Last Life

Last Life
Pemimpin Dalam Bayang-bayang


__ADS_3

"........"


Sekai belum menjawab perkataan ku, saat ku lihat dengan seksama kondisinya sekarang ini tidak memungkinkan bagi Sekai untuk bertarung lagi.


Dan sepertinya dia membutuhkan bantuan untuk beberapa saat ke depan sampai dirinya kembali membaik, setengahnya.


Selagi aku memperhatikan sekitaran dan melihat ke arah pria berkemampuan berbahaya itu, aku membantu Sekai dalam membersihkan wajahnya yang penuh darah.


Sudah ku putuskan, aku berinisiatif untuk melindungi Sekai dari segala serangan terutama dari orang berbahaya tadi.


Kurasa aku akan melawannya tanpa berdekatan langsung dengannya guna meminimalisir resiko terkena efek aura pada dirinya yang mematikan.


Namun jika terpaksa berdekatan dengannya aku lebih memilih untuk tidak berlama-lama didekatnya.


Orang itu kemudian bergerak menyerang diriku, saat aku berada tepat didepan Sekai hendak menaruh plester luka. Untungnya diriku dengan sigap menghindarinya sembari melakukan serangan balasan dari air yang masih aku kendalikan.


Tidak disangka Sekai membantu diriku dan mengiring orang itu ke tempat yang tak ramai lebih tepatnya di taman kastil.


Saat ini, meskipun kondisi Sekai terluka dia tetap memaksa diri untuk membantuku.


Saat ini diriku dibuat waspada pada setiap detiknya, alasannya karena pergerakan orang itu begitu cepat dalam melesat kesana kemari saat berhadapan kembali dengan Sekai.


Bahkan menurut pandanganku hampir menyamai orang-orang yang aku kenal memiliki kemampuan dan skill gerakan cepat.


Dash...


Bugh!


Bugh!


Dash... × 26


Tendangan lalu pukulan tajam mengenai tubuh dan wajah orang itu dalam waktu berdekatan.


Lalu pukulan beruntun Sekai arahkan pada lawannya tanpa jeda sehingga terlihat gerakannya seperti pukulan dari banyak tangan.


Grep..


Bugh!


Kletak!


Pada serangan berikutnya, Sekai menghajar sekali lagi orang itu hingga membuatnya terhempas terseret seret di tanah sampai menciptakan bekas dalam, dan terakhir membekukan dirinya.

__ADS_1


Sementara diriku yang bersamaan melihat pertarungan mereka berdua harus benar-benar serius saat melawan orang-orang yang menyerang ku.


Meskipun mereka ku pastikan memiliki kemampuan biasa, tapi berdampak fatal jika aku lengah.


Splash...


Splash...


Dalam beberapa menit aku berhasil mengalahkan tiga orang secara bergantian.


Saat mengalahkan mereka aku terpikirkan pemimpin kota ini yang sampai saat ini belum menunjukkan jati dirinya. Yang pasti ada alasan mengapa dirinya belum menampakkan diri.


Dugaan asalku mengatakan bahwa dia akan muncul di akhir saat orang-orang di pihakku sudah kelelahan setelah menghadapi para bawahannya.


"Sekai... sini!" ucapku sembari menyuruh Sekai untuk mendekat ke arahku.


Aku kemudian berbisik mengenai dugaan ku tadi padanya.


Sekai memahami, dia lalu berpesan agar diriku berhati-hati saat menghadapi orang-orang yang ada di luar kastil.


"Kamu mau memasuki kastil, bukannya... itu terlalu berbahaya jika sendirian. Aku ikut ya!?"


"Tidak. Kamu tetap disini Anita, sebentar lagi pertarungan disini akan dimenangkan oleh pihak kita. Ternyata rekan-rekan Luu sangat bisa diandalkan, meskipun beberapa dari mereka telah terbunuh sebelumnya."


Yang mana menurut anggapan ku ada sesuatu yang tersembunyi disana, dan belum diketahui olehku maupun Sekai.


Mengingat Luu belum terlihat lagi sampai saat ini. Kemungkinan Luu sedang berhadapan dengan kakaknya, itu kemungkinan terburuknya.


