Last Life

Last Life
Keputusan Sepihak


__ADS_3

Situasinya kini mulai mengkhawatirkan, aku hanya berharap Nie dapat menggunakan kemampuannya. Entah karena memang kami sedang apes atau karena kebetulan semata. Si empunya rumah mala pulang kerumahnya saat ini.


"Kalian...?"


"Umm..."


"Apa ada yang salah Erlan dengan para pembantu mu?"


"...Mereka melakukan tugasnya dengan baik!"


"Eh!? Si empunya mala bilang begitu. Bukannya dia berbohong untuk membantu kami?"


"Begitu toh, ya sudah bapak mau pulang sekarang!"


"Iya pak, makasih sudah berkunjung."


"Hm sama-sama."


Berlalu pergi bapak itu tadi. Kini kami mala dihadapan pada situasi canggung didepan si empunya rumah.


"Terimakasih banyak telah mau membantu kami..." ucapku berterima dengan sopan.


"Tidak apa-apa, lagian hari ini mood ku sedang baik. Bisa kalian ceritakan kenapa kalian bisa masuk ke rumahku?" tanya si empunya, dia seorang pria yang memakai pakaian persis seperti penjaga gerbang. Itulah yang membuat kami merasa canggung beberapa saat yang lalu.


"Apa kalian ini orang yang dicari-cari?" cecar si empunya saat aku hendak mengerakan mulut untuk menjawab perkataannya tadi.


"Nie!" Kwen memberi aba-aba kepada Nie. Dan disaat Nie akan menggunakan kemampuannya pria itu mala berkata.


"Terserah kalian mau disini sampai beberapa lama pun aku, tidak peduli sama sekali. Yang penting sekarang ini kalian jangan ganggu hariku yang sad ini!"


"Aku lihat kamu ini seorang penjaga gerbang wilayah ini, mengapa kamu bisa pulang sepagi ini? Apa kamu shift malam?" ucap Kwen setelah lama mematung, diakhir kata ia bertanya kepada pria tersebut.


"Tidak. Hari ini aku baru saja di pecat dari pekerjaanku," sahutnya dengan ekspresi sedih agak menunduk.


"Kamu baik-baik saja kan, kelihatannya kamu seperti terhempas ombak yang sangat besar?" Nie ikutan nimbrung dengan kata-kata yang barusan ia ucapkan.


"Bagaimana tidak, pekerjaan yang sudah lama aku jalani tiba-tiba hilang begitu saja. Itupun karena kesalahan kecil!"


"Jadi dia ini beneran penjaga gerbang ya, hmm kayaknya aku merasa bersalah sama dia."


"Teman, bagaimana jika kita berpesta sebentar demi menghilangkan pikiran menganggu di kepalamu. Lagipula kamu memiliki PlayStation, kita bisa bermain dengan itu!" kata Kwen asal bicara, kurasa bukan waktu yang tepat untuk membantu seseorang meskipun dia terlihat butuh di semangati.


Sambil ku dekati Kwen aku mendorongnya dengan siku untuk memperingatinya.


Kwen lalu diam, dia sepertinya sedang memikirkan sesuatu.


"...kamu apa tidak marah, sepertinya kamu mengetahui kita ini orang yang dicari-cari?"

__ADS_1


"Huh? Barusan Nie mengatakan..."


"Ya, aku sudah mengetahuinya. Namun untuk apa aku bertindak, karena aku tidak akan bisa kembali kesana lagi. Mereka sudah menekankan bahwa aku tidak bisa kembali walau aku harus memohon dan berjuang keras sekali lagi!"


"Bukannya dengan kamu mengabari mereka bahwa orang yang dicari-cari sedang ada dirumah mu, kamu bisa memperbaiki diri, bisa saja kamu akan diterima lagi?"


"Untuk apa, aku tidak mau menjadi pahlawan kesiangan! Sudahlah. Aku mau makan sekarang."


"Nie kayaknya sedang memastikan, bahwa orang ini benar-benar terbukti jujur tidak melaporkan kami. Namun jika dia melaporkan pun, dia tidak memiliki kesempatan pada akhirnya."


Aku pun berinisiatif menyiapkan makanan dan lauk untuk pria itu makan, walaupun begitu aku harus berterimakasih padanya.


Jam di dinding menunjukkan pukul 07:12 kini saatnya aku dan yang lain pergi mengingat ada misi yang harus cepat-cepat diselesaikan.


"Tunggu dulu! Apa kalian tidak butuh beberapa informasi dariku, yang menyangkut tentang penjaga atau alasan lain kalian datang kemari?"


