
Dalam situasi tersudutkan ini aku memutuskan untuk melawan para prajurit yang jumlahnya mencapai seratus orang menurut perkiraan ku.
Bersiap memunculkan pedang berlian dan kemampuan memasuki ingatan seseorang, namun kali ini aku akan menggunakannya kepada banyak orang sekaligus.
Melirik ke arah samping Marin rupanya sudah bersiap untuk menyambut kedatangan mereka secara serentak itu.
"Anita, aku akan melawan mereka di bagian ini, dan kamu sebaliknya. Kurasa lawan kita salah satunya adalah prajurit yang memiliki kemampuan berbahaya, tapi mereka berada pada posisi belakang," ujar Marin kepadaku.
Dari tempatku ini aku juga melihat prajurit yang dibilang oleh Marin mereka tidak ikut menyerang kami secara serentak, tapi berdiri tegak menonton prajurit lain beraksi.
Aku sempat mengedarkan pandangan dan ternyata prajurit tingkat tinggi itu membentuk lingkaran yang mungkin saja diibaratkan sebagai kurungan. Tujuannya tak lain mengantispasi jika salah satu dari kami kabur.
Wuss...
"Marin aku..."
Saat aku menoleh kebelakang Marin sudah tidak ada di sisiku yang padahal satu detik yang lalu aku merasakan hawa keberadaannya.
Crak!
Crak!
Langkah para prajurit terhenti dengan mata terbelalak sama sepertiku, ketika mereka sudah berkurang banyak, atau lebih tepatnya terbunuh dalam sekejap.
Aku yakin diriku belum menggunakan kemampuan milikku satupun, lalu kenapa mereka terbunuh dengan sadis.
Mulutku mungkin sekarang ini membeku sesaat melihat darah dan potongan tubuh prajurit yang berserakan di tanah.
Dan tak salah lagi pelakunya adalah Marin dia mungkin saja menggunakan kecepatan maksimal dirinya dalam bergerak dan menebas para prajurit, entah yang menuju kearah ku maupun mendekati dirinya.
Marin secara tidak terduga bergerak bagaikan hantu yang tak terlihat kehadirannya mampu membantai lawan tanpa diketahui.
Shut!
"Keroco-keroco ini terlalu mudah untuk aku hadapi, sebab posisi mereka itu seakan pihak yang akan menang, sedangkan pihak kita tikus yang tersudutkan. Karena hal itu sebagian dari mereka lengah sehingga mati tanpa rasa sakit!" ucap Marin yang sudah berada di belakangku.
Tetesan darah pada pedangnya terlihat kental.
Apa yang dibilang Marin ada benarnya dan bukan masalah kecepatan luar biasa saja yang membuat mereka mati mengenaskan. Ada penyebab lain, dan itu salah satu persis seperti yang dibilang Marin.
__ADS_1
"Aku memiliki usulan, kita akan kabur setelah prajurit pada jalan di depanmu berkurang drastis. Lalu pada saat itu kita berdua akan bekerjasama sama mengalahkan orang yang menjaga formasi bundar!" ucap Marin berbisik memberikan usulan.
Sebenarnya lidahku agak keluh dan tidak enak melihat pemandangan tak mengenakan disekitar ku yang penuh akan darah dan potongan tubuh manusia.
Aku tidak menyangka jika Marin sekejam itu demi menumbangkan mereka, tapi berkatnya lawan yang aku hadapi di depan sana tidak terlalu banyak.
Terlihat para prajurit membentuk formasi pertahanan dengan jumlah tertentu sekaligus formasi penyerangan, kini mereka terlihat lebih serius dari sebelumnya.
Kurasa formasi pertahanan bisa saja menyerang kami dari jarak jauh dan menghindari pertarungan dari jarak dekat selagi formasi menyerang mendekati diriku maupun Marin.
Wos...
Marin bergerak lebih awal sedangkan diriku memfokuskan diri untuk menumbangkan para prajurit dengan ingatan kelam yang dimilikinya.
Memasuki ingatan para prajurit yang ada di depanku yang sekarang ini mereka sedang mendekat dengan semangat berkobar, terlihat dari raut wajah mereka.
