Last Life

Last Life
Tak Di Sangka Dialah Yang Aku Cari-cari


__ADS_3

Tak terasa aku tidur nyenyak sekali semalam setelah bangun dari pingsan kemudian menanyakan beberapa pertanyaan kepada Junjie.


Setelah itu aku lupa kenapa aku terbangun lagi di pagi hari.


"Sudah bangun, bagaimana, apa lukamu mendingan?" tanya Junjie saat aku beranjak setengah bangun masih di ranjang. Sembari dia meletakkan nampan berisi mangkuk dan cawan diatas nakas.


Aku dibuat terkejut saat meraba bahu kanan ku yang semalam terluka kini tidak kurasakan sakitnya.


Malah saat aku memasuki hanfu karena terpaksa ingin memastikan, nyatanya luka itu sudah tidak ada. Aneh sekali.


"Luka pada bahuku...?" tanyaku sembari menatap Junjie yang tengah duduk di samping ranjang, saat ini aku dibuat kebingungan.


"Sudah aku sembuhkan semalam. Tapi tenang saja, aku tidak melakukan hal buruk padamu, aku berani bersumpah!" jelasnya serius.


"Hmm, tapi kenapa luka parah itu bisa hilang? Ini seperti mimpi..."


"Tentu saja karena diriku menggunakan kemampuan spesial!"


Begitulah penjelasan Junjie barusan aku bersyukur dia adalah orang yang baik, meskipun kemarin telah membuatku kesal berulang kali.


Mengingat kebaikannya aku jadi berubah persepsi padanya, hanya saja aku tidak bisa memanfaatkan keramahan ini.


Aku masih memiliki misi yaitu menemukan ras manusia dewa di daratan langit ini.


Yang sampai saat ini aku belum melihat batang hidungnya sama sekali, apalagi identitasnya itu pasti disembunyikan serapat rapatnya agar tidak diketahui oleh orang lain.


Saat ini aku tengah memikirkan sebuah rencana cemerlang agar aku bisa menyelesaikan misi secepatnya, tanpa membuang-buang waktu lagi.


"Terimakasih ya Junjie, sudah menyelamatkan diriku dan memberiku tempat tinggal semalam! Tapi karena aku masih memiliki urusan aku tidak bisa berlama-lama lagi disini, jadi hari ini adalah perpisahan kita!" jelasku jujur apa adanya, namun sekarang ini aku melihat sekilas raut tidak kerelaan Junjie.


"Tidak. Hari ini bukan hari terakhir kita berpisah, hari itu masih panjang!"


"Masih panjang...?"


"Biar ku tebak, kamu pasti memiliki urusan yaitu mencari seseorang yang sedang kamu cari bukan? Bukannya kemarin kita sama-sama mencarinya, kalau begitu ijinkan diriku membantumu sekali lagi!"


Ingatan tentang kejadian kemarin saat mencari ras manusia dewa itu dengan Junjie kini berputar pada kepalaku, ada plus minusnya.


"Maaf Jun.. aku bisa sendirian mencarinya..."


"Tidak apa-apa, aku senggang hari ini dan akan menemanimu sampai bertemu dengan seseorang itu, ini juga sebagai rasa terimakasih ku karena dirimu menyelamatkan diriku semalam!" paksa Junjie secara halus padaku dia tetap kekeh ingin ikut denganku, dengan dalih rasa terimakasih atas kejadian semalam.

__ADS_1


"Aku..."


Tap.. tap..


Tiba-tiba saja seseorang muncul secara tidak terduga dan langsung saja memasuki kamar ini, dia adalah Yanwu.


Dia baru terlihat lagi setelah perpisahan kemarin, entah pergi kemana aku tidak tahu dan tidak ingin bertanya padanya. Mungkin sedang mencari hiburan bersama wanita lain.


"Siapa kau? Beraninya masuk ke sini dan secara terang-terangan menampakkan diri. Aku pasti akan membunuhmu!" ancam Junjie matanya yang berwarna merah seakan menyala-nyala saat melihat kedatangan Yanwu.


Tap..


"Tunggu, dia bukan orang jahat! Dia adalah temanku!" jelasku sembari menahan Junjie saat dia beranjak.


Junjie menoleh ke arahku.


"Lalu kemana dia saat dirimu kemarin sedang kesusahan mencari seseorang, dia tidak pantas disebut teman!" ujar Junjie yang memang ada benarnya, tapi dia tidak tahu jika Yanwu adalah rekan sekaligus sahabatku di misi kali ini.


