
Aku terkejut saat Junjie terkena serangan tajam hingga membuatnya terluka parah pada bagian perut akibat dua tusukan pasir.l sekaligus.
"Tenangkan dirimu Anita, mudah bagiku untuk sembuh. Haa... sepertinya aku tidak bisa menepati janji jika diriku tidak akan terluka saat bertarung, sebagai gantinya aku akan pulang dengan selamat tidak ada luka!" ucap Junjie melalui alat komunikasi, wajahnya yang tersorot oleh tangkapan robot begitu serius.
"Sedang bicara dengan siapa kamu ini? Fokus pada pertarungan!!" sahut wanita itu marah pada Junjie, aku tak habis pikir. Padahal seharusnya aku yang sangat marah padanya, karena telah melukai Junjie.
Tak lama sorotan lain memperlihatkan proses regenerasi tubuh Junjie yang terluka begitu luar biasa. Bagian samping perutnya yang sebelumnya koyak kita rapat kembali.
Dengan kata lain terbentuk seperti semula.
Ternyata apa yang dikatakan oleh Yanwu sebelumnya adalah sebuah kebenaran. Ku harap dengan kemampuan spesialnya itu Junjie dapat mengalahkan ras manusia dewa itu dengan mudah. Melalui sebuah kesepakatan.
Dan semoga saja wanita itu saat dikalahkan tidak mengelak dengan berbagai alasan.
Meskipun dia dalam arena terbilang lingkup kendalinya.
"Hati-hati untuk selanjutnya Jun!" ucapku menekan kata.
"He... senang rasanya dikhawatirkan, calon istri masa depan."
Di saat-saat seperti ini dia malah menggoda diriku membuatku gemas padanya dan ingin memukulnya sekali-kali.
Kemudian aku menoleh kebelakang mendapati ekspresi tidak menyenangkan dari raut wajah Yanwu yang berusaha ditahannya. Sayangnya aku dapat membaca apa yang tengah dipikirkan oleh Yanwu dari mimik wajah.
Dia sepertinya kesal pada Junjie yang sebelumnya berkata kepadaku bahwa aku ini adalah calon istrinya, tentu saja hal itu membuat Yanwu kesal.
Bahkan saat aku melirik Sekai dia juga sama. Mereka dalam level kemarahannya masing-masing.
Kembali melihat layar yang kini pada sorot dimana wanita itu tersipu malu, membuatku jadi bingung.
Yang akhirnya terlintas di kepalaku sebuah ide guna membantu Junjie lewat sebuah kesalahpahaman secara kebetulan.
Sepertinya wanita dari ras manusia dewa itu menyangka jika perkataan Junjie yang menggodaku barusan tertuju padanya.
"Jun, aku mendapati ide. Kamu bisa saja menggunakannya, jadi wanita itu salah paham mengenai perkataan mu yang menggodaku tadi!" terang ku menyampaikannya langsung kepada Junjie.
"Aku mengerti, terimakasih. Tapi berkaitan dengan perkataan tadi.. aku benar-benar serius, bahkan aku memiliki niatan untuk menikahi mu suatu hari nanti!"
__ADS_1
Perkataan dan ekspresi Junjie yang tersorot benar-benar serius saat mengatakannya, sampai-sampai diriku merasa berdebar-debar dan salah tingkah.
Sepertinya wajahku memerah jika aku bercermin sekarang. Kini diriku bahkan malu untuk melihat ke arah layar lagi.
Walaupun jarak tempat dudukku dari Yanwu maupun Sekai berjarak, aku masih bisa merasakan hawa mereka yang menekan.
Ya, aku tidak buta. Beberapa pria di tempat ini aku ketahui menyukai diriku. Entah kenapa mereka mendadak memperebutkan diriku seperti sebuah eksistensi menarik. Mungkin seperti itu.
Dan perkataan Junjie barusan membuat wanita dari ras dewa itu memerah, aku sangat berterimakasih pada robot buatan Sekai karena pintar dalam mengambil momen.
Yang artinya rencana agar membuat wanita itu kalah bisa dengan cara madu.
"Aku tidak percaya dengan perkataan mu... Dasar pria pembohong! Rasakan ini!" ucap wanita itu mengerakan kedua tangannya, membuat banyak serangan tajam dari pasir mengarah pada Junjie.
Saat ini pun aku berpikir bahwa rencana yang aku sarankan pada Junjie tidak seratus persen menggoyahkan hati wanita itu.
Bahkan tatapan matanya saat menyerang dengan serangan mematikan itu begitu aneh.
Seperti halnya cinta yang membunuh.
