Last Life

Last Life
Dataran Melayang


__ADS_3

Aku menatap agak lama buku itu dari kejauhan yang melayang-layang di udara hingga pergi menjauh dari area terbangnya sebelumnya.


Penasaran dan ingin menangkap buku itu aku pun mengejarnya membuat teringat pada ingatan masa kecilku yang dulu suka mencari dan menangkap kunang-kunang lalu aku bebaskan didalam kamar tempat tidurku.


Perasaan menyenangkan yang mendorong diriku saat itu kini kembali aku rasakan saat melihat buku melayang itu.


Aku kehilangan jejak, buku itu entah melayang kemana. Sebelumnya aku melihatnya menuju ke arah ini, tapi setelah aku cari tidak ku lihat lagi wujudnya.


"Apa barusan cuma imajinasiku saja? Enggak mungkin sih, aku barusan sadar kok..."


Tak jauh dariku aku melihatnya lagi kini aku berlari kecil untuk mendapatkannya.


Beberapa kali melakukan aksi kejar-kejaran pada rak-rak buku di Perpustakaan ini akhirnya aku berhasil menangkap buku ini dalam genggamanku.


Sampul buku ini menggambarkan simbol-simbol astronomi, bahkan ada jam khusus pada sampulnya.


"Ngga ada apa-apa, mesin yang mengerjakannya pun tidak aku temukan. Lalu apa yang membuat buku ini bisa melayang?" gumamku sembari menelisik buku ini dari segala arah.


Tidak aku temukan sesuatu yang membuatnya melayang secara logis itu artinya buku ini memiliki kekuatan magis.


Dan akibat kejar-kejaran tadi diriku jadi lelah sekali sampai-sampai aku duduk untuk membaca buku ini.


Menaruhnya pada kedua pahaku lalu aku membukanya.


Dan sesuai sampulnya, buku ini berisi tentang pengetahuan astronomi. Tidak ada yang membuatku terkejut saat membolak-balikkan nya.


Tapi akan aku pinjam buku ini untuk melihatnya terbang didalam kamar tempat tidurku nanti.


Ku lanjutkan membaca buku yang aku baca sebelumnya sampai jam waktu tidurku telah tiba.


Iseng-iseng aku melihat galeri foto pada ponsel yang aku temukan ini ternyata masih memiliki album.


Yang setelah ku buka aku dibuat terkejut lantaran foto-foto yang sebelumnya aku tangkap di dua waktu berbeda masih tersimpan.


Hal ini membuatku sangat senang seakan mendapatkan hadiah yang di nanti-nanti dan akhirnya mendapatkannya.


Berhubung disini hanya ada diriku aku pun meluapkan rasa senangku kepada diriku sendiri.

__ADS_1


Lagi pula yang paling aku cinta dalam hidup ini adalah diriku sendiri.


Banyak sekali foto yang aku ambil dari tempat yang berbeda-beda ada foto saat diriku bersama rekanku seperti bersama dengan Willy, Yanwu, Noel, dan yang lainnya.


Tempat-tempat terbengkalai yang menurutku asehetic tak luput dari tangkapan kamera dalam ponsel ini.


Semuanya menjadi satu dalam sebuah album di galeri foto aku namakan "kenangan terindah" saat berada di dunia ini.


Melihat jam pada ponsel ini menunjukkan waktu tidur aku pun bangkit dan bergegas meninggalkan Perpustakaan ini.


Hanya saja aku tersesat dalam banyaknya rak-rak buku setelah aku mencari-cari area menuju pintu keluar belum kunjung terlihat.


"Hu... apa aku akan tidur disini malam ini, tapi, nanti kan lantainya bakalan dingin..." gumamku merasa gelisah saat ini berharap ada yang datang menyelamatkan diriku.


Empat puluh menit berlalu aku masih belum menemukan area yang aku cari-cari dalam ruangan besar berisi rak-rak buku ini.


Aku pun duduk meringkuk dengan melingkarkan kedua tanganku pada lutut.


"Disini kamu rupanya, hehe kamu terlihat sangat kesepian dan menunggu seseorang!"


