
"Aku lupa perjanjian yang kamu bilang waktu itu," dengan jujur aku menjawab.
"Baru sehari saja kamu sudah lupa, biar aku ingatkan lagi, kemarilah!" seraya wajahku mendekati telinga Willy karena dia memberi isyarat.
"Kamu akan aku jadikan kekasihku."
Dan benar saja tebakanku dari awal bahwa Willy menginginkan aku untuk menjadi kekasihnya, hanya saja apa harus perjanjian ini dibicarakan sekarang.
Willy lalu menatapku lekat sepertinya sedang menunggu jawaban dariku. Beruntungnya dalam situasi dimana aku memikirkan alasan logis untuk menolaknya, Yanwu berucap bahwa dia merasakan ada yang kemari.
"Dia disekitar sini!" ujarnya namun aku sama sekali tidak melihat pangeran ataupun pergerakan seseorang.
"Apa mungkin karena suara hujan yang membuat pergerakan pangeran terendam hingga tidak terdengar?"
Sementara Kino tetap dalam keadaan tenang tidak seperti Willy dan yang lainnya, sekarang ini mereka terlihat waspada. Kemungkinan besar menurutku Kino sedang melihat masa depan.
Blas...
Keluar air bah dari dalam tanah secara tak terduga hingga membuat kami semua tenggelam didalamnya.
Blup...blup...blup...
Entah kenapa aku tidak bisa mengerakan tubuhku sekedar untuk berenang agar dapat keluar dari dalam air, seperti ada yang ingin menahanku.
"Aah.. nafasku sudah..."
Blash...
Tap.. tap..tap..
"Air bah tadi...?" ucapku sedikit kesusahan karena kemasukan air.
Uhuk! uhuk!
Tanpa sadar aku baru terbangun setelah ingat beberapa saat yang lalu aku pingsan karena kemasukan air.
Dan baru kali aku pingsan hingga tidak tahu apa yang terjadi selama aku tidak sadarkan diri. Didekat ku hanya ada Kino sementara yang lain tidak diketahui keberadaannya olehku.
"Kino..."
"Syukurlah, kamu sudah bangun, sebelumnya kamu pingsan 41 menit 34 detik!" terangnya membuatku mengeryitkan dahi.
__ADS_1
Uhuk! uhuk!
"Huu.. kemana yang lain?"
"Kamu ini. Pikirkanlah dulu dirimu!" tegas Kino kepadaku, aku faham dia sedang mengkhawatirkan diriku. Yang bahkan aku sendiri tidak memikirkan diri sendiri.
"Sebelumnya kamu pingsan setelah banyak kemasukan air, itu sangat aneh, karena air yang masuk kedalam dirimu sangat banyak setelah dipompa hingga keluar!" Kino menjelaskan kejadian yang tidak aku ketahui.
"Lalu..." ucapku ingin mendengar hal lain dari Kino.
"Tentu saja kami segera melakukan pertolongan pertama, bahkan memberimu nafas buatan."
"Hem, pantas saja mulutku merasakan sensasi."
"Tunggu, bukanya kamu pingsan saat itu?"
"Iya aku pingsan, tapi sensasi nafas buatannya masih aku rasakan sekarang. Btw siapa yang memberiku nafas buatan tersebut? Pasti perempuan itu kan...?"
"He... sebenarnya Willy yang memberikan nafas buatan tersebut!"
"Apa!? Kenapa bisa dia yang melakukannya?" ucapku ketus seraya memegang kerah baju Kino.
"Ah.. maaf. Aku terkejut saja kenapa bisa dia, harusnya diantara pilihan paling cocok jatuh kepada perempuan itu."
Karena pasti memberi nafas buatan tidak sekedar memberikan udara dari mulut ke mulut saja, dan bisa saja terjadi ciuman secara langsung. Entah itu dalam keadaan sadar ataupun sebaliknya.
Dan orang yang harus disalahkan adalah Kino yang tidak mau memberi solusi, diakan murid pintar. Harusnya dalam kondisi itu dia memberikan saran terbaik, tapi mala...
"Kenapa kamu nggak saranin perempuan itu aja yang memberi nafas buatan?" tanyaku menatap tajam pada Kino.
"Biar aku jelaskan, jadi setelah air yang mengurung kita tadi pecah ada air melesat kabur dari sekitaran. Membuat Yanwu, perempuan itu, dan juga Willy yang marah karena bajunya basah harus ikut mengejar air itu!"
