Last Life

Last Life
Negara Berperadaban Maju Sayangnya Bertolak Belakang Dengan Status Sosial


__ADS_3

Karena Yanwu mengabaikan diriku saking begitunya aku pun sama sepertinya, tak menyapa setelah beberapa saat berada didekatnya.


"Aah!? um... maaf," ucapku lantaran dikejutkan diri Yanwu yang sudah berada dihadapan ku seakan menghadang jalan. Membuatku mend*sah karena perilakunya ini.


"Kamu memang mirip dengannya, mirip sekali. Apa kamu reinkarnasi wanita yang aku cari-cari?"


Yanwu menatapku intens tak berkedip sedikitpun dan wajahnya begitu dekat sehingga aku bisa merasakan helaan nafasnya.


"Apa yang kamu bicarakan, aku tidak mengerti. Siapa yang kamu bilang reinkarnasi, aku?" tanyaku berpura-pura tidak mengerti. Serta aku harus menghindari bergumam dalam hati yang terlalu menunjukkan maksudku.


Karena Kino mengatakan jika Yanwu sebenarnya bisa membaca pikiran. Itulah mengapa saat aku bersama dengannya dia seakan tahu apa yang aku bicarakan dalam hati di kedua pengulangan waktu.


"Kamu mungkin tidak mengetahuinya, kalau begitu ijinkan aku bercerita sedikit. Sebenarnya aku mencari seseorang yang sangat aku cintai, dan perempuan itu sangat mirip denganmu. Dia menghilang dari kehidupanku sehingga diriku merasa kesepian."


Perkataannya terlalu minim tentang wanita yang katanya mirip denganku sepertinya dia tidak ingin menceritakan wanita itu dengan detail.


Tapi terserahlah, lagi pula wanita itu tidak terlalu penting buatku.


"Terus kamu belum menemukannya sampai sekarang?"


"Belum, tapi aku terus berupaya untuk mencarinya. Tunggu sebentar, misalnya dia bereinkarnasi menjadi dirimu aku tak perlu lagi mencarinya!"


"Terus kamu mau apa?" tanyaku ku buat polos dengan raut menyakinkan.


"Tentu saja menjadikanmu sebagai istriku yang kedua."


Tepat seperti perkiraanku Yanwu langsung to the point tanpa menahan maksud dalam hatinya.


"Apa-apaan kau ini, seenaknya memutuskan seseorang menjadi istrimu. Lihat dia jadi gemetaran!" ucap Sekai datang di saat waktu yang tepat.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan jika aku memaksa?"


"Tch, jangan mengandalkan dirimu itu adalah ras manusia dewa bisa bertindak semena-mena, walaupun perbedaan kita jauh dari segi kemampuan aku tidak akan pernah memaksa seorang wanita untuk menuruti egoku, karena aku menyebutnya orang pecundang!" cibir Sekai begitu serius dengan perkataannya kepada Yanwu.


Yang aku takutkan jika keduanya sampai bertengkar dan itu malah merusak skenario terbaikku untuk dapat keluar dari dunia ini dengan cepat.


"Lantas bagaimana sebutan dirimu yang mengikuti wanita ini, apa aku menyebutmu dengan sebutan penguntit huh!?"


Aku melirik Sekai dari ekspresinya aku bisa menyimpulkan jika dia sebelumnya mengikuti diriku.


"Udah, udah! Kalian jangan bertengkar, kita ini dalam perahu yang sama, kalau kalian tetap maksa bertengkar aku akan keluar dari tempat ini saja, humph."

__ADS_1


"Jangan, jangan!" sahut keduanya serentak.


Pada akhirnya aku berhasil membuat keduanya mengurangi emosi dalam hatinya, walaupun dengan cara ekstrim.


Aku tahu jika keduanya pasti akan mencegahku, makanya aku seberani itu.


•••


Hingga terlihat wilayah tujuan kami dari atas tempat ini yang sebelumnya dikurangi ketinggiannya.


Dari atas wilayah itu seakan negeri dongeng yang begitu maju peradabannya melihatnya saja sudah membuatku tak sabar ingin menjelajah disana.


Bahkan aku melihat pesawat tempur yang bermanuver di udara. Ini pemandangan sangat langka yang aku jumpai di dunia ini.


Namun ada wilayah berbeda yang tidak sama dengan wilayah disebelahnya seakan memisahkan suatu perbedaan kasta atau apapun itu.


