
Pagi ini aku berinisiatif untuk pergi mencari makanan di pusat perbelanjaan, yang tentunya ada maksud tertentu mengapa saat ini aku mengajak pria itu.
Dia orangnya lumayan baik dan ramah, hanya saja sedikit malu-malu kepadaku. Mungkin karena berhubungan dengan masa lalunya saat disekolah.
Selain pintar dia juga jago dalam urusan menggambar. Apalagi lukisan yang ia gambar dan aku lihat dikamar tadi lumayan bernilai seni ketika aku amati dari dekat.
Dan Kemarin malam dia banyak bercerita tentang dirinya kepadaku tanpa takut aku mengekspos nya kepada orang lain.
Setiap cerita ia ceritakan tanpa ragu, meski ekspresinya berubah-ubah di setiap pergantian cerita.
Di perjalanan aku bertemu dengan seseorang yang tak asing dengan rupanya. Dia adalah pria yang waktu itu menghadang aku dan Noel saat di perjalanan menuju markas organisasi.
Masih sama seperti sebelumnya, dia membawa sabit ditangannya yang mirip seperti malaikat pencabut nyawa.
Kali ini ia mengenakan Hoodie hitam dan tudung yang menutupi kepalanya.
"Kita bertemu lagi!"
Teng!
Dia menghentakkan pegangan sabitnya di tanah, lebih tepatnya seperti hendak menancapkan nya. Lalu menggerakkan tangan nya entah dengan maksud dan tujuan apa, kemudian ia langsung menghampiri ke arah kami.
Saat ini aku masih memikirkan apa maksud sebenarnya dia melakukan itu. Dan kelihatannya dia bermaksud baik-baik dengan meninggalkan senjata miliknya.
"Kalau gini aku mengandalkan Kino, dia pasti memiliki teknik khusus, karena dia masih tenang di saat pria itu mendekat secara perlahan kemari."
"Mungkin takdir telah mempertemukan kita kembali, karena aku selalu bermimpi setelah kita berpisah sebelumnya, kali ini. Aku akan mengungkapkan perasaanku kepadamu, bahwa aku sangat.. sangat.. menyukaimu!"
"Emm... tapi..."
Tidak diduga pria ini mengatakan perkataan romantis diiringi pengakuan cintanya kepadaku, meskipun begitu, belum tentu benar apa yang dia katakan.
Jadi jika saja ada laki-laki yang mengatakan janji manis maupun perkataan manis secara langsung atau terang-terangan. Lebih baik dipertimbangkan dulu dan tidak langsung percaya begitu saja.
"Kamu ini siapa? Datang-datang langsung menyatakan perasaan?" ucap Kino kepadaku pria itu.
"Heh.. aku lupa ada orang lagi, aku peringatkan kau lebih baik jangan ikut campur. Atau kau akan kena masalah!"
"Coba saja kalau berani! Lagipula... kami sudah melakukan itu."
"Apa kamu bilang!!!"
"Beraninya kamu ini melakukan..."
"Apa tidak boleh orang sepertiku merasakan rasa cinta dan kisah asmara?"
"Apa yang kamu bicarakan??"
"Jelas-jelas Kino berbohong kepada orang itu, meski perkataannya hampir benar sih. Aku semalam emang tidur dengannya, karena tidak ada kasur lagi yang bersih!"
__ADS_1
"Kino aku minta kamu tidak memprovokasinya, karena pertarungan apapun itu akan mudah dilacak atau dicurigai!" ucapku sambil berbisik.
"Cih, ternyata kalian sudah sampai pada tahap itu. Kalau begitu tidak ada cara lagi kecuali paksaan, jadi persiapkan dirimu!"
"Aaah aku..." pria itu menekankan kata dan menunjuk dengan jari jemarinya kepadaku.
Dan di detik pria itu hampir menyerang tiba-tiba saja saja Kino mencegahnya dengan kemampuan yang dia miliki.
Tentu saja pria itu dibuat bergerak mundur dengan gerakan sebelumnya yaitu mengulang waktu dimana dia pernah melakukan gerakan, pembicaraan, dan tindakan yang telah dilakukan.
Pada dasarnya kemampuan Kino adalah memutar waktu kembali secara perlahan.
Di tengah penggunaan kemampuannya, Kino berujar agar aku pergi menjauh sejauh mungkin karena bisa saja hal yang tidak diinginkan terjadi.
Sayangnya, di saat aku akan menjauh dan menoleh sekilas kebelakang. Sabit yang menancap di tanah tadi bergerak ke arah Kino seolah hendak menyerangnya.
Yang mengharuskan Kino untuk menghindari sabit yang menyerangnya itu, namun ada yang janggal. Mengapa kemampuan Kino bisa ada celah?