Mendengar suara tak asing barusan membuatku melihat ke sumber suara. Dan ternyata...


"Kamu terlambat, aku sudah menunggumu sangat lama!"


"Maaf, sebelumnya aku sedang sibuk untuk mempersiapkan perjalanan kita besok, sekali lagi aku minta maaf. Dan aku pun tidak akan cepat menemukan dirimu tanpa bantuan buku favoritku ini!" ucapnya sembari menunjukkan buku yang sebelumnya aku tangkap padaku, yang kini terbang disekitarnya.


Di tempat tidurku Sekai menunjukkan hal-hal luar biasa saat dia membacakan buku dongeng yang dibacakannya padaku sebelum aku tidur.


Karena disaat aku menutup mataku apa yang dibacakannya menjadi tergambar dengan jelas, seolah-olah diriku menjadi tokoh utama dalam cerita dongeng tersebut.


Berjudul "Putri malam" kisahnya sangat seru dan juga membuatku merasakan nyaman serta tenang.


Selesai mendengarkan dongeng mataku mulai mengantuk dan aku memejamkan mata di detik berikutnya.


Esoknya aku terbangun dengan badan segar seakan tidur semalam adalah tidur paling nyenyak yang pernah aku rasakan.


Keluar kamar lalu aku melakukan rutinitas bangun pagi seperti biasa..

__ADS_1


Usai melakukan rutinitas di pagi aku tergerak untuk menuju ke meja makan yang di atasnya sudah ada lumayan banyak hidangan tersaji.


Aku bertanya-tanya, apa ini sarapan kelas bangsawan?


Yah. Dan aku merasakannya kembali.


Sama seperti saat itu, masakan buatan Sekai memang tak ada duanya. Bisa setara dengan masakan ibu yang katanya paling enak di dunia. Dan aku sendiri setuju dengan anggapan itu


Selesai sarapan, sesuai apa yang aku katakan pada Sekai kemarin pertama-tama harus mencari Yanwu, salah-satu ras manusia dewa.


Bukan karena Yanwu sudah aku kenal terlebih dahulu yang membuatnya harus terlebih pertama kali didatangi, tapi karena menyesuaikan jarak keberadaannya dengan kastil atau bangunan-bangunan di tempat ini.


"Kalau gitu aku mempersiapkan dulu keperluan penting dalam tasku!" ujarku seraya berbalik.


"Tidak usah, semua ini kita ikut dengan kita dalam petualangan mencari ras manusia dewa!" ucap Sekai yang membuatmu mengerutkan dahi dan menatapnya kembali penuh dengan tanda tanya.


"Maksudmu kamu memiliki sesuatu yang dapat menyimpan barang-barang dalam jumlah banyak, begitu kah?"


Aku menebak jika Sekai memiliki benda seperti cincin ruang milik Yanwu.


"Salah. Sebenarnya dataran tempat ini yang akan membawa apa yang diatasnya! Kamu mungkin kebingungan, jadi kita lihat sama-sama. Ayo ikuti aku!"


Aku pun mengikutinya masih dengan bayang-bayang apa yang dikatakannya barusan.


Kini aku berada di dalam bangunan tertinggi yang ada tempat ini sehingga diriku bisa melihat banyak hal dibawah.


"Aku merasa seperti akan terjadi gempa, kita harus turun dan berlindung!"


"Tidak, tidak itu bukan gempa tapi, terangkatnya tempat ini."


Dari atas aku melihat permukaan terbelah hingga membentuk sayap besar lalu Sekai menunjukkan padaku di sisi lainnya yang sama seperti sisi tadi.


Sampai-sampai aku dibuat tertegun menyaksikan sendiri tempat ini dengan banyaknya gedung-gedung dan saling berhubungan terangkat ke atas.


"Huwaa!? Kenapa bisa begitu...?" ucapku bertingkah seperti anak kecil spontan gara-gara tempat ini terangkat.


Sementara Sekai terlihat menertawakan diriku renyah, dia memang minta aku pukul.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, tempat ini sudah berada di atas ketinggian 20 kaki yang diterbangkan oleh dataran ini sendiri berbentuk burung di bawah tempat ini.


__ADS_2