Jika Luu sampai membunuhnya maka misi kali ini akal gagal total, yang seharusnya kami membawa pemimpin kota ini dalam keadaan masih bernyawa. Tapi malah sebaliknya.


Karena rencana Yanwu apabila pemimpin kota itu tidak bisa diajak negosiasi, pilihan lain adalah dengan mengalahkannya. Lalu membawanya hidup-hidup ke kastil terbang milik Sekai.


Untuk saat ini sepertinya cara nomor dua yang akan diambil, apalagi aku memiliki kesimpulan kuat mengenai keputusan pemimpin kota ini.


"Tidak akan bisa diajak bernegosiasi, dikarenakan sifat dirinya begitu angkuh, informasi itu aku dapatkan dari cerita Luu."


Salah satu ras manusia dewa yang mempergunakan kemampuannya sewenang-wenang terhadap orang-orang yang lebih lemah darinya.


Bahkan memanipulasi mereka yang memiliki kemampuan luar biasa dan level tinggi untuk tunduk kepadanya, dengan suatu hak setara dengannya sebagai pemimpin kota.


Kota yang besar untuk sebuah kota aktif dengan penduduk yang rata-rata adalah orang-orang yang terjebak akibat rumor baik mengenai kota ini.


"Bukan begitu Anita, aku cuma khawatir pada keselamatan dirimu. Kamu pasti mengerti ras manusia dewa itu kejam dan bengis!"

__ADS_1


"Kamu mungkin saja akan dijadikan sandera jika saja aku lengah, dan hal itu sangat tidak kuinginkan sama sekali," imbuh Sekai memperingati diriku mengenai resiko yang bisa saja terjadi kepadaku apabila mengikuti dirinya.


Blarr...


Dash...


"Mereka mengetahui kita ada disini, sebaiknya kamu kembali ke tempat tadi. Di sana rekan Luu mungkin saja sudah menyelesaikan pertarungan melawan orang-orang kastil di luar!" titah Sekai penuh penekanan kali ini.


Tidak mengharuskan diriku untuk untuk pergi bersamanya.


"Argh!!"


"Ughh!!"


Dia lalu pergi sembari mengalahkan orang yang hendak mendekati diriku sekaligus menghadang dirinya.


Kembali berjalan menuju area sebelumnya aku sama sekali tidak memiliki mood untuk melawan mereka.


Malah ku biarkan rekan-rekan Luu yang mengurusnya.


Kini mereka hanya tersisa tujuh orang dari yang sebelumnya berjumlah dua belas orang.


"Kamu sangat cantik, apa mungkin pacarnya Luu. Tapi aku tidak percaya sih dia memiliki pacar secantik dirimu!" ucap salah satu dari mereka seorang perempuan berambut pirang.


Saat ini orang-orang dari pihak musuh lebih tepatnya yang berada di area tak jauh dari kastil berhasil dikalahkan oleh mereka.


"...aku bukan pacar Luu..." sahutku sembari mengibaskan tangan ke arah mereka yang kini melihat ke arahku, sungguh, sangat canggung sekali.


"Bukan ya, padahal aku sudah membayangkan kalian akan menikah suatu hari nanti," ucap perempuan itu mengatakan hal yang harusnya tidak dia katakan.


"Hahaha, dia memang bukan pacarnya Luu. Aku sudah membaca ekspresinya!" timpal seorang pria bermata biru dengan pakaian musim panas.


Beda dengan tiga orang lagi dari mereka yang nampak sedih, mungkin saja berduka atas meninggalnya rekannya yang terbunuh.


"Hei... bagaimana kalau kita memasuki kastil itu. Kemungkinan lawan lain pasti menunggu disana!" ajak pria bermata biru itu kepada rekannya yang lain. Jujur saja aku sangat menyetujuinya.


Hanya beberapa dari mereka yang setuju termasuk diriku.


Menuju ke arah Kastil megah yang dihiasi oleh bunga-bunga nan cantik itu.


Sayangnya pemimpin dari kastil itu tidak mencerminkan keindahan dari bunga-bunga.


Dharr!!!

__ADS_1


Suara ledakan disertai gelombang kuat membuatku terkejut.


__ADS_2