Dua wilayah maju dan wilayah dengan kondisinya yang tidak terlalu berkembang dibandingkan wilayah disebelahnya.


"Kita akan turun sebentar lagi, aku ingatkan padamu. Jika dirimu mendarat dengan meriah sepertinya sebelumnya, kamu mungkin akan terlihat mencolok!" ujar Yanwu yang sepertinya menasehati Sekai.


"Oke. Aku memiliki cara lain agar turun tanpa terlihat. Ayo Anita, kita bersiap."


"Apa katamu!"


"Sekai... aku mau cepet-cepet turun, aku sudah tak sabar menginjakkan kaki di wilayah itu..." ucapku lembut sengaja agar kemarahan Sekai memudar.


"Em... baiklah, kita akan turun."


Wajah Sekai terlihat memerah saat menyahut perkataanku.


Menginjakkan kaki untuk yang pertama kalinya di kota aku sangat senang tak dapat aku ungkapkan dengan kata-kata.


Dulu aku pernah berkhayal ingin berada di negeri dongeng dan sekarang khayalan itu menjadi nyata.


Aku maupun Sekai mendarat dengan menggunakan gelembung yang katanya tidak terlihat oleh mata di luarnya.


Di titik perumahan sepi yang dirasa tidak ada orang yang mengetahui kami berdua menginjakkan kaki setelah keluar dari gelembung ajaib itu.


"Waah, luar biasa sekali tempat ini. Bagaimana menurutmu?"


"Luar biasa, luar biasa wilayah ini begitu memukau."

__ADS_1


"Oh ya, dimana Yanwu?" tanyaku.


Tap..


"Sepertinya kamu kalah cepat dariku!" ucap Sekai membuatku memalingkan wajah ke arah suara kedatangan seseorang.


"Aku hanya mencari salah satu ras manusia dewa yang tinggal di wilayah ini, dan aku menemukannya!"


"Hee... kamu sudah menemukannya?" timpalku menatap wajahnya.


"Ya. Dia berada di wilayah sebelah, dimana tempat si miskin berada. Itulah perbedaan status di negara ini!" Yanwu menekankan ucapannya diakhir dengan ekspresi agak kesal yang bisa ku simpulkan jika dia dulunya hidup dalam kesederhanaan.


Serta mengartikan pula bahwa dirinya tidak suka dengan perbedaan status di negara ini.


Beda dengan Sekai nampak biasa saja dengan status negara ini, dia mungkin saja netral tidak berpendapat.


Kami lalu menuju wilayah sebelah dengan menggunakan mobil panjang. Sebenarnya bisa saja kami mendarat langsung disana, tapi mungkin karena aku bilang tak sabar menginjakkan kaki di wilayah ini, Sekai jadi memberiku waktu.


Waktu sebelum serius pada tujuan berada di negara ini.


Untuk Yanwu sendiri aku tidak tahu kenapa dia tidak marah dengan hal itu. Dan transparan ini pun disarankan olehnya.


Dalam perjalanan aku bisa melihat tempat-tempat di wilayah ini "si kaya" pastinya, karena Yanwu mengatakan wilayah sebelah adalah si miskin.


Ada robot setinggi 10 kaki yang berjalan dengan santainya di kerumunan.


Lalu aku melihat seseorang dengan ransel yang dibelakangnya ada empat tangan bergerak sesuai dengan tugasnya.


Yah. Dia seorang koki dilihat dari pakaiannya dan kedai kecil, namun bernuansa modern dan estetik.


Tempatnya pun sangat ramai dikunjungi sayangnya aku tidak bisa mampir lantaran ada hal penting yang harus diselesaikan.


Mungkin saat aku sudah selesai dengan hal penting di negara ini aku akan merayu Sekai untuk mengunjungi kedai tadi.


Butuh dua belas menit perjalanan untuk sampai di wilayah sebelah dan biayanya pun sangat mahal, namun Yanwu menggunakan kemampuan ilusinya kepada seorang supir mobil panjang ini.


Sehingga beliau langsung pergi tanpa meminta bayaran, kasian dia.


Dan wilayah ini benar-benar berbeda dengan wilayah tadi sangat berbeda jauh.


Tapi keadaannya lumayan sejahtera meskipun aku melihat ada beberapa tuna wisma.

__ADS_1


__ADS_2