"...dia mungkin tidak tahu Jun, jadi kamu jangan bertengkar dengannya ya... aku mohon padamu..." pintaku tulus kepada Junjie.


Detik berikutnya wajahnya langsung berubah, dari rautnya saja aku bisa menebak jika kemarahannya mulai mereda.


"!?"


"Heh.. mengurusi keputusan orang lain tidaklah membuatmu terlihat berwibawa dimatanya!" timpal Yanwu seenaknya kepada Junjie, bukannya dia sedikit sama dengannya.


Terlihat Junjie yang mengigit bawah bibir dengan raut marah kembali.


"Sebentar, ijinkan aku memberitahu kepada dia suatu kebenaran terlebih dahulu!" pinta Yanwu secara spontan mencegah amarah Junjie.


"......"


"Anita, dia itu ras manusia dewa yang kamu cari!" ungkap Yanwu mendadak membuatku terperangah, bagaimana bisa orang yang aku cari-cari kemarin tepat berada didekat ku saat ini.


"Apa maksudmu mengatakan itu penyusup?" tanya Junjie mewakili diriku.


"Aku ini membantunya dari awal dan membantu keseharian mu yaitu membunuh orang-orang jahat dengan sadis!"


Mendengar perkataan Yanwu dan melihat wajahnya yang serius mengatakannya membuatku teringat pada perkataan Junjie semalam. Dia bersama para warga memasukkan para penjahat itu kedalam penjara semalam.


Dan jika aku gabungan kan dengan perkataan Yanwu barusan, artinya Junjie telah berbohong padaku dan melakukan hal buruk kepada para penjahat itu.

__ADS_1


Ya, jika itu adalah kebenaran yang hakiki.


"Apa itu benar Jun? Kamu melakukan hal buruk kepada para penjahat itu semalam?" spontan aku bertanya kepada Junjie untuk memastikannya.


"Ya, aku melakukan hal buruk pada mereka, tapi apa salahnya. Mereka adalah penjahat yang meresahkan! Itulah kenapa aku membunuh mereka semua semalam dengan cara paling mengerikan!"


Terkejut, aku langsung saja beranjak dan keluar dari kamar ini. Entah kenapa diriku tidak seperti biasanya, yang mudah menerima kenyataan seperti itu.


Hal ini mungkin saja karena pengulangan waktu yang aku alami, berakibat pada perubahan diri secara tidak disadari.


Sampai aku keluar dari kediaman Junjie dan berlari tanpa arah untuk menemukan tempat yang pas guna memenangkan diri.


Tak disangka, langkah kakiku terhenti saat melihat pemandangan menjijikkan maupun mengerikan tepat dihadapan ku.


Melihat pakaian yang sama seperti saat para penjahat itu membuatku berasumsi jika mereka mendapati hal buruk semalam dalam berbagai cara.


Tak lain pelakunya adalah Junjie. Serta tempat ini bisa dikatakan tempat baginya untuk menyiksa para penjahat selama ini.


"Anita, maafkan aku yang sudah berbohong padamu..." suara Junjie terdengar dibelakang ku, dia ingin meminta maaf.


Aku menoleh sekalian karena tak ingin melihat pemandangan menyedihkan itu.


"....."


Aku diam saja tidak menjawabnya, rasanya mulutku ini susah untuk ku buka. Sekedar menyahutnya sepatah kata.


"Jangan mendekat!! Aku tidak mau berteman..."


Grep.


Tak disangka Junjie sudah memelukku sebelum diriku menyelesaikan kalimat sebelumnya.


"Kamu tahu Anita, orang yang pertama membuatku ingin berubah dan keluar dari hal buruk yang aku lakukan selama ini. Dia adalah orang yang sekaligus membuatku ingin merasakan cinta pertama kalinya, yaitu dirimu.. aku mencintaimu Anita..." ucap Junjie menekankan perasaannya kepadaku, tak ku sangka lagi-lagi diriku mendapati pengakuan seperti ini.


Dia kemudian melepaskan pelukannya dan menatapku lekat, seperti sedang menunggu jawaban dariku.


Jujur, diriku terasa seperti terbawa arus menenangkan saat ini.


"Aku..."


"Tunggu! Ada misi yang seharusnya diselesaikan dengan tuntas, hal yang tidak penting harus ditinggalkan!"

__ADS_1


__ADS_2