Diriku merasakan denyut kepala perdetik saat memasuki ingatan mereka sekaligus dalam waktu bersamaan.
Bruk!
Bruk!
Sementara saat aku tengok ke belakang tidak ada tersisa satu orangpun yang berdiri, kecuali Marin seorang.
Dia terlalu kuat mampu mengalahkan banyak orang sekaligus, bahkan prajurit tingkat tinggi tidak ada apa-apanya dihadapannya.
Sedangkan setelah aku ketahui jumlah sisa prajurit di depanku yang kini mematung kembali hanya tersisa empat puluh orang, tiga di antaranya adalah prajurit tingkat tinggi.
Hanya saja sampai detik ini aku tidak melihat raja sama sekali setelah kami kabur dari ruangan singgasana, apa raja sebegitu teganya membiarkan prajuritnya mati?
"Hehe kalian berdua memang asli, seseorang dengan kemampuan luar biasa yang mampu membunuh para prajurit dengan mudah. Aku akui kalian hebat, dan kalian pantas mati ditangan ku!"
Salah satu prajurit tingkat tinggi terlihat memakai pakaian serba hitam dan topi ala-ala pesulap mengomentari kami berdua.
Dia bahkan mengancam kami secara terang-terangan dengan ekspresi menyeringai terlihat dari tempatku ini.
Dan dia salah satu orang yang tidak bisa aku masuki ingatannya.
"Biar aku saja yang mengurusnya Anita, kamu cukup diam disini mencoba menumbangkan sisa prajurit!"
__ADS_1
"Umm, tapi sisa prajurit itu sebelumnya tidak bisa aku masuki ingatannya!" sahutku sembari memberitahu keadaan saat ini kepada Marin.
Dia terlihat menghela nafas panjang lalu menyentuh pundak ku.
"Ingat, satu kali kegagalan bukan berarti dirimu akan terus gagal, ada kesempatan yang menunggu untuk diraih."
Setelah menyelesaikan perkataannya Marin pun menghilang dengan kecepatannya yang kemungkinan dia sedang mengincar seseorang.
Swosh...
"Lumayan, kau layak menjadi lawanku," ucap pria bertopi itu mampu menghindari serangan Marin.
Sembari memfokuskan diri memasuki ingatan para prajurit yang tersisa aku melihat pertarungan Marin dengan pria itu.
Lama kelamaan gerakan Marin sangat cepat hingga mataku tidak bisa menangkapnya.
Luar biasanya pria itu tetap berdiri seakan dirinya tidak terkena serangan Marin, sementara orang yang menyerangnya memilih untuk menghentikan serangan.
"Sayang sekali kecepatan seperti itu tidak bisa mengenai ku sama sekali. Bukannya itu penghinaan besar bagimu?!"
Selagi memasuki ingatan banyak orang sekaligus dan berhasil aku masuki diriku masih tetap saja mendengar perkataan pria itu. Padahal wujud astral diriku sedang berada di tempat ingatan seseorang yang berbeda-beda.
Kembali pada diriku saat ini setelah berhasil melakukan tugas menumbangkan sisa prajurit, dan kini yang tersisa hanya tiga orang prajurit tingkat tinggi saja termasuk pria bertopi.
Dua orang itu mendekati pira bertopi berjalan santai dengan auranya masing-masing.
Pria yang memiliki otot kekar berambut panjang dan pria pembawa pedang berambut perak dengan ekspresi datar.
Mereka berdua aku perhatikan tampak berwibawa dan berkharisma.
Brak!
"Eh, Lu Yang? Ka-kamu selamat?" ucapku spontan saat melihat kebelakang.
Lu Yang datang entah dari mana dan aku menduga jika dia barusan loncat kemari.
"Marin kenapa kamu?" tanyaku saat Marin menghunuskan pedangnya tepat di depan leher Lu Yang.
"Dia bisa saja seseorang yang menyamar, bukannya sebelumnya dia berada di ruangan singgasana. Dimana raja dan keenam peserta seleksi ada disana!" jelas Marin.
__ADS_1
Yah. Yang dikatakan Marin ada benarnya. Lu Yang belum tentu bisa mengalahkan raja sekaligus. Jadi siapakah dia?