Pria dengan sabit itu pun menyerang Kino secara membabi-buta dengan gerakannya yang cepat, hampir sama sekali aku tidak bisa melihatnya.
Beberapa saat setelah asap dari tanah mulai menghilang terlihat Kino yang tergeletak di tanah dan sudah dalam keadaan tercincang.
"Ugh.. !!?"
Pemandangan yang sangat sadis yang pernah aku lihat selama beberapa tahun terakhir.
"Dan jangan hiraukan lagi jasadnya itu, karena! Hewan-hewan akan memakannya hahah."
"Kejam sekali kamu ini, kalau begitu aku nggak mau ikut!"
"Heh, beneran nggak mau ikut. Kamu mau ya sepertinya?"
"Aku... aku tidak mau..."
"Ya sudah ikut, apa susahnya!?"
"Iyaa."
Untuk sekarang ini aku memilih untuk mengamankan diriku terlebih dahulu karena kondisi yang mendesak. Dan sebisa mungkin aku harus mematuhi pria ini, yang telah membunuh Kino dengan sekali serangan.
"Harusnya aku membantunya tadi, tapi kakiku masih ragu untuk berhadapan dengan pria itu."
Namun disaat aku hendak meninggalkan jasad Kino tiba-tiba burung-burung mendekati jasadnya.
"Jangan...! jangan mendekat!"
Meski aku berusaha mengusirnya, namun tetap saja burung-burung memaksa untuk mendekati jasad Kino. Aku pun harus merelakan jasadnya di hinggapi para burung.
"Huh!?"
__ADS_1
"Apa yang terjadi, kenapa kamu masih hidup Kino?"
Badanku dibuat merinding ketika Kino dalam keadaan baik-baik saja berada dihadapan ku sekarang ini.
"Tidak mungkin? Aku nggak dalam ilusi lagi kan?"
"Tidak Anita! Sebenarnya tadi adalah penglihatan mu beberapa saat kedepan. Jadi aku menggunakan kemampuan penglihatan masa depan ku kepadamu, agar kamu bisa langsung melihatnya!"
"Jadi semua yang aku lihat tadi?"
"Semuanya memang sudah terjadi disana, benarkan? Mungkin ada hal buruk yang menimpaku. Itulah mengapa kamu sangat terkejut saat melihatku sekarang ini."
Kemudian di perjalanan Kino menceritakan bahwa kemampuan yang dimilikinya berhubungan sekali dengan keinginannya sebelumnya.
Dia mengaku jika samar-samar dia mulai mengingat kembali ingatan dirinya di masa lalu. Sebelum dia terjebak di dunia yang aneh ini.
Lalu alasan dia menggunakan kemampuan mata penglihatan kepadaku adalah untuk memastikan berapa waktu kedepan dia tidak menghilang dari dunia ini, karena ada firasat buruk yang dirasakan oleh Kino sebelumnya.
Setelah itu aku pun sama menceritakan penglihatanku kepadanya.
Kini kamipun melalui jalur yang berbeda agar tidak berpapasan dengan pria itu.
"Lalu kenapa kamu tidak melihat masa depan mu sendiri?"
Karena pertanyaan ini mengganjal didalam hati, aku pun langsung berterus terang.
"Bukannya itu berbahaya!"
"Huh? Bahaya?"
Langkahku terhenti dan menatap Kino dengan penasaran.
"Bukannya itu sama saja misalnya aku melihat memory masa laluku saat menggunakan penglihatan masa depan!"
"Jadi begitu."
"Pusat perbelanjaan ada disekitar sana, sebentar lagi akan sampai!"
"Oh, ya Kino. Aku masih heran sama supermarket maupun mall yang ada di dunia ini. Kenapa ya makanan-makanan selalu ada disana? Harusnya kan... sudah tak tersisa."
"Aku faham maksud perkataan mu. Jadi saat ini wilayah perkotaan yang luas ini sebenarnya masuk kedalam kemampuan spesial ku!"
"Kemampuan spesial, maksudnya...?"
"Ada semacam bagian kemampuan ku guna mengembalikan makanan dan minuman yang ada di sana, meski kamu sudah menghabiskan seluruh makanan di mall dalam satu hari. Tapi esok harinya makanan itu akan ada."
"Hah!? Beneran bisa melakukan itu? Memangnya kenapa kamu mau melakukan hal merepotkan itu?"
"Aku kasian sama mereka yang pertama kali terbangun dan berada di tempat ini. Pasti mereka kebingungan dan tidak tahu harus melakukan apa, kecuali satu. Mengganjal perutnya yang lapar."
__ADS_1