Last Life

Last Life
Buah Dari Kerja Keras Dahulu


__ADS_3

Pria yang duduk bersebelahan denganku terlihat sangat antusias menonton jalannya seleksi para prajurit saat ini. Dia terus-terusan mengomentari keadaan para peserta yang belum resmi menjadi anggota kerajaan, yang sekarang ini sedang dalam kondisi kesusahan.


Terutama Marin yang menjadi pusat perhatiannya dan saat aku meliriknya dia ternyata adalah orang yang pernah aku kenal sebelumnya.


Namun aku tidak terlalu terkejut dan akan memberitahu hal tersebut kepadanya, karena aku hanya mengenal dirinya sebatas pertemuan sebentar saja, seperti NPC dan pemeran utama novel yang berpapasan di jalan.


Didalam air Marin masih bisa bergerak cepat menghindari serangan air yang dipercepat setiap waktu.


"Marin... semoga saja kamu bisa melewatinya," ucapku berharap yang terbaik untuknya.


Terlihat noda merah pada setitik air yang kemungkinan adalah darah milik Marin.


"Fase terakhir sudah dimulai, sepertinya hari ini adalah hari terakhirnya, atau mungkin hari paling melegakan bagi dirinya jika berhasil selamat!" ucap pria disebelah ku lagi.


Hingga pada momen epik dimana Marin berusaha menghindari serangan air didalam air dengan cara melalui celah dirinya.


Bahkan aku melihat serangan air tersebut hampir saja mengenai tubuh Marin.


"Heh, hebat juga dia. Setahuku dia itu pacarmu bukan?" tanya pria ini kepadaku.


Aku menjawabnya dengan jengah karena kenyataannya Marin itu bukan pacarku. Dan masih saja ada orang yang salah paham terhadap kedekatan kami.


"Bukan. Dia bukan pacarku."


"Hmm begitu ya."


Aku senang melihat Marin dalam keadaan baik-baik saja setelah melewati seluruh level penilaian kedua ini.


Penonton pun terdengar riuh karena memang diperbolehkan untuk bersorak. Sebelumnya aku melihat salah satu dari kesembilan penilai yang tengah berdiri dan memberi aba-aba kepada prajurit.


Aku pun langsung beranjak dari tempatku menuju tempat Marin berada berinisiatif untuk melihatnya yang sedang beristirahat disana.


Sebuah rumah kecil mirip pondok mungkin saja berisi obat maupun sesuatu untuk menyembuhkan luka. Kini aku hendak memasukinya.

__ADS_1


Mengingat sebentar lagi adalah giliran-ku untuk memulai penilaian kedua ini diriku lalu mempercepat langkah untuk melihat keadaan Marin dari dekat terlebih dahulu.


"Hosh... Marin kamu tidak apa-apa kan?" tanyaku setelah sampai dan memasuki rumah kecil ini, yang kelihatannya mampu memuat beberapa orang sekaligus.


Terlihat yang lain dalam keadaan beragam terluka parah maupun sedang, malahan ada dari mereka yang sekarat dan butuh penanganan secepatnya.


"Dia yang sebelumnya tersambar petir di level 5 kasian sekali dia."


"Aku baik-baik saja, tidak usah cemas begitu kepadaku. Rintangan seperti itu hanya bagaikan angin menerpa saja," jawab Marin.


"Em, tapi aku lihat kamu terluka saat didalam air, dan warna darah itu...?" tanyaku penasaran ingin memastikan noda dalam air waktu itu apa benar darahnya atau bukan.


"Sebenarnya itu bukan darahku, aku sengaja menggunakan tanaman berdarah untuk menipu penonton agar tidak terlalu mencolok seperti yang kamu bilang," ucap Marin berbisik mendekat ke arahku.


Akhirnya kini giliran-ku untuk memulai penilaian kedua ini pada level satu dan semoga saja aku bisa melalui level ini dengan mudah dan lanjut ke level selanjutnya.


"Mulai!" ucap seseorang seperti wasit memberi peringatan jika sebentar lagi portal di sekelilingku yang agak jauh dariku akan segera keluar kerikil.


Wosh...


Wosh...


Dan seingat ku fase terakhir pada level pertama adalah kerikil yang berukuran besar dengan kecepatan dipercepat dari sebelumnya.