Pria itu menahan kami dengan perkataan yang mengiurkan, yaitu berhubungan dengan informasi yang dia miliki.


"Boleh, kami minta informasi darimu. Karena kami masih sempat," sahut Kwen di balas dengan anggukan oleh pria itu.


"Pertama-tama ada yang ingin aku bicarakan, apa kalian aslinya berjumlah empat orang?"


"Iya, kami datang ber..." tunda omongan Nie.


"Pagi tadi, ketika aku masih disana di markas pusat pengawasan. Ada pria seumuran denganku yang menyelinap masuk ke markas. Dia membuat kekacauan dengan menyerang kami secara membabi buta!"


"Mungkin dia adalah salah satu teman kalian, aku lihat dia menggunakan kemampuannya!"


"Kemampuan menghilang maksudmu?" Kwen langsung bertanya.


"Tidak. Itu lebih berbahaya dari yang kau sebutkan tadi. Kemampuannya menghilangkan orang lain!"


"Apa!? Dia bisa menghilangkan orang lain?"


Nie bahkan terkejut setelah mendengarnya dari pria itu. Meski begitu, aku masih belum mempercayainya seratus persen.


Dan jika omongan pria ini benar, maka tidak salah lagi. Hiyou menggunakan peningkatan kemampuannya.


Boom!!


"Suara ledakan?"


Dari arah perkotaan terdengar suara ledakan yang cukup besar, lalu diiringi dengan pemberitahuan yang dapat terdengar dari tempatku saat ini.


"Peringatan kepada seluruh warga setempat di himbau untuk segera menuju ke tempat evakuasi!"


"Aku harap itu bukan Hiyou yang mengacau, ... yang

__ADS_1


"Tuan Erlan? Apa markas pengawasan tidak berisi sesuatu yang disembunyikan?"


"Sesuatu yang disembunyikan... maksudmu senjata itu!"


"Ah, akhirnya aku mengetahuinya. Kemungkinan orang yang mengacau itu sedang mengincar alat paling kuat yang dapat mengalahkan ras manusia berkemampuan hanya dalam sekejap!"


Tring...trin...


"Sepertinya mereka membutuhkan aku kembali!"


"Benarkah, mereka mau kamu kembali ke sana? Aku sarankan kamu tidak kembali!" ucap Kwen berpendapat.


Bom!!


Boom!!


"Maaf, sepertinya tidak bisa. Ini bukan berarti aku ingin dapat kembali ke sana lagi. Tapi karena aku peduli terhadap warga sekitar yang ada dikawasan strategis itu!"


"Baik sekali kamu ini..." kata Nie sembari tersenyum.


"Hah? Aku tidak bisa menggunakan kemampuan ku!"


"Gawat! Sepertinya kita akan dihadapkan pada situasi menyulitkan!" gerutu Kwen.


Bergegaslah pria itu pergi sembari menyampaikan perpisahan kepada kami dengan lambaian tangan.


"Kamu. Sudah berjanji kan akan menjaga kami?" ucap Nie kepada Kwen dengan raut wajah khawatir.


"Tsk, sepertinya kita akan mengandalkan kemampuan kita selama hidup dunia!"


"Tapi..."


"Tenang saja kak Nie, aku nyakin kita akan aman-aman saja. Asalkan kita bersembunyi untuk sementara!"


"Bersembunyi? Bukannya itu... ah! Aku punya ide!"


Sampai di persimpangan jalan raya, kamipun berhenti sejenak menuruti rencana Kwen. Kwen bilang dia memiliki ide cemerlang untuk dapat sampai ke tempat tujuan dengan cepat tanpa dicurigai.


Jangan tanya kami sampai di sini dengan berlari, malahan tadi kami menggunakan jasa taksi demi menuju jalan raya.


Dan biaya yang kami gunakan untuk membayar kendaraan tersebut adalah uang tabungan milik pria itu. Sebelumnya Kwen masuk kembali kedalam rumahnya dan keluar dengan tabungan keramik yang ia bawa.


"Lihat bukan. Disini tampak sepi, bahkan mobil-mobil dibiarkan kosong!"


"Apa ini rencana kamu Kwen?" tanya Nie mewakili.


"Sepertinya kamu benar gadis, kita akan berkendara menuju tempat itu dengan mobil-mobil ini...!"

__ADS_1


"Ya, ampun... apa Kwen dulunya seorang kriminal ya?" tanyaku dalam hati karena tak habis pikir dengan keputusan Kwen.


__ADS_2