
Betapa terkejutnya diriku saat melihat kenyataan didepan mata mengarahkan diriku pada pemikiran negatif lantaran Brain saat ini berada di wilayah manusia tidak berkemampuan.
Sama seperti Hiyou yang kabarnya berada di wilayah ini juga setelah Yanwu mencari keberadaannya lewat kemampuan khusus yang dapat mendeteksi keberadaan seseorang bermil-mil jauhnya.
Aku hanya dapat berharap jika keduanya tidak berkhianat sehingga ada kemungkinan mereka berdua saat ini sedang merencanakan sesuatu.
"Tempat ini aku pernah melewatinya, saat aksi kejar-kejaran dengan drone. Saat itu aku menaiki mobil yang dikendarai oleh Kwen."
Melayang di udara seperti hantu aku menyusuri setiap tempat yang diingat oleh Brain tanpa diketahui oleh siapapun.
Sampai ada jalanan yang tak asing bagiku yang pernah aku lewati.
Belum puas menyusuri, kini diriku perlahan-lahan lenyap hingga kembali pada wujud diriku semula. Di sebuah kamar yang sebelumnya aku tempati.
Ternyata yang membuatku tidak fokus selama memasuki ingatan diri Brain adalah ulah si kecil Yin, dia sepertinya menggunakan kemampuannya untuk menyadarkan diriku.
"Apa kakak baik-baik saja, tadi diam aja tidak menyahut. Sampai-sampai aku gunain kemampuan ilusi?!"
"Aku dalam keadaan baik-baik saja Yin, kamu... kenapa memakai gaun minim bahan seperti ini, kalau ayah kamu liat pasti kamu akan dimarahi!" ujar ku memperingati Yin.
"Justru itu kenapa aku kesini, ayah sudah tahu aku memakai gaun ini kak. Makanya aku ngumpet kesini biar nggak ketahuan, untungnya pintu kamar kakak tidak dikunci."
Meskipun begitu aku masih saja ada rasa kesal kepada Yin, namun melihat wajah polos dan lugunya itu aku jadi merasa kasian dan ingin membantunya.
Suara langkah kaki seseorang terdengar menuju kemari, Yin yang mendengarnya langsung bergerak untuk bersembunyi. Sementara aku beranjak dari tempat tidur dan menuju pintu.
"Anita, maaf karena aku mengganggu waktu istirahat mu. Saat ini aku sedang mencari keberadaan Yin, dia harus aku marahi karena memakai gaun terlalu mencolok. Kalau boleh aku mau tanya padamu, apa dia kesini sebelumnya?"
Dan setiap Yin berada didekat ku pasti ada saja kelakuan nakalnya yang berakibat padaku agar diriku mau membantunya.
"Hmm tidak, aku belum melihatnya lagi semenjak kita keluar dari penjara mistik!" terang ku memberi jawaban logis meskipun aku sedang berbohong.
"Ya sudah aku akan mencarinya lagi sampai ketemu."
Setelahnya Ryu melenggang pergi tanpa pamit kepadaku, dia sepertinya sedang marah pada anaknya.
"Huh... Yin ini memang benar-benar anak yang bandel. Apa dikarenakan sifat ibunya turun kepadanya ya?"
Yin langsung keluar saat aku menutup pintu sambil menguncinya dari dalam rupanya Yin sedari tadi bersembunyi di bawah ranjang.
__ADS_1
"Katakan padaku dengar jujur, kenapa kamu memakai gaun ini, dan kamu mendapatkannya dari mana, Yin?" tanyaku sambil bersedekap.
"Aku tidak sengaja menemukan gaun ini di ruang rahasia bawah tanah, lebih tepatnya pintu masuk kesana berada di dalam kamarku!"
"Kamar rahasia hmm, boleh aku mengeceknya?"
"Boleh, asalkan kakak tidak memberitahukan kepada ayah keberadaan ku sekarang. Sama bantu aku supaya tidak kena marah."
Sembari menunjukkan senyum manis aku berusaha untuk terlihat baik dan suka membantu di depan Yin demi keuntungan pribadi nantinya. Membalas permintaannya tadi dengan anggukkan tulus.
Setelah memasuki ruangan bawah tanah aku melihat banyak harta seperti koin emas, mahkota, berlian, dan sebagainya.