Saat menghindarinya tubuhku terasa ringan sekali.


Selesai melewati level 1-3 kini level 4 yang aku ketahui bakal menggunakan serangan angin.


Dari sini aku bisa melihat banyaknya pasang mata yang tengah memperhatikan diriku maka dari itu aku harus berusaha yang terbaik agar dapat melewati setiap level.


Selain Marin ada juga orang lain yang mencapai level 7 dan 8 itu artinya aku harus memasuki level 8 minimalnya untuk mendapatkan juara 3-2 agar mendapatkan kepercayaan dari penilai dan berkesempatan bertemu langsung dengan raja.


Tapi tak menutup kemungkinan di babak ketiga ini akan ada orang yang melampaui penilaian Marin nantinya.

__ADS_1


Di level ini aku dibuat agak sebal karena serangan angin dengan tekanan yang begitu kencang bisa menganggu pakaianku.


Apalagi dalam penyamaran ini aku menyamar sebagai wanita juga. Karena peserta asli seleksi yang dicegah oleh Lisa dan rekannya salah satunya adalah seorang gadis.


Sampai aku memasuki fase terakhir yang akhirnya aku berhasil melewatinya tanpa luka dan cidera hanya penampilan diriku saja yang berubah karena terpaan angin.


Setiap level berhasil aku lalui tanpa sadar aku sudah memasuki level 7 dimana serangan selanjutnya adalah api.


Mengingat peserta lain yang mampu melewati level ini aku jadi sedikit tidak khawatir karena kecepatan serangan pada level ini tidak terlalu cepat seperti di level 6 dengan serangan elemen es.


Menurut informasi dari orang itu katanya serangan api tidak terlalu cepat, karena setiap serangan itu melesat dan dihindari maka area berdekatan dengan serangan itu akan dibuat merasakan rasa panas.


Disesuaikan dengan waktu yang terus berjalan. Di fase terakhir level ini pun lumayan sulit untuk dilewati.


Tak lama aku memutuskan untuk menyerah pada level 8 ketika akan memasuki fase terakhir, karena aku tahu bahayanya fase terakhir di level ini.


Penilaian lalu dilakukan secara keseluruhan dari setiap orang yang berhasil melewati setiap level maupun menyerah sebelum menyelesaikannya.


"Oh ya, dimana orang sombong itu. Dari tadi aku tidak melihatnya lagi?" gumam ku sambil menunggu keputusan para penilai. Dan mencari sosok yang aku sebutkan.


"Dia sebelumnya mengalami cidera parah aku yakin sekali, bukannya kamu melihatnya di babak kedua?" sahut Marin dan bertanya balik kepadaku.


"Iya sih, cuma aku terlalu sibuk melihat penampilan mu saat di arena. Jadi tidak sempat melihat orang sombong itu."


"Bagus, itu adalah keputusan yang tepat, karena dengan dirimu melihatku ada kesempatan dirimu meniru trik menghindar dari serangan di setiap level," ucap Marin. Dan benar apa yang dikatakannya


Tak lama satu perwakilan penilai menyampaikan nilai pada setiap prajurit yang masih berdiri tegak sampai sekarang, termasuk diriku yang masih dengan semangat membara. Meskipun aku tidak sempat memasuki level 9 saat di arena.


Marin mendapatkan sebuah pujian langsung dari salah seorang penilai karena dia berhasil merebut posisi pertama untuk yang kedua kalinya.


Sama seperti Marin dan tipis dari sebelumnya kini aku mendengar penyampaian perwakilan penilai jika aku mendapatkan nilai 75 juara 3 sayangnya tidak mendapatkan pujian dan ucapan selamat, dari perwakilan penilai ini.


"Siapa nama kamu?" tanya wanita paruh baya berpenampilan anggun kepadaku.

__ADS_1


"Nama aku... Jisan nyonya," ucapku sembari menundukkan kepala. Menggunakan nama samaran acak untuk menjawab perkataannya.


"Hmm, sebenarnya aku kemari ingin memberimu hadiah atas kemenangan mu ini. Kebetulan sekali aku melihat dengan jelas setiap aksimu, sangat luar biasa diusia yang masih muda!"


__ADS_2