"Apa Willy langsung mengejar?" tanyaku.
"Iya."
"Hmm tunggu dulu, dari penjelasan mu ada yang janggal. Lalu siapa yang memberi nafas buatan kalau Willy saja ikut pergi, tidak mungkin kan Willy membantuku dulu sebelum bergegas pergi, serta penjelasan mu tadi kan bilang bahwa dia "langsung pergi mengejar" air itu?"
"Sebetulnya aku yang memberi nafas buatan kepadamu, aku tahu aku salah karena berbohong. Jadi, kamu boleh menghukum diriku."
"Humph, kenapa kamu bohong segala sih.. harusnya jujur aja biar enak supaya tidak terjadi kesalahpahaman kedepannya!" nasehatku kepada Kino agar dia bijak dalam berkata tidak berbohong lagi kepadaku dikemudian hari.
__ADS_1
"Maaf aku tidak bisa menjelaskan alasannya, selain demi menyelamatkan dirimu!"
Aku mengerti, jadi dia melakukan itu karena terpaksa. Karena mereka bertiga pergi meninggalkan aku dan juga Kino demi mengejar air melesat itu.
Dalam keadaan seperti itu mengharuskan Kino untuk segera menolongku, lebih tepatnya melakukan pertolongan pertama pada korban tenggelam. Ya. Sebut saja begitu.
Satu hal yang mengganjal di hatiku setelah mendengar jawaban dari Kino kenapa dia berbohong kepadaku. Dia bahkan tidak menjelaskan alasan lainnya itu selain demi menyelamatkanku.
"Hmm bibirku saja rasa masih berbeda tidak biasanya, mungkin Kino memang mengambil kesempatan dalam kesempitan!"
"Jadi berapa lama aku pingsan? tanyaku kembali karena lupa yang Kino katakan tadi.
"41 menit 34 detik."
"Segitunya kamu sampai menghitungnya?"
"Hanya bosan itu saja."
"Kenapa raut wajahnya berubah jadi dinginnya, mungkinkah..."
"Kino? Kamu tidak melihat masa depan yang tragis atau yang buruk kan?" langsung saja aku bertanya untuk segera memastikannya jika Kino berbohong aku akan membaca mimik wajahnya.
"Tidak sama sekali, aku hanya bingung kenapa kamu sebegitu nya ingin menjaga ciuman dari seseorang. Biar aku tebak, kamu pasti menyesal jika ciuman pertamamu diambil oleh orang yang bukan kamu cintai!"
Sontak perkataan Kino barusan membuatku tertegun setelah mendengarnya, membenarkan dirinya yang bisa dengan akurat menebak pencapaian dalam diriku yang selama ini aku rahasiakan dari orang lain.
Ya, tapi dia tidak sepenuhnya benar, karena orang yang aku harapkan untuk mendapatkan ciuman pertama adalah suami plus orang yang aku cintai.
"Baiklah kita sudahi saja, lebih baik kita menyusul mereka bertiga yang pergi kearah jam 3!"
"Iya..."
Splash.. splash..splash..
Ketika berhasil menemukan mereka di suatu lahan yang terdapat gedung-gedung, terlihat mereka bertiga menyerang pangeran secara bersamaan.
Itu saja sudah memberi sinyal kepadaku bahwa pangeran diwaktu ini benar-benar bukan pangeran yang aku kenal di waktu alternatif.
Aku mempunyai alasan yang tepat, pertama dilihat dari waktu mereka saling serang. Kata Kino aku pingsan selama 41 menit yang jika digabungkan dengan pengejaran dan pertarungan mereka bertiga itu sangat lama.
Meskipun ada kemungkinan bahwa waktu pengejaran yang terlalu lama dibandingkan waktu pertarungan, ataupun perkataan yang Kino sampaikan hanyalah kebohongan belaka. Atau mungkin saja dia salah dalam menghitung waktu pingsan ku.
__ADS_1
Kedua, pangeran diwaktu ini kemungkinan bertukar dengan sisi dia yang seharusnya aku temui, dan bisa jadi saat ini yang dilawan oleh Yanwu, Willy, dan perempuan itu adalah pangeran dengan sifat jahat. Memiliki kemampuan yang tidak aku ketahui namun jauh lebih kuat daripada pangeran sisi baik.