"Jun!! Hati-hati!!"
Jleb.
Jleb.
Srak.
Srak.
"Hahaha akhirnya aku bisa membalas perasaan cintamu... Sayangnya... aku tidak bisa melihatmu lagi. Menyebalkan!"
"Kenapa.. kenapa Junjie diam saja, jelaskan hal barusan Yanwu!?" ucapku seraya menoleh ke belakang meminta penjelasan kepada Yanwu segera penuh penekanan, dia pasti berhubungan dengan rencana dalam misi ini. Kemudian menyarankannya kepada Junjie, tapi kenapa Junjie harus tersakiti seperti itu.
Dia sebelumnya diam saat serangan pasir tajam itu mendekatinya hingga tubuhnya terkoyak berantakan. Junjie bahkan terlihat tenang-tenang saja.
"Argh. Aku tak sempat mematikan layar karena kejadian tadi. Maafkan aku Anita. Tapi jika aku boleh menjawab Yanwu sepertinya memberikan saran gila kepada Junjie sebelumnya, dan dia menurutinya. Yang pasti ada hal yang membuat Junjie menuruti!" ucap Sekai.
__ADS_1
Aku mendengar perkataannya dengan baik dan kembali melihat keadaan Junjie di sana, sekarang ini Junjie sudah kembali seperti semula. Itu sangat aneh.
Bukannya kemampuan Junjie adalah regenerasi, tapi kenapa hanfunya juga ikut kembali seperti semula?
"Kemampuan diperkuat Junjie bisa mengembalikan sesuatu yang hancur menjadi bentuk awal. Asal bagian dari sesuatu itu tidak lenyap hingga tak meninggalkan jejak sedikitpun!" jelas Sekai.
"Aku mengaku, sebelumnya diriku memang menyarankan sebuah saran kepadanya! Cara yang terbilang gila yaitu membuat tubuh Junjie dijadikan mainan oleh wanita itu sampai dia puas! Yang pada akhirnya mencintai Junjie karena kepuasannya itu!"
Penjelasan Yanwu barusan dia seperti halnya Tanaki yang mempermainkan sebuah sebuah kesempatan untuk mencapai tujuannya.
Dalam hal ini memanfaatkan Junjie dalam misi ini agar cepat menyelesaikan tugasnya dan ras manusia dewa itu mau bergabung.
"Wa.. wa... kamu ini pria yang kejam ya, Yanwu. Anita tidak suka dengan pria seperti itu!" ucap Sekai.
"Tidak. Sebenarnya aku hanya mengatakan rencana itu saja kepada Junjie, tapi siapa sangka rencana itu sudah dia pikirkan sebelumnya diriku menyarankan padanya!" sahut Yanwu serius, aku tahu mata itu tidak sedang berbohong.
Yang artinya Junjie memiliki ide gila yang sama dengan Yanwu, sama artinya dia menyakiti diri sendiri atas kemauannya.
Tapi kenapa dia harus dengan cara gila itu agar membuat ras manusia dewa di misi kali ini bergabung. Harusnya ada cara lagi yang tanpa melibatkan rasa sakit pada tubuhnya.
"Aku menyesal karena tak ikut misi."
•••
Saat ini Sekai terdiam dia tidak berkata lagi, begitupun diriku maupun Yanwu. Kami menyaksikan Junjie yang terus-menerus terluka lalu dia meregenerasi.
Dan wanita itu melukai Junjie dengan berbagai teknik, bisa dibilang sangat keji seperti siksaan pedih.
Sementara yang membuatku tak tahan adalah Junjie yang diam saja.
Aku sempat menyuruhnya untuk melawan agar tak melukai dirinya lagi. Ku katakan masih banyak cara untuk menang dan membawa ras manusia dewa itu kemari.
Tetap saja, Junjie kali ini tidak mendengarkan diriku sama sekali.
"Huft... kamu ini abadi ya aku sama sekali tidak bisa membunuhmu. Bahkan dengan banyak cara sekalipun aku membunuhmu dengan cara menyakitkan seakan tidak ada rasa, baiklah.. aku akan bergabung! Aku mengaku kalah..."
"Baguslah, jika itu mau mu. Kalau begitu mari ikuti aku, kamu seharusnya tidak memiliki urusan lagi dengan kota itu!" sahut Junjie kepada perempuan itu.
__ADS_1
Perasaan lega akhirnya aku rasakan yang sebelumnya sempat hilang lantaran tak bisa aku lakukan.
Hal itu karena bentuk ketegangan saat melihat Junjie dalam keadaan tersudutkan.