Last Life

Last Life
Kesampingkan Terlebih Dahulu


__ADS_3

Setelah semuanya sudah siap aku pun memutuskan untuk berangkat menuju tempat yang dikatakan tuan Mizu. Tempat dimana seseorang dapat menghapus seluruh kemampuan yang dimilikinya.


Dengan didampingi oleh Willy yang mau membantuku menuju tempat tersebut, hanya saja ada perjanjian antara aku dan dia.


Hingga saat ini aku masih memikirkan keadaan Kino, perasaanku seolah-olah menjadi tertekan ketika membayangkannya di tahan oleh pihak kerajaan.


Di satu sisi aku merasakan sakit ketika mengabaikannya begitu saja tanpa memperdulikan dia.


Meskipun aku ini orangnya licik namun aku masih memiliki hati nurani seorang teman. Sebagai temannya akan kulakukan sebisa mungkin agar aku dapat menolongnya.


Jadi aku kesampingkan terlebih dahulu tujuan awal ku menuju tempat penghapusan kemampuan, sekiranya agar aku dapat menyelamatkan Kino.


Di tengah rimbunan pepohonan liar disekitar ku, ada begitu banyak rumah-rumah yang aku temui. Masih saja pemandangan semu ini aku jumpai hampir setiap hari.


Kota ini sudah dipastikan telah lama di tinggali dan jarang sekali orang-orang yang tinggal disini, apakah mereka belum mengetahui jika makanan dan minuman di setiap pusat perbelanjaan akan selalu ada.


Setelah berjalan sekitar satu jam lebih kamipun istirahat sambil minum dan makan sebentar.


Jarak menuju tempat kerajaan lumayan jauh dari tempatku saat ini, aku mengetahuinya karena Willy memberitahu ku arah menuju kesana.


"Dia bisa dijadikan pemandu sekaligus pelindung."


"Belum apa-apa aku sudah kecapean begini, kalau... aja aku punya kemampuan seperti Noel. Pasti akan lebih mudah sampai, tanpa perlu bersusah payah berjalan," ucap ku dalam hati mengeluhkan kondisi ku yang gampang capek.

__ADS_1


"Apa kamu mau aku gendong?"


"Enggak kok, gapapa. Aku masih kuat..."


"Ya udah terserah kamu saja."


Mungkin aku merasa kecapean karena barang-barang yang aku bawa didalam tasku, didalamnya memang banyak barang yang kubawa sebagai keperluan selama perjalanan.


Si pus dengan nurutnya masih mengikuti, dia begitu nurut sampai-sampai aku gemas kepadanya. Dan dia ini adalah obat pelipur rasa lelah selama perjalananku.


Ketika di perjalanan kami bertemu dengan dua orang wanita mereka masih muda dan terlihat dewasa dengan pakaiannya yang terbuka.


"Ya, ampun apa aku akan berjumpa dengan orang seperti mereka lagi, di duniaku saja sudah cukup mengesalkan!"


"Jadi dua wanita itu temannya Willy ya, tapi kok beda jauh banget. Willy bukannya dua tahun lebih dari usiaku, tetapi mengapa dia berteman dengan wanita yang seperti itu?" aku bertanya dalam hati, apakah mataku salah liat saat ini.


"Ahh? iya apa kabar kalian."


"He kok kalian sih, bukannya kamu selalu memanggil kami "sayang" apa kamu lupa?"


"Enggak enggak! Aku cuma kaget melihat kalian mencariku, benarkan?"


"Ya, tentulah. Kami sangat menghawatirkan kamu tahu...!"

__ADS_1


"Oh, ya. Siapa cewe di sampingmu, dia kelihatan seumuran dengan mu?"


"Dia temanku, namanya Anita. Aku harap kalian dapat akur untuk kedepannya."


"......"


"Kelihatannya mereka membisikkan sesuatu hal tentangku, yang mungkin saja mengenai ruang tempat mereka. Maksudku dua cewek ini menolak aku."


"Kenalin nama aku Keishi."


"... namaku Anita, senang berkenalan denganmu."


"Aku juga senang berkenalan denganmu, kamu imut ya kalau gugup!"


"Aaa.."


"Boleh aku bicara denganmu?"


"Eh?"


"Bukan apa-apa kok. Tapi biar aku luangkan waktu buat mereka, ayo kemari!"


"Huh? Ada apa dia ini. Apa dia mengenaliku ya?"

__ADS_1


__ADS_2