Tidak terlalu tertarik pada harta diriku malah semakin penasaran pada ujung tempat ini.
Yin yang masih mengenakan gaun tersebut memilih untuk ikut bersamaku, karena memiliki alasan yang menurutku ingin mengambil banyak gaun dan pakaian disini.
"Peti ini banyak sekali baju anak-anak seumuran denganmu Yin, kamu mengambil gaun yang kamu pakai disini bukan?"
"Iya, aku ngambilnya disitu."
Sebenarnya aku ingin sekali menasehati Yin agar dirinya tidak sembarang mengambil barang yang bukan miliknya, bahkan sampai berani memakai gaun yang dia temukan di dalam peti.
Atau aku tunda dulu nasehat yang ingin aku sampaikan kepadanya.
"Ayo Yin, kita kesana. Ada yang menarik selain gaun itu lho!"
"Eh.. beneran kak?"
"Em, mari kakak tunjukkan padamu."
Sebenarnya agar Yin tidak terlalu sibuk pada gaun dan pakaian pada peti itu aku sampai membumbui ucapanku barusan dengan sedikit kebohongan.
"Patung manusia kak, sangat persis seperti asli. Aku jadi agak merinding, tapi karena ada kakak aku jadi seberani macan."
"Asal kamu jangan sentuh sembarangan ya, kakak mau melihat patung-patung ini dari dekat!"
"Oke, aku mengerti."
Patung pertama adalah patung orang yang hendak memanah berjenis kelamin laki-laki dan berpakaian seperti orang pedalaman.
__ADS_1
Patung kedua hanya berdiri tegak seperti biasa menggambarkan seorang jenderal yang sedang hormat.
Hingga semua patung telah aku amati dari dekat yang ternyata semua patung ini memiliki perbedaan mendasar.
"Kak, tempat itu beneran nggak ada patungnya. Kelihatan banget sengaja dikosongkan."
Ucapan Yin barusan membuat diriku terkejut pasalnya dari deretan patung ada satu tempat yang kosong.
Dan aku masih ingat jika sebelumnya ada patung di sana.
Suasana kemudian menjadi mencekam di dalam kegelapan dengan lilin yang aku bawa ini.
Sepertinya patung itu telah bergerak dari tempatnya yang kemungkinan saja bisa hidup layaknya manusia. Yang aku khawatirkan bukan pada keselamatan diriku sekarang, tapi Yin.
Karena patung yang hilang itu adalah seseorang dengan membawa dua pedang berpenampilan layaknya ninja.
Wus...
Sesuatu bergerak dengan cepat melewati diriku tanpa aku prediksi kedatangannya.
Terpaksa aku memberi pelindung pada Yin dengan mengurungkan pada penjara kecil yang terbuat dari berlian, tak lupa aku beri beberapa celah untuknya bernafas.
"Wah... hebat banget kemampuan kakak, bisa menciptakan rumah kecil untukku yang mengkilap ini."
"Siapa kalian ini, kenapa bisa berada di tempat yang tidak seharusnya. Maka... tidak ada salahnya kalau aku berbuat tidak baik, dan kalian harus menanggung akibatnya!"
"Siapa kamu, tunjukan dirimu sekarang? Jangan cuma berbicara asal dan tidak jelas!" sahutku pada suara laki-laki yang entah dimana dirinya sekarang, wujudnya pun masih aku cari-cari.
"Kau tahu gadis kecil, dirimu bisa aku bunuh dalam sekejap lho!"
"Lantas kenapa kamu tidak membunuhku barusan dengan kecepatan luar biasa dirimu?"
"Itu karena aku masih bermurah hati tidak membunuh wanita cantik sepertimu. Akan lebih baik bermain-main dulu hehe."
Saat-saat seperti inilah yang membuatku agak bergetar ingin lari menyelamatkan diri, namun karena aku pernah belajar beladiri dan guruku dan beliau pernah berpesan agar diriku tidak mudah menyerah, maka aku putuskan untuk melawan musuh dalam bayangan ini semampu yang aku bisa.
"Kakak bicara sama siapa, terus aku kenapa dikurung seperti ini?"
Akhirnya Yin menyadari juga dirinya telah aku kurung yang sebelumnya asyik pada kelap-kelip berlian.
__ADS_1