
Bagian 2:
Bab Tak Berjudul
Pagi-pagi sekali Zoe harus bangun mengingat matanya masih mengantuk setelah tidurnya hanya empat jam saja. Tangannya bergerak lincah meracik kopi dan membuat sarapan pagi untuk kakaknya dan ayahnya. Tepat pukul enam kurang lima menit kakak dan ayahnya turun dengan senyum semrina.
" Ayah, beberapa minggu lagi Yuli ada acara Vergadering!*" ucap Yuli kakaknya tersenyum kearah ayahnya.
** Vergadering adalah acara sekolahan yang mempertemukan antara orang tua dan anaknya untuk*
menunjukkan kemampuan mereka. Biasanya ini terdapat di sekolah menengah atas.
" Oh ya, kapan itu?" sambil menyeduh kopi yang dibuat Zoe sebelumnya.
__ADS_1
" Minggu depan yah!" jawab Yuli senang.
" Iya, nanti ayah datang!" Jawab ayahnya memberi sepotong roti yang sudah disiapkan di meja. Yuli berdecak senang mendengarnya namun ketika Zoe duduk untuk sarapan keduanya menunjukkan muka masam ketika dirinya duduk untuk sarapan. " Hey, kenapa kamu duduk?" ucap Yuli ketus kearah Zoe.
" Saya ingin sarapan kak!" Jawab Zoe merendah. tiba-tiba ayahnya mencampakkan cangkirnya kearah anak kandungnya itu. Lantas tangan kanan Zoe menangkis sehingga pecah berderai di lantai.
" Sarapan?! Enak sekali kamu mengatakan dengan mudahnya didepanku! Pergi, jangan muncul di hadapanku! Bersihkan ini, kamu hanya pembantu rendahan!" ucap Ayahnya menatap tajam kearahnya. Yuli tersenyum sinis dia menurut saja ketika ayahnya menarik dirinya untuk diantar ke sekolah. Dalam hati kecilnya dia
menangis walau matanya berkaca-kaca. " Pembantu rendahan!" itu adalah kata terkasar yang pernah di dengarnya. Dirinya bertanya-tanya, dimana letak hak seorang anak? Dimana letak kebahagian seorang anak? Dimana? Aku sadar, aku banyak mengkhayal tentang kebebasan. Ayahnya pergi bersama kakaknya meninggalkan sendiri Zoe yang membersihkan pecahan cangkir itu. Tetesan darah yang keluar dari lengan kanan Zoe menetes membuat lantai kotor bercak darah. Dia sudah tidak peduli dengan luka nya itu, itu sudah biasa dan mungkin itu tidak terasa sakit bagi Zoe sendiri.
^_^
Setengah jam berlalu, Zoe duduk setelah setengah jam berlalu. Mata Lila melirik iba kepada Zoe gadis yang menurutnya misterius itu. Saat jam makan siang tiba, Zoe langsung pergi ke toilet segera mungkin dengan wajah tertunduk. Lila yang tak sengaja melewati meja Zoe terkejut matanya melihat ada cairan merah di lantai
__ADS_1
mejanya. Dia mencoba mengecek kalau itu hanya minuman tumpah namun nyatanya dia terkejut kalau itu adalah...darah!.
Kakinya mengikuti tetesan darah yang tidak di perhatikan siswa lain. Lila mempercepat langkahnya dan terus mengikuti jejak bercak darah itu dengan hati-hati. Zoe berjalan gontai dan bingung kenapa pandangannya kabur dan buram. Akhirnya dia sampai di belakang sekolah belum sempat langkah kakinya melangkah ke tempat
persembunyiannya Zoe jatuh pingsan untungnya Lila menangkapnya jika tidak mungkin tubuhnya akan terkena kerasnya kerikil batu.
^_^
Mata Zoe terbuka perlahan sejenak setelah kepalanya terasa sakit. Tangannya memijat kepalanya yang pusing itu. Namun matanya heran kenapa tangannya bisa diperban? Padahal sebelumnya luka bekas pecahan cangkir itu tidak sempat dia obati ataupun dia perban sebabnya waktu tengah memburunya. Matanya menatap tajam ke ruangan di sekitarnya mencoba mengenali ruangan itu. Dirinya tengah berada di ruang UKS, matanya melihat secarik kertas tengah bertengger di meja dekatnya.
Hey, jangan banyak pikir! Ini makanan untukmu, makanlah!
-A
__ADS_1
Alis Zoe terangkat begitu OSIS memberinya perhatian namun huruf A kapital di bawah surat itu menandakan nama penulisnya, aku tidak mempermasalahkan itu. Aku mengambil makanan itu kemudian memakannya dengan pelan hingga tandas, itu karena aku belum sama sekali sarapan. Tanpa sepengtahuan Zoe sepasang mata tengah mengawasinya sambil tersenyum, " Enak?".
Hari itu aku tidak tahu kalau itu adalah awal cerita dimana aku mulai mendapatkan teman. Aku memang tidak tahu siapa A itu tapi aku tidak mau memusingkan kepalaku mencari tahu siapa A itu. Jika kalian tahu siapa A itu, beritahu aku!