendekati kemari. Ternyata dia yang membuat orang malang ini menjadi batu, lalu pria satunya tersenyum licik dan menembaki patung tersebut.


Sampai menyisakan tubuh dan kepalanya saja, sementara kedua tangan dan kaki orang malang ini yang telah diubah menjadi batu terlihat hancur berkeping-keping.


Kembali pada kondisi sekarang yang akhirnya aku memilih untuk membunuh orang itu lantaran melihat banyak kejahatan keji dirinya di masa lalu.


Sungguh tidak bisa aku maafkan dan dinilai terlalu keterlaluan, tanpa berperasaan, dan sangat sadis membunuh korbannya dibandingkan dengan Lu Yang.


Aku mengambil senter yang tergeletak di lantai masih dalam kondisi menyala, lalu aku melihat tubuh orang ini tergeletak dengan bagian kaki dan tangan dari patung hancur.


"Dia ini orang gila atau berakal cerdik, mengambil anggota tubuh patung lain untuk ditanamkan pada tubuhnya agar dia memiliki kemampuan yang bermacam?"


Hingga beberapa menit aku mencoba memasangkan kembali anggota tubuh pada patung yang seharusnya.


Menggunakan kemampuan berlian sebagai penyatu serpihan anggota-anggota tubuh seperti kaki dan tangan.


"Anita? Kamu kenapa ada disini?"


Aku pun terkejut mendengar suara seseorang yang entah dari suaranya aku bisa menembak dia adalah Gerry.


Aku pun berbalik badan menyorot cahaya senter kerahnya.


"Silau, akhirnya aku menemukan dirimu. Apa yang kau lakukan disini?" ucap Gerry sembari menghalangi cahaya senter yang menyorot ke arahnya.


Aku pun menurunkan senter dan Gerry sudah ada di dekatku.

__ADS_1


"Tenang, tidak usah takut. Aku ini Gerry yang kamu kenal, bukan orang yang menyerupai nya. Maaf karena aku tidak langsung membantu mu sebelumnya yang terjebak ditempat ini. Aku tadi menemukan keberadaan mu karena mendengar suara gaduh!" jelas Gerry yang membuatku yakin jika yang ada di hadapanku bukanlah seseorang yang menyamar.


"Sebenarnya aku kemari karena penasaran pada sesuatu yang mendorongku hingga ke tempat ini, dorongan tersebut di personifikasi kan seperti kemauan diriku yang mungkin saja sengaja dibuat oleh seseorang!" terang ku kepada Gerry